PURWOREJO, Tabayuna.com
– Dalam rangka menghadapi kemarau panjang dan memohon rahmat Allah Swt. berupa turunnya hujan yang membawa keberkahan bagi kehidupan, Keluarga Besar SMK Negeri 4 Purworejo menggelar Salat Istisqa pada Kamis, 15 Oktober 2026. Kegiatan berlangsung dengan khidmat di Lapangan Utama SMK Negeri 4 Purworejo.

Kegiatan ini mengusung tema “Mengetuk Pintu Langit melalui Salat Istisqa: Meningkatkan Keimanan, Memperkuat Muhasabah, dan Memohon Rahmat Allah Swt. berupa Hujan demi Keberkahan Kehidupan.”

Salat Istisqa dipimpin oleh Dr. Muhammad Ridho Muttaqin, M.Pd.I., yang bertindak sebagai imam sekaligus khatib. Kegiatan diikuti oleh Kepala SMK Negeri 4 Purworejo beserta seluruh guru dan karyawan, taruna-taruni, jajaran komite sekolah, pengawas sekolah, kepala desa dan perangkat, serta tokoh masyarakat setempat. Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dalam berdoa dan berikhtiar menghadapi dampak kemarau panjang.

Dalam sambutannya, Kepala SMK Negeri 4 Purworejo, Dra. Indriati Agung Rahayu, M.Pd., menyampaikan bahwa pelaksanaan Salat Istisqa merupakan bentuk ikhtiar bersama untuk memohon pertolongan Allah Swt. di tengah kondisi kemarau panjang yang berpotensi memengaruhi ketersediaan air dan aktivitas masyarakat.

Beliau mengajak seluruh warga sekolah untuk menjadikan momentum ini sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt., serta melakukan introspeksi diri atas segala perilaku dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga melalui ikhtiar dan doa bersama ini, Allah Swt. segera menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi semua. Mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat keimanan, memperbaiki diri, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan,” ujarnya.

Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA, SMK, dan SLB Kabupaten Purworejo, Faizal, S.Ag., M.Pd.I., dalam sambutannya memberikan apresiasi atas inisiatif SMK Negeri 4 Purworejo dalam menyelenggarakan Salat Istisqa sebagai bagian dari pembinaan spiritual warga sekolah.

Beliau menegaskan bahwa kegiatan keagamaan di lingkungan pendidikan menjadi momentum untuk menguatkan kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dan senantiasa membutuhkan pertolongan Allah Swt.

"Atas nama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purworejo sangat mengapresiasi kegiatan hari ini dimana baru pertama kalinya dilaksanakan salat istisqa pada jenjang SMK SMA di Kabupaten Purworejo. Tentunya kegiatan ini menjadi satu bentuk ikhtiar kita, melihat saudara-saudara kita yang terkena bencana kekeringan termasuk juga kebakaran di berbagai wilayah Indonesia" tandasnya.

Bertindak sebagai khatib Dr. Muhammad Ridho Muttaqin, M.Pd.I., yang merupakan Guru Pendidikan Agama Islam di SMK Negeri 4 Purworejo menyampaikan dalam khutbahnya bahwa Salat Istisqa merupakan ibadah yang disyariatkan untuk memohon kepada Allah Swt. agar menurunkan hujan ketika manusia menghadapi kekeringan dan membutuhkan air.

Khatib mengawali khutbah dengan mengajak seluruh jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. serta menyadari bahwa air merupakan salah satu nikmat terbesar yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan. Menurutnya, kemarau panjang yang saat ini terjadi hendaknya tidak hanya dipandang sebagai persoalan alam, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Setiap muslim diajak mengevaluasi kualitas ibadah, memperbaiki hubungan dengan Allah Swt., meningkatkan kepedulian terhadap sesama, serta memperbaiki perilaku terhadap lingkungan.

Khatib mengingatkan pentingnya memperbanyak istigfar, bertaubat dengan sungguh-sungguh, meningkatkan amal saleh, menunaikan hak sesama, serta memperkuat persaudaraan.

"Saya mengajak kepada seluruh jamaah untuk merenungkan firman Allah Swt. dalam Surah Nuh ayat 10–12, yang menjelaskan ajakan Nabi Nuh a.s. kepada kaumnya agar memohon ampun kepada Allah Swt., karena Allah Maha Pengampun dan menjanjikan berbagai karunia-Nya, termasuk hujan yang melimpah. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa istigfar dan taubat merupakan bagian penting dari kehidupan seorang muslim. Adanya keadaan ini hendaknya menjadi kesempatan untuk memperkuat iman, memperbaiki diri, dan meningkatkan kepedulian. Doa dan tawakal harus berjalan beriringan dengan ikhtiar nyata. Seluruh warga sekolah dan seluruh masyarakat harus menjaga sumber air, menghemat penggunaan air bersih, memelihara pepohonan, menjaga kebersihan lingkungan, serta membangun kebiasaan hidup yang bertanggung jawab terhadap alam" ujarnya.

Menutup khutbahnya, khatib mengajak seluruh jamaah untuk menundukkan hati, memohon ampunan, dan berdoa dengan penuh harap agar Allah Swt. menurunkan hujan yang membawa manfaat, bukan hujan yang menimbulkan kerusakan. Jamaah juga diajak memohon agar diberikan kecukupan air, dijauhkan dari kekeringan yang berkepanjangan, serta dianugerahi kehidupan yang aman, sehat, dan penuh keberkahan


SEMARANG, Tabayuna.com
– Kepala SD Negeri Patemon 02 Kota Semarang, Dr. Dian Marta Wijayanti, S.Pd., M.Pd., meraih Juara III kategori GTK Transformatif–Kepala Sekolah dalam ajang Lomba Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Tingkat Kota Semarang Tahun 2026. Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas dedikasi, inovasi, dan kontribusinya dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Berdasarkan sertifikat penghargaan Nomor B/2396/400.3.10.5/X/2026, penghargaan tersebut diberikan di Semarang pada 28 September 2026. Sertifikat ditandatangani secara elektronik oleh Dr. Muhammad Ahsan, S.Ag., M.Kom.

Prestasi ini menempatkan Dian Marta Wijayanti sebagai salah satu kepala sekolah yang memperoleh apresiasi dalam kategori GTK Transformatif. Kategori tersebut menjadi ruang penghargaan bagi guru dan tenaga kependidikan yang berkontribusi dalam pengembangan pendidikan melalui dedikasi, inovasi, serta upaya perbaikan mutu layanan pendidikan.

Bagi satuan pendidikan, kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran strategis dalam menentukan arah pengembangan sekolah. Kepala sekolah tidak hanya bertanggung jawab terhadap tata kelola administrasi, tetapi juga perlu membangun budaya kerja yang kolaboratif, mendorong kreativitas guru, serta memastikan proses pembelajaran berjalan sesuai kebutuhan peserta didik.

Dalam konteks tersebut, penghargaan yang diraih Dian menjadi momentum untuk terus memperkuat kepemimpinan pendidikan yang berorientasi pada perubahan dan peningkatan kualitas layanan sekolah. Prestasi ini sekaligus membawa nama SDN Patemon 02 Kota Semarang dalam ajang apresiasi GTK di tingkat kota.

Kepemimpinan Transformatif dan Tantangan Pendidikan

Kepemimpinan transformatif di lingkungan sekolah tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menghasilkan program baru. Lebih dari itu, transformasi pendidikan perlu tercermin dalam perubahan budaya organisasi, peningkatan kompetensi guru, penguatan karakter peserta didik, serta tata kelola sekolah yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Kepala sekolah dituntut mampu menerjemahkan kebijakan pendidikan menjadi praktik nyata yang berdampak pada pembelajaran. Inovasi perlu disertai evaluasi yang terukur agar perubahan yang dilakukan tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau dokumentasi administratif, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi warga sekolah.

Dalam menghadapi tantangan pendidikan yang semakin kompleks, sekolah juga membutuhkan kepemimpinan yang terbuka terhadap kolaborasi, perkembangan teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, penghargaan GTK Transformatif dapat menjadi pemantik untuk menjaga konsistensi inovasi sekaligus memperluas dampak positif bagi lingkungan pendidikan.

Apresiasi sekaligus Tanggung Jawab

Capaian Juara III ini patut dipandang bukan semata-mata sebagai hasil kompetisi, melainkan juga sebagai pengingat bahwa peningkatan mutu pendidikan membutuhkan komitmen berkelanjutan. Penghargaan merupakan salah satu bentuk pengakuan, sedangkan ukuran penting keberhasilan kepemimpinan tetap terletak pada perubahan nyata yang dirasakan peserta didik, guru, tenaga kependidikan, dan masyarakat.

Ke depan, capaian tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi SDN Patemon 02 Kota Semarang untuk terus mengembangkan praktik pendidikan yang inovatif, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.

Prestasi Dian Marta Wijayanti juga dapat menjadi inspirasi bagi kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya untuk terus belajar, memperkuat kolaborasi, serta membangun ekosistem pendidikan yang responsif terhadap perubahan.

Dengan semangat transformasi yang berkelanjutan, penghargaan ini diharapkan tidak menjadi titik akhir, tetapi menjadi pijakan untuk menghadirkan tata kelola sekolah yang semakin berkualitas dan pembelajaran yang semakin bermakna bagi generasi masa depan.

 


Semarang, Tabayuna.com - SUPER-LOKA hadir sebagai praktik baik yang dikembangkan oleh Dr. Dian Marta Wijayanti, S.Pd., M.Pd.  untuk memudahkan guru melakukan refleksi dan inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI). Di SDN Patemon 02 Kota Semarang, SUPER-LOKA dikembangkan sebagai pendekatan supervisi yang tidak hanya berfokus pada pengamatan pembelajaran, tetapi juga memberikan ruang kepada guru untuk mengevaluasi praktik yang telah dilakukan, menemukan tantangan, dan merancang perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan.


Selama ini, refleksi pembelajaran terkadang masih dipahami sebagai kegiatan yang dilakukan setelah proses pembelajaran selesai tanpa tindak lanjut yang sistematis. Guru dapat mengetahui bahwa terdapat bagian pembelajaran yang perlu diperbaiki, tetapi tidak selalu mudah menentukan langkah konkret yang harus dilakukan. SUPER-LOKA berupaya menjembatani kebutuhan tersebut dengan menghadirkan proses refleksi yang lebih terarah, dialogis, dan didukung oleh teknologi AI sebagai alat bantu.


Dalam pelaksanaannya, guru diajak melihat kembali proses pembelajaran secara menyeluruh. Guru tidak hanya bertanya apakah tujuan pembelajaran telah tercapai, tetapi juga menganalisis bagaimana peserta didik merespons pembelajaran, strategi apa yang berjalan efektif, bagian mana yang mengalami kendala, serta bagaimana lingkungan sekolah dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Proses tersebut membantu guru mengembangkan kebiasaan refleksi yang berangkat dari pengalaman nyata di kelas.


AI kemudian dimanfaatkan sebagai salah satu instrumen pendukung dalam proses refleksi. Guru dapat memasukkan catatan hasil observasi, pengalaman pembelajaran, atau permasalahan yang ditemukan ke dalam sistem AI untuk memperoleh alternatif pertanyaan reflektif dan gagasan pengembangan pembelajaran. AI membantu memperluas sudut pandang guru, tetapi keputusan akhir tetap berada pada guru berdasarkan konteks peserta didik dan pertimbangan profesional.


Kemudahan tersebut membuat proses refleksi menjadi lebih praktis. Guru tidak harus memulai dari halaman kosong ketika ingin mencari alternatif solusi terhadap permasalahan pembelajaran. Dengan memberikan instruksi atau prompt yang tepat, guru dapat meminta AI membantu mengembangkan berbagai kemungkinan strategi pembelajaran, aktivitas peserta didik, pertanyaan pemantik, media pembelajaran, maupun bentuk asesmen yang relevan dengan tujuan pembelajaran.


SUPER-LOKA juga mendorong guru untuk menggunakan AI secara kritis. Setiap informasi atau gagasan yang dihasilkan AI tidak langsung diterapkan begitu saja. Guru perlu memeriksa kesesuaian informasi, mempertimbangkan karakteristik peserta didik, memastikan kesesuaian dengan kurikulum, serta menyesuaikan gagasan dengan kondisi nyata sekolah. Dengan demikian, pemanfaatan AI tetap berada dalam kendali guru sebagai profesional pendidikan.


Kekuatan lain SUPER-LOKA terletak pada integrasi aspek ekologis dalam proses refleksi dan inovasi. Guru didorong untuk memikirkan bagaimana lingkungan sekolah dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar peserta didik. Masalah sampah, penggunaan air, penghijauan, energi, kebersihan lingkungan, hingga pemanfaatan bahan bekas dapat menjadi sumber masalah autentik yang dikembangkan menjadi kegiatan pembelajaran.


Melalui dukungan AI, ide-ide sederhana tersebut dapat dikembangkan menjadi rancangan pembelajaran yang lebih kreatif. Misalnya, guru dapat mengembangkan pembelajaran berbasis proyek tentang pengelolaan sampah, pembelajaran matematika dengan menggunakan data lingkungan sekolah, pembelajaran IPAS melalui pengamatan tanaman, atau Pendidikan Pancasila melalui kegiatan gotong royong menjaga kebersihan lingkungan. Teknologi membantu guru mengeksplorasi kemungkinan, sedangkan konteks lokal menjadi dasar pengembangannya.


SUPER-LOKA juga memberikan ruang bagi guru untuk melakukan inovasi secara bertahap. Inovasi tidak harus selalu berupa penggunaan teknologi yang kompleks atau menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Perubahan sederhana dalam strategi pembelajaran, penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar, variasi asesmen, pengembangan media dari bahan bekas, atau penerapan metode pembelajaran yang lebih melibatkan peserta didik dapat menjadi bentuk inovasi apabila memberikan perbaikan terhadap proses dan pengalaman belajar.


Dalam proses tersebut, peran kepala sekolah menjadi sangat penting. Kepala sekolah tidak hanya melakukan supervisi untuk menilai pembelajaran, tetapi memberikan pendampingan agar guru mampu merefleksikan praktiknya. Hasil observasi menjadi bahan dialog profesional antara kepala sekolah dan guru. Bersama-sama mereka mengidentifikasi kekuatan, menemukan area yang perlu dikembangkan, dan menyusun rencana tindak lanjut yang realistis.


SUPER-LOKA selanjutnya dapat menjadi bagian dari budaya belajar bersama di sekolah. Guru yang telah mencoba suatu inovasi dapat berbagi pengalaman kepada rekan sejawat melalui komunitas belajar. Gagasan yang berhasil dapat dikembangkan, sedangkan pengalaman yang belum optimal dapat menjadi bahan diskusi untuk menemukan perbaikan. Dengan cara ini, refleksi tidak berhenti pada individu, tetapi berkembang menjadi budaya kolaborasi di lingkungan sekolah.


Pemanfaatan AI dalam SUPER-LOKA pada akhirnya bukan semata-mata tentang kecanggihan teknologi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut membantu guru menghemat waktu, memperluas gagasan, dan memperoleh alternatif dalam mengembangkan pembelajaran. AI menjadi alat bantu yang mendukung guru untuk berpikir lebih reflektif dan kreatif, bukan menggantikan peran guru dalam mengambil keputusan pedagogis.


SUPER-LOKA menegaskan bahwa guru yang reflektif adalah guru yang terus belajar, sementara guru yang inovatif adalah guru yang berani mengubah pengalaman menjadi perbaikan. Dengan memadukan supervisi yang reflektif, kepedulian ekologis, kolaborasi, dan pemanfaatan AI secara bertanggung jawab, SDN Patemon 02 Kota Semarang berupaya membangun pembelajaran yang terus berkembang sesuai kebutuhan peserta didik dan tantangan zaman.


Pada akhirnya, SUPER-LOKA bukan sekadar sebuah program supervisi, melainkan sebuah gerakan untuk menumbuhkan budaya refleksi dan inovasi di sekolah. AI membantu guru menemukan lebih banyak kemungkinan, lingkungan memberikan konteks pembelajaran yang nyata, dan supervisi memberikan ruang untuk berefleksi. Dari proses tersebut diharapkan lahir guru yang semakin adaptif, pembelajaran yang semakin bermakna, serta sekolah yang terus bergerak menjadi lingkungan belajar yang inovatif, ekologis, dan berkelanjutan.


Semarang, Tabayuna.com - Kepala Sekolah SDN Patemon 02 Kota Semarang Dr. Dian Marta Wijayanti, M.Pd., melakukan pendampingan supervisi pembelajaran berbasis ekologis dan Artificial Intelligence (AI) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan budaya refleksi guru di sekolah. Pendampingan ini dikembangkan melalui praktik baik SUPER-LOKA (Supervisi Pembelajaran Berbasis Ekologis dengan Optimalisasi Kinerja AI), yang memadukan supervisi akademik, kepedulian terhadap lingkungan, refleksi pembelajaran, kolaborasi guru, serta pemanfaatan teknologi AI secara bijak dan bertanggung jawab.

"Pelaksanaan SUPER-LOKA berangkat dari pemahaman bahwa supervisi pembelajaran tidak semestinya hanya berorientasi pada pemeriksaan administrasi pembelajaran. Supervisi perlu menjadi proses pendampingan yang membantu guru mengidentifikasi kekuatan, menemukan tantangan, melakukan refleksi, dan merancang perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan. Kepala sekolah berperan sebagai pendamping dan fasilitator yang menciptakan ruang dialog profesional sehingga guru merasa didukung untuk mengembangkan praktik pembelajaran yang inovatif," katanya, Senin (7/9/2026)

Pendekatan ekologis menjadi salah satu karakter utama dalam pelaksanaan supervisi. Lingkungan sekolah tidak hanya dipandang sebagai tempat berlangsungnya pembelajaran, tetapi juga sebagai sumber belajar yang kaya dan kontekstual. Guru didorong untuk mengintegrasikan potensi lingkungan sekitar, kearifan lokal, pengelolaan sampah, penghematan energi dan air, penghijauan, serta kepedulian terhadap lingkungan ke dalam proses pembelajaran sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan peserta didik.

Dalam tahap praobservasi, kepala sekolah bersama guru melakukan dialog mengenai perencanaan pembelajaran. Guru diberi kesempatan menjelaskan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, strategi pembelajaran, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, serta teknologi yang akan digunakan. Pada tahap ini, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu guru mengembangkan ide, menyusun alternatif aktivitas pembelajaran, membuat pertanyaan pemantik, merancang asesmen, dan melakukan penyempurnaan perangkat pembelajaran dengan tetap mempertimbangkan validitas pedagogis serta konteks nyata peserta didik.

Tahap observasi pembelajaran dilakukan dengan menempatkan proses belajar peserta didik sebagai fokus utama. Kepala sekolah mengamati keterlibatan siswa, interaksi guru dan siswa, penerapan strategi pembelajaran, penggunaan media, pemanfaatan lingkungan, diferensiasi pembelajaran, serta munculnya praktik inovatif di kelas. Penggunaan instrumen supervisi diarahkan untuk memperoleh data yang objektif sehingga hasil observasi dapat menjadi dasar bagi percakapan reflektif, bukan sekadar penilaian terhadap kinerja guru.

Setelah pembelajaran selesai, kepala sekolah melaksanakan tahap pascaobservasi melalui dialog reflektif bersama guru. Guru diajak mengidentifikasi bagian pembelajaran yang telah berjalan efektif, kendala yang muncul, respons peserta didik, serta aspek yang masih perlu diperbaiki. AI dapat digunakan sebagai salah satu alat bantu untuk mengorganisasi catatan refleksi, mengembangkan alternatif solusi, dan memberikan perspektif tambahan terhadap rancangan tindak lanjut, sementara keputusan profesional tetap berada pada guru dan kepala sekolah.

SUPER-LOKA juga mendorong guru untuk melihat hubungan antara kualitas pembelajaran dan budaya sekolah yang peduli terhadap lingkungan. Pembelajaran berbasis proyek, pemecahan masalah, eksperimen sederhana, observasi lingkungan, maupun kegiatan kolaboratif dapat dikembangkan dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai laboratorium belajar. Dengan demikian, pendidikan lingkungan tidak berhenti pada slogan, tetapi hadir dalam pengalaman belajar yang nyata dan dekat dengan kehidupan peserta didik.

Optimalisasi AI dalam supervisi juga diarahkan pada peningkatan kompetensi digital guru. Kepala sekolah mendorong guru untuk mengenal penggunaan prompt yang efektif, memeriksa kembali keluaran AI, membandingkan informasi dengan sumber yang terpercaya, menjaga privasi data peserta didik, serta menggunakan AI secara etis. Prinsip utama yang ditekankan adalah bahwa AI berfungsi sebagai co-pilot dalam proses pengembangan pembelajaran, bukan sebagai pengganti kreativitas, pertimbangan pedagogis, dan tanggung jawab profesional guru.

Hasil pendampingan kemudian menjadi bahan untuk menyusun rencana tindak lanjut. Guru yang telah menunjukkan praktik inovatif didorong untuk berbagi pengalaman melalui komunitas belajar sekolah, sedangkan guru yang masih menghadapi kendala memperoleh pendampingan yang lebih terarah. Bentuk tindak lanjut dapat berupa coaching, diskusi antarguru, berbagi praktik baik, pengembangan perangkat pembelajaran, maupun pendampingan penggunaan AI untuk merancang pembelajaran yang lebih kontekstual dan berdampak.

Dikatkan Dian, pendekatan ini juga memperkuat budaya kolaborasi di SDN Patemon 02 Kota Semarang. Supervisi tidak lagi dipersepsikan sebagai kegiatan yang berlangsung satu arah antara kepala sekolah dan guru, tetapi sebagai proses belajar bersama. Kepala sekolah belajar memahami kebutuhan guru, guru belajar melakukan refleksi terhadap praktiknya, dan komunitas sekolah bersama-sama mencari solusi atas berbagai tantangan pembelajaran yang dihadapi.

Melalui SUPER-LOKA, SDN Patemon 02 berupaya membangun ekosistem pembelajaran yang mengintegrasikan refleksi, inovasi, teknologi, dan kepedulian ekologis. Setiap proses supervisi diarahkan agar menghasilkan perubahan yang dapat terlihat dalam praktik pembelajaran, baik melalui peningkatan kualitas perencanaan, keterlibatan peserta didik, pemanfaatan lingkungan, penggunaan teknologi secara bijak, maupun keberanian guru untuk mencoba pendekatan pembelajaran yang baru.

Pendampingan supervisi pembelajaran berbasis ekologis dan Artificial Intelligence ini menjadi salah satu langkah SDN Patemon 02 Kota Semarang dalam membangun budaya sekolah yang adaptif terhadap perubahan. SUPER-LOKA menegaskan bahwa supervisi bukan sekadar aktivitas untuk melihat apa yang dilakukan guru, tetapi sebuah proses untuk membantu guru menemukan apa yang dapat dikembangkan. Dari refleksi lahir inovasi, dari kolaborasi tumbuh budaya belajar, dan melalui pemanfaatan AI yang bertanggung jawab, pembelajaran dapat terus bergerak menuju pengalaman yang lebih kontekstual, ekologis, manusiawi, dan bermakna bagi peserta didik.