‎Semarang, Tabayuna.com
- Bertempat di Masjid Baitul Mujahid Perum Graha Mandiri Residence Kelurahan Patemon, Kecamatan Gunungati, Kota Semarang, Dosen Agama dan Teori Sosial FUHUM UIN Walisongo Ustadz H. Luthfi Rahman, M.S.I., M.A., menegaskan bahwa bulan Syaban merupakan bulan untuk Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) atau SPJ kepada Allah SWT. 

‎Hal itu terungkap dalam Pengajian Ramadan Ahad Sore pada Ahad (8/3/2026). Kegiatan itu merupakan rangkaian kegiatan Ramadan 1447 H di Masjid Baitul Mujahid Patemon. 

‎Dalam menjelaskan keistimewaan bulan Syaban, H. Luthfi mengatakan bahwa salah satu kitab yang menguraikan pelbagai keistimewaan bulan Sya’ban adalah Madza fi Sya’ban yang ditulis oleh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Hasani, ulama hadits besar asal Makkah. 

‎"Pas bulan Syaban adalah momentum SPJ atau LPJ tahunan kepada Allah, selama sebelas bulan yang berlalu, " katanya di hadapan jemaah. 

‎Pihaknya melanjutkan, bahwa ada juga cerita di bulan Syakban, yaitu diturunkannya Surat Al-Azhab ayat 56 yaitu "Innallâha wa malâ'ikatahû yushallûna ‘alan-nabiyy, yâ ayyuhalladzîna âmanû shallû ‘alaihi wa sallimû taslîmâ, " yang artinya "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

‎Allah sendiri memproklamirkan, katanya, bersholawat kepada Nabi dan para malaikat itu di bulan Syaban. "Lanjut di bulan Ramadan, semangatnya adalah kehambaan," kata H. Luthfi. 

‎H. Luthfi kemudian menguraikan bahwa spirit kehambaan tersebut diwujudkan secara nyata melalui ibadah puasa di bulan Ramadan ini, sebab puasa merupakan satu-satunya ibadah yang penilaiannya dilakukan langsung oleh Allah SWT. 

‎Menurutnya, pemaknaan sebagai hamba ini sangat krusial untuk membentengi diri dari sifat sombong. Ia memperingatkan bahwa kesombongan harus benar-benar dihindari, sebab jika manusia sudah selalu merasa paling benar, dikhawatirkan ia akan menyamai kesombongannya dengan Tuhan.

‎Dalam penjelasan berikutnya, beliau merujuk pada ibrah dalam Al-Qur'an Surat Al-A’raf ayat 13, di mana setan dengan sombongnya merasa lebih baik daripada Adam. Contoh lain yang dipaparkan Ustaz Luthfi adalah kisah dalam Surat Al-Baqarah ayat 257 mengenai Raja Namrud yang sudah melampaui batas karena merasa dirinya laksana Tuhan, hingga kemudian diingatkan oleh Nabi Ibrahim AS tentang hakikat ketuhanan yang sebenarnya. Melalui momentum Ramadan inilah, jemaah diajak untuk menanggalkan segala ego dan kembali pulang pada hakikat kemanusiaan yang rendah hati di hadapan Sang Pencipta.

‎Ketua Panitia Kegiatan Ramadan Feels Like Home Masjid Baitul Mujahid, Virgiawan Listanto menambahkan bahwa Pengajian Ramadan Ahad Sore sebelumnya telah berjalan dengan menghadirkan narasumber KH. Muharno (Muchtar Abi Maya) (Pengasuh PP Assalafiyah Perbalan), Ust. Maulana Malik Ibrahim, S.Pd.I., M.Pd.I., (Pengasuh Pondok Pesantren An-Najma Bandarejo Semarang), H. Luthfi Rahman, M.S.I., M.A.,(Dosen Agama dan Teori Sosial FUHUM UIN Walisongo) sore ini, dan minggu depan Gus Mujib Jogo Roso (Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Huda Getasan).

‎Sedangkan Tausiyah Bakda Subuh diisi oleh Dr. Muhammad Abdullah, S.Si., M.Sc., (Dosen UNNES), H. Muhsan, S.Pd., (Guru SMPN 26 Semarang), Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., (Rektor Inisnu Temanggung), Muzadi. 

‎Acara tersebut diiringi Rebana New Baitul Mujahid yang diakhiri dengan doa, berbuka dan salat magrib berjemaah. (*)


SEMARANG, Tabayuna.com
– Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Media Ma’arif Kuat, Nusantara Hebat” di Kantor LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Semarang, Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi publikasi bersama media massa guna mendukung pendidikan karakter berbasis digital di lingkungan satuan pendidikan Ma’arif.


‎Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Dr. Fakhruddin Karmani, M.S.I., menegaskan bahwa pelibatan media merupakan bagian penting dalam membangun citra positif lembaga sekaligus memperluas dampak program pendidikan. Menurutnya, selama ini Ma’arif telah dikenal publik sebagai lembaga yang aktif memajukan mutu pendidikan di Jawa Tengah melalui 10 program unggulan yang berjalan konsisten dan terukur.

‎“Ma’arif bukan hanya bergerak di ruang kelas, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan karakter yang kuat. Media memiliki peran strategis untuk menyampaikan praktik baik tersebut kepada masyarakat luas,” ujarnya.

‎Ia menjelaskan, pada periode 2024–2025 kepengurusan masih berada pada tahap transisi, perencanaan, dan pengembangan. Meski demikian, berbagai program telah berjalan dan pada tahun ini akan semakin diperbanyak serta diperkuat implementasinya di seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah.

‎“Para kepala madrasah dan sekolah kita di daerah, serta para guru, turut mengetahui program dan kegiatan melalui publikasi ini. Ketika mereka sering mengakses berita Ma’arif, akan muncul notifikasi berulang yang semakin menguatkan branding Ma’arif NU Jateng,” katanya.

‎Fakhruddin juga menyebut bahwa di lingkungan PWNU Jawa Tengah, LP Ma’arif dikenal sebagai salah satu lembaga dengan kegiatan paling banyak dan aktif, yang tidak lepas dari dukungan publikasi media. “Kegiatan kita masif, dan alhamdulillah selalu dibantu publikasinya oleh rekan-rekan media,” tambahnya.

‎FGD tersebut dihadiri 19 media mitra dari berbagai platform online, elektronik, dan radio. Media yang terlibat antara lain Bestarinesia.com, Digtara.com, Distingsi.com, Edukasia.id, G-News.id, Hariannu.com, Harianjateng.com, Hariantemanggung.com, Hariansemarang.id, Infojateng.id, Jalapantura.com, Kabartemanggung.com, PCNUPATI.or.id, Soearamoeria.com, Suaranahdliyin.com, Tabayuna.com, Temanggungnews.com, PT Radio Rasika Dananda Utama (Rasika), serta NU Online Jateng (jateng.nu.or.id).

‎Turut menjadi narasumber, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menegaskan bahwa sinergi kolaborasi dengan media merupakan langkah lanjutan dari kerja sama yang telah dirintis sejak 2025. Awalnya, kemitraan hanya melibatkan 14 media dan kini berkembang menjadi 19 media partner.

‎Ia mengatakan, sejak kepengurusan 2024 sampai awal 2026, sudah terkliping 1500 lebih berita yang sudah terbit. Hal itu menurut dia, tidak sekadar angka kuantitatif, namun menjadi bagian dari ikhtiar bahwa segala hal baik di Ma'arif maupun NU Jateng harus disyiarkan kepada publik.

‎“Ini bukti bahwa kolaborasi kita bertumbuh. Sinergi media bukan sekadar publikasi seremonial, tetapi bagian dari gerakan literasi dan penguatan narasi pendidikan karakter Ma’arif di ruang publik,” ungkapnya.

‎Selain publikasi, Ibda mengatakan bahwa pelibatan media mitra juga tak sekadar publikasi media, namun juga turut dilibatkan dalam program GLM Plus, Porsema, pendampingan program Lembaga Pers Siswa (LPS), dan ditawarkan pula keterlibatan media dalam pelatihan maupun ujian kompetensi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P2 Ma'arif Jawa Tengah.

‎Melalui FGD ini, Ma’arif Jateng berharap terbangun komitmen bersama antara lembaga pendidikan dan media massa untuk terus menghadirkan pemberitaan yang edukatif, inspiratif, dan mendorong penguatan karakter generasi muda di Jawa Tengah.

‎Dalam kesempatan itu, selain Ketua LP Ma'arif NU PWNU Jateng dan Koordinator GLM Plus, hadir juga perwakilan 19 media mitra, Wakil Sekretaris LP Ma'arif NU PWNU Jateng, Ubbadul Adzkiya, MA., Koordinator Bidang Media, Informasi, Publikasi, dan Kehumasan LP Ma'arif NU PWNU Jateng Nur Hasan, M.Pd.

‎Tak hanya FGD, kegiatan tersebut juga dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB), serta diakhiri dengan diskusi dan buka bersama. (*)


‎SEMARANG, Tabayuna.com
– LP Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Media Ma’arif Kuat, Nusantara Hebat” di Kantor Lembaga Pendidikan Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah, Selasa (3/3/2026). 

‎Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi publikasi bersama media massa dalam mendukung pendidikan karakter di lingkungan satuan pendidikan Ma’arif.

‎Ketua LP Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah, Dr. Fakhruddin Karmani, M.S.I., menegaskan bahwa pelibatan media merupakan bagian penting dalam membangun citra positif lembaga sekaligus memperluas dampak program pendidikan. Menurutnya, selama ini Ma’arif telah dikenal publik berperan aktif dalam memajukan mutu pendidikan di Jawa Tengah melalui 10 program unggulan yang berjalan konsisten dan terukur.

‎“Ma’arif bukan hanya bergerak di ruang kelas, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan karakter yang kuat. Media memiliki peran strategis untuk menyampaikan praktik baik tersebut kepada masyarakat luas,” ujarnya.

‎Fakhruddin menjelaskan, pada periode 2024–2025, kepengurusan masih berada pada tahap transisi, perencanaan, dan pengembangan. Meski demikian, berbagai program telah berjalan dan tahun ini akan semakin diperbanyak serta diperkuat implementasinya di seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah.

‎"Para kepala madrasah dan sekolah kita di daerah, dan guru juga turut tahu program dan kegiatan kita lewat publikasi ini, karena kalau mereka sering mengklik berita akan ada notifikasi yang berulang dengan pencarian Ma'arif NU Jateng," katanya. 

‎Ia juga menyebut, di lingkungan PWNU Jawa Tengah, LP Ma’arif dikenal sebagai lembaga dengan kegiatan paling banyak dan paling aktif, yang tidak lepas dari dukungan publikasi media. “Kegiatan kita masif, dan alhamdulillah selalu dibantu publikasinya oleh rekan-rekan media,” tambahnya.

‎FGD ini dihadiri 19 media partner dari berbagai platform online/ elektronik dn jug radio. Kehadiran para mitra media diharapkan semakin memperkuat kolaborasi kelembagaan yang berkelanjutan.

‎Turut menjadi narasumber, Koordinator Gerakan Literasi Ma'arif (GLM) Plus Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menegaskan bahwa sinergi kolaborasi dengan media merupakan langkah lanjutan dari kerja sama yang telah dirintis sejak 2025. Ia menyampaikan bahwa awalnya kemitraan hanya melibatkan 14 media, dan kini berkembang menjadi 19 media partner.

‎“Ini bukti bahwa kolaborasi kita bertumbuh. Sinergi media bukan sekadar publikasi seremonial, tetapi bagian dari gerakan literasi dan penguatan narasi pendidikan karakter Ma’arif di ruang publik,” ungkapnya.

‎Melalui FGD ini, Ma’arif Jateng berharap terbangun komitmen bersama antara lembaga pendidikan dan media massa untuk terus menghadirkan pemberitaan edukatif, inspiratif, dan mendorong penguatan karakter generasi muda di Jawa Tengah.

‎Selain FGD, kegiatan itu juga dilanjutkan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB), dan diakhiri diskusi serta buka bersama. (*)


Semarang, Tabayuna.com
– Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Fakhruddin Karmani, resmi meraih gelar doktor dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor pada Program Studi S3 Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang yang digelar Rabu, 25 Februari 2026, di Ruang Theater Fakultas Kedokteran Kampus 2 Unwahas, Semarang.


Dalam sidang tersebut, ia mempertahankan disertasi berjudul “Integrasi Nilai-Nilai Islam Nusantara dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (P5PPRA) pada Kurikulum Merdeka Madrasah di Jawa Tengah.”


Penelitian ini menegaskan pentingnya menjadikan nilai-nilai Islam Nusantara sebagai ruh dalam implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya dalam penguatan karakter peserta didik yang moderat, toleran, dan berwawasan kebangsaan.


Disertasi ini dinilai relevan dengan tantangan pendidikan Indonesia saat ini, terutama dalam menghadapi pergeseran budaya dan isu intoleransi. Integrasi nilai Islam Nusantara dalam Kurikulum Merdeka dipandang sebagai langkah strategis membangun sistem pendidikan yang membumi, kontekstual, dan tetap adaptif terhadap dinamika global.


Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar transmisi pengetahuan, tetapi proses pembentukan karakter yang menyatu antara nilai keislaman dan kebangsaan.


Ujian promosi doktor tersebut dipimpin oleh para penguji, yakni Dr. H. Iman Fadilah, S.H.I., M.SI (Ketua Sidang/Penguji), Dr. Ifada Retno Ekaningrum, M.Ag (Sekretaris Sidang/Penguji), Prof. Dr. H. Mahmudarroh HR, S.H., M.H (Penguji/Promotor), Prof. H. Abu Hapsin, M.A., Ph.D (Penguji), Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T (Penguji), Dr. Hj. Sari Hernawati, S.Ag., M.Pd (Penguji/Co-Promotor), dan Dr. H. Nur Cholid, M.Ag., M.Pd (Penguji).


Dalam kesempatan itu, hadir Sekretaris Lembaga Pendidikan Ma'arif NU PBNU H. Harianto Oghie, Wakil Sekretaris PWNU Jawa Tengah Dr. Ghufron Hamzah, S.Th.I., M.S.I., Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Dr. H. Saiful Mujab, MA., Kabid PD Pontren Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah Dr. H. Moch Fatkhuronji, S.Ag., M.Pd.I., Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) Prof. Dr. H. Muhlisin, M.Ag., Rektor Universitas Ivet (Unisvet) Semarang Dr. Luluk Elyana, S.Pd.I., M.Si., Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung sekaligus Ketua FKPT Jawa Tengah Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., Dekan Fakultas Agama Islam Univesitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Dr. Agus Irfan, S.H.I., M.P.I., Kepala Balai Diklat Keagamaan Semarang H. Suyatno, Lc., M.Si., Rektor Institut Agama Islam Khozinatul Ulum (IAIKU) Blora KH. Ahmad Zaki Fuad, S.Th.I., M.Ag. Hadir juga jajaran pengurus LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Ketua dan Sekretaris LP Ma’arif PCNU Kabupaten/Kota Se Jawa Tengah, keluarga, dan tamu undangan.


‎Novelty dari temuan disertasi ini, dijelaskan Fakhruddin bahwa secara keseluruhan, integrasi Islam Nusantara dalam Kurikulum Merdeka menjadi upaya menghadirkan sistem pendidikan yang kontekstual, membumi, serta mampu melahirkan generasi yang religius, toleran, dan adaptif terhadap dinamika global tanpa kehilangan jati diri keindonesiaannya sebagai mana tergambar dari hasil temuan dan model yang ditemukan. Pertama, adanya model integrasi yang berbasis Tipologi Sosial Pedesaan sebagaimana tergambar dalam temuan di SMA NU 1 Kradenan Blora dan MAN 1 Blora dan model integrasi yang berbasis Tipologi Sosial Perkotaan sebagaimana yang tergambarkan dalam hasil penelitian di SMK NU Ungaran dan MA NU Nurul Huda Mangkang Semarang. Kedua, rekonstruksi integrasi nilai Islam Nusantara dalam P5RA tidak seragam atau sama dalam impelemnetasinya. Temuan peneliti menyebutkan bahwa ada konseptualisasi atau karakteristik yang berbeda pada sekolah dan madrasah yang di teliti. 

‎Fakhruddin Karmani dinyatkan lulus sebagai doktor ke 24 dari Prodi S3 PAI Fakultas Agama Islam Unwahas dengan masa studi 4 tahun 4 bulan 20 hari.  Ia dinyatakan lulus dengan IPK 3.81 predikat cumlaude. 

Sidang terbuka tersebut menjadi momentum akademik penting bagi penguatan wacana pendidikan Islam berbasis moderasi dan kearifan lokal. Dengan capaian ini, Fakhruddin Karmani diharapkan dapat berkontribusi lebih luas dalam pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan Islam Nusantara di Indonesia. (*)