Articles by "Dakwah"
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan


Semarang, Tabayuna.com - Rabithah Ma'ahid Ismaliyyah Pengurus Wilayah Jawa Tengah mengadakan Halaqah Pengasuh Pondok Pesantren Se-Jawa Tengah di Gedung PGRI komplek GOR Pandanaran Kabupaten Semarang (24/10). Kegiatan ini mengangkat tema "Pesantren Transformatif: Meneguhkan Peran, Merespon Perubahan."


"Bagaimana kita meneguhkan kembali nilai-nilai pondok pesantren yang telah ditanamkan guru-guru kita." terang KH. Ubaidullah Shodaqoh selaku Rois Syuriyah PWNU Jateng.


Prinsip menjaga tradisi almuhafadhatu (menjaga hal-hal baik) harus dipegang teguh baru al-akhdzu (mengambil hal baik yang lebih baik). 


Seiring kemajuan zaman ini, kita sebagai pengasuh pesantren harus lebih responsif menghadapi perkembangan yang ada. 


"Transformasi pesantren ini menjadi penting sedang menjadi sorotan luar biasa." ungkap KH. Abdul Ghafar Rozin selaku Ketua Tanfidziah PWNU Jateng. 


Baru saja diumumkan Presiden kemarin (20/10) Direktorat Jenderal Pondok Pesantren Kementerian Agama pada peringatan Hari Santri 2025 merupakan momentum yang tepat. Kemunculan Dirjen ini menjadi percepatan Undang-Undang Pesantren no.18 tahun 2019. 

"Kita perlu mengawal Dirjen Pesantren ini agar tidak memperkuat hegemoni terhadap pesantren." terang Gus Rozin sapaan akrab. 


Karena kekhasan pesantren ini dilindungi UU Pesantren. Namun, pada dasarnya hegemoni ini tidak akan terjadi karena sudah ada barikade dalam UU Pesantren. 


Menurut hemat Gus Rozin, sebelum pesantren kuat dan berdaya, sebenarnya, Dirjen Pesantren ini belum sepenuhnya perlu. Namun, karena momentumnya telah tiba. Tinggal bagaimana kita memantau dan menjaga keberadaan Dirjen Pesantren.


Halaqah ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi oleh Dr. H. Saiful Mujab, MA. (Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah) dan KH. Fadhlullah Turmudzi, M. Pd (Ketua Umum Asosiasi Pendidikan Diniyah Formal). (*)


SEMARANG, Tabayuna.com
– Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin mengajak seluruh warga nahdliyin untuk menjadikan Hari Santri 2025 sebagai momentum memperkuat prestasi, bukan sekadar euforia perayaan. Hal itu ia sampaikan dalam pembukaan rangkaian puncak Hari Santri 2025 PWNU Jateng di Stadion Pandanaran Wujil, Bergas, Kabupaten Semarang, Kamis (23/10/2025).


“Sudah saatnya Hari Santri kita rayakan dengan penuh makna, bukan hanya dengan keramaian. Tahun ini, kita rayakan dengan meneguhkan prestasi dan pencapaian yang telah kita hasilkan bersama,” ungkap Gus Rozin demikian sapaannya.


Gus Rozin menjelaskan, dalam satu setengah tahun terakhir, PWNU Jawa Tengah bersama lembaga dan banomnya telah melakukan berbagai terobosan strategis di bidang pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya adalah kerja sama LP Ma’arif PWNU Jateng dengan 39 perguruan tinggi di Tiongkok, yang membuka peluang beasiswa bagi siswa-siswa Ma’arif.


“Insyaallah semester depan, 20 siswa Ma’arif akan diberangkatkan ke Tiongkok untuk melanjutkan studi. Ini menjadi bukti nyata bahwa NU Jawa Tengah tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga terus memperluas jejaring pendidikan hingga ke tingkat global,” terang pengasuh pesantren Maslakul Huda Kajen Pati ini.


Selain di bidang pendidikan, Gus Rozin juga menekankan pentingnya kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan. Ia menilai, santri dan warga NU harus kembali menoleh ke sektor pertanian sebagai basis kekuatan bangsa.


“Sekarang ini, pemenang peradaban bukan lagi yang menguasai energi, melainkan yang menguasai pangan. Karena itu, NU harus kembali meneguhkan peran di bidang pertanian. Dengan dukungan pemerintah daerah dan semangat warga NU, kita bisa menjadi pelopor pertanian berkelanjutan,” ujarnya.


Rangkaian kegiatan Hari Santri tahun ini dirancang lebih substantif. Selain bazar UMKM yang dari NU, pesantren maupun warga Semarang, malam ini ada Ngaji Bandongan bersama Gus Kautsar dan KH Ahmad Chalwani. Kemudian besok digelar pelatihan pertanian organik yang insyaallah akan diisi oleh Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta konsolidasi pesantren se-Jawa Tengah yang akan dihadiri oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Basnang Said untuk menguatkan peran pesantren menghadapi isu-isu aktual. Kemudian resepsi puncaknya ada jalan sehat santri yang bertabur hadiah, ada sepeda motor hingga umroh gratis.


“Bagi NU, UMKM dan pesantren adalah dua pilar penting. Mayoritas warga kita hidup dari sektor usaha kecil, pertanian, dan pendidikan. Karena itu, acara ini menjadi ruang bagi mereka untuk berkembang dan menampilkan hasil karya,” jelasnya.


Acara pembukaan turut dihadiri Bupati Semarang, H Ngesti Nugraha, yang menyampaikan apresiasi atas peran aktif PWNU Jawa Tengah dalam mendukung kemajuan daerah.


“Atas nama Pemerintah Kabupaten Semarang, kami berterima kasih kepada PWNU Jateng. Melalui kegiatan Hari Santri ini, masyarakat kami sangat terbantu, terutama lewat bazar UMKM yang memasarkan produk-produk lokal. Ada juga pelatihan pertanian yang memberi manfaat langsung bagi para petani,” kata Ngesti.


Ia berharap sinergi antara pemerintah dan NU terus berlanjut. “Semoga kerja sama ini terus memberi manfaat untuk kemajuan Kabupaten Semarang dan kesejahteraan masyarakatnya,” tandasnya.


Untuk diketahui rangkaian resepsi puncak peringatan Hari Santri 2025 ini digelar selama 3 hari, mulai Kamis-Sabtu (23-25/10/2025) bertempat di Stadion Pandanaran Wujil, Bergas Semarang.


Wonosobo, Tabayuna.com
– Suasana Alun-Alun Wonosobo pada Kamis malam (11/9/2025) menjadi semakin meriah dengan hadirnya pertunjukan rakyat bertajuk Seni Warok Lengger dan Tari Topeng khas Kabupaten Wonosobo. Acara ini merupakan rangkaian dari Porsema XIII Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah yang tengah digelar di Kabupaten Wonosobo.


Ratusan penonton memadati arena untuk menyaksikan atraksi seni tradisi yang menghadirkan kekayaan budaya lokal. Penampilan para seniman dari Dusun Banaran, Desa Gayugiyang, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo ini sukses memukau dengan perpaduan gerak tari, musik tradisional, serta nuansa magis yang kuat.


Ketua Panitia Porsema XIII LP. Ma'arif NU PWNU Jateng Supriyono, mengatakan bahwa kehadiran Seni Warok Lengger dan Tari Topeng di Porsema XIII memiliki arti penting dalam menjaga dan mengenalkan budaya leluhur kepada generasi muda.


“Porsema bukan hanya wadah kompetisi olahraga dan seni, tetapi juga ruang untuk melestarikan kearifan lokal. Pertunjukan ini membuktikan bahwa seni tradisi masih relevan dan mampu memikat masyarakat luas,” ungkap Lek Pri.


Ia juga menambahkan bahwa apresiasi masyarakat terhadap seni tradisi harus terus ditumbuhkan agar tidak tergerus arus modernisasi. “Anak muda harus bangga dengan budaya daerahnya. Inilah identitas kita yang sesungguhnya,” tegasnya.


Pertunjukan yang dimulai pukul 19.30 WIB hingga larut malam itu menjadi salah satu agenda paling ditunggu dalam gelaran Porsema XIII. Selain memberikan hiburan, acara ini sekaligus menjadi media edukasi budaya yang memperkaya pengalaman pengunjung Expo Porsema XIII yang menghadirkan sejumlah bazar seperti buku, kuliner, dan lainnya. (TB1/Ibda)


Wonosobo, TABAYUNA.com
– Menjelang pelaksanaan Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (PORSEMA) XIII tingkat Jawa Tengah, panitia penyelenggara bersama pengurus LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah dan LP Ma'arif NU PCNU Wonosobo menggelar kegiatan ziarah dan doa bersama pada Selasa (9/9/2025) di Wonosobo.


Kegiatan diawali dengan ziarah ke makam para ulama dan tokoh pendidik NU di sekitar Wonosobo sebagai bentuk penghormatan serta tabarukan terhadap perjuangan mereka dalam bidang pendidikan dan dakwah. Setelah ziarah, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama yang berlangsung khidmat di Sekretariat PORSEMA XIII, Gedung Dewan Pendidikan Wonosobo.


Doa bersama ini diikuti oleh segenap panitia PORSEMA XIII, jajaran pengurus LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah, serta sejumlah relawan dan tokoh masyarakat. Kegiatan ini menjadi simbol pengharapan agar penyelenggaraan PORSEMA XIII yang akan digelar dalam waktu dekat dapat berjalan dengan lancar, aman, dan penuh manfaat bagi pelajar Ma’arif se-Jawa Tengah.


Sekretaris Panitia PORSEMA XIII LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Agus Peristiawan mengatakan bahwa kegiatan itu diawali ziarah di makam Syekh Kiai Walik komplek masjid Al Mansyur Wonosobo. Kemudian pada malam hari dilanjutkan doa bersama dan pembacaan maulid al-barjanzi yang dipimpin Pengurus PCNU Wonosobo KH. Masrokan Ishaq.


“Kegiatan ziarah dan doa bersama ini merupakan ikhtiar batin kami sebagai panitia dan pengurus. Selain upaya teknis, keberhasilan PORSEMA juga butuh restu dan barokah dari para masyayikh. Semoga acara ini berjalan sukses dan membawa semangat sportivitas, seni, dan ke-NU-an bagi seluruh peserta,” katanya.


Sementara itu, Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Fakhruddin Karmani berharap agar seluruh pengurus, kepala sekolah/madrasah, guru dan murid Ma'arif NU se Jawa Tengah turut meramaikan dan menyukseskan Porsema XIII di Wonosobo tersebut. "Ayo kita sukseskan Porsema XII ini. Kita perkuat solidaritas, sportivitas dan silaturahmi karena ini agenda dua tahunan sekali yang tentu sangat dinantikan," katanya.


PORSEMA XIII Jawa Tengah dijadwalkan pada 10-13 September 2025 yang akan menghadirkan ribuan peserta dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah, dengan berbagai cabang lomba olahraga dan seni yang menjadi ajang unjuk prestasi pelajar LP Ma’arif NU Jawa Tengah. (TB11/Ibda).


Semarang, TABAYUNA.com
– Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melaksanakan rangkaian kegiatan Monitoring Pelibatan Masyarakat dalam Pencegahan Terorisme di Jawa Tengah. Poin penting dalam Monitoring tersebut salah satunya adalah wacana pendirian FKPT mandiri di kabupaten/kota di Jawa Tengah. 


Hal itu diungkapkan oleh Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Letkol (Sus) Dr. Harianto, M.Pd., dalam kegiatan tersebut, Jumat (15/8/2025) bertempat di Quest Prime Pemuda, Semarang.


"Pencegahan terhadap terorisme wajib dilakukan karena hal itu merupakan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018. FKPT di sini menjadi penyangga dalam pencegahan terorisme," katanya.


Kegiatan itu digelar setelah audiensi bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Tengah. Dalam Monitoring tersebut, BNPT mengundang pengurus FKPT Jawa Tengah untuk mengikuti Monitoring. 


Harianto juga membeberkan, bahwa wacana pendirian FKPT mandiri telah bergulir di beberapa tempat seperti Jambi, Bungau, Lampung, Pringsewu, dan tempat lain. "Jawa Tengah seperti provinsi besar di Indonesia, sebenarnya dalam tanda kutip tidak sedang baik-baik saja, dengan jumlah penduduk 38,2 juta jiwa seperti yang disampaikan Mas Ketua FKPT Jateng Mas Ibda, ini sangat luas dan harus diperkuat pencegahan secara kelembagaan," katanya.


BNPT berharap, melalui kegiatan ini, banyak lahir ide baru, inovasi, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan FKPT dapat semakin diperkuat sehingga upaya pencegahan terorisme berbasis pemberdayaan masyarakat berjalan lebih efektif di wilayah Jawa Tengah.


Sementara itu, Ketua FKPT Jawa Tengah Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., mempresentasikan program kerja yang sudah terlaksana maupun yang sedang proses baik program mandatori maupun yang mandiri. Salah satunya yang sudah terlaksana adalah kegiatan Pitutur Cinta oleh Bidang Agama, Sosial-Ekonomi, dan Budaya FKPT Jateng.


"Kami sebenarnya siap mengawal pendirian FKPT mandiri. Di Jawa Tengah sudah ada FKPT Jepara. Tentu nanti akan kami koordinasikan karena bisa belajar praktik baik di sana," kata dia.


Ibda mengatakan, bahwa program nonmandatori juga sudah disoasialiasikan seperti Lomba Penulisan Artikel Opini bekerjasama dengan LPM GRIP INISNU Temanggung, lomba penulisan puisi antiradikal terorisme, dan lainnya.


"Mari kita terus bergandengan tangan, memperkuat kerjasama antar lembaga dan masyarakat, agar Indonesia, khususnya Jawa Tengah, bisa lebih aman dan bebas dari ancaman terorisme. Indonesia berdaulat, rakyat sejahtera, dan Indonesia maju adalah tujuan kita bersama.  FKPT Jateng hebat, Nusantara kuat," kata Ibda.


Di akhir kegiatan, Kabid Media, Hukum, dan Humas FKPT Jateng Khoirun Niam juga memberikan buku Kasidah-Kasidah Muhammad terbitan Pilar Nusantara kepada Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Letkol (Sus) Dr. Harianto, M.Pd., sebagai bentuk sumbangsih terhadap pendekatan sastrawi untuk mencegah terorisme. (*)


Semarang, TABAYUNA.com
– Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Direktorat Pencegahan bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah melakukan audiensi dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Tengah pada Jumat, 15 Agustus 2025 di Kantor Kesbangpol Jawa Tengah, Jalan Ahmad Yani No.160, Karangkidul, Semarang Tengah, Kota Semarang.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan program kerja Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, khususnya dalam rangka Monitoring Pelibatan Masyarakat dalam Pencegahan Terorisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah.

Agenda audiensi meliputi silaturahmi, pemaparan overview FKPT Jawa Tengah, dan diskusi bersama jajaran Kesbangpol. BNPT diwakili Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat Letkol (Sus) Dr. Harianto, M.Pd., beserta staf dari Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat BNPT. Sedangkan FKPT diwakili oleh Ketua FKPT Jateng Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., beserta seluruh pengurus dan satgas yang diterima langsung oleh Plt. Kepala Kesbangpol Jateng, Muslichah Setiasih, S.IP., M.M., M.ENG.

Pihaknya berharap, bahwa pertemuan ini dapat memperkuat koordinasi dan kolaborasi antara BNPT dan Kesbangpol Jawa Tengah, sehingga pelibatan masyarakat dalam pencegahan terorisme dapat berjalan semakin optimal.

Dalam sambutannya, Plt. Kepala Kesbangpol Jateng, Muslichah Setiasih, S.IP., M.M., M.ENG., merespon baik kegiatan tersebut. “Kami sangat berterima kasih atas kehadirannya. Selama ini sudah banyak menerima tamu dari mitra vertikal di Jawa Tengah. Namun kalau dari pusat, memang jarang termasuk kali ini. Jadi kami berharap banyak ngangsu kawruh, menimba ilmu dari BNPT,” katanya.

Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat Letkol (Sus) Dr. Harianto, M.Pd., dalam kesempatan itu mendorong sinergi yang kuat antara Kesbangpol Jateng dengan FKPT Jateng agar program-program pencegahan terorisme di Jateng berjalan maksimal.

Ketua FKPT Jateng Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., mengatakan bahwa audiensi tersebut dalam rangka memperkuat sinergi dan kolaborasi antara BNPT, FKPT Jateng dan Kesbangpol Jateng. "Kami pengurus FKPT Jateng 2025-2027 ditetapkan sejak Januari 2025. Beberapa kegiatan mandatori sudah dilaksanakan dan juga non-mandatori yang tentu tidak bisa lepas dari keterlibatan Kesbangpol Jateng," kata dia.

Dengan adanya program-program yang sudah disusun Pemrov Jateng, melalui Kesbangpol tentu FKPT Jateng dapat bersinergi khususnya untuk menciptakan Jawa Tengah terbebas dari ancaman radikalisme dan terorisme. (TB1)


BANYUMAS, Tabayuna.com
– Dari fajar hingga menjelang senja, para pengurus, alim ulama, dan elemen ke-NU-an berkumpul dalam Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) II PCNU Banyumas, berempat di Aula dan lingkungan MTs juga MA setempat, Ahad (03/08/2025).


Forum ini bukan sekadar musyawarah kerja, melainkan ladang muhasabah, tempat menabur tekad dan menuai harapan untuk gerak langkah NU yang lebih nyata, lebih terasa, dan lebih berdaya guna bagi umat.


KH. Mughni Labib, Rois Syuriyah PCNU Banyumas, dalam wawancaranya dengan awak media menegaskan,


“Muskercab adalah muhasabah dan penyegaran. Kita Nahdlatul Ulama, juga kebangkitan ulama, bukan diamnya ulama.”


Musker menjadi titik balik untuk menyambung kembali benang program-program 2023 yang masih terputus, sekaligus merumuskan arah gerak baru hingga akhir masa khidmat 2028. Semua lembaga dan banom NU, Fatayat, Muslimat, Ansor, hingga lembaga ekonomi dan pertanian, didorong bergerak selaras.


Dalam pembukaan, KH. Mughni Labib juga mengingatkan seluruh yang hadir dengan menyampaikan wasiat menggetarkan dari KH. Ali Maksum,


“NU tidak boleh hanya besar di nama, tetapi harus besar dalam manfaat dan kehadiran secara nyata.”


KH. Imam Hidayat, KetuaTanfidziyah PCNU Banyumas, mempertegas dalam sikap yang lugas namun menggugah,


“NU harus hadir riil di tengah masyarakat, bukan hanya di atas kertas. Pengurus NU bukan artis, tapi pelayan umat yang nyata.”


Ia menambahkan bahwa hasil Muskercab ini bukan sekadar notulensi, tapi harus menjadi denyut kerja kolektif yang berkelanjutan,


“Muskercab ini bukan akhir, tapi awal dari penguatan gerakan. Amanah para kiai harus diwujudkan dalam langkah yang terukur dan terarah.”


Beberapa komisi memberikan catatan, usulan, dan saran secara resmi yang dituangkan dalam hasil sidang komisi. Komisi C mencatat sorotan penting tentang standarisasi organisasi. Tidak cukup hanya semangat, tetapi butuh sistem, etika, dan mekanisme agar pelayanan tak compang-camping.


Terkait dinamika internal, persoalan dualisme kepengurusan Muslimat NU disiapkan untuk dirampungkan dalam Rapat Cabang Desember.,


“Kita ingin selesai secara baik. Satu struktur saja yang sah, sesuai AD/ART dan arahan Ketum,” tegas Kiai Labib.


Masalah pendistribusian dana Lazisnu juga menjadi catatan kritis. Adanya penarikan dana dilapangan tanpa skema yang disepakati menjadi perhatian serius,


“Kalau ada kekurangan, bicarakan. Jangan main potong sendiri, gunakan aturan yang sudah ada dan diamanahkan,” ujarnya.


Sorotan strategis jelang rapat pleno penutupan Muskercab turut diarahkan pada Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto.

KH. Aksin, Wakil Rektor IV UNU dan juga Mukhtasyar PCNU Banyumas, menekankan bahwa,


“UNU adalah milik kita bersama. SK-nya dari PBNU, tapi tanggung jawab membesarkan ada di keluarga besar NU Banyumas.”


Beliau menyayangkan tidak adanya pembahasan khusus soal UNU dalam forum Musker kali ini, padahal peran UNU sangat vital bagi masa depan kader intelektual NU. Ia mengajak seluruh struktur, dari ranting hingga cabang, untuk menyatukan hati dan daya,


“Ayo kuliahkan anak-anak NU di UNU. Jika ada yang tak mampu, kita bantu lewat Lazisnu, atau donatur yang siap menjadi orang tua asuh.”


Dengan tubuh masih berkeringat usai forum panjang, beliau menutup wawancara penuh harap,


“InsyaAllah, 25 tahun mendatang UNU Purwokerto akan menjadi harum dan membanggakan warga NU Banyumas.”


“Mudah-mudahan UNU semakin maju dengan dukungan keluarga besar Nahdlatul Ulama.” Ungkap doanya.


KH. Sudir, Ketua Panitia Muskercab II tahun 2025, kepada awak media menuturkan bahwa seluruh rangkaian acara terlaksana dengan lancar meski persiapan efektif hanya dua pekan,


“Alhamdulillah semua berjalan sesuai harapan. Semoga hasil musyawarah ini menjadi bekal kebaikan NU Banyumas ke depan,” ucapnya penuh syukurnya.


Dua MWCNU, yakni Rawalo dan Purwokerto Barat sebagai tuan rumah Muskercab tahun 2025, menerima motor operasional untuk mendukung layanan keumatan. Sebelumnya, PCNU juga telah membantu 17 sepeda motor kepada 17 MWC. Hingga Muskercab hari ini, total 19 sepeda motor telah diterima dan yang lain akan menyusul.


Ketua PC LKKNU Banyumas, KH Qodir, menambahkan bahwa rangkaian Muskercab II turut diisi dengan khitanan massal bagi 15 anak dan pembagian 65 paket sembako, Penyuluhan keluarga maslahah, dan beragam layanan publik sebagai wujud NU yang hadir dalam denyut masyarakat


"Kegiatan ini terselenggara atas sinergi LKKNU, Klinik Kamandaka, Baznas, dan Yayasan Armuha. Ia mengapresiasi seluruh pengurus LKKNU yang telah berpartisipasi, seraya memohon keberkahan atas langkah kolaboratif ini." Imbuhnya.


KH. Mughni Labib menutup wawancara dengan pesan mendalam. “Musker jangan hanya didiskusikan, tapi dijawantahkan. Jadikan NU benar-benar bangkit dan membawa manfaat. Jangan berhenti di kertas, tapi hidup di perbuatan.” Tegas Tutup Kiai Labib. (TB33/Djarmanto-YF2DOI)


Semarang, TABAYUNA.com
– Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Jawa Tengah menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang menimpa Ahmad Zuhdi (63), guru Madrasah Diniyah Roudhotul Mutaalimin, Desa Jatirejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak. Zuhdi diminta membayar uang damai sebesar Rp12,5 juta setelah insiden yang terjadi saat proses belajar mengajar berlangsung.


Ketua PW IPNU Jawa Tengah, Muhammad Irfan Khamid, menyebut bahwa kasus ini tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan hukum. Irfan menyampaikan bahwa kejadian tersebut mencerminkan semakin menurunnya penghormatan terhadap guru di lingkungan pendidikan kita.


“Kami sangat prihatin atas kejadian yang dialami Mbah Yai Zuhdi. Ini bukan hanya tentang hukum atau pelanggaran semata, melainkan cermin dari krisis adab. Wibawa guru yang selama ini menjadi pilar pendidikan moral, kini justru dipertaruhkan,” ujar Irfan, Sabtu (19/7/2025).


Kronologi Peristiwa

Insiden bermula pada Selasa, 30 April 2025, saat Ahmad Zuhdi tengah mengajar di kelas 5. Tiba-tiba sebuah sandal dilempar dari luar dan mengenai peci yang ia kenakan. Zuhdi kemudian keluar kelas dan menanyakan siapa pelakunya. Karena tidak ada yang mengaku, beliau menggertak akan membawa para siswa ke kantor. Salah satu murid lalu menunjuk rekannya berinisial D sebagai pelaku. Zuhdi mengaku menampar murid tersebut sebagai bentuk teguran.


“Saya akui menampar, tapi dalam konteks mendidik. Bukan dengan niat melukai. Selama 30 tahun saya mengajar, baru kali ini mengalami hal seperti ini,” tutur Zuhdi dalam konferensi pers di Mushola Desa Jatirejo, Jumat (18/7/2025).


Zuhdi telah meminta maaf secara langsung dan menandatangani surat pernyataan bermeterai. Namun beberapa bulan kemudian, ia didatangi lima orang yang mengaku dari LSM, membawa surat dari kepolisian, dan meminta penyelesaian damai sebesar Rp25 juta. Setelah negosiasi, nominal tersebut disepakati menjadi Rp12,5 juta. Sayangnya, kesepakatan itu tidak dituangkan secara tertulis.


Karena keterbatasan ekonomi, Zuhdi sempat berencana menjual sepeda motornya demi menutupi permintaan tersebut. Ia kini masih mencicil utang yang digunakan untuk membayar uang damai, dengan bantuan dari rekan-rekan sesama guru dan warga.


PW IPNU: Guru Madin Perlu Perlindungan Nyata

Irfan menegaskan bahwa PW IPNU tidak membenarkan kekerasan dalam pendidikan. Namun, pendekatan penyelesaian kasus seperti ini, apalagi terhadap guru madin yang hidup dalam keterbatasan, patut dikaji ulang.


“Guru madin bukan hanya pengajar, tetapi juga pendidik akhlak dan penjaga tradisi keilmuan Islam. Maka jika mereka menghadapi tekanan seperti ini tanpa perlindungan, tentu menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan kita,” jelasnya.


PW IPNU Jawa Tengah mengajak semua pihak—baik pemerintah daerah, Kementerian Agama, hingga aparat penegak hukum—untuk memberikan perhatian dan perlindungan yang lebih nyata terhadap para guru madrasah diniyah.


“Kami ingin pendidikan diniyah dijaga martabatnya. Tidak cukup dengan penghargaan simbolik, tapi harus dibarengi dengan perlindungan kebijakan. Ketika seorang guru dipermasalahkan tanpa melihat konteks secara utuh, maka yang dirugikan bukan hanya individunya, tapi seluruh ekosistem pendidikan kita,” lanjut Irfan.


Ia juga menyerukan kepada seluruh kader IPNU untuk menunjukkan kepedulian nyata kepada para guru madin, karena dari merekalah nilai-nilai keilmuan dan akhlak ditanamkan kepada generasi muda Nahdliyin.


“Guru adalah pelita yang menerangi jalan kami. Ketika pelita itu mulai padam karena tekanan dan ketidakadilan, maka tanggung jawab kita bersama untuk menyalakannya kembali,” pungkas Irfan.


PW IPNU berharap kasus serupa tidak terulang di daerah lain dan menjadi bahan refleksi bersama tentang pentingnya tata nilai dan penghormatan kepada para pendidik, khususnya dalam lingkungan pendidikan keislaman akar rumput seperti madrasah diniyah.


Semarang, TABAYUNA.com
– Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI menggelar kegiatan bertajuk “Pitutur Cinta: Implementasi Ajaran Agama dalam Bingkai NKRI dengan Semangat Cinta Kasih”, yang melibatkan tokoh lintas agama, akademisi, serta generasi muda dari berbagai latar belakang pada Jumat 18 Juli 2025.

 

Acara yang digelar melalui Bidang Agama, Sosial-Ekonomi, dan Budaya FKPT Jateng yang menjadi momentum penting dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan, cinta kasih, dan toleransi antarumat beragama melalui pendekatan spiritual dan budaya.

 

Dalam sambutannya, Ketua FKPT Jawa Tengah, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menegaskan komitmen pihaknya untuk terus memperkuat upaya pencegahan radikalisme dan terorisme secara holistik dan humanis.

 

“Harmoni tidak lahir dari keseragaman, tapi dari perjumpaan dan penghargaan atas keberagaman. Melalui ‘Pitutur Cinta’, kami ingin menghidupkan kembali pesan-pesan kebajikan universal dari ajaran agama yang menanamkan kasih sayang dan persaudaraan antarumat manusia,” ujarnya dalam kegiatan yang digelar secara hybrid tersebut.

 

Kegiatan yang difasilitasi oleh BNPT RI ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Direktur Pencegahan BNPT Prof. Dr. Irfan Idris, M.A., Plt. Kepala Kesbangpol Jateng Muslichah Setiasih, S.IP., M.M., M.Eng., yang diwakili Plt. Kepala Bidang Politik Dalam Negeri Rahmad Winarto, narasumber nasional Dr. Sholehuddin, M.Pd., dan daerah Prof. Dr. KH. Syamsul Ma’arif, M.Ag., serta berbagai elemen masyarakat. Hadir peserta melalui Zoom Meeting lebih dari 140 dan juga secara luring di Semarang yaitu di kantor Badan Kesbangpol Jateng, dan di Jakarta.

 

FKPT mencatat, Jawa Tengah merupakan wilayah yang sangat beragam, dengan penduduk mencapai lebih dari 38 juta jiwa, terdiri atas berbagai suku, agama, dan budaya. Berdasarkan data BPS 2024, mayoritas penduduk Jawa Tengah beragama Islam (97,30%), diikuti oleh Kristen Protestan (1,43%), Katolik (1,04%), Buddha, Hindu, dan agama lainnya. Keberagaman ini menjadi kekuatan sekaligus tantangan dalam menjaga persatuan dan mencegah konflik.

 

Kegiatan “Pitutur Cinta” diikuti oleh berbagai unsur seperti jurnalis kampus, wartawan media massa, konten kreator, pondok pesantren, ormas keagamaan, MUI, serta tokoh masyarakat lintas agama dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Hadir pula perwakilan dari Badan Pekerja Harian Sinode GITJ Kabupaten Pati, Majelis ZFZ Kasogatan Temanggung, Bamagnas, Korempa GKJ Tlogosari Semarang, dan Komunitas Mahasiswa Lamaholot.

 

Narasumber utama kegiatan ini, Prof. Dr. KH. Syamsul Ma’arif, M.Ag., Guru Besar Pendidikan Islam UIN Walisongo, menyampaikan materi berjudul “Kolaborasi Pelajar Lintas Agama dalam Menciptakan Kesejukan dan Kedamaian yang Inklusif dalam Beragama.” Selain itu, kegiatan ini juga dilengkapi dengan diskusi dan lomba pembuatan konten dakwah perdamaian secara daring.

 

FKPT Jawa Tengah berharap kegiatan ini mampu mencetak agen perdamaian dan duta harmoni dari kalangan muda yang aktif menjaga nilai-nilai kebangsaan dan toleransi.

 

Di akhir sambutannya, Dr. Hamidulloh Ibda turut menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-15 kepada BNPT RI. Ia mengapresiasi kerja keras dan dedikasi BNPT dalam menjaga keamanan nasional dari berbagai potensi ancaman radikalisme dan terorisme.

 

“Kami yakin sinergi lintas lembaga akan membawa Indonesia semakin kuat dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

 

Kegiatan itu secara resmi dibuka secara resmi oleh Direktur Pencegahan BNPT Prof. Dr. Irfan Idris, M.A. Pihaknya menyebut pentingnya menguatkan imunitas kebangsaan tanpa harus melabeli kelompok tertentu. Dalam paparan sambutan, Prof Irfan juga berharap di era post-truth ini, para generasi muda bisa memanfaatkan beragam sumber selain media internet. Usai dibuka, kegiatan dilanjutkan dengan paparan materi dari kedua narasumber. (*)


‎Temanggung, TABAYUNA.com
– Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Temanggung menggelar kegiatan Ansor Camp sekaligus Musyawarah Kerja Anak Cabang (Muskerancab) pada Sabtu–Ahad 12-13 Juli 2025 bertempat di kawasan wisata Rowo Gembongan, Tegowanuh, Kaloran, Temanggung.

‎

‎Kegiatan ini diikuti oleh 100 peserta, yang terdiri dari jajaran pengurus harian PAC GP Ansor Temanggung, jajaran Satkoryon Banser Temanggung, serta kader Ansor–Banser dari seluruh ranting di lingkungan PAC Kecamatan Temanggung.

‎

‎Ansor Camp diinisiasi sebagai wahana konsolidasi, pembinaan, serta penyusunan langkah-langkah strategis organisasi dalam menghadapi tantangan zaman.

‎

‎Ketua PAC GP Ansor Temanggung, Faiz Syauqy, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk inovasi kegiatan organisasi dalam membangun soliditas, loyalitas, dan kekompakan kader.

‎

‎“Dengan mengusung tema 'Bersama dalam Barisan, Kuat dalam Pengabdian', Ansor Camp ini menjadi ruang untuk mempererat ukhuwah serta merumuskan program kerja yang responsif terhadap dinamika masyarakat dan kebutuhan kader di akar rumput,” ujarnya.

‎

‎Acara dibuka dengan apel pembukaan, dilanjutkan pemaparan materi dari Kepala Kesbangpol Kabupaten Temanggung, Djoko Prasetyono, S.Sos, yang membawakan materi seputar wawasan kebangsaan, dinamika politik-sosial, serta peran pemuda dalam masyarakat.

‎

‎Hadir dalam pembukaan Musyawarah Kerja Anak Cabang, Sahabat Isro’ Agus Pamungkas, S.Sos, selaku Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Temanggung dan mandataris Konferensi Cabang ke-10.

‎

‎Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Ansor Camp.

‎

‎“Inovasi atau terobosan seperti ini penting sebagai suasana baru dalam organisasi. Ini akan menumbuhkan semangat dan kekompakan kader yang menjadi modal utama untuk melaksanakan program kerja secara nyata dan berkelanjutan,” ungkapnya.

‎

‎Malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan Musyawarah Kerja Anak Cabang (Muskerancab) yang menjadi forum penting untuk merumuskan dan menetapkan arah program kerja PAC GP Ansor Temanggung masa khidmat 2025–2028.

‎

‎Muskerancab berlangsung dinamis, dengan diskusi terbuka, masukan dari para kader, serta semangat kolektif dalam menyusun agenda organisasi yang lebih progresif dan kontekstual.

‎

‎Kegiatan Ansor Camp ditutup dengan apel kader, sebagai simbol kebulatan tekad para kader Ansor dan Banser untuk terus mengabdi dalam barisan organisasi GP Ansor, membawa semangat perubahan dan nilai perjuangan, khidmat kepada Nahdlatul Ulama juga ke tengah masyarakat.


Oleh: Ghaida Mutmainnah

Di tengah gegap gempita dunia mode dan media sosial, hijab tak lagi sekadar penutup kepala yang mencerminkan ketaatan spiritual. Ia menjelma menjadi simbol gaya hidup, bagian dari estetika fesyen, bahkan menjadi komoditas pasar yang menggiurkan. Fenomena ini melahirkan pertanyaan penting: apakah hijab modern hari ini masih menjadi representasi identitas religius, ataukah telah bergeser menjadi sekadar gaya yang mengikuti arus tren?


Dalam ajaran Islam, hijab bukanlah semata-mata kain yang menutupi kepala, tetapi simbol ketundukan kepada perintah Allah dan bentuk kehormatan diri. Ia merupakan bagian dari identitas seorang muslimah yang berkomitmen terhadap prinsip kesopanan, kesederhanaan, dan penjagaan diri. Dalam Al-Qur'an, perintah menutup aurat bagi perempuan bertujuan untuk membedakan mereka dalam hal kehormatan dan ketakwaan, bukan semata dalam tampilan luar.


Namun realita hari ini menunjukkan transformasi besar. Jilbab yang dahulu sederhana kini hadir dalam beragam desain, warna, dan model. Istilah “hijab syar’i” bersanding dengan “hijab fashion”, bahkan kadang diperdebatkan karena perbedaan prinsip dasarnya. Banyak muslimah, terutama generasi muda, lebih akrab dengan konsep hijab sebagai bagian dari gaya hidup daripada sebagai simbol.


Media sosial menjadi katalis utama dalam membentuk tren hijab modern. Para selebgram dan influencer hijabers tampil menawan dengan gaya yang stylish namun tetap berhijab. Mereka menjadi panutan gaya berpakaian bagi jutaan pengikutnya. Di satu sisi, hal ini bisa dilihat positif sebagai bentuk dakwah visual yang menginspirasi banyak perempuan untuk mulai menutup aurat. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran ketika nilai-nilai spiritual dari hijab terkikis karena fokus berlebihan pada estetika semata.


Hijab kemudian dikonsumsi sebagai produk budaya pop: dijual dalam bentuk kampanye iklan, digelar dalam peragaan busana, dan dibahas dalam berbagai konten viral. Identitas muslimah pun berpotensi terepresentasikan hanya dari tampilan luar, tanpa disertai pemahaman makna yang lebih dalam. Bahkan tak jarang, gaya hijab yang terlalu modis justru mengundang perhatian, bertolak belakang dari prinsip awal hijab yang bertujuan untuk menjaga pandangan dan kesederhanaan.


Pertanyaan apakah hijab modern adalah identitas atau sekadar gaya bukanlah untuk menghakimi, melainkan untuk mendorong refleksi. Pada dasarnya, gaya dan identitas tidak harus saling meniadakan. Seorang muslimah bisa saja tampil modis, namun tetap berpegang pada prinsip keislaman. Yang perlu diingat adalah bahwa gaya hanyalah medium ekspresi, sementara identitas adalah akar dari ekspresi itu sendiri.


Jika hijab dikenakan hanya karena tren atau tekanan sosial, maka ia kehilangan esensinya. Namun jika gaya berhijab dikembangkan sebagai bentuk syiar yang tidak menghilangkan ruh kesederhanaan dan adab berpakaian, maka hijab modern bisa menjadi jembatan antara dunia mode dan nilai religiusitas.


Hijab modern hari ini berdiri di antara dua kutub: identitas dan gaya. Keduanya tidak harus saling bertentangan jika muslimah mampu menjaga keseimbangan antara ekspresi diri dan esensi spiritual. Penting untuk terus mengingat bahwa hijab adalah lebih dari sekadar penampilan luar—ia adalah bagian dari komitmen batin, tanda ketaatan, dan cerminan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, dalam memilih gaya hijab, semoga tidak hanya terlihat anggun di mata manusia, tetapi juga bernilai ibadah di hadapan Allah.


Semarang, TABAYUNA.com
– Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak yang akan digelar pada 27 November 2024 mendatang, Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH. Abdul Ghoffar Rozin (Gus Rozin) mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kerukunan dan persatuan. Melalui Jalan Sehat Santri NU Jawa Tengah yang dilaksanakan hari ini, Ahad (27/10/2024), Gus Rozin menyampaikan bahwa santri sebagai perwakilan Nahdlatul Ulama di masyarakat harus menjadi katalisator mewujudkan harmoni di tengah perbedaan dalam tahun politik ini.

 

Acara Jalan Sehat Santri NU Jawa Tengah ini dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional PWNU Jawa Tengah 2024 dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keharmonisan sosial, khususnya menjelang masa pemilu. Dengan mengangkat tema “Santri Siap Menuju Indonesia Emas 2045”, PWNU Jateng mengajak warga untuk menjadikan Pilkada sebagai momen memperkuat silaturahmi dan semangat persaudaraan, bukan sebagai ajang perpecahan.

 

Jalan Sehat Santri NU Jawa Tengah hari ini, dari data total pendaftar adalah 28.000 yang awalnya hanya ditarget 20.000 peserta sebagai puncak resepsi Hari Santri Nasional (HSN) 2024 di Lapangan Pancasila Simpanglima, Kota Semarang. Kegiatan dimeriahkan dengan penampilan grup band dari Soulgroove, Qasima, dan spesial master of ceremony (MC) Sela Good. PWNU Jawa Tengah memberikan doorprize jalan sehat dengan hadiah utama satu unit mobil Toyota Calya. Selain itu, terdapat doorprize dua tiket umrah, tiga unit sepeda motor beat, lima unit sepeda listrik, lima unit kulkas, lima unit televisi, lima unit sepeda, 10 unit dispenser, 10 unit kipas angin, 10 unit kompor gas, 50 sarung al-Juwani, puluhan tumbler minum, dan lainnya.

 

Santri: Perekat Persatuan Negeri

Menurut Gus Rozin, menjaga kerukunan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau aparat keamanan, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. “Pilkada adalah pesta demokrasi, bukan ajang untuk saling menjatuhkan atau menebar kebencian. Kami berharap masyarakat dapat menyikapi perbedaan pilihan politik dengan bijak dan menjadikan keberagaman ini sebagai kekayaan bangsa,” pesannya.

 

Ditegaskan Gur Rozin, dalam Pilkada Serentak 2024, peran santri di Jawa Tengah kian terasa sebagai penjaga harmoni sosial dan perekat persatuan. “Di tengah berbagai persaingan politik yang kadang menyulut perpecahan, santri dari berbagai pesantren dan lembaga pendidikan agama terus bergerak untuk menguatkan pesan perdamaian dan persaudaraan di antara masyarakat,” tegasnya.

 

Bagi kalangan santri, Pilkada bukan sekadar ajang politik tetapi juga panggilan untuk menjaga persatuan bangsa. Para santri memahami pentingnya menjaga situasi yang kondusif, dengan menghadirkan nilai-nilai Islami yang menyejukkan dalam kehidupan masyarakat. Dengan kepekaan sosial yang dimiliki, santri berperan sebagai penjaga kerukunan dengan terus mengajak masyarakat untuk menghargai perbedaan pandangan politik.

 

Gus Rozin mengungkapkan bahwa santri memiliki peran penting sebagai pembawa pesan damai di tengah situasi politik yang dinamis. “Santri adalah bagian dari masyarakat yang terdepan dalam memelihara ukhuwah, baik antarumat seagama maupun antarwarga yang berbeda latar belakang. Dalam setiap pemilu atau pilkada, santri dibekali oleh para kiai dengan pemahaman untuk tetap netral, tetapi aktif dalam mengajak masyarakat menjaga ketenangan,” ujarnya.

 

Dalam konteks Pilkada, santri juga aktif mengikuti pendidikan politik yang beretika serta bijak, baik dari pengasuh pesantren maupun tokoh-tokoh agama lainnya. “Mereka dibekali pemahaman tentang pentingnya demokrasi yang bersih dan aman, serta didorong untuk menjadi penghubung komunikasi antara berbagai lapisan masyarakat, terutama dalam lingkungan pedesaan yang sering kali terpengaruh oleh isu-isu politik lokal,” bebernya.

 

Santri juga turut berperan sebagai relawan pemilu yang membantu mengedukasi masyarakat tentang proses pemilu yang jujur dan adil. “Mereka mengajak warga untuk menyikapi perbedaan pilihan politik dengan kepala dingin dan menghindari hoaks serta kampanye hitam yang berpotensi memecah belah persaudaraan,” jelas Gus Rozin.

 

Peran santri adalah sebagai perekat yang menghubungkan semua elemen masyarakat. “Mereka hadir tidak hanya sebagai pelajar agama, tetapi juga sebagai pendorong kedamaian yang mendukung persatuan negeri. Kami percaya, dengan kehadiran santri, Pilkada Serentak 2024 di Jawa Tengah ini akan lebih damai dan menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas bangsa,” tutur pengasuh Ponpes Maslakul Huda Kajen Pati tersebut.

 

Di tengah berbagai dinamika yang ada, Gus Rozin berharap semua santri yang mengikuti Jalan Sehat Santri NU Jawa Tengah tersebut bisa menjadi perekat persatuan negeri bukan hanya menjaga ketenangan menjelang Pilkada, tetapi juga memperkuat jiwa nasionalisme dan cinta tanah air di tengah-tengah masyarakat.

 

Santri Jateng Siap Sambut Indonesia Emas 2024

Kegiatan Jalan Sehat Santri NU Jawa Tengah yang bertemakan “Santri Sehat Menuju Indonesia Emas 2045” memberikan pesan bahwa di tengah situasi politik yang memanas, pesan yang diusung PWNU Jawa Tengah ini menjadi sangat relevan.

 

Sebagai generasi muda yang berlandaskan pada ajaran agama dan nilai-nilai Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah, para santri memiliki potensi besar dalam menggerakkan perubahan sosial yang positif. Gus Rozin menekankan bahwa santri harus mengambil bagian aktif dalam pembangunan bangsa. "Santri bukan lagi hanya sebagai pelajar yang mendalami ilmu agama, tetapi juga sebagai calon pemimpin masa depan yang berakhlak mulia dan cinta tanah air. Mereka harus siap berperan lebih besar dalam menyambut visi Indonesia Emas 2045," tuturnya.

 

Para santri kini tak hanya mempelajari ilmu keagamaan, tetapi juga dilatih untuk mengembangkan keterampilan dan wawasan dalam teknologi, kewirausahaan, dan sosial kemasyarakatan. Di berbagai pondok pesantren, para santri sudah mulai terlibat dalam program-program pelatihan digital, pertanian modern, hingga wirausaha berbasis syariah. Langkah-langkah ini diambil untuk mempersiapkan mereka menjadi generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi dalam membangun ekonomi bangsa.

 

“Dengan bekal agama yang kuat, para santri mampu menjadi pelopor perdamaian, toleransi, dan gotong-royong. Nilai-nilai ini sangat penting bagi Indonesia yang majemuk, khususnya dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas yang menjunjung tinggi persatuan di atas segala perbedaan,” ujarnya.

 

Di tahun 2024, santri diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, sosial, ekonomi, hingga politik. Dengan keterlibatan aktif dalam berbagai bidang tersebut, santri siap menjadi agen perubahan yang berperan besar dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju dan bermartabat.

 

Sebagai bagian dari visi ini, PWNU Jawa Tengah juga mendukung berbagai inisiatif untuk memperkuat keterampilan dan pemahaman para santri terhadap tantangan dan peluang masa depan. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi, santri diajak memahami dan memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah yang efektif serta untuk menyebarkan pesan-pesan positif yang mendukung kerukunan bangsa.

 

Oleh karena itu, PWNU Jawa Tengah periode 2024-2029 mengusung visi "Terwujudnya Jamiyah Nahdlatul Ulama sebagai Organisasi Keagamaan-Kemasyarakatan yang Digdaya dan Bermartabat, Perekat Kemanusiaan, dan Kebangsaan berbasis Nilai-nilai Ahlussunah Waljamaah" dengan Nawa Kartiga 9 Program Strategis. Pertama, transformasi digital dengan melakukan transformasi digital dalam organisasi untuk mendorong terwujudnya organisasi jamiyyah Nahdlatul Ulama yang efektif, efisien serta bisa dirasakan kehadiran dan kemaslahatannya oleh jamaah secara luas dan jamiyah mulai tingkat ranting, MWC, hingga cabang.

 

Kedua, memperkuat organisasi PWNU, yaitu untuk memperkuat organisasi PWNU sejak dari ranting. Penguatan ini dilakukan secara aktif, komunikatif, dan efektif agar agenda, program dan kegiatan di tingkat wilayah hingga ranting bisa berjalan secara sinkron, saling mendukung, memperkuat, dan memberi manfaat.

 

Ketiga, fasilitasi pembelajaran program, yaitu untuk memfasilitasi pembelajaran program di antara pengurus tingkat cabang agar pencapaian unggul dan sukses di tingkat pengurus cabang bisa ditranformasikan ke pengurus cabang lainnya.

 

Keempat, kemandirian organisasi, yaitu untuk memfasiliatsi pembelajaran program di antara pengurus tingkat cabang agar pencapaian unggul dan sukses di tingkat pengurus cabang bisa ditranformasikan ke pengurus cabang lainnya.

 

Kelima, membangun kemitraan dan Kerjasama dengan pemerintah daerah dan pihak lainnya dengan posisi kerja sama sebagai mitra yang kritis dan produktif.

 

Keenam, penguatan Aswaja dan karakter moderat untuk menyemai dan menyebarkan paham Ahlussunah wal jamaah dan penguatan karakter moderat di berbagai level terutama di daerah Jawa Tengah yang masuk dalam kategori zona merah intoleransi dan radikalisme ekstrem.

 

Ketujuh, sinergi antarlembaga, yaitu untuk mengembangkan konektifitas dan sinergitas pesantren, madrasah dan ma’had aly-lembaga perguruan tinggi NU-sebagai pionir kegiatan pendidikan dan transformasi keilmuan.

 

Kedelapan, mengawal Undang-Undang Pesantren, yaitu untuk mengawal implementasi UU pesantren dan regulasi turunannya secara sistematis, konsisten dan berkelanjutan agar manfaatnya dirasakan sebesar-besarnya oleh santri dan pesantren.

 

Kesembilan, masjid-musala sebagai nasis, yaitu untuk menggerakkan dan memberdayakan masjid dan musala sebagai basis pembelajaran, dakwah, dan ekonomi serta memperkuat basis keluarga sebagai upaya membangun keluarga maslahat pada bidang sosial budaya, pendiidkan, Kesehatan dan ekonomi yang menjunjung tinggi asas Mabadi al-Khamsah.

 

Gus Rozin menegaskan, bahwa Indonesia Emas bukan sekadar target, tetapi menjadi impian kolektif yang membutuhkan kontribusi dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk santri. Melalui dedikasi, nilai-nilai moral, dan semangat untuk terus belajar, santri siap melangkah bersama seluruh elemen bangsa menuju masa depan Indonesia yang gemilang.

 

PWNU Jawa Tengah berharap, melalui kegiatan Jalan Sehat Santri NU Jawa Tengah seperti ini, masyarakat dapat semakin sadar akan pentingnya persatuan dan mampu menghadapi setiap perbedaan pandangan politik dengan sikap yang lebih bijak. (HI).