Temanggung, TABAYUNA.com - IKESTA (Ikatan Keluarga Ekonomi Syariah STAINU Temanggung) mengadakan diskusi mahasiswa dengan tema "Strategi UMKM dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0", Sabtu (7/12/2019).

Diskusi ini bertujuan sebagai  persiapan kegiatan studi banding yang akan diadakan setelah Ujian Akhir Semester Gasal.

Pemantik diskusi adalah dosen program studi Ekonomi Syariah STAINU Temanggung, yaitu ibu Fatmawati Sungkawaningrum, M.S.I., bapak Amin Nasrullah, Lc., M.Ek., dan bapak Najib Mubarok, S.Si., M.Sc.

Peserta diskusi adalah mahasiswa program studi Ekonomi Syariah STAINU Temanggung dari semester satu hingga semester lima.

Kegiatan ini berjalan dengan baik, berbagai pertanyaan dan tanggapan dari para mahasiswa yang begitu antusias.
Panitia berharap agar diskusi ini menjadi awal yang baik untuk kegiatan selanjutnya. (Hesti/lpmgrip).
Suasana deklarasi #KebumenInklusi
Kebumen, TABAYUNA.com - Kabupaten Kebumen mendeklarasikan diri sebagai Kabupaten Inklusi. Bupati Kebumen KH. Yazid Mahfudz membacakan naskah deklarasi dihadapan ribuan peserta deklarasi.

Hadir dalam Deklarasi Kebumen Inklusi Chief of Field Office UNICEF Arie Rukmantara dan tim UNICEF, Ketua LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah Ratna Andy Irwan dan Jajaran Pengurus, para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Kebumen, Tokoh Masyarakat, Para Penyandang Difable dan ABK, Serta madrasah dan sekolah inklusi di Kebumen, Jumat, 6 Desember 2019.

Dalam sambutannya, Bupati Kebumen menyampaikan apresiasinya dan ucapan terima kasihnya kepada para pihak dan tokoh pemerhati inklusi yang sudah mendorong Kabupaten Kebumen inklusi.

“Saya sampaikan terima kasih kepada LP Ma`arif NU Jateng dan UNICEF yang telah hadir dan membantu menuju Kabupaten Inklusi serta para tokoh pemerhati inklusi," demikian disampaikan Bupati.

Dalam kesempatan tersebut Bupati juga berharap agar semua OPD dan dinas-dinas harus siap memberikan pelayanan yang inklusif kepada publik. Bahkan semua OPD di Kabupaten Kebumen diharapkan bisa menerima pegawai baik yang honorer maupun PNS yang difable sebagaimana amanat undang-undang.

Chief of Field Office UNICEF Arie Rukmantara menyampaikan apresiasi atas lahirnya perangkat-perangkat pendukung inklusi seperti SK bupati tentang Komite Perlindungan Penyandang Disabikitas, adanya forum komunikasi difable yang pimpin anak muda, kemudian ada 3 Dinas di Kabupaten Kebumen yang yang sudah melangkah membangun fasilitas-fasilitas yang ramah difabel.

Arie Rukmantara juga menyampaikan terima kasih kepada LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah yang selalu progresif ketika ditawarkan inovasi baru dan selalu menyambut karena madrasah inklusi ini menjadi hal baru yang sangar bagus.

“Terima kasih Pak Bupati suatu saat kami ingin hadir dengan penghargaan yang berbeda dengan indikator yang berbeda untuk melihat kemajuan Kebumen. Kami ingin melihat angka partisipasi belajar, angka aksestabilitas penyandang disabilitas ke sekolah naik, angka pertumbuhan ekonomi naik, angka pengangguran yang turun. Ketika itu terjadi nanti kami akan datang pak dan menunjukkan kepada dunia bahwa ada cara bagi kabupten yang katanya punya prestasi dibawah secara ekonomi tetapi bisa naik ke atas. Olahraga Inklusi ini untuk menunjukkan bahwa kita bisa bermain bersama dan berkolaborasi bersama karena lapangan kerja abad 21 adalah lapangan kerja yang tidak mengenal diskriminasi bahkan saat ini sudah ada CEO yang berkebutuhan khusus,” demikian disampaikan Arie.

Sementara Ketua LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah Ratna Andi Irawan, meyampaikan bahwa LP Ma`arif Jawa Tengah merasa ikut terpanggil melihat realitas masyarakat difabel yang kurang mendatkan perhatian dari pemerintah. Menurut Andi sudah dua tahun ini LP Ma`arif NU Jawa Tengah sudah bekerjasama dengan UNICEF melakukan program madrasah inklusi di Jawa Tengah.

"Saat ini sudah ada 17 madarsah Ma`arif yang sudah kami deklarasikan sebagai madarasah Inklusi yang hari ini juga hadir di belakang di stand-tand yang ada. Silahkan nanti bisa dilihat dan bertanya apa saja yang sudah dilakukan dan dipersiapakan menjadi madarsah inklusi," demikian ungkap Andi.

Sebagai informasi, bahwa kegiatan Kebumen inklusi ini diramaikan dengan stad-stand sekolah dan madrasah inklusi. 4 Madrasah LP Ma`arif inklusi mitra UNICEF yang hadir adalah (MTs Ma`arif Karangsambung, MI Ma`arif Kemangguhan, MI Ma`arif Sidumulyo Ambal, MI Ma`arif NU + Jatinegara dan dihasiri satu SDN Suroturunan sebagai mitra LP Ma`arif).

Hadir Juga SDLB Kabupaten Kebumen dalam stand inklusi serta dari Rumah Inklusif Kebumen.
Selain stand dan pameran inklusi salah satu hal menarik lainnya adalah 4 Madrasah Inklusi LP Ma`arif menampilkan permainan futbolnet atau olahraga Inklusi (sport festival inclusion) yaitu bermain kolaborasi antara Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan non ABK dalam berbagi ragam permainan.

“Di sinilah nilai dari inklusi dan pameran hari ini. Kita tunjukkan bahwa pendidikan inklusi yang dikembangkan madrasah Ma`arif ini akan menjadi contoh dalam setiap pembelajaran di Madrasah/sekolah. Kita mengajarkan kebersamaan dan kesamaan dalam hidup tanpa ada batas dan bullying. Semoga yang hadir dan melihat permainan ini bisa terprovokasi dan membangkitkan semangat inklusif terutama para pendidik,” ujar Fakhruddin Karmani Manager Program Madrasah Inklusi LP Ma`arif NU Jawa Tengah. (Tb44/HI).

Semarang, TABAYUNA.com - Setelah melalui tahapan seleksi administrasi dan cek plagiasi pada 1 Desember 2019, panitia Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah tingkat nasional 2019 menyerahkan 155 naskah kepada dewan juri. Hal itu diungkapkan Ketua Panitia LKTI LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah Hamidulloh Ibda, Kamis (5/12/2019).

"Selanjutnya, dewan juri melakukan penilaian sesuai pedoman di buku panduan. Banyak naskah yang menarik, dan meski begitu kami hanya mengambil enam perkategori yang laik maju ke babak final sesuai buku panduan," lanjut dia.

Dijelaskannya, dari masing-masing kategori diambil 6 naskah terbaik sebagai finalis. "Setelah ditetapkan, mereka (finalis) akan diundang untuk presentasi final LKTI LP Ma'arif PWNU Jateng pada Kamis 12 Desember 2019 mendatang," papar penulis buku Konsep dan Aplikasi Literasi Baru tersebut.

Adapun para finalis itu, untuk kategori Ma'arif 1 yaitu untuk pelajar MA/SMA/SMK di bawah LP Ma'arif NU se Indonesia yaitu Ahmad Nabil Sani dan Ahmad Hasbi Asshidiqi delegasi MA NU TBS Kudus dengan total nilai 185, Muhammad Difa Amalyihsan delegasi SMA Sains Al-Qur’an Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta dengan nilai 210, Rizal Mahfudz dan Fina Rosyida delegasi SMA Pembangunan 2 Karangmojo Gungungkidul, Yogyakarta dengan total nilai 200, Fitria Faidah Hanum dan Rizqi Amelia S.P delegasi  SMA NU Al-Ma’ruf Kudus dengan nilai 205, Rosyada Rahma Dewi delegasi SMA NU Al-Ma’ruf Kudus dengan total nilai 210, dan Muhammad Saiful Arifin dan M. Naufal Muhadzib Al-Faruq delegasi MA NU TBS Kudus dengan total nilai 195.

Kategori Ma’arif 2, yaitu Sustam delegasi MI Ma’arif NU 1 Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas dengan total nilai 171, Daris Wibisono Setiawan delegasi SMK NU Tenggarang Bondowoso dengan total nilai 175, Dewi Nur Halimah delegasi MTs Khozinatul Ulum Blora dengan total nilai 196, Herwidhi Tri Prabowo delegasi SMKS NU Ma’arif 2 Kudus dengan total nilai 195, M. Rifky Abu Zamroh delegasi SMA NU 05 Brangsong Kendal dengan total nilai 195, dan Muttaqien  Mafaza delegasi SMA NU Karanganyar Purbalingga dengan total nilai 190.

Karegori Ma’arif 3 yaitu mahasiswa/mahasiswi jenjang S1-S3 di bawah kampus yang berafiliasi dengan NU/LPTNU se Indonesia, mereka adalah Afria Ulin Nuha dan Farah Fahrun Nisak delegasi UNSIQ Wonosobo  dengan total nilai 125, Idammatussilmi delegasi STAINU Temanggung dengan nilai 135, M Ulfi Fadli dari STAINU Temanggung dengan total 130, Muhammad Khoirul Anwar dari Program Doktor Sejarah Peradaban Islam Nusantara UNUSIA Jakarta dengan nilai 140, Puteri Anggita Dewi dan Ahmad Farichin dari STAINU Temanggung dengan total nilai 125, dan Wahyudi dari Pascasarjana IAINU Kebumen dengan total nilai 140.

Kategori Ma’arif 4 yaitu pelajar, mahasiswa/mahasiswi jenjang S1-S3, dosen, dan masyarakat luas di luar Ma’arif dan NU se Indonesia. Mereka yang lolos adalah Maria Ulfah dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan total nilai 190, Mazulfah delegasi IAIN Salatiga dengan total nilai 189, Mustofa Arifin delegasi MA Negeri Purbalingga dengan total nilai 190, Sholy Putri Fauzya dan Annisa Rona Pertiwi delegasi Universitas Gajahmada (UGM) Yogyakarta dengan total nilai 195, Sri Utaminingsih dari SMAN 1 Ponggok Kabupaten Blitar, Jawa Timur dengan total nilai 196, Zaidatul Arifah dan Siwi Nurhayati delegasi STAINU Temanggung dan SMP Islam Ngadirejo dengan total nilai 195.

Sebelum berangkat, mereka juga diwajibkan merevisi hasil review dari dewan juri. Selanjutnya, mengirim naskah dan slide untuk presentasi ke http://bit.ly/kesediaanfinalLKTI2019. “Agak ketat, karena ini standarnya publikasi ilmiah bereputasi,” lanjut Pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma’arif PWNU Jateng itu.

Panitia mengucapkan terima kasih kepada semua peserta atas partisipasinya. Dengan adanya perlombaan tingkat nasional ini, diharapkan LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah menjadi pelopor gerakan literasi. Untuk undangan, dapat diunduh DI SINI. (tb44).


Temanggung, TABAYUNA.com -  Pada Jum’at 29 November 2019, bertempat di kampus STAINU Temanggung, organisasi Unit Kajian Islam (UKI STAINU Temanggung) mengadakan acara diskusi denagn tema ‘Dakwah yang Ramah’ kegiatan rutin yang diadakan setiap satu minggu sekali ini. Kegiatan ini diikuti oleh para Aktivis kampus yang tergabung dalam organisasi intra kampus, yaitu, UKI.

Meskipun jumlah peserta tidak terlalu banyak, namun hal itu tidak mengurangi semangat peserta untuk berdiskusi. Mereka saling berpendapat dan beradu argument masing-masing. Kata Dimas sebagai penanggung jawab divisi kajian dalam organisasi  UKI, mengatakan bahwa, di forum tersebut, mereka membahas  tentang cara-cara Dakwah yang ramah. Karena, jika melihat kondisi saat ini, ketika kita mendengar kata “Dakwah” adalah sebuah istilah yang terkesan sangar dan menakutkan, hal itu tidak lain, Karena memang ahir-ahir ada beberapa ormas berafiliasi agama, yang terkesan ekstrim dalam berdakwah, mereka seakan memaksakan kehendak dalam mengajak kebaikan, dan yang tidak mengikuti mereka dianggap salah.


Hal Ini tentu justru akan menjelakan citra dakwah itu sendiri. Berangkat dari situ, kami merasa prihatin, dan mencoba mencari solusi untuk bisa menerapkan dakwah yang ramah. Zaki, salah satu peserta diskusi bahwa solusi yang tepat saat ini yaitu berdakwah dengan ‘Bil khidmah wal Mauidotul Khasanah’ seorang pendakwah, seharusnya  bisa merangkul, bukan memukul, dakwah yang ramah bukan dengan marah-marah dan dakwah yang mengajak bukan menginjak. (Tb44/M Novianto Dwi K).