Articles by "Tarbiyah"
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan


TEMANGGUNG, Tabayuna.com
– Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung resmi membuka kegiatan Pendidikan Keaswajaan bagi 130 mahasiswa semester VII. Kegiatan strategis yang diinisiasi oleh Pusat Aswaja An-Nahdliyah INISNU Temanggung (PUSWAN) ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 14–16 Juli 2026, bertempat di Aula INISNU Temanggung.


Dalam sambutan pembukaannya, Rektor INISNU Temanggung, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menegaskan bahwa nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama institusi. “Aswaja An-Nahdliyah telah terintegrasi secara utuh ke dalam Visi dan Misi INISNU maupun di tingkat Program Studi (Prodi). Hal ini juga menjadi rekomendasi penting saat proses akreditasi, sekaligus menjawab langsung apa yang menjadi kebutuhan riil di tengah masyarakat,” kata Rektor saat membuka acara di lantai 3 INISNU Temanggung, Selasa (14/7/2026).


Rektor menjelaskan, jika dilihat dari dimensi capaian pembelajaran yang meliputi aspek knowledge (pengetahuan), skills (keterampilan), dan attitude (sikap) maka setiap mahasiswa INISNU mutlak wajib menguasai empat aspek utama keaswajaan.


Pertama adalah Akidah atau keyakinan, di mana mahasiswa harus kokoh memegang prinsip Islam ala Ahlussunnah Waljamaah sebagai fondasi keimanan. Kedua adalah Fikrah atau pola pikir, yang memosisikan Aswaja sebagai landasan dalam merespons berbagai dinamika sosial dan keilmuan secara tawasut (moderat) dan tawazun (seimbang). Ketiga adalah Amaliah atau praktik ibadah, sebagai wujud tindakan nyata sehari-hari yang mencerminkan tradisi luhur NU. Keempat adalah Harakah atau gerakan, yang menjadi manifestasi dalam bentuk gerakan sosial-dakwah yang santun, inklusif, dan membawa kemaslahatan.


Agenda intensif ini dirancang untuk membentuk karakter mahasiswa yang berilmu, berakhlak, dan berkompeten. Peserta yang menyelesaikan seluruh rangkaian program juga akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat langsung bagi kehidupan, bimbingan dari narasumber kompeten, serta Sertifikat Keaswajaan resmi sebagai bukti partisipasi aktif.

Sebelum program utama dibuka untuk mahasiswa, Tim PUSWAN terlebih dahulu menggelar koordinasi internal pada Senin, 13 Juli 2026 di Ruang Rapat Lantai 2 guna menyamakan persepsi dan memastikan kesiapan para mentor agar mampu menjalankan tugas sesuai tujuan institusi.


Rangkaian materi edukasi pun dikemas secara padat dan sistematis. Pada hari pertama, Selasa, 14 Juli 2026, kegiatan diawali dengan pembukaan resmi oleh Rektor yang dilanjutkan dengan sesi Pendampingan Baca Tulis Al-Qur'an (BTQ) bersama Sholahidin Al Ayubi. Sesi pagi ini berfokus pada pengenalan huruf hijaiyah, makharijul huruf, tajwid dasar, hingga tahsin bacaan demi meningkatkan literasi Al-Qur'an mahasiswa. Memasuki siang hari, KH. Abdul Muchid, M.Ag. memandu Pendampingan Hadoroh, Tahlil, dan Yasinan. Di sini, mahasiswa dibekali tata cara, bacaan doa, hingga praktik langsung memimpin tahlil sebagai upaya memelihara tradisi amaliah Ahlussunnah wal Jama'ah.


Hari kedua, Rabu, 15 Juli 2026, diisi dengan pendalaman materi teoretis dan retorika. Pada sesi pagi, KH. Dzia’ullamik memimpin Kajian Turats atau Kitab Kuning yang mengupas tuntas Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah, sejarah NU, serta internalisasi nilai-nilai keutamaan seperti tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i'tidal. Memasuki sesi siang, giliran Abdul Rofiq, S.H. yang memberikan Pelatihan Dai Muda Aswaja. Mahasiswa dilatih menguasai teknik public speaking, penyusunan materi dakwah, serta retorika yang mengedepankan moderasi beragama untuk membentuk kader dai yang komunikatif.


Memasuki hari terakhir, Kamis, 16 Juli 2026, pelatihan difokuskan pada aspek praktis kemasyarakatan. Sesi pagi diawali oleh Dr. KH. Muhammad Syakur, M.H. yang mengawal Praktik Khotbah, Kultum, atau Ceramah Singkat, yang ditutup dengan sesi sakral Ijazahan Yasin Fadhilah. 


Sesi siang dilanjutkan dengan agenda yang sangat krusial di tengah masyarakat, yaitu Praktik Pemulasara Jenazah Laki-laki dan Perempuan serta Talqin Mayit yang dipandu langsung oleh Tim LDNU. Rangkaian program ini ditutup pada sore hari dengan Monitoring dan Evaluasi Kompetensi Keaswajaan melalui Uji Keaswajaan, baik berupa tes tertulis maupun nontes saat praktik, yang dipimpin oleh KH. Nashih Muhammad, M.H.


Selain itu, kata Rektor, mahasiswa juga akan mendapatkan bimbingan dan syahadah Yasin Fadlilah dari Dr. KH. Muhammad Syakur, M.H., (Wakil Katib PWNU Jawa Tengah dan Direktur Program Pascasarjana INISNU Temanggung).


Melalui evaluasi kompetensi yang ketat tersebut, PUSWAN berharap capaian dan ketercapaian kompetensi keaswajaan mahasiswa dapat terukur secara objektif. Output dari kegiatan ini ditargetkan melahirkan laporan pembinaan yang komprehensif sekaligus mencetak lulusan yang siap menjadi benteng serta penggerak tradisi Islam Nusantara di lingkungan masyarakat luas. (*)


Temanggung, Tabayuna.com – Program Pascasarjana Magister (S2) Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung kembali menggelar kegiatan akademik berskala internasional bertajuk International Studium Generale dengan tema “Eco-Spiritualism in Islamic Education for the SDGs: Concept and Implementation in Indonesia, Bangladesh, Libya, and India”, pada Sabtu, 25 Oktober 2025, bertempat di Ruang Pertemuan Lantai 2 INISNU Temanggung dan digelar secara virtual melalui Zoom Meeting dan live streaming Youtube pada akun INISNU TV.


Kegiatan ini menghadirkan pembicara dari empat negara, yaitu Mahmuduulhassan, MA, MSS (Bangladesh), Mowafg Masuwd, Ph.D (University of Zawia, Libya), Dr. Anurag Hazarika (Tezpur College, Assam, India), dan Dr. Samikshya Madhukullya (Krishna Kanta Handiqui State Open University, Assam, India).


Dari pihak INISNU Temanggung, turut hadir dan memberikan sambutan Rektor INISNU Temanggung Dr. H. Muh. Baehaqi, M.M., C.AH., Wakil Rektor I Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., serta Kaprodi Magister Pendidikan Agama Islam Dr. Husna Nashihin, M.Pd.I. Hadir pula Dr. KH. Muh. Syakur, M.H., selaku Kaprodi Magister Hukum Islam INISNU Temanggung.



Dalam sambutannya, Rektor INISNU Temanggung menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen kampus dalam menguatkan jejaring akademik internasional dan mengembangkan paradigma pendidikan Islam berwawasan ekologis. “Isu eco-spiritualism sangat relevan dengan prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin dan juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs),” ujarnya.


Sementara itu, Wakil Rektor I Dr. Hamidulloh Ibda menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga memiliki nilai praktis untuk pengembangan kurikulum yang berorientasi pada pendidikan berkelanjutan. “Magister INISNU terus berupaya menghadirkan riset dan praktik pendidikan Islam yang membumi serta menanamkan kesadaran ekologis berbasis spiritualitas,” tuturnya.


Kegiatan ini diselenggarakan secara blended method (tatap muka dan Zoom Meeting), diikuti oleh ratusan peserta dari Indonesia, Malaysia, Bangladesh, India, dan negara lainnya.


Dalam paparannya, para narasumber menyoroti pentingnya pendidikan Islam yang mengintegrasikan nilai spiritual, etika, dan ekologi. Salah satunya, Dr. Mowafg Masuwd, Ph.D dari University of Zawia, Libya, memaparkan hasil penelitiannya berjudul “Eco-Spiritualism in Islamic Education for the SDGs: Concept and Implementation in Libya.” 


Ia menekankan bahwa pendidikan Islam berpotensi besar menumbuhkan tanggung jawab ekologis dengan menghidupkan kembali konsep tawhid, khilafah, amanah, dan mizan dalam praktik pendidikan dan kehidupan sosial.


Melalui kegiatan ini, Program Pascasarjana INISNU Temanggung bertekad memperluas peran akademisi Islam dalam membangun kesadaran global akan pentingnya spiritualitas ekologis demi tercapainya pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya material, tetapi juga etis dan transendental.


Semarang, Tabayuna.com
— Kepala SDN Gajahmungkur 03 Kota Semarang, Dr. Dian Marta Wijayanti, M.Pd., menjadi salah satu narasumber dalam Seminar Internasional “Kolaborasi Pendidikan Lintas Negara untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar” yang digelar oleh Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Kegiatan ini berlangsung di Ruang Collaborative Smart Classroom, Gedung A3 FIPP UNNES, pada 23 Oktober 2025 dan dihadiri oleh Persatuan Kepala Sekolah SD Hulu Selangor, Malaysia.

Sebelum sesi seminar dimulai, para peserta dari Indonesia dan Malaysia terlebih dahulu melakukan kunjungan observasi pembelajaran di SD Labschool UNNES, guna melihat langsung penerapan praktik pendidikan berbasis budaya positif di sekolah.

Seminar dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dan dibuka oleh Dekan FIPP UNNES, Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Si. Dalam sambutannya, Prof. Edy menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara untuk memperkuat mutu pendidikan dasar di kawasan ASEAN.

“Indonesia dan Malaysia memiliki banyak kesamaan dalam konteks pendidikan. Kolaborasi seperti ini menjadi ruang untuk saling belajar dan menguatkan,” ujar Prof. Edy.

Pada kesempatan tersebut, Dian Marta Wijayanti membagikan praktik baik penguatan budaya positif dan numerasi yang telah diterapkan di SDN Gajahmungkur 03. Ia memaparkan strategi sekolah dalam menumbuhkan budaya positif melalui pembiasaan nilai-nilai karakter, lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan, serta kolaborasi aktif antara guru, siswa, dan orang tua.

Dian juga menampilkan capaian peningkatan Rapor Pendidikan SDN Gajahmungkur 03, khususnya dalam komponen kemampuan numerasi yang mengalami peningkatan signifikan — dari kategori kuning (sedang) menjadi hijau (baik).

“Budaya positif di sekolah tidak hanya berdampak pada perilaku siswa, tetapi juga pada peningkatan hasil belajar, termasuk numerasi. Kuncinya adalah keterlibatan semua pihak secara konsisten,” ungkap Dian.

Usai sesi seminar, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah dan diskusi reflektif antara peserta Indonesia dan Malaysia. Dalam suasana hangat, kedua belah pihak saling bertukar pengalaman terkait praktik pembelajaran di sekolah masing-masing. Salah satu topik yang menarik perhatian adalah strategi pendampingan bagi anak berkebutuhan khusus, atau yang di Malaysia dikenal sebagai pembelajaran khas.

Kegiatan internasional ini menjadi momentum penting bagi para kepala sekolah untuk memperluas wawasan, memperkuat jejaring, serta meneguhkan komitmen bersama dalam memajukan pendidikan dasar yang inklusif dan berkualitas.


Rembang, Tabayuna.com
- Lembaga Pendidikan Ma'arif NU PCNU Rembang mengawali Diklat Aswaja NU setelah mengalami penyesuaian kurikulum dan materi-materi Diklat yang lebih relevan untuk diterapkan dalam madrasah/sekolah Ma'arif NU di Jawa Tengah. Kegiatan dilaksanakan di Kantor Kementerian Agama Kab. Rembang pada Jum'at dan Sabtu (10-11/10/2025).


Diklat Aswaja diikuti oleh 72 peserta guru Ke-NU-an di MI, MTs, MA dan SMK Ma'arif Rembang. Dalam pembukaannya dihadiri oleh Rois Syuriyah NU PCNU Rembang, Ketua Tanfidliyah PCNU Rembang, Kepala Kantor Kementerian Agama Kab Rembang dan Ketua beserta narasumber LP Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah.


Laporan pembukaan disampaikan oleh Ketua LP Ma'arif NU PCNU Rembang, Abdul Aziz, menyampaikan apresiasi terhadap partisipasi peserta. "Ini adalah sebagai bentuk khidmat kami sebagai pengurus Ma'arif untuk memastikan madrasah/sekolah dalam mengajarkan dan mengimplementasikan Aswaja NU di madrasah/sekolah masing-masing,

Kedepan di Rembang anak-anak yang sekolah di Ma'arif adalah anak-anak hebat," tuturnya.


Penasihat LP Ma'arif NU PCNU Rembang sekaligus Kepala Kantor Kementerian Agama Kab Rembang, Moh. Mukson mengatakan momen ini adalah sejarah untuk pertama kalinya ada pelatihan terkait dengan KeNUan di Ma'arif Rembang, kegiatan Diklat ini sangat penting karena untuk memahami dan mendalami Aswaja NU dari sisi kurikulumnya, untuk diterapkan dalam pembelajaran di madrasah/sekolah," tuturnya.


"Untuk mengurusi Ma'arif di Rembang, kita butuh orang-orang yang punya waktu dan siap nggéteh untuk memajukan Ma'arif," imbuhnya.


Ketua PCNU Rembang, KH. Muhtar Nur Halim mengatakan agar anak-anak kita tidak salah menggambil ilmu pengentahuan dari sumber yang tidak benar, maka perlu kita ikuti Diklat ini, nnti kita akan mendapatkan ilmu dan sanad keilmuan yang benar. "Kalau kalian mengambil ilmu dari sanad yang salah maka kalian bisa menjadi sesat," demikian arahannya.


"Bagaimana kalau Guru-guru Ma'arif berkumpul untuk menyusun materi LKS yang bisa disajikan dan ilmunya juga jelas sanadnya, untuk nanti disebarkan dan dipakai oleh madrasah/sekolah Ma'arif NU Rembang" imbuhnya.


Dihari pertama Diklat diawali dengan materi Orientasi Kegiatan (Desain pengembangan Aswaja NU di Madrasah/sekolah Ma'arif NU) yang disampaikan oleh Ketua LP Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah, Fakhruddin Karmani. 


Dilanjutkan oleh Instruktur Nasional PD PKPNU dan Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah, KH. Kholison Syafi'i dengan materi Internalisasi nilai-nilai aswaja annahdliyah. Hari pertama ditutup dengan materi Strategi dan Model-model Pembelajaran ke-NU-an oleh Wakil Ketua LP Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah, Hidayatun.


Analisis Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran Kurikulum ke-NU-an akan disampaikan dihari kedua oleh Muhammad Syaiful, pengurus LP Ma'arif NU Jateng bidang Kurikulum. Asesmen Mata Pelajaran ke-NU-an oleh pengurus LP Ma'arif NU bidang Madrasah, Abd. Hamid, dan Strategi Penguatan Ideologi dan Pembiasaan Amaliyah Aswaja NU oleh Aswaja Center UNWAHAS, Ma'as Shobirin. (*)


Phnom Penh, TABAYUNA.com
- Pendidikan Islam tak lagi terbatas pada ruang kelas atau batas negara. Inilah semangat yang dibawa Fakultas Agama Islam Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang saat melakukan perjalanan akademik ke Kamboja pada 19 Agustus 2025.

Dipimpin langsung oleh Dekan, Dr. H. Iman Fadhilah, M.Si., bersama Wakil Dekan II, Dr. Muhammad Ahsanul Husna, M. Pd., Sekprodi PGMI Ersila Devy Rinjani M.Pd., dan Kepala UPT Bahasa Unwahas Ulya Himawati, M. Pd. sebagai delegasi FAI Unwahas mengunjungi Madrasah An-Nikmah Al-Islamiyah di Phnom Penh. Pertemuan hangat ini mencapai puncaknya dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara kedua lembaga, sebuah langkah yang meneguhkan tekad bersama untuk memperkuat pendidikan Islam di tengah komunitas Muslim minoritas di Kamboja.

MoU tersebut ditandatangani oleh Dr. Iman Fadhilah mewakili Unwahas dan Hj. Ierasath Bin Yousof mewakili Madrasah An-Nikmah Al-Islamiyah. Ruang lingkup kerja sama ini tidak sekadar formalitas, melainkan program nyata yang meliputi pertukaran pelajar, kolaborasi penelitian, penguatan program keagamaan, penerimaan mahasiswa baru, hingga penyelenggaraan seminar, lokakarya, dan pengembangan jaringan informasi.

“Kerja sama ini adalah wujud nyata komitmen Unwahas untuk menghadirkan Islam yang santun, moderat, dan rahmatan lil ‘alamin melalui jalur pendidikan. Kami percaya, kolaborasi ini tidak hanya bermanfaat bagi Unwahas, tetapi juga memperkuat kapasitas pendidikan Islam di Kamboja,” ungkap Dr. Iman Fadhilah.

Senada, Dr. Muhammad Ahsanul Husna menambahkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi internasionalisasi FAI. “Kolaborasi ini akan memberikan pengalaman lintas budaya bagi mahasiswa kami sekaligus mendukung pengembangan sumber daya manusia di Madrasah An-Nikmah,” jelasnya.

Madrasah An-Nikmah Al-Islamiyah sendiri selama ini menjadi pusat pendidikan Islam bagi komunitas Muslim minoritas di Phnom Penh. Dengan hadirnya kerja sama ini, Unwahas dan An-Nikmah berharap tercipta ekosistem pendidikan Islam yang unggul, toleran, dan inklusif di ranah global.

Jajaran Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) Jawa Tengah melakukan audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi pada Senin (12/8/2025) di Kantor Gubernur Jawa Tengah.


SEMARANG, Tabayuna.com – Dalam rangka mematangkan persiapan Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (PORSEMA) XIII tingkat Jawa Tengah, Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) Jawa Tengah melakukan audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi pada Senin (12/8/2025) di Kantor Gubernur Jawa Tengah. Audiensi ini juga dihadiri para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Ketua LP Ma’arif NU Jawa Tengah, Fakhruddin Karmani, hadir bersama jajaran pengurus wilayah, antara lain Wakil Ketua Idayatun, Sekretaris Muhamad Muzammil, Sekretaris Ahasnul Husna, serta jajaran panitia PORSEMA XIII. Pertemuan tersebut membahas secara khusus progres persiapan PORSEMA XIII yang akan digelar pada 10–13 September 2025 di Kabupaten Wonosobo, sekaligus mengundang langsung Gubernur untuk hadir membuka acara tersebut.

Selain membahas PORSEMA, Fakhruddin juga memaparkan agenda besar lainnya, yaitu Kemah Kemanusiaan dan Perdamaian Internasional yang akan berlangsung pada 20–26 Oktober 2025 di Malang. Agenda ini akan melibatkan kontingen Pramuka Satuan Komunitas (Sako) Ma’arif NU Jawa Tengah, dengan misi mengusung nilai-nilai perdamaian, solidaritas, dan persaudaraan lintas bangsa.

“Mohon Pak Gubernur berkenan hadir membuka acara PORSEMA XIII tanggal 10 September di Wonosobo dan juga berkenan melepas kontingen Kemah Pramuka Sako Ma’arif Jawa Tengah pada 20 Oktober di Malang,” ujar Fakhruddin di hadapan Gubernur.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Ahmad Luthfi menyambut positif undangan tersebut. Ia menyatakan kesediaannya untuk hadir di dua agenda besar LP Ma’arif NU Jawa Tengah tersebut. Gubernur juga memberikan instruksi langsung kepada jajaran OPD terkait untuk memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk fasilitas maupun koordinasi teknis.

“Ini adalah bagian dari tindak lanjut kerja sama kita. Saya minta teman-teman OPD mendukung penuh kegiatan LP Ma’arif. Tolong dicatat dan diagendakan, sehingga semua berjalan lancar,” tegas Gubernur.

PORSEMA XIII rencananya akan diikuti ribuan pelajar dari madrasah dan sekolah di bawah naungan LP Ma’arif NU se-Jawa Tengah. Ajang ini akan mempertandingkan berbagai cabang olahraga, seni, dan keterampilan yang tidak hanya menonjolkan prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter dan mempererat ukhuwah antar pelajar. Sementara itu, Kemah Kemanusiaan dan Perdamaian Internasional akan menjadi momentum penting bagi pelajar Ma’arif untuk berinteraksi dengan peserta dari berbagai daerah bahkan mancanegara, meneguhkan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi.

Dengan dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, diharapkan kedua agenda tersebut dapat terlaksana sukses, meriah, dan bermanfaat bagi penguatan pendidikan berbasis nilai-nilai kebangsaan dan ke-NU-an. (TB1/Sulton).


Semarang, TABAYUNA.com
— Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah menyambut hangat kedatangan rombongan peserta study banding MTs Salafiyah Simbang Kulon II Buaran, Kabupaten Pekalongan yang diselenggarakan sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan dan literasi. Kegiatan itu diikuti sebanyak 20 siswi MTs Salafiyah Simbangkulon II yang tergabung dalam Tim Jurnalistik madrasah dan Pembina Jurnalistik Muhyiddin.

Kegiatan ini diterima langsung oleh Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Fakhruddin Karmani, Koordinator Bidang Pengembangan Pendidikan Sekolah (SD/SMP/SMA) Dr. Heri Nugroho, M.S.I., M.Si, Wakil Sekretaris Fikri Sholakhuddin, M.Pd., dan Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., di kantor LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Semarang, Jumat (8/8/2025).

Dalam sambutannya, H. Fakhruddin Karmani menyampaikan apresiasi atas inisiatif study banding ini. “Kegiatan ini adalah wujud semangat untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat jejaring pendidikan di lingkungan Ma’arif NU. Harapannya, hasil dari kunjungan ini dapat diimplementasikan secara nyata di MTs Salafiyah Simbang Kulon II Kabupaten Pekalongan,” ujarnya.

Senada dengan itu, Koordinator GLM Plus, Hamidulloh Ibda, menegaskan bahwa Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus menjadi kunci peningkatan kualitas pendidikan. “Melalui GLM Plus, kami mendorong madrasah dan sekolah Ma’arif untuk mengembangkan inovasi literasi yang berbasis budaya lokal, teknologi, dan nilai-nilai ke-NU-an. Study banding ini menjadi momen strategis untuk saling menginspirasi dan menguatkan gerakan literasi di Jawa Tengah maupun di luar daerah,” ungkapnya.

Dalam paparan materinya, Dr. Hamidulloh Ibda memaparkan berbagai program unggulan GLM Plus yang mencakup Gerakan Literasi Membaca dan Menulis, Literasi Karya Jurnalistik, Literasi Karya Ilmiah, Literasi Karya Sastra, hingga Literasi Numerasi. Program ini juga diperkuat dengan penyelenggaraan Temu Penulis dan Sastrawan Ma’arif, penerbitan majalah MOPDIK setiap tahun, penerbitan artikel di Jurnal ASNA dua kali setahun, serta penerbitan dan percetakan buku melalui CV. Asna Pustaka.

Ia juga menjelaskan capaian signifikan GLM Plus selama 2024–2025, seperti terselenggaranya Diklat GLM Plus Part 1 hingga Part 9, publikasi harian di website maarifnujateng.or.id, kerja sama dengan 14 media siber, dan kegiatan GLM Ramadan 1446 H yang digelar di delapan titik di berbagai kabupaten/kota Jawa Tengah. Semua capaian ini bertujuan untuk meningkatkan mutu literasi membaca, jurnalistik, ilmiah, sastra, dan numerasi di sekolah serta madrasah Ma’arif NU.

Selain fokus pada literasi, GLM Plus juga mengembangkan program penguatan pendidikan inklusi dengan menyediakan modul pelatihan, memfasilitasi publikasi karya guru dan siswa, serta membantu penerbitan buku dengan ISBN. “Targetnya, pada 2027 seluruh sekolah dan madrasah Ma’arif NU di Jawa Tengah dapat menjadi satuan pendidikan literat yang inklusif, memiliki branding positif di media massa, dan mampu menghasilkan karya berkualitas,” tegas Ibda.

Kegiatan study banding ini meliputi diskusi, pemaparan program unggulan, serta kunjungan lapangan ke sekolah dan madrasah binaan LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah. Para peserta diharapkan membawa pulang ide-ide segar yang dapat diaplikasikan demi memajukan pendidikan dan literasi di daerah masing-masing.

“Tanpa publikasi, madrasah dan sekolah Ma’arif akan tertinggal. Selain publikasi cetak dan manual, penguatan website, medsos, dan branding madrasah sangat penting di era digital ini,” kata Ibda.

Sementara itu, salah satu pembina jurnalistik MTs Salafiyah Simbang Kulon II, Dian Nafisa, menyampaikan bahwa semua peserta adalah anggota baru yang masih belajar jurnalistik dasar. “Kami berharap redaksi MTs bisa lebih berkembang dan profesional dalam mengelola berita madrasah,” katanya. (Tb1/Sul)


Tabayuna.com - Pada Sabtu (2/8/2025) Pekan Olah Raga dan Seni Ma'arif (PORSEMA) Tahun 2025 Secara resmi dibuka oleh  Wakil Wali Kota Pekalongan, Hj. Balgis Diab, SE., S.Ag., MM., acara ini digelar di SMK Syafi’i Akrom. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diinisiasi oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif Pengurus Nahdlatul Ulama (NU), sebagai wadah pembinaan dan pengembangan bakat siswa di bidang olahraga dan seni.


Dalam sambutannya, Hj. Balgis Diab menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan PORSEMA yang dinilai tidak hanya sebagai kompetisi, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter dan nilai-nilai kebangsaan bagi pelajar.


“Ajang ini bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi lebih dari itu, bagaimana siswa bisa menumbuhkan sportivitas, kerja sama, dan semangat berprestasi. PORSEMA menjadi salah satu bentuk konkret pembinaan karakter generasi muda kita,” ungkap Balgis.





PORSEMA 2025 menjadi ajang yang sangat dinanti oleh para pelajar di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. Selain bertujuan menggali dan mengembangkan potensi siswa dalam bidang seni dan olahraga, kegiatan ini juga mengedepankan nilai-nilai pendidikan yang berbasis akhlak dan kebudayaan lokal.


Sementara itu, Ketua LP Ma’arif, Muhamad Subhan menyampaikan bahwa peserta Porsema diikuti 297 atlet. Sedangkan tagline yang diusung Ma’arif Hebat, Nusantars Kuat, Prestasi Dahsyat.


“Harapannya, PORSEMA tahun ini akan menjadi momentum mempererat tali persaudaraan antar pelajar Ma’arif sekaligus menunjukkan bakat-bakat luar biasa dari para siswa,” ujarnya.


Rangkaian kegiatan PORSEMA akan berlangsung selama beberapa hari ke depan, dengan mempertandingkan berbagai cabang olahraga seperti Catur, Lari Sprint, Tenis Meja, Bulu Tangkis, Senam Nahdlotul Ulama dan Lompat Jauh.



Sementara cabang seni meliputi Pencaksilat Wiraloka, Kaligrafi, Poster Digital, MTQ, Puisi Religi, Pidato Bahasa Inggris, Pidato Bahasa Arab dan Pidato Bahasa Indonesia. Para peserta berasal dari berbagai tingkatan pendidikan Ma’arif se-Kota Pekalongan.


Dengan semangat kolaborasi dan prestasi, PORSEMA 2025 diharapkan dapat mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademis, namun juga kreatif, kompetitif, dan berkarakter Aswaja An Nahdliyah yang kuat


Kudus, TABAYUNA.com
– Dalam rangka memperkuat implementasi kemitraan dunia kerja dan Teaching Factory (TeFa), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Ma'arif Jawa Tengah menggelar kegiatan bertajuk “Praktik Baik Kemitraan dan Teaching Factory SMK Ma’arif Se-Jawa Tengah”. Acara ini berlangsung pada Rabu, 24 Juli 2024 bertempat di SMK Ma'arif Kudus.

Kegiatan ini dihadiri oleh para kepala sekolah, ketua Bursa Kerja Khusus (BKK), Wakil Kepala Sekolah (WKS) bidang kurikulum, guru produktif, dan pengelola unit produksi dari SMK Ma'arif se-Jawa Tengah. Kegiatan diawali dengan registrasi peserta pada pukul 07.30 WIB, dilanjutkan dengan pembukaan yang diisi oleh beberapa agenda penting. 

Dalam pembukaan, Kepala SMK Ma’arif Kudus memberikan sambutan hangat kepada seluruh peserta, disusul laporan kegiatan oleh Ketua MKKS SMK Ma’arif Jateng, Arif Zaenal Mubarok, ST., M.Pd. Acara pembukaan juga dimeriahkan dengan sambutan dari Ketua PW LP Ma’arif NU PWNU Jateng, Dr. Ahsanul Husna, yang memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan vokasi berbasis keagamaan dan kemandirian.

Setelah rehat sejenak, acara dilanjutkan dengan sesi inti berupa paparan praktik baik dari dua topik utama. Topik pertama mengangkat tema “Praktik Baik Kemitraan dan Karir Lanjut” yang dipaparkan oleh Kepala Sekolah Arif Zaenal Mubarok, ST., M.Pd., Ketua BKK Zamroni, M.Pd., dan Arif Syaifudin, M.Pd. Mereka berbagi pengalaman tentang strategi membangun kemitraan yang berkelanjutan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) guna mendukung penyerapan lulusan SMK.

Topik kedua mengangkat tema “Praktik Baik Teaching Factory” yang disampaikan oleh Zaiem Rosyadi, M.Pd. dan Benny Yulianto, M.T. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan wawasan mengenai pengelolaan unit produksi yang menyatu dengan proses pembelajaran di kelas, sehingga dapat menjadi sarana pelatihan wirausaha dan keterampilan kerja secara langsung bagi siswa. Paparan tersebut mendapat respons antusias dari peserta yang terlihat aktif berdiskusi dan menggali inspirasi untuk diterapkan di sekolah masing-masing.

Setelah istirahat, sholat, dan makan siang (ISHOMA) sebelum memasuki agenda terakhir yaitu Gemba (kunjungan lapangan ke unit kerja dan workshop SMK Ma'arif Kudus). Dipandu oleh Eko Prasetya Yulianto, M.Kom., peserta diajak meninjau langsung aktivitas teaching factory yang telah berjalan di SMK Ma’arif Kudus sebagai model praktik baik yang bisa direplikasi di SMK Ma’arif lainnya.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan seluruh SMK Ma’arif se-Jawa Tengah dapat memperkuat sinergi dengan dunia kerja dan meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis industri melalui Teaching Factory. Hal ini sejalan dengan visi LP Ma’arif NU Jawa Tengah dalam mencetak lulusan SMK yang unggul, profesional, dan berdaya saing global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. (TB11/Sulton).


Semarang, TABAYUNA.com
- Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PBNU yang juga menjabat Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T., menyampaikan pentingnya peran kepala madrasah sebagai pemimpin yang cepat dan tanggap dalam berbagai hal.

“Kepala madrasah menjadi lokomotif pergerakan yang cepat. Dalam istilah Bahasa Inggris, harus FAST,” ujar Prof. Ali Ramdhani atau yang akrab disapa Kang Dhani saat memberikan arahan pada kegiatan Diklat Penguatan Kompetensi Kepala Madrasah Ma’arif NU Jawa Tengah Angkatan 2 Tahun 2025, Rabu (23/7/2025), di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang, Banyumanik.

Kang Dhani menjelaskan bahwa FAST merupakan akronim dari Fathonah, Amanah, Shiddiq, dan Tabligh. “Fathonah berarti kecerdasan yang tidak hanya intelektual, tapi juga emosional. Seorang kepala madrasah harus berpikir tidak hanya dengan otak, tetapi juga dengan hati,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah, Fakhruddin Karmani, menjelaskan bahwa kegiatan diklat ini bertujuan untuk mencetak kepala madrasah yang berintegritas, berkompeten, dan memiliki komitmen tinggi dalam meningkatkan mutu pendidikan.

“Dengan kepemimpinan yang kuat, madrasah diharapkan mampu mengembangkan potensi siswa secara optimal dan menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas,” ungkap Fakhrudin.

Diklat ini berlangsung selama lima hari, mulai Senin hingga Jumat (21–25 Juli 2025), dan diikuti oleh 80 kepala madrasah dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Turut hadir mendampingi Kang Dhani dalam kegiatan ini, Kepala BDK Semarang Dr. H. Muchammad Toha, S.Ag., M.Si., serta Kasubag TU BDK Semarang, Siti Nur Ma’unah, S.H.I. (TB22/Sulton)


Pekalongan, TABAYUNA.com
— Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (PORSEMA) ke-13 tingkat Kabupaten Pekalongan siap digelar. Ketua Panitia PORSEMA XIII, Subkhi, menyampaikan bahwa seluruh persiapan telah rampung menjelang pembukaan yang dijadwalkan pada Rabu pagi, (23/7), di Lapangan Desa Kebonsari, Kecamatan Karangdadap.


Menurut Subkhi, hari ini (Senin) dilaksanakan gladi bersih untuk memastikan kesiapan upacara pembukaan. Seluruh petugas upacara berasal dari siswa-siswi MA NU dan SMP NU Karangdadap, dan telah dinyatakan siap melaksanakan tugas masing-masing. Untuk gelaran PORSEMA ini akan berlangsung pada tanggal 23-24 Juli 2025.


“Fasilitas untuk upacara saat ini sedang kita tata, dan insya Allah besok pelaksanaan pembukaan berjalan lancar. Rencananya akan dihadiri langsung oleh Ibu Bupati atau perwakilannya,” jelasnya.


Dalam gelaran PORSEMA kali ini, dari tiga jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK nantinya akan dipertandingkan sebanyak 68 cabang lomba. Cabang olahraga yang dilombakan antara lain futsal, atletik, bola voli, dan sepak takraw, sementara di bidang seni terdapat lomba seperti puisi religi dan MTQ.


Meski format pelaksanaan tidak banyak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, namun panitia menargetkan peningkatan prestasi. “Yang spesial tahun ini adalah targetnya. Biasanya kita masuk lima besar di Jawa Tengah, tahun ini kita targetkan bisa menembus tiga besar. Maka dari itu, persiapan dilakukan lebih maksimal,” ungkap Subkhi.


Ia juga menyebut bahwa cabang atletik selama ini menjadi andalan Kabupaten Pekalongan dalam meraih medali emas di ajang PORSEMA tingkat Provinsi. Selain itu, cabang seni dan futsal juga kerap menyumbang prestasi gemilang.


Menutup keterangannya, Subkhi berharap seluruh rangkaian kegiatan dari pembukaan hingga penutupan bisa berjalan lancar. “Harapan kami, semua peserta bisa berkompetisi dengan semangat, tidak ada kendala teknis, dan seluruh kegiatan diberi kelancaran oleh Allah SWT,” pungkasnya.


Disampaikan oleh Rupadi selaku seksi upacara saat memantau langsung gladi bersih yang digelar di Lapangan Desa Kebonsari, Kecamatan Karangdadap, Selasa (22/7). Terkait persiapan teknis upacara pembukaan Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (PORSEMA) ke-13 Kabupaten Pekalongan, telah mencapai 80 persen.

  

“Boleh dikatakan persiapan sudah 80 persen. Hari ini kita laksanakan untuk memantau langsung gladi bersih yang digelar di Lapangan Desa Kebonsari, Kecamatan Karangdadap, Senin (22/7).


Ia menambahkan, finalisasi persiapan akan dilakukan pada pagi hari menjelang upacara dimulai, dengan pengecekan langsung kondisi mimbar, peralatan pengeras suara, dan fasilitas lapangan lainnya. “Insya Allah besok pagi sudah 100 persen siap,” tegasnya.


Upacara pembukaan dijadwalkan akan dimulai pukul 08.00 WIB. Para tamu undangan diminta hadir tepat waktu, sedangkan peserta upacara dijadwalkan sudah berada di lokasi sejak pukul 07.00 WIB.


Rupadi menegaskan, pihaknya berharap seluruh rangkaian upacara berjalan lancar tanpa kendala teknis, karena para petugas sudah melalui latihan intensif sejak jauh-jauh hari.


“Harapan kami, sebagai penanggung jawab upacara, semoga acara pembukaan bisa berjalan tanpa kesalahan sedikit pun. Semua petugas yang sudah berlatih baik di sekolah maupun di lapangan, jadi kami optimis pelaksanaan akan berlangsung sukses,” pungkasnya.


Kontributor: Reza


Semarang, TABAYUNA.com – Setelah dikembangkan oleh Yunita Tiara Riski guru kelas III SDN Sekaran 02 Kota Semarang, beberapa waktu lalu, buku cerita Setiti terbukti efektif sebagai media pembelajaran literasi finansial di SDN Sekaran 02. “Nilai rerata pemahaman literasi finansial meningkat dari skor 53,9 menjadi 88,02. Perubahan sikap murid saat mengelola uang saku sangat signifikan, murid mulai terbiasa menyisihkan uang saku untuk bumbung kemanusiaan, infaq dan menyimpan sisa uang saku di dalam celengan,” beber Yunita pada 21 Juli 2025.

Guru kelas III Yunita Tiara Riski, S.Pd., menegaskan bahwa pembelajaran literasi finansial dengan media buku cerita Setiti sangat efektif. Buku cerita Setiti merupakan judul buku yang menceritakan kisah tokoh anak usia sekolah dasar yang bernama Setiti, Setia, Sekar dan Tita dalam mengelola uang mereka.  Nama tokoh utama Setiti mengadaptasi istilah Jawa "Setiti" yang memiliki arti teliti dan tekun.

Dijelaskan dia, bahwa buku cerita Setiti berbasis kearifan lokal Kota Semarang dan nilai filosofi karakter masyarakat Jawa dalam mengelola uang, diantaranya: aja milek barang kang melok, jer basuki mawa bea, urip iku urup, becik ketitik ala ketara, ajining diri saka lathi ajining raga saka busana, gemi nastiti ngati-ati. Cerita Setiti memuat 6 materi literasi finansial sesuai dengan ruang lingkup materi literasi finansial yang dikemukakan oleh Kemdikbud (2017) yaitu konsep uang, menabung, amal, prioritas, potensi sumber daya alam, dan anti korupsi. Dalam buku ini juga memuat bahan pendukung dan penguat pemahaman literasi finansial berupa adiksimbas (apa, dimana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana dan simpulan), dilengkapi dengan sekilas info, misi, ‘challenge’, dan kata-kata hari ini.

“Murid antusias membaca buku Setiti, hingga ada yang ingin membeli buku Setiti karena ceritanya relevan dengan kehidupan mereka. Mereka ingin membaca buku Setiti di rumah. Beberapa murid selepas kegiatan pembelajaran literasi menemui saya, menanyakan berapa harga buku Setiti? Dimana kami bisa membeli buku Setiti?” beber Yunita.  

Dengan memanfaatkan warisan budaya, kearifan lokal, generasi muda dapat belajar dari pengalaman leluhur mereka tentang bagaimana mengelola uang dengan bijaksana untuk keberlanjutan finansial jangka panjang.


oleh; Zahra agid tsabitah

Di tengah hiruk pikuk globalisasi dan arus deras revolusi industri 4.0, pendidikan di Indonesia berdiri di persimpangan jalan. Gelombang era digital bak samudera luas yang menjanjikan cakrawala baru, namun juga menyembunyikan karang tajam. Tantangan terbesar kita bukan lagi sekadar akses terhadap pendidikan, melainkan bagaimana memastikan bahwa setiap perahu layar yang kita luncurkan di samudera ini dilengkapi dengan navigasi dan awak yang berkualitas, siap mengarungi badai menuju pelabuhan kualitas sejati.


Dahulu kala, pendidikan kerap terganjal oleh bentangan geografis dan sekat ekonomi yang tebal. Anak-anak di pelosok negeri harus berjuang mati-matian demi selembar ijazah. Namun, kini, dengan penetrasi internet yang kian meluas dan genggaman smartphone di tangan jutaan orang, perpustakaan dunia maya dan ruang-ruang kelas digital seolah hadir di setiap saku. Platform belajar online, kursus daring masif terbuka, hingga ribuan video edukasi gratis, menjadi oase pengetahuan yang tak terbatas. Ini adalah demokratisasi akses yang luar biasa, sebuah lompatan kuantum dalam pemerataan kesempatan belajar yang patut kita syukuri dan manfaatkan sebaik-baiknya. Murid di pegunungan Papua kini berpotensi menyerap ilmu dari pengajar terbaik di Jakarta, bahkan dunia.


Namun, di balik optimisme ini, tersimpan pertanyaan krusial yang harus dijawab: apakah kemudahan akses secara otomatis berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pendidikan yang merata? Sayangnya, realitas seringkali berkata lain. Jurang infrastruktur digital yang masih menganga, terutama di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal menjadi penghambat utama. Banyak siswa masih berjuang dengan koneksi internet yang putus nyambung, atau bahkan ketiadaan perangkat yang memadai untuk belajar daring. Ibarat perahu tanpa layar atau mesin, sulit untuk berlayar jauh.


Lebih dari sekadar infrastruktur, kualitas pendidikan adalah tentang substansi. Ia bukan cuma soal materi yang tersedia, melainkan bagaimana materi itu disampaikan, dicerna, dan diimplementasikan. Transformasi digital menuntut guru-guru kita untuk bertransformasi dari sekadar penyampai informasi menjadi fasilitator, motivator, dan inovator pembelajaran. Mereka harus cakap tak hanya dalam mengoperasikan teknologi, tetapi juga dalam mendesain pengalaman belajar yang interaktif, menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi yang esensial di abad ke-21. Kurikulum yang relevan, yang adaptif terhadap perubahan zaman dan kebutuhan pasar kerja masa depan, juga harus terus diperbarui agar lulusan kita tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menghadapi ketidakpastian.


Ironisnya, jika tidak ditangani dengan bijak, era digital justru dapat memperlebar kesenjangan digital yang ada. Anak-anak dari keluarga berpunya, yang memiliki fasilitas lengkap dan bimbingan yang memadai, akan melaju lebih cepat dan semakin unggul. Sementara itu, mereka yang kurang beruntung akan semakin tertinggal, menciptakan stratifikasi sosial-ekonomi baru yang kontraproduktif terhadap semangat keadilan sosial. Ini adalah skenario yang harus kita hindari.


Maka dari itu, pelayaran pendidikan Indonesia di samudera digital ini membutuhkan strategi yang komprehensif dan kolaborasi multi-pihak. Pemerintah harus terus menggenjot pemerataan infrastruktur digital, menyediakan subsidi perangkat yang terjangkau, dan mengembangkan kebijakan yang inklusif. Lembaga pendidikan harus berinvestasi pada peningkatan kapasitas guru secara berkelanjutan, mengadopsi model pembelajaran hibrida yang efektif, dan meninjau ulang kurikulum agar lebih relevan. Masyarakat dan orang tua juga memiliki peran sentral dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif di rumah dan mendukung literasi digital anak-anak.


Mari kita jadikan teknologi sebagai angin di layar pendidikan kita, bukan sebagai badai yang menenggelamkan. Dengan visi yang jelas, upaya yang terkoordinasi, dan semangat pantang menyerah, pendidikan Indonesia dapat benar-benar berlayar ke kualitas sejati, mencetak generasi yang tak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global.


Temanggung, TABAYUNA.com
– Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah, Dr. Hamidulloh Ibda, memberikan studium generale bertema "Pelajar Santri di Era Disrupsi: Menjaga Nilai, Meraih Prestasi" di SMP dan MA Mu’allimin Temanggung, Senin (14/7/2025). Acara ini diikuti oleh ratusan pelajar dan guru, serta mendapat antusiasme tinggi dari para peserta.


Dalam pemaparannya, Dr. Ibda menjelaskan bahwa saat ini para pelajar dan santri dihadapkan pada era disrupsi—yakni perubahan besar dan cepat dalam berbagai aspek kehidupan yang dipicu oleh kemajuan teknologi seperti digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), augmented reality, dan globalisasi. “Disrupsi ini telah mengubah tatanan yang mapan dalam pendidikan, sosial, hingga nilai-nilai keagamaan,” ujar Wakil Rektor I INISNU Temanggung tersebut.


Ia mengulas tentang 10 tanda kehancuran bangsa menurut Thomas Lickona, seorang pakar pendidikan karakter asal Amerika Serikat. Tanda-tanda tersebut antara lain meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, krisis etika, rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, penggunaan bahasa yang kasar, penyalahgunaan narkoba dan alkohol, serta membudayanya ketidakjujuran dan hilangnya tanggung jawab sosial.


Selain itu, Dr. Ibda juga mengaitkan kehancuran tersebut dengan perspektif Al-Qur’an, khususnya dalam surat Ar-Rum ayat 41, yang menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah tangan manusia. Ia menafsirkan bahwa dalam Islam, kehancuran atau fasad bisa bersumber dari kerusakan akal (al-jahiliyyah), kerusakan moral (al-fasad), hingga kegelapan berpikir dan spiritual (al-zhulumat). “Ini menunjukkan bahwa kehancuran suatu bangsa bisa terjadi bukan hanya karena faktor eksternal, tetapi juga dari degradasi moral dan akhlak internal masyarakat,” tegasnya.


Dalam sesi utama, Dr. Ibda memaparkan berbagai strategi menjadi pelajar-santri yang berkualitas, seperti menjaga nilai-nilai adab sebelum ilmu, memperkuat integritas, meningkatkan literasi digital dan teknologi, aktif dalam kompetisi, hingga penguasaan bahasa asing. Ia juga menekankan pentingnya peran santri sebagai agen perubahan, pemimpin masa depan, dan kontributor peradaban dunia.


Lebih jauh, ia mengenalkan konsep AI in Education (AIEd) dan manfaat kecerdasan buatan dalam proses pembelajaran. Teknologi ini menurutnya bisa menjadi peluang untuk meningkatkan efisiensi, personalisasi pembelajaran, dan penguatan keterampilan abad ke-21, namun juga membawa ancaman seperti kelelahan digital, dehumanisasi pendidikan, hingga krisis interaksi sosial.


Acara ditutup dengan pesan penting bagi para pelajar dan santri untuk tetap menjaga jati diri, tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus informasi, serta terus menumbuhkan semangat belajar dan berkarya. “Santri Mu’allimin harus menjadi insan yang bukan hanya taat secara spiritual, tetapi juga cerdas secara intelektual dan adaptif terhadap zaman,” pungkas Dr. Ibda.


Acara ini menghadirkan pula Ketua Karang Taruna Kabupaten Temanggung dan pengurus LTN NU Temanggung, Yoki Mistoyo Syamsuddin sebagai narasumber. Acara secara resmi dibuka oleh Ketua Yayasan Mua’llimin Abdul Hadi Temanggung, Dr. KH. Muhammad Syakur, M.H. (Gus Syakur). (*)


Bandungan, TABAYUNA.com
– Organisasi yang sehat dan kuat tidak dibangun oleh satu orang, melainkan melalui kolaborasi semua unsur di dalamnya. Hal tersebut ditekankan oleh Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Fakhruddin Karmani, dalam kegiatan Retreat & Ma’arif Staff Meeting yang berlangsung pada 7–8 Juli 2025 di Vana Prasetya Villa, Puncak Gedongsongo, Bandungan, Kabupaten Semarang.

Dalam sambutannya, Fakhruddin menyampaikan bahwa membangun organisasi tidak cukup hanya mengandalkan peran ketua atau pengurus inti. “Kita semua memiliki keterbatasan dan tantangan masing-masing. Maka setiap elemen dalam organisasi—termasuk para staf yang sehari-hari bekerja di meja sekretariat, layanan, atau posisi lainnya—adalah bagian penting dari keberlangsungan organisasi,” ujarnya.

Ia menegaskan pentingnya peran staf sebagai penghubung vital dalam alur komunikasi dan koordinasi organisasi. “Informasi bisa saja terhenti di meja sekretariat jika staf tidak menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Karena itu, semua pihak harus merasa dihargai dan setara,” tegasnya. Kalimat “Aku, Kamu, Kita Setara” pun menjadi penegasan bahwa seluruh elemen organisasi memiliki kontribusi yang sama pentingnya.

Kegiatan ini dihadiri oleh staf LP Ma’arif NU Wilayah dan cabang-cabang se-Jawa Tengah. Mengangkat tema “Temu Rasa, Temu Rencana, Temu Solusi,” acara dikemas dalam suasana yang hangat dan akrab, tanpa sekat formalitas. Peserta duduk lesehan di alam terbuka, berbagi cerita, ide, dan keluhan secara bebas.

Dipandu oleh Sekretaris LP Ma’arif NU Jateng, Ahsanul Husna, suasana diskusi berlangsung penuh tawa dan keakraban. “Forum ini bebas dan tidak boleh terlalu serius. Setiap 5 menit bicara harus ada yang bisa bikin ketawa,” canda Ahsan yang sukses mencairkan suasana.

Sesi perkenalan dan berbagi unek-unek menjadi momen paling dinanti. Para peserta dengan antusias menceritakan pengalaman kerja mereka sebagai staf di cabang masing-masing, disambut komentar dan tawa dari peserta lain, menciptakan dinamika dialog yang hidup dan produktif.

Salah satu peserta, Eko Waluyo dari LP Ma’arif NU Cabang Purbalingga, menyambut positif kegiatan ini. Ia berharap acara serupa bisa digelar secara rutin. “Kegiatan seperti ini penting untuk mempererat koordinasi dan komunikasi yang nyaman antara staf cabang dan staf wilayah. Dengan begitu, seluruh informasi dari wilayah bisa tersampaikan dengan baik ke pimpinan dan satuan pendidikan,” ungkapnya.

Retreat ini tidak hanya menjadi ajang relaksasi, tetapi juga wadah refleksi dan konsolidasi antarstaf LP Ma’arif NU se-Jawa Tengah. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa organisasi akan kuat jika seluruh elemennya saling menghargai, berjejaring, dan bertumbuh bersama dalam semangat kesetaraan. (TB11).



Semarang, TABAYUNA.com
-  Rombongan pengurus Lembaga Pendidikan Ma`arif (LPM) NU PWNU Jawa Tengah diterima audiensi oleh Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, H. Saiful Mujab pada Jumat (10/1/2025). Dengan didampingi Kepala Bidang Pendidikan Madrasah (Pendma) H. Ahmad Faridi serta Kepala Bagian Tata Usaha H. Wahid Arbani, pertemuan dilaksanakan di ruang kerja Kanwil Kemenag Jawa Tengah. rombongan pengurus LP Ma`arif di pimpin Ketua LP Ma`arif NU Jateng Fakhruddin Karmani, dengan didampingi Wakil Ketua, Wakil Sekretaris, Koord. Bidang Kerjasama dan beberapa pengurus lain yang ikut hadir. 


Pada kesempatan tersebut, Fakhruddin Karmani membuka pembicaraan dengan menyampaikan maksud audiensi adalah melakukan penguatan kerjasama dan bersinergi antara Kanwil Kemenag Jawa Tengah dengan LP Ma`arif NU PWNU Jateng terkait Program Pengembangan Lembaga Pendidikan pada satuan pendidikan Madrasah, penguatan kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah pada satuan pendidikan Ma`arif. “Kami berharap adanya kolaborasi yang kuat antara Ma`arif dan Kemenag Jateng untuk bersama-sama memperkuta satuan pendidikan Madarsah, khsuusnya peningkatan kualitas dan kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah,” ujar Fakhruddin.


Sementara itu, Kakanwil Kemenag menyampaikan ucapan terima kasih atas kedatangan rombongan Ketua LP. Ma'arif dan juga menyampaikan terimakasih atas peran serta Ma`arif atas pengelolaan madrasah di Jawa Tengah, mengingat sebagian besar madrasah merupakan madrasah Maarif NU.  Kakanwil mendorong agar guru-guru madrasah untuk ikut asesmen agar peningkatan karier serta kesejahteraan Guru juga semakin meningkat. “Saya minta LP. Maarif ikut mendorong teman-teman Guru yang punya potensi untuk mengikuti asesmen, sehingga diharapkan kualitas dan mutu pendidikan madrasah semakin meningkat. Ini juga akan menjadikan regenerasi organisasi bisa berjalan baik, sehat dan makin berkualitas,” terangnya.


Pada kesempatan tersebut kedua belah pihak juga melakukan penandatangan langsung kerjasama antara LP Ma`arif NU PWNU Jateng dan Kanwil Kemenag Jateng. Kedua belah pihak sepakat mengikat diri dalam perjanjian kerja sama di bidang peningkatan kualitas pendidikan madrasah, peningkatan kualitas SDM dan tata kelola pendidikan madrasah Ma`arif di wilayah Jawa Tengah. (*)


TABAYUNA.com - STAINU Purworejo mengadakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKm) bertemakan  Upaya Penguatan Literasi Agama Melalui Kajian Fiqih “Thaharah” Bagi Kaum Ibu di Desa Kaliharjo, Kecamatan Kaligesing. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Rabu (18/12/2024) yang bertempat di Balai Desa Kaliharjo, Kecamatan Kaligesing.

Acara ini diikuti oleh peserta berjumlah 40 orang yang terdiri dari Perwakilan Ibu-ibu dari 4 Dusun di Desa Kaliharjo, Ibu Lurah Desa Kaliharjo, dan Mahasiswa KKN. Kegiatan ini diisi narasumber utama yakni Siti Khusniyati Sururiyah, M.Pd.I, selaku dosen STAINU Purworejo yang memiliki kepakaran keilmuan dalam bidang Pendidikan Islam. 

Selama ini banyak masyarakat awam yang masih salah kaprah dalam mempraktekkan cara bersuci, sehingga yang terjadi masih kurang pemahaman atau lupa tentang tata cara bersuci yang dapat menimbulkan masalah, seperti tidak sahnya shalat atau ibadah lainnya. Di awal kegiatan PKm tersebut, terlihat para peserta yang hadir banyak yang masih awam tentang materi “thaharah”. Hal ini sesuai dengan sambutannya dari Ibu Lurah desa Kaliharjo yang sangat mengapresiasi adanya kegiatan PKm Dosen tentang kajian fiqih “thaharah” yang menurut beliau merupakan suatu ilmu baru yang sangat dibutuhkan bagi warga ibu-ibu sebagai penguatan pemahaman literasi agama yang lebih mendalam. 

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pencerahan kepada para peserta tentang tata cara “thaharah” yang benar sesuai syar’i, karena thaharah merupakan hal yang urgent kaitannya dengan kesempurnaan dan sahnya ibadah kita sehari-hari. Penyampaian materi yang disampaikan terkait materi thaharah, mulai dari perbedaan hadats dan najis, pembagian najis ada 3 macam, yakni (najis mukhaffafah, najis mutawasitah, dan najis mughalladzah),  juga pembagian hadats, yakni hadats kecil dan hadats besar, beserta contoh dan cara mensucikannya.

Selain itu juga disampaikan pula tentang perbedaan mani, madzi dan wadi, lalu tentang darah haid, darah istihadhah, serta darah nifas. Pemaparan materi ini dianggap penting karena masih banyak peserta yang hadir yang tidak memahami tentang cara penghitungan waktu darah haid (baik minimal maupun maksimal keluarnya darah haid), pengetahuan tentang darah istihadhah serta darah nifas, berikut cara bersucinya beserta lafadz niat mandi besarnya. Narasumber juga tak lupa menyampaikan tentang syarat-syarat air yang dapat digunakan untuk bersuci, dan juga pengetahuan tentang “tayamum”. 

Hasil dari penyampaian PKm tentang materi “thaharah” ini terbilang sukses, karena terlihat dari antusias peserta yang hadir saat pemaparan materi yang ditampilkan lewat presentasi PPT dengan gambar-gambar yang menarik, ujar Siti Khusniyati. Terlebih para peserta diajak pula untuk diskusi tanya jawab santai, bersama-sama melafadzkan niat mandi besar, maupun praktek gerakan “tayamum”.

Di akhir kegiatan ini, Siti Khusniyati menyampaikan agar para peserta senantiasa mempraktekkan ilmu baru tentang ‘thaharah” ini dalam pelaksanaan ibadah harian, agar tercapainya syarat sahnya ibadah, untuk menjaga kebersihan diri dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah.


Semarang, TABAYUNA.com
- Pembelajaran digital memang sudah bukan menjadi hal yang tabu. Peserta didik Gen Z memandang digital sebagai bagian  yang tak terpisah dari diri mereka. Anak-anak lebih banyak memperoleh informasi dari gawai dibandingkan buku. Sebagai pendidik kita tidak dapat menyalahkan kondisi tersebut. Justru sebagai pendidik yang adaptif sudah seharusnya kita menyesuaikan diri.

Kurangnya kemampuan guru dalam mengimplementasikan tools digital dalam pembelajaran salah satunya disebabkan sedikitnya pelatihan yang diikuti. Beberapa pelatihan di internet memang banyak ditawarkan. Namun tidka sedikit yang berbayar dengan retribusi yang cukup tinggi. 

Melalui pengabdian ini, Muhammad Zainudin Al Amin dosen S1 Teknologi Informasi Universitas Muhammadiyah Semarang melaksanakan pengabdian di SDN Gajahmungkur 03 dengan judul “Inovasi Media Pembelajaran Interaktif dengan Menggunakan Permainan Edukasi”. Dalam sambutannya, Zainuddin menyampaikan bahwa aplikasi yang diberikan pada kegiatan pengabdian ini dapat diakses secara offline. Setelah mendownload, pengguna dapat memanfaatkan menu yang terdapat dalam aplikasi ini. 

Aplikasi yang dibuat oleh dosen yang juga pernah meneliti tentang “Optimalisasi Penggunaan Chromebook untuk Pendidikan Sekolah Dasar di SDN Plamongansari 01” ini sangat mudah diimplementasikan. Aplikasi ini memang berfokus pada mata pelajaran matematika materi bangun ruang. Namun dalam pengembangannya, tim pengabdian juga menyampaikan bahwa guru-guru dapat berkreasi sesuai dengan materi yang akan diberikan kepada peserta didik. 

Kepala Sekolah SDN Gajahmungkur 03 menyambut dengan hangat kemitraan yang dibangun oleh Universitas Muhammadiyah Semarang. Kegiatan yang juga dihadiri oleh Kaprodi Teknologi Informasi Ir. Achmad Solichan, ST., M.Kom. ini berlangsung khidmat. Guru-guru begitu antusias mempelajari Artificial Intelligence (AR) yang diberikan oleh tim pengabdian. Kegiatan ini sesuai dengan Visi Universitas Muhammadiyah Semarang yaitu “Unggul dalam menghasilkan ilmuwan berkarakter berbasis teknologi, dan berwawasan internasional”. (Tb44).


Semarang, TABAYUNA.com
- Artificial Intelligence in Education (AIEd) dan Machine Learning (ML) sangat memudahkan guru dalam memberkat penerapan deep learning di sekolah. Hal itu diungkapkan dosen sekaligus Wakil Rektor I INISNU Temanggung Dr. Hamidulloh Ibda dalam Workshop bertajuk "Penguatan Deep Learning melalui AIEd" yang digelar PGRI Cabang Gajahmungkur, Kota Semarang pada Rabu (4/12/2024) di SDN Petompon 02 Kota Semarang.

“AIEd itu bagian dari AI. Karena AI itu bisa digunakan dalam bidang ekonomi, industri, manufaktur, hukum, sosial, termasuk pendidikan. Berbicara AI ya tidak bisa lepas dengan deep learning. Berbicara deep learning, tidak bisa lepas juga dari AIEd atau machine learning,” imbuh Ibda.

Dikatakannya, deep learning itu hakikatnya pendekatan pembelajaran, bukan kurikulum baru. “Deep learning itu secara konseptual ya pendekatan pembelajaran, bukan kurikulum baru yang kemarin viral di media. Untuk menerapkan dan memperkuat deep learning, mau tidak mau ya melalui AIEd maupun Machine Learning," kata Ibda dalam workshop yang digelar di SDN Petompon Semarang tersebut

Dikatakan Hamidulloh Ibda, bahwa deep learning adalah pembelajaran dalam atau pembelajaran mendalam. "Deep learning dikenal juga deep structured learning (pembelajaran struktural mendalam), atau hierarchical learning (pembelajaran hierarki) yang merupakan salah satu cabang dari ilmu machine learning (pemelajaran mesin) yang terdiri atas algoritma pemodelan abstraksi tingkat tinggi pada data menggunakan sekumpulan fungsi transformasi non-linear yang ditata berlapis-lapis dan mendalam," kata reviewer pada 30 jurnal internasional terindeks Scopus tersebut.

Simpelnya, kata Ibda, deep learning adalah pendekatan pembelajaran dalam konteks teknologi, ilmu komputer, dan disiplin ilmu lain termasuk STEM, Humaniora, dll. Namun, DL dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum sebagai mata pelajaran atau modul pembelajaran.

Dalam paparannya, Ibda menjelaskan juga sejarah munculnya deep learning yang berkembang sejak1940 dengan perkembangan awal dengan cybernetics, dan secara resmi muncul tahun 2006.

“Orang yang mengenalkan Deep Learning adalah Geoffrey Hinton, ilmuwan komputer asal Kanada yang dijuluki Bapak Deep Learning,” lanjut Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah tersebut.

Dari konsep itu, Ibda menjelaskan alasan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu'ti yang mengelaborasi dan mengintegrasikan sejumlah toeri. "Kalau Prof Mu'ti, sebenarnya merujuk sejumlah teori besar. Kemarin, Prof Suyanto menulis di Kompas, ia menyebut bahwa sejumlah teori yang dirujuk Mendikdasmen dalam mengembangkan Deep Learning meliputi John Dewey “Learning by Doing” akhir abad ke-19, Jean Piaget (1923) The Child Conception of of the World, Howard Gardner (1983) The Theory of Multiple Intelligences, Ellen Langer (1997) Power of Mindful Learning, Jon Kabat-Zinn Mindfulness Based Stress Reduction (MBSR)," kata dia.

Dari Deep Learning itu, muncul Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning. "Mindful Learning itu intinya memberikan kesempatan bagi murid untuk aktif berdiskusi dan bereksperimen dengan memperhatikan kebutuhan serta potensi setiap individu. Contohnya: guru tidak sekadar menyampaikan teori saat belajar numerasi, tetapi juga membantu siswa memahami peran tersebut dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan luas. Meaningful Learning itu intinya mengajak siswa memahami alasan di balik setiap materi yang dipelajari.  Sebagai contoh, guru menjelaskan manfaat konsep matematika dalam pengelolaan keuangan atau logistik. Pemahaman ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Sedangkan Joyful Learning berfokus pada kepuasan dari pemahaman mendalam, tidak hanya menciptakan pengalaman belajar menyenangkan. Contoh: Guru demonstrasi atau diskusi saat belajar sejarah agar siswa memahami konsep/desain teorinya, bukan sekadar menghafal," kata dia.

Dalam kesempatan itu, penulis buku Guru Dilarang Mengajar! tersebut menyampaikan juga ragam AIEd dan demo, yaitu AIED Chatbots, AIED Games, AIED Videos and Songs, AIED for Learning, Adaptive Learning Systems (Smart Sparrow, DreamBox Learning, ALEKS), Intelligent Tutoring Systems/ITS (Carnegie Learning, Knewton, AutoTutor), Virtual Assistants (ChatGPT, IBM Watson Tutor, Google Assistant), Learning Analytics Platforms (Brightspace Insights, Tableau for Education), Content Creation and Management Tools (Canva AI for Education, Articulate 360), Assessment and Grading Tools (Gradescope, Turnitin with AI), dan Speech and Language Processing Tools (Duolingo, Lingvist, Speechify).

Setelah pemaparan materi konseptual, Ibda melakukan praktik atau demonstrasi penggunaan AIEd Chatbots, AIEd Games, AIEd Video dan AIED Music dengan menggunakan Suno AI.

Sementara itu, Kepala SDN Gajahmungkur 03 Kota Semarang Dian Marta Wijayanti narasumber kedua, menjelaskan bahwa AIEd sangat beragam yang bisa membantu guru dalam pembelajaran, salah satunya adalah Fliki AI untuk membuat video pembelajaran.

“Fliki AI merupakan platform yang menggunakan AI untuk mengubah teks menjadi video dan ucapan. Fliki AI dapat digunakan untuk membuat konten berkualitas tinggi dengan biaya yang lebih murah,” kata Dian.

Sebelumnya, Ketua PGRI Cabang Gajahmungkur Kota Semarang Siti mengatakan bahwa kegiatan itu merupakan rangkaian Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-79 dan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2024.

Koordinator Satuan Pendidikan Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang Suparno mengapresiasi kegiatan itu. Pihaknya berharap agar guru selalu inovatif dalam mengembangkan pembelajaran.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Semarang, Erwan Rachmat memberikan pengarahan, bahwa Deep Learning bukanlah kurikulum baru melainkan hanya pendekatan pembelajaran. Sejak dulu, dikatakannya, telah banyak berkembang pendekatan dan model pembelajaran seperti Active Learning, Contextual Theaching Learning, Cooperative Learning, dan lainnya.

Pihaknya juga menghimbau agar guru di wilayah Kecamatan Gajahmungkur aktif dan inovatif dalam mendesain pembelajaran berbasis digital. Hal itu tentu sudah diwadahi oleh PGRI karena menurutnya, PGRI adalah organisasi paripurna.

"Guru itu tidak boleh stres. Ciri-ciri guru stres itu ngantukan, sering berbicara sendiri, mudah marah, sering memagang kepala, memegang pipi, dan memegang dagu" katanya.

Dengan adanya workshop tersebut, diharapkan guru-guru di Kecamatan Gajahmungkur bisa membawa dampak positif utamanya bagi pembelajaran di kelas. (*)


Semarang, TABAYUNA.com
- Melalui Zoom Meeting, Gerakan Literasi Ma'arif (GLM) Plus Part 3 Gerakan Literasi Karya Tulis Ilmiah pada Selasa (12/11/2024) dibuka resmi oleh Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Fakhrudin Karmani. Pihaknya menyampaikan bahwa hasil asesmen kompetensi guru di madrasah Kemenag RI, tingkat literasi yang memenuhi kompetensi guru mahir masih memprihantikan.

 

“Ada tiga tingkatan kompetensi guru dalam konteks ini, yaitu guru cakap, guru terampil, dan guru mahir. Hasil asesmen kompetensi guru madrasah di Kemenag RI, guru mahir hanya di angkat 11 %. Asesmen Kompetensi Guru baru bulan Juli 2024 kemarin. Ini memprihatinkan, karena kalau ada 10 guru, maka hanya 1 yang mahir kalau kita rata-rata 100 persen,” beber Fakhrudin yang juga Konsultan Pengembangan Keprofessian Berkelanjutan Guru dan Tendik Madrasah Kementerian Agama RI.

 

Dijelaskannya, hasil asesmen kompetensi guru, hampir sama dengan hasil asesmen kompetensi peserta didik SD, SMP dan SMA. “Pada level passing grade, rata-rata hanya mencapai 46 itu tertinggi, belum sampai di angka 50 persen,” lanjutnya.

 

Jadi, katanya, hasil asesmen kompetensi guru-guru kita dengan hasil asesmen nasional, rata-rata hasilnya sampai, yaitu 11-12. “Saya menyebut hasilnya diamini oleh hasil Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI). Artinya apa? Kalau kecakapan guru-guru kita tentang literasi, numerasi, maka saya menyebut ini darurat literasi, darurat literasi,” tegas dia.

 

Saya juga ingin menegaskan, hasil asesmen atau survei Kemdikbud dan PISA tahun 2022, ini menempatkan skor peringkat literasi, numerasi, dan sains kita masih rendah sekali. “Posisi negara kita menempati rangking ke-100, dengan literasi 95% itu lebih dari Filipina negara yeng kecil, Brunei negara yang kecil, lebih rendah lagi dari Singapura negara yang paling kecil. Dari 85 negara yang mengikuti asesmen internasional ini, kita rangking 5 dari belakang,” katanya.

 

Kita berani mengatakan, kata Fakhrudin, literasi tertinggi kita dalah duduk baca WhatsApp, lihat TikTok, dan media sosial lainnya. “Ini tugas kita semua, membuat ekosistem yang lebih menarik lagi, agar siswa lebih tertarik lagi dan jangan kalah dengan WA saja,” lanjut dia dalam acara yang dimoderatori oleh Muhammad Zainudin Aklis tersebut.

 

Menurutnya, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah memiliki tugas berat, karena dengan lebih dari 760.000 peserta didik, harus dikuatkan kemampuan literasinya. Fakhrudin secara resmi membuka kegiatan GLM Plus Part 3 yang diisi oleh dua narasumber yaitu Dosen UIN Walisongo dan Editor in Chief Journal of Integrated Elementary Education Dr. Hamdan Husein Batubara dan Koordinator GLM Plus Dr. Hamidulloh Ibda yang diikuti ratusan peserta dari beragam unsur. (HI)