Penyerahan hadiah secara virtual

Temanggung, TABAYUNA.com
- Melalui esai bertajuk "Memutus Mata Rantai Stres Akademik", dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda dinobatkan sebagai Juara 2 dalam Lomba Esai Populer Tingkat Nasional tahun 2021.
 
Kegiatan ini digelar oleh Prodi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) dengan Prodi Tadris IPA Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau yang diumumkan via Zoom Meeting dan Youtube pada Kamis (6/5/2021).
 
Dalam esainya, Hamidulloh Ibda yang juga Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan STAINU Temanggung memotret fenomena stres akademik akibat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang berkepanjangan selama masa pandemic covid-19. Pihaknya menegaskan, bahwa tidak hanya diri sendiri namun ia yakin hampir semua pendidik mengalami stres akademik berkepanjangan.
 
Di dalam esai sudah saya tulis, kata Ibda, saya kira tidak hanya saya yang mengalami stres akademik. Akan tetapi para dosen di perguruan tinggi lain juga demikian. “Kita bisa membayangkan, mahasiswa dalam satu semester mengambil 22-24 SKS mata kuliah. Jika 1 SKS atau 1 jam KBM dilakukan secara daring selama 50 menit, maka 1 minggu mahasiswa melakukan PJJ selama 18-20 jam. Apalagi ini sudah berjalan 1 tahun lebih. Mereka belajar dengan moda PTM saja tidak semuanya paham materi perkuliahan dan masih ada fenomena stres akademik. Lalu, bagaimana jika PJJ seratus persen dalam waktu 18-20 jam tersebut,” beber penulis buku Dosen Penggerak Literasi tersebut.
 
Pihaknya dalam tulisan itu memberikan solusi atas fenomena stres akademik. Merujuk pada Caesaria, Ibda menemukan data sejak awal pandemi covid-19, 87,7 persen mahasiswa di Bangladesh mengalami kecemasan ringan sampai berat.
 
Di Prancis terdapat 60,2 persen mahasiswa mendera kecemasan tinggi, 88 persen mahasiswa Fakultas Kedokteran UPN Veteran mendera kecemasan berat dan kecemasan sedang sebanyak 12 persen. Akibat PJJ, 250 dari 262 mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta lebih dari 12 kali mengalami tingkat stres tinggi.
 
“Mahasiswa di kampus saya pun sama. Dampak stres ringan dan berat terjadi pada mahasiswa di delapan kelas yang saya ampu. Analisis saya, dampak itu terjadi pada stres ringan sampai stres berat. Buktinya mereka abai pada tugas perkuliahan, sering pusing, kehilangan arah, tidak aktif bahkan absen ketika PJJ, dan hanya 65 persen ketika saya menerapkan platform Zoom Meeting. Mereka juga ditemukan banyak yang terkendala membayar SPP, ternyata bukan karena tidak punya dana, setelah dilakukan home visit kok ternyata mereka sudah diberi uang oleh orang tua, namun memang tidak dibayarkan. Rata-rata demikian yang ditemukan tim home visit kemarin,” beber Ibda.
 
Atas fenomena itu, dalam esai tersebut Ibda menawarkan sebuah solusi dari fenomena stres akademik dengan resiliensi akademik. “Resiliensi akademik intinya kemampuan individu untuk bertahan, bangkit, dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang sulit dan penuh tekanan dalam bidang akademik. Resiliensi akademik menjadi jawaban atas fenomena stres akademik,” tegas Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) tersebut.
 
Dari konsep itu, Ibda menawarkan sejumlah solusi atas stres akademik. “Pertama, pendekatan personal untuk mengembalikan kemampuan personal, harga diri, dan rasa percaya diri. Kedua, pendekatan dengan keluarga dan teman dekat mahasiswa. Ketiga, membuat koordinator kelas, organisasi kemahasiswaan (DEMA, SEMA, dan UKM), serta membuat orangtua asuh yang terdiri atas guru-guru mereka saat SMA. Keempat, menerapkan sentuhan rohani lewat beberapa kegiatan keagamaan. Beberapa langkah ini sudah dilakukan dan hasilnya sangat signifikan,” beber dia.
 
Di akhir sesi acara, secara simbolis diberikan Piala Kejuaraan yang disampaikan Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan FTK UIN Suska Riau Dr. Rohani, M.Pd. Ia berpesan, bahwa fenomena hari ini harus tetap menuntut pendidik kreatif. “Selamat untuk para juara. Pendidik harus menyesuaikan dengan fenomena yang ada. Jadi kalau namanya status kita pendidik, inovasi dan kemampuan apapun yang kita miliki,” pesannya.
 
Selain Hamidulloh Ibda yang dinobatkan sebagai Juara 2, untuk kategori pendidik yang mendapatkan juara yaitu Afdhal Kusumanegara dosen Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau sebagai Juara 1 dan Sumarni guru SMPN 45 Pekanbaru sebagai Juara 3. Selain mendapatkan piala, peserta mendapatkan sertifikat dan uang tunai.
 
Kegiatan tersebut terlaksana sejak awal April 2021. Untuk pendaftaran dilaksanakan 15–30 April 2021, penilaian 1–2 Mei 2021, dan pengumuman 6 Mei 2021 yang menobatkan 3 Juara pada masing-masing kategori, yaitu kategori siswa, mahasiswa, dan pendidik.
 
Kegiatan perlombaan bertajuk “Pengalaman Belajar-Mengajar Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid 19” ini diikuti ratusan peserta dari seluruh Indonesia. Dewan Juri pada lomba ini terdiri atas Dekan FTK UIN Suska Riau Dr. H. Muhammad Syaifuddin, M.Ag., Ketua Prodi TIPA Susilawati, M.Pd., dan Ketua Prodi BKPI Dr. Amirah Diniaty, M.Pd. Kons. (*)


Temanggung, TABAYUNA.com - Melalui agenda Tadarus Literasi, Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung melakukan bedah buku bertajuk "Dosen Penggerak Literasi: Praktik Baik Merdeka Belajar - Kampus Merdeka (MBKM)" karya dosen PGMI Hamidulloh Ibda, Selasa (4/5/2021).


Dalam kesempatan itu, Ketua STAINU Temanggung Sumarjoko, M.S.I., menyampaikan sambutan bahwa kegiatan tadarus buku tersebut merupakan wahana untuk melakukan pembinaan dan latihan kepada mahasiswa berbicara dalam forum ilmiah. "Selamat Pak Ibda yang sudah menerbitkan buku dan desiminasi ini. Semoga mahasiswa ke depan dapat mengimplementasikan tradisi literasi yang baik," beber dia.


Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi buku oleh penulis buku Hamidulloh Ibda. Menurut dia, buku bertajuk "Dosen Penggerak Literasi: Praktik Baik Merdeka Belajar - Kampus Merdeka (MBKM)" adalah buku terbitan CV. Pilar Nusantara, berjenis bunga rampai yang sudah mendapatkan Hak Cipta dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenkum HAM RI pada 1 April 2021 kemarin.


Menurut Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan STAINU Temanggung ini, bahwa buku terdiri atas 25 tulisan dari media massa. "Ada empat bagian inti. Pertama, Haruskah Dosen Penggerak? Kedua, Dosa-dosa Literasi. Ketiga, Gerakan Mahasiswa Menulis. Keempat, Penggerak Literasi," beber Dewan Pengawas LPPL Temanggung TV tersebut.


Pihaknya menegaskan bahwa  dosen penggerak yang dimaksud dalam buku itu bukan dirinya. "Meski covernya adalah foto saya, ini kebetulan yang desain saja karena bingung, lalu dipasang foto saya. Tapi yang saya maksud dosen penggerak literasi itu sosok impian, harapan, dan gaib. Namun memiliki ciri-ciri menggerakan lewat media massa, media sosial, layanan pesan, karya tulis jurnalistik, karya tulis ilmiah, karya sastra, karya digital, lembaga/NGO/ormas dan perlombaan,” beber dia.


Ibda menyebutkan aktivitasnya sejak 2008 sampai sekarang dalam menulis di media massa. Kemudian sejak 2013 juga mendirikan 19 media online, meski yang aktif tinggal 11-an. Kemudian ia juga menceritakan aktivitasnya dalam mengelola enam penerbitan, pengalaman kejuaraan dan juga aktivitas literasi dalam NGO dan juga aktivitas menjadi reviewer di jurnal ilmiah.


Di akhir pemaparan, ia menyampaikan pesan kepada mahasiswa untuk menekuni hobi yang bermanfaat. “Tidak semua hobi itu bermanfaat. Carilah hobi yang bermanfaat bagi masa depan Anda. Sebab, banyak orang dapat hidup, sibuk, mendapat ‘harta-tahta-wanita-kuota’ dari hobi yang ia tekuni. Salah satunya adalah hobi di dunia literasi yang sudah saya rasakan sejak 2008-sekarang. Riil. Bukan hoaks,” tegas dia.


Pada intinya, ia mengajak kepada mahasiswa untuk menekuni hobi yang bisa menjadi hoki. "Kuncinya adalah pembiasaan, pembudayaan, keteladanan, dan istikamah,” tegas pria kelahiran 17 Juni tersebut.


Dosen PGSD Universitas Halmahera, Jefrey Oxianus Sabarua menjelaskan bahwa pihaknya sudah membaca tuntas buku tersebut. Sebagai pembedah, ia menegaskan kekurangan dan kelebihan buku. “Saya mengenal Pak Ibda ini sebagai orang yang sudah ahli di media massa, sejak dulu ia kuliah S1 memang menekuni jurnalistik. Saya kira masih sama, namun kini perkembangannya pesat sejak ia menjadi dosen,” beber dia.


Dari sisi bahasa buku terbitan Pilar Nusantara ini sangat ringan dan santai. “Pak Ibda memiliki kelebihan membahasan sesuatu dengan mudah. Dari sisi fisik, buku ini juga ringan dibawa ke mana-mana. Kalau kita baca, buku ini lengkap karena berisi permasalahan yang di dalamnya ini adalah kegelisahan-kegelisahan penulis tentang dosa-dosa literasi seperti jual beli karya tulis ilmiah, plagiasi, dan seterunya. Namun di akhir juga ada solusi atas problematika tersebut,” beber mantan Kaprodi PGSD Universitas Halmahera itu.


Pihaknya juga mengucapkan selamat atas didapatkannya HKI yang melekat pada buku tersebut. Dijelaskan pula, kelebihan buku itu cuma satu kata yaitu keren. “Oleh karena itu, saya merekomendasi kepada mahasiswa buku ini wajib dibaca,” ajaknya.


Pembedah kedua, Kepala Pusat Bahasa, Sastra, dan Budaya (PBSB) Effi Wahyuningsih juga menyampaikan kekurangan dan kelebihan buku. “Pak Ibda secara usia memang masih yunior saya. Namun dalam aspek literasi, beliau ini adalah senior saya,” bebernya.


Pihaknya mengritisi aspek tata tulis masih ada beberapa yang typo, penulisan paragraf pendek, dan soal kaidah selingkung artikel populer dan artikel ilmiah. “Saya mengira, buku ini menceritakan beberapa dosen penggerak literasi, tapi ternyata kok hanya penulis saja. Ya, saya ketika melihat judulnya begitu, lalu diberi foto si penulisnya, maka ya sudah melekat kalau Pak Ibda memang penggerak literasi,” beber dia.


Effi juga menegaskan bahwa sebuah karya adalah harta karun dan hal itu ia sependapat dengan penulis. “Saya kira cuma saya saja yang menganggap kalau buku itu harta kekayaan. Ternyata penulis buku ini juga demikian. Makanya kalau ada orang yang pinjem buku saya, ini saya wanti-wanti. Saya pinjami nggak ya. Ketika ada orang pinjam uang atau pinjam buku, saya lebih memilih ada orang pinjam uang, karena kalau pinjam buku belum meski kembali. Dan di buku ini dijelaskan hanya orang gila yang meminjam buku dan mengembalikannya,” katanya.


Di akhir penyampaian, pihaknya juga merekomendasikan kepada mahasiswa agar bisa membaca buku tersebut.


Ketua Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) PGMI STAINU Temanggung Muhamad Khoirul Azmi menambahkan sebagai pembedah ketiga bahwa sosok Pak Ibda di mata mahasiswa tidak sekadar dosen penggerak literasi. “Namun bagi mahasiswa, Pak Ibda itu sudah wali literasi karena memang pakar di bidang ini,” katanya.


Pihaknya juga menegaskan, bahwa ada beberapa bab yang dia baca berulang kali karena saking menikmatinya. "Kalau tadi disampaikan Pak Ibda, covernya harusnya orang lain, namun bagi kami mahasiswa covernya ya harus Pak Ibda," tegas dia.


Dalam kesempatan itu hadir sejumlah mahasiswa, dosen, dan pegiat literasi dari berbagai kalangan. Usai penyampaian materi, kegiatan bedah buku itu dilanjutkan dengan diskusi dan akan dilanjutkan dengan bedah buku yang lain karya mahasiswa dan dosen Prodi PGMI STAINU Temanggung. (Tb12)


Temanggung, Tabayuna.com - Dosen STAINU Temanggung Siti Qomala Khayati berhasil mempertahan disertasinya pada Jumat (30/4/2021) di hadapan dewan penguji dengan judul "Transformasi Tata Kelola Keuangan Berbasis Good Governance di Pondok Pesantren Al-Multazam Kuningan Jawa Barat". Siti Qomala Khayati merupakan dosen STAINU Temanggung yang mendapatkan Beasiswa 5000 Doktor dari Kemenag RI.


Disertasinya itu mengantarkannya menjadi doktor pada Program Doktor Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Jember dengan Promotor Prof. Dr. H Abd. Halim Soebahar, MA dan Co Promotor Prof. Dr. H. Moh Khusnuridlo, M.Pd.
 
Dijelaskannya, bahwa penelitan yang ia lakukan dilatarbelakangi oleh minimnya kajian tentang tata kelola keuangan pondok pesantren, terlebih yang berhubungan dengan nilai-nilai transparansi. Sebab, pada kenyataannya, pengelolaan pesantren cenderung tradisional; terfokus pada kekuasaan yang dimiliki kiai; serta mengedepankan pada nilai kesukarelaan masyarakat untuk memyumbang pesantren.

"Meski demikian, peneliti tidak memungkiri bahwa terdapat pesantren yang berusaha untuk menjalankan model pengelolaan yang bagus dalam hal tata kelola keuangan. Salah satu contohnya ialah di Pondok Pesantren Al Multazam Husnul Khotimah, Kuningan Jawa Barat. Pesantren ini mengelola keuangan pesantren menggunakan pendekatan berbasis teknologi serta mengedepankan nilai transparansi, dan membangun (trust) kepercayaan masyarakat terhadap pesantren," bebernya pada Sabtu (1/5/2021).

Selain itu, pesantren ini juga memiliki keunggulan dibandingkan pesantren lainnya. Pertama, adanya tekhnologi tepat guna, agar seluruh pengelolaan keuangan terkontrol dengan baik. Kedua, adanya tim audit eksternal-independen yang menilai kesesuaian pada proses kegiatan-kegiatan kepesantrenan. Ketiga, sumber keuangan yang didominasi oleh sumbangan pendidikan; dimana para santri ataupun user sangat mempercayai kualitas lembaga ini.


Temuan pada penelitian ini ialah Pertama, proses pengelolaan keuangan keuangan pondok pesantren di Al Multazam Husnul Khotimah Kuningan dilakukan dengan perencanaan, pelaksanaan accounting, evaluasi atau auditing. Perencanaan dilakukan dengan penguatan SDM dan pertimbangan kebutuhan serta persediaan. Pelaksanakan dilakukan sentralistis integrative berbasis aplikasi. Evaluasi dilakukan pada efektifitas program dan efisiensi keuangan.

Kedua, urgensi adanya perubahan pengelolaan dilatarbelakangi oleh faktor internal/eksternal dan kemudian dilakukan melalui beberapa tahapan; 1) adalah masa pendirian, tata kelola keuangan dilakukan oleh kyai sendiri dan pencatatan tidak memakai standar umum akuntansi publik. 2) masa pengembangan lembaga formal. Proses pelaksanaan tata kelola keuangan berkembang di masing-masing sub unit dan masih terpisah. Tahap 3) masa pengembangan system aplikasi keuangan. Pada tahap ini peningkatan transparansi, akuntabiltas, efektifitas dan efisiensi optimal sebab didukung system aplikasi integratif.

Ketiga, tata kelola keuangan pondok pesantren berbasis good governances dilakukan didasarkan pada integrasi nilai dan keilmuan professional keuangan. Beberapa tahapannya adalah, institusional building terdiri dari pengembangan struktur dan kerja, penyusunan program atas.

Pihaknya mengucapkan syukur atas selesainya studi doktoralnya itu. Sivitas Akademika STAINU Temanggung juga berharap dengan bertambahnya satu doktor dapat meningkatkan mutu dan kualitas kampus. (tb55).


Tabayuna.com - Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Tengah menyelenggarakan acara Sarasehan dan Rapat Koordinasi (Rakor) se-Jateng di aula kantor PWNU Jl Dr Cipto 180 Semarang, Sabtu (1/5).



Dalam sambutannya Ketua PW IPNU Jateng Syaiful Kamaluddin menyampaikan, sarasehan dan rakor ini bertujuan untuk pengembangan mutu PKPT dalam berkhidmat kepada para anggota, khususnya dalam penguatan aqidah ahlussunah wal jama'ah, pengembangan ilmu dan ketrampilan sesuai bakat dan minatnya. Rakor ini diikuti oleh pimpinan PKPT se-Jateng secara off line dan online dengan tema pengembangan literasi IPNU dan IPPNU.


"Nawaitu kita adalah penguatan aqidah, pengembangan ilmu, ketrampilan dan semangat spiritual, mendakwahkan Islam rahmat lil alamin", ujarnya.


Dalam pengarahannya Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng HM Muzamil menyampaikan selamat atas terselenggaranya kegiatan yang baik ini pada bulan suci Ramadhan. "Insya Alloh kegiatan sarasehan dan rakor ini termasuk amal sholih, khususnya dalam pemahaman dan pengamalan Islam", ujarnya.


Menurut HM Muzamil, visi utama NU dan badan otonomnya adalah memberlakukan aqidah ahlussunah wal jama'ah dalam kehidupan sehari-hari, baik secara pribadi, jama'ah, maupun jam'iyah. "Aqidah ahlussunah wal jama'ah ini adalah bersumber dari Al-Qur'an dan al-Sunnah yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Saw dan para sahabatnya", terangnya.

Dia menambahkan memahami Al-Qur'an dan al-Sunnah wajib menggunakan ulum Al-Qur'an dan ulum Al-Hadits sebagaimana diajarkan ulama terdahulu yang sholih, khususnya para imam Mujtahid yang muktabar dengan kitab dan jalinan sanad yang bersambung hingga Rasulullah Saw. "Sebagai kader IPNU/IPPNU jangan sampai hanya sekedar ikut-ikutan sesuatu yang belum diketahui jelas ilmunya. Lebih bagus kita bertanya secara langsung kepada ulama atau ahli dzikir", ujarnya.

Acara yang berlangsung dua hari tersebout dihadiri Nara sumber Ketua I Lembaga Pengembangan Pendidikan Tinggi NU (LPTNU) PWNU Jateng Prof Dr Mudzakir Ali, M.A. dan Sekretarisnya Dr Nur Cholid, MA. (Tb55).