Irena Nur Fadhilah. (Foto: Youtube).
TABAYUNA.com - Ada cerita di balik penembakan pesawat Twin Otter Dimonim Air PK-HVU. Pesat ini, ditembaki orang tak dikenal yang diduga adalah teroris di Bandara Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua, Jumat (22/6/2018). Salah satunya yang selamat, kopilot cantik bernama Irena Nur Fadhilah yang selamat atas tragedi tersebut.
Akibatnya, seorang kopilot terluka. Pesawat diduga ditembaki terorisme yang dikenal sebagai kelompok kriminal bersenjata (KKB) sekitar pukul 13.05 WIT.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol MA Kamal mengungkapkan, pesawat Dimonim berangkat sekitar pukul 13.00 WIT dari Bandara Mozes Kilangin Timika dengan pilot Capt Kasta Gunawa dan kopilot Irena Nur Fadila.

Pesawat yang mengangkut 17 penumpang mengitari kawasan Bandara Keneyam. Lalu pada pukul 13.05 WIT, pesawat mendarat di ujung landasan bandara Kenyam dari sisi Timur.

Saat menyentuh landasan itulah, pesawat ditembak dari arah utara sebanyak satu kali dan mengenai bagian depan kanan pesawat. Walau demikian, pilot tetap mendaratkan pesawat dan langsung menurunkan seluruh penumpang.

"Penembakan itu mengakibatkan pergelangan kaki kanan kopilot terkena serpihan peluru dan pada bagian depan pesawat terkena tembakan," ungkapnya, Jumat (22/6/2018) sore.

Kopilot wanita berusia 25 tahun itu, lanjut Kamal, telah dirawat oleh paramedis yang ada di daerah tersebut.

"Setelah dilakukan penanganan medis terhadap kopilot dan pengecekan terhadap kondisi pesawat, kemudian pada pukul 13.45 WIT, pesawat Twin Otter Dimonim Air PK-HVU lepas landas menuju Timika dengan tidak membawa penumpang.

Sementara saat ini, situasi di Kabupaten Nduga dalam keadaan aman dan kondusif," kata Kamal.

Kamal menambahkan, saat ini para pelaku masih diburu. "Saat ini anggota (polisi) di lapangan tengah mengejar para pelaku," ujarnya.

Sementara itu, Fahmi, Staf Dimonim yang bertugas di Timika, mengatakan, pesawat yang bertolak dari Bandara Mozes Kilangin Timika sekitar pukul 12.18 WIT tiba-tiba ditembak sebanyak satu kali dari arah depan saat berada di ujung landasan.

Kopilot yang menjadi korban, lanjut Fahmi, sempat dibawa ke rumah rumah sakit untuk menjalani perawatan medis sebelum diperbolehkan pulang. (tb55/tj).
TABAYUNA.com -  Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merasa dirugikan atas kelakuan manuver politik Abdul Hamid yang mengatasnamakan Ketua Jaringan Alumni Muda Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Jampi).

Saat melaporkan Dr KH Asep Saifuddin Chalim ke Polda Jawa Timur, hal itu ternyata memantik reaksi dari para pengurus PMII aktif. Ahmad Eidil Fauzi, Ketua Rayon PMII SAA Kediri, tak terima terhadap manuver Abdul Hamid yang dianggap mencatut nama dan logo PMII. Karena itu Eidil melaporkan Abdul Hamid ke Polda Jawa Timur.



“Kami PMII Rayon Kediri melaporkan Jampi ke Polda terkait dugaan kasus pencemaran nama baik PMII,” kata Ahmad Eidil Fauzi dalam keterangan tertulisnya yang diterima Tabayuna.com, Jumat (22/6/2018).

Eidil menganggap Hamid melakukan pencemaran nama baik PMII karena dalam susunan pengurus Jampi terdapat beberapa nama bukan kader PMII, tapi kader organisasi mahasiswa lain dan pengurus partai politik.

Namun dalam penelusuran, pada Jumat (22/6/2018), susunan pengurus Jampi tersebut sudah tak muncul di rubrik Tentang Kami website Jampijatim.com. Tak jelas, apakah susunan pengurus itu dihapus setelah menjadi sorotan banyak pihak, terutama para tokoh PMII dan NU.

Selain pencemaran nama baik, menurut Eidil, Jampi dianggap merugikan PMII karena memasang logo mirip PMII.

“Terkait logo yang dirubah oleh Jampi, kami merasa dirugikan karena untuk kepentingan politik,” tegas Eidil.

Karena itu pada Kamis (21/6/2018) Eidil bersama pengurus PMII aktif lainnya yakni Moh Masykur dan Asa Syauqy mendatangi Polda Jawa Timur. Eidil bersama dua rekan aktivis PMII aktif itu menuju Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jawa Timur.

“Tetapi ketika mau melapor ternyata pihak Polda bagian SPKT yang bernama Pak Bambang Budi menyatakan bahwa Polda tidak menerima laporan dari Jampi tentang pelaporan Kiai Asep,” tuturnya.

Kiai Asep adalah Wakil Mabinda PKC PMII Jawa Timur dan Ketua Umum Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) yang juga Mustasyar PCNU Surabaya yang sehari-harinya sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur.
Bambang Budi, tutur Eidil, lalu menyuruh kroscek ke Subdit V Cybercrime Ditreskrimsus Polda Jatim.

“Kami disuruh kroscek ke Krimsus akan kevalidan data tersebut. Ternyata setelah dikroscek oleh Krimsus pada tanggal 13 Juni tidak ada laporan oleh Jampi,” tutur Eidil lagi.

Meski tak ada laporan dari Jampi, namun Eidil mengaku tetap akan melaporkan Abdul Hamid. “Ternyata oleh pihak SPKT dikatakan, jika menyangkut Pilgub disuruh lapor ke Bawaslu,” katanya.

Tapi, kata Eidil, pihaknya mau melaporkan soal logo. “Nah laporannya di Krimsus. Kami akan melengkapi data-data mengenai itu. Karena Jampi telah mencemarkan nama baik PMII,” katanya.

Seperti diberitakan, Abdul Hamid melaporkan Kiai Asep Saifuddin Chalim karena mengeluarkan seruan fatwa fardlu ‘ain mendukung Khofifah Indar Parawansa. Abdul Hamid menilai Kiai Asep telah menyebarkan ujaran kebencian melalui fatwa tersebut. Seruan fatwa itu dikeluarkan di Pacet bersama 400 kiai, habaib, dan masyayikh.

"Ada muatan ujaran kebencian dalam fatwa fardhu ain. Kiai Asep menyebut jika orang mukmin tidak memilih Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak dalam Pilgub Jatim 2018, maka sama dengan berkhianat pada Allah, Rasulullah dan orang mukmin. Pernyataan itu juga disertai hadits," kata Abdul Hamid setelah melapor ke Subdit V Cybercrime Ditreskrimsus Polda Jatim, (Rabu,13/6/2018).

Manuver Abdul Hamid itu kemudian menimbulkan reaksi dari tokoh-tokoh NU. Komandan Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna (Satkornas Banser) ke-4 H Abdul Muchit SH, menilai manuver politik Abdul Hamid yang melaporkan Kiai Asep Saifuddin Chalim ke Polda Jatim telah kebablasan dan tak mengerti kultur NU.

”Kalau dia anak PMII mestinya paham kultur NU. Gak ada sejarahnya anak PMII berani melaporkan kiai ke polisi. Tugas PMII itu sama dengan Banser yaitu menjaga dan membentengi kiai dan ulama. Cuma anak PMII itu umumnya dari segmentasi mahasiswa yang seharusnya lebih banyak menonjolkan intelektualitas. Kalau dia manuver politik seperti itu dia jelas bukan akhlak PMII dan NU. Ingat, sehebat apapun perbedaan pendapat dan politik kiai NU tak pernah ada tindakan melaporkan kiai ke polisi. Saya ingatkan kepada teman-teman PMII, jangan sampai diperalat kelompok tertentu di luar NU hanya untuk kepentingan sesaat dan menghancurkan kultur NU,” tegas Abdul Muchit yang kini Wakil Ketua Pagar Nusa Jawa Timur, Kamis (14/6/2018).

Mantan Wakil Ketua Gerakan Pemuda (GP) Pengurus Wilayah Ansor Jawa Timur ini minta jangan sampai Abdul Hamid jatuh kepada perbuatan yang dalam kultur NU disebut s’uul adab. ”Kalau orang pernah mondok dan pernah nyantri pasti tahu itu su’ul adab,” katanya.

Su’ul adab adalah perilaku tak punya sopan santun terhadap kiai atau guru sehingga ia pongah, arogan dan sombong. ”Para santri dan kiai umumnya sangat menghindari prilaku su’ul adab itu. Umumnya santri malu berprilaku su’ul adab,” kata Muchit yang pernah jadi Ketua Carateker Ketua GP Ansor Jatim. (tb44/bo/kmprn).

Panji Nugraha dan pengurus PKC PMII Kaltim-Tara menggelar konferensi pers mengenai komitmen PMII mengawal Pilgub Kaltim agar berlangsung bersih.
TABAYUNA.com - Sedikitnya, seribu kader telah disiapkan untuk menjaga Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2018. Hal itu diungkapkan Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kalimantan Timur-Kalimantan Utara (PKC PMII KALTIM-TARA) dalam konpers, Sabtu (23/6/2018).


Panji Nugraha, Ketua PKC PMII, Sabtu (23/6/2018) menegaskan, pihaknya menyiapkan seribu kader PMII se Kaltim untuk mengawal Pilgub Kaltim agar berlangsung damai dan aman.

Hampir 1.000 kader PMII aktif di masing-masing kabupaten kota diinstruksikan untuk mengawal pilkada ini agar proses pilkada yang akan dilaksanakan 27 Juni ini, terlaksana sesuai harapan bersama, yaitu pilkada yang bersih aman dan damai.

Di tahun 2018 ini, Provinsi Kaltim menjadi salah satu provinsi yang menggelar pemilihan kepala daerah (pilkada), 27 Juni 2018 besuk.

Seperti di Pilkada pada umumnya, Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Bumi Etam juga diharapkan berlangsung bersih.

PKC PMII KALTIM-TARA berkomitmen mengawal Pilgub Kaltim 2018 agar bebas dari seperti kampanye hitam, menebarkan berita-berita hoax yang berbau SARA, rasis, anti pada etnis tertentu,
menebar kebencian, fitnah dan money politic.

PKC PMII pun termasuk menjadi bagian yang turut serta dalam proses mengawal pilkada bersih ini.

"Mengingat PMII juga sebagai bagian dari elemen masyarakat yang juga terjun di masyarakat sebagai lembaga yang senantiasa terus menerus melihat realitas sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat tanpa terkecuali momentum pilkada serentak ini," kata Panji Nugraha, Ketua PKC PMII, Sabtu (23/6/2018).

Panji mengatakan, keberhasilan menyelenggarakan pilkada yang bersih, aman dan damai adalah keberhasilan bagi semua elemen masyarakat khususnya masyarakat Kaltim.

"Sejauh ini PMII Kaltim telah berpartisipasi dalam proses pengawalan pilkada dari awal sampai akhir, termasuk dengan menyiapkan kader-kader PMII di masing-masing kabupaten kota  untuk terjun langsung ke TPS-TPS guna menunaikan hak politik mereka dengan mencoblos pilihan mereka dan meminimalisir besarnya suara golput yang meningkat akhir-akhir ini, menjadi saksi dan menjadi bagian yang terus mensosialisasikan akan pentingnya pilkada bersih di masing-masing daerah," urai Panji.


"PMII juga mengimbau dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadi bagian dari proses pilkada bersih ini dengan melakukan beberapa MOU dengan instansi-instansi yang berhubungan erat dengan proses pilkada, seperti KPU, Bawaslu, dan lainnya," tegas Panji.

PMII, kata Panji, mengimbau masyarakat agar datang ke TPS dan menggunakan hak pilihnya.

"Tak lupa agar masyarakat cerdas dalam memilih pemimpin karena ini menentukan pembangunan Kaltim lima tahun ke depan," tutur Panji.(tb19/hms).
Peringatan Haul Sunan Kuning di komplek Jalan Sri Kuncoro 1 RT 6 RW 2 Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah. (Foto: rappler.idntimes.com).
TABAYUNA.com - Ketika mendengarkan nama Sunan Kuning, pasti dalam benak kita adalah lokalisasi, tempak nakal, dan tempat jajan lelaki hidung belang. Sunan Kuning, selama ini dipahami sebagai lokalisasi terbesar di Jawa Tengah.

Selain ada makam Mbah Soleh Darat di Bergota, lalu ada Sunan Pandanaran, di Kota Semarang juga ada makam Sunan Kuning yang sangat dekat dengan Bandara Ahmad Yani Semarang. Alamat Makam Sunan Kuning ini sangat dekat dengan alamat lokalisasi Sunan Kuning Semarang atau sekarang sudah menjadi Resosialisasi Argorejo Semarang.

Yang menjadi permasalahan, ada dua makam Sunan Kuning, yaitu di Kota Semarang, Jawa Tengah dan di Tulungagung, Jawa Timur. Misteri ini yang menjadikan Tabayuna.com kewalahan karena harus mencari data-data ilmiah dan faktual.

Baca: Daftar Makam Wali se Nusantara yang Wajib Diziarahi
Baca: Mbah Duniyah, Wali Mantenan Orang Tayu Pati
Baca: Konsep Wali Kiriman dan Wali Tiban dalam Islam

Padahal, Sunan Kuning, penamaan itu, berasal dari ulama besar asli Tionghoa, namanya Soen An Ing. Karena orang Jawa Susah menyebut Soen An Ing, maka dengan simpel menyebut Sunan Kuning.

Sunan Kuning, makamnya ada di Semarang, ada juga di Tulungagung. Selain melakat nama Sunan Kuning, atau Kanjeng Sunan Kuning, Soen An Ing juga memiliki nama lain Raden Mas Garendi, Zaenal Abidin, dan lainnya.

Dalam buku Geger Pacinan 1740-1743, Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC, RM Daradjadi menyebut Raden Mas Garendi bersama Kapitan Sepanjang (Khe Panjang) dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) mengobarkan perlawan sengit terhadap VOC di wilayah kekuasaan Mataram. Perlawanan itu disebut sebagai pemberontakan terbesar yang dihadapi VOC selama berkuasa di Nusantara.

Para pemberontak Jawa-Tionghoa menobatkan Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning sebagai raja Mataram bergelar Sunan Amangkurat V Senopati Ing Alaga Abdurahman Sayidin Panatagama pada 6 April 1742 di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kala itu, cucu Amangkurat III yang dibuang VOC baru berumur 16 tahun--sumber lain menyebut 12 tahun. Dia pun dianggap sebagai raja orang Jawa dan Tionghoa.

Kesalahan Sejarah Pelacuran di Sunan Kuning
Sejarah Resosialisasi Argorejo atau lokalisasi Sunan Kuning harus diluruskan. Sebab, pada aslinya Sunan Kuning adalah ulama Islam asal Tionghoa bernama asli Soen An Ing atau dikenal juga dengan sebutan Kanjeng Sunan Kuning atau Raden Mas Garendi.

Sunan Kuning, tiap kali diucapkan memang tak lepas dari tempat nakal. Fitria (2012: 70) menyebut, prostitusi menjadi fenomena sosial yang tidak mengenal tempat dan suasana. Ia akan senantiasa hadir selama ada yang membutuhkan, ia merupakan bagian dari institusi sosial yang akan tetap lestari dan berkembang selama masih dibutuhkan. Kenyatannya, pelacuran memiliki power sebagai institusi yang selalu dibutuhkan. Selama ada nafsu seksual, maka selama itu pula akan ada institusi yang menyediakan. Karena itu, permasalahan dalam prostitusi tidak hanya soal pelacuran akan tetapi pelanggan yang juga menikmati jasa pelacuran

Sedangkan Lokollo (2009: 41) menjelaskan, dalam praktiknya, pelacuran terbagi atas beberapa varian. Pertama, Prostitusi yang terdaftar dan terorganisir. Pelakunya diawasi oleh bagian vice control dari kepolisian, yang dibantu dan bekerjasama dengan Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan. Pada umumnya dilokalisasi dalam satu daerah tertentu. Penghuninya secara periodic harus memeriksa dari pada dokter atau petugas kesehatan dan mendapatkan suntikan dan pengbatan sebagai tindakan kesehatan dan keamanan umum.

Kedua, Prostitusi yang tidak terdaftar. Termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang melakukan prostitusi secara gelap dan liar, baik secara perorangan maupun kelompok. Perbuatannya tidak terorganisir, tempatnya tidak tentu, bisa disembarang tempat,  baik mencari klien sendiri, maupun melalui calocalo dan panggilan. Mereka tidak mencatatkan
diri kepada yang berwajib, sehingga kesehatannya sangat diragukan, karena belum tentu mereka itu mau memeriksakan kesehatannya kepada dokter.

Praktik Pelacuran di Sunan Kuning, memang praktik pelacuran dalam arti “cara-cara kerja” para pelacur dalam menghadapi langganannya, banya pola-pola dan liku-likunya. Secara garis besar dapat disebut beberapa pola.

Pertama, Pelacur Bordil. Yaitu praktik pelacuran, dimana para pelacur dapat dijumpai di tempat-tempat tertentu, berupa rumah-rumah yang dinamakan bordil, yang mana umunya ditiap bordil dimiliki oleh seorang yang namanya germo.

Kedua, pelacur panggilan dalam pelacuran (Call Girl Prostitution). Praktik pelacuran di mana si pelacur dipanggil oleh si pemesan ke tempat lain yang telah ditentukan, mungkin di hotel atau di wisma daerah pariwisata.

Ketiga, pelacur jalanan (Sreet Prostitution). Ini merupakan bentuk prostitusi yang menyolok. Di kota-kota besar kerap kali orang dengan mudah dapat menjumpai wanita yang berdandan dan rias yang mencolok, seolah menjajakan diri, untuk dibawa oleh yang meghendakinya. Biasanya pelacur yang berada di jalanan dibawa ke hotel-hotel murahan, atau berbordil atau kemana saja yang membawa (Soedjono, 1977: 70-74)

Mustaqim (2016: 73) menyebut, data terakhir yang disebutkan oleh pengurus Resosialisasi Argorejo, anak asuh yang terdaftar di sana sebanyak 569. Status anak asuh ini terbagi menjadi tiga di antaranya: a. 103 Belum kawin. b. 38 Menikah. c. 428 Janda

Anak asuh adalah istilah yang digunakan untuk panggilan wanitawanita yang bekerja di Resosialisasi Argorejo Sunan Kuning Semarang. Meskipun banyak istilah lain seperti Wanita Pekerja seks (WPS), Wanita Tuna Susila (WTS), Pekerja Seks Komersial (PSK), pelacur, dan lain-lain. Begitu juga dengan istilah-istilah baru seperti bispak, wanita penghibur, jablai, kimcil dan lain-lain. 

Istilah anak asuh ini digunakan karena berhubungan dengan tempat mereka bekerja yaitu resosialisasi yang aktifitas di dalamnya bukan hanya tempat hiburan dan prostitusi, melainkan terdapat program bimbingan dan pengentasan bagi anak asuh itu sendiri. Selain itu penggunaan nama anak asuh lebih diutamakan di Resosialisasi Argorejo dibandingkan dengan penggunaan nama panggilan yang lain (Mustaqim, 2016: 6).

Terlepas dari kondisi ini, Sunan Kuning tetaplah Sunan Kuning, seorang waliyullah yang menyebar Islam dan melawan VOC Belanda kala itu. Dari penelusuran Tabayuna.com, ada dua makam atau kuburan Sunan Kuning. Pertama di Kota Semarang, lokasinya di bukit pekayangan, atau bukit argorejo, sekitar 50-70 meter dari Resosialisasi Argorejo.  Kedua di Tulungagung. Makam di Tulungagung ini masih sedikit orang yang tahu, khususnya warga Semarang sendiri. Sebab, kuburan Sunan Kuning hanya dianggap di bukit pekayangan saja yang dulu ditemukan oleh Mbah Sabirin.

Makam Sunan Kuning di Semarang
Kebesaran nama Sunan Kuning, ulama dan pejuang di Tanah Jawa yang tercoreng lokalisasi tentu wajib hukumnya untuk diluruskan. 
Komplek makam Sunan Kuning di  Jalan Sri Kuncoro 1 RT 6 RW 2 Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah. (Foto: rappler.idntimes.com).
Meski kenyataannya, makam Sunan Kuning berada hanya berjarak 50 meter dari kompleks Resosialisasi Argorejo. 

Tepatnya berada di sebuah bukit di Jalan Sri Kuncoro 1 RT 6 RW 2 Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah. Orang menyebut bukit mini itu sebagai Gunung Pekayangan.



Makam Sunan Kuning di Tulungagung
Sejarah Sunan Kuning di Semarang, dengan Sunan Kuning di Tulungagung ternyata ada persamaan dan perbedaan. Persamaannya, ia sama-sama Tionghoa, sama-sama dikisahkan ulama yang melawan VOC Belanda, dan bernama lain Mas Garenda, Soen An Ing.
Makam Sunan Kuning di Dusun Krajan, Desa Macanbang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. (Foto: Penerbit Menara Madinah).

Dari sejarah yang dituturkan pemuka agama di Tulungagung, Zainal Abidin atau yang biasa disebut Sunan Kuning.

Lokasi makam Zainal Abidin atau yang biasa disebut Sunan Kuning, dimakamkan di Dusun Krajan, Desa Macanbang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Selama menjalankan tugas, banyak halangan yang dihadapi. Makam Sunan Kuning memang sudah menjadi salah satu tempat yang ramai diziarahi. Terutama di malam Jumat Legi. Tak hanya dari Tulungagung dan sekitarnya, tetapi juga dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Maklum, Zainal Abidin konon berasal dari Jawa Tengah.

Akan tetapi, karena belum ada fokus penelitian, maka hingga kini kejelasan tentang asal usul masih masih simpang siur. Termasuk keberadaan masjid yang kini masih kokoh berdiri. Apakah benar-benar peninggalan Zainal Abidin atau Tiban. Tiban, menurut kepercayaan orang Jawa, mendadak berdiri atau terbentuk tanpa ada yang membangun.

Uniknya, dari penuturuan ulama setempat, pembangunannya tak lagi menggunakan tenaga manusia, melainkan bantuan makhluk-makhluk halus. Zainal Abidin diyakini menginjakkan kaki di Tulungagung sekitar tahun 1727 silam. Berdasar buku Sejarah dan Babat Tulungagung yang diterbitkan di oleh Pemkab Tulungagung, dia merupakan murid atau salah satu santri dari Kiai Mohammad Besari, tokoh ulama yang cukup ternama dan disegani asal Jetis, Ponorogo.

Di Ponogoro, Mohammad Besari, diberikan tanah perdikan dari Sunan Pakubuwono II dari Keraton Surakarta. ”Itu menurut buku Babat Tulungagung. Sejarah tentang Sunan Kuning sendiri sampai sekarang belum ada yang pasti, banyak cerita yang beredar. Termasuk kepercayaan orang di sekitar masjid sana,” kata Nurcholis, salah satu peneliti Sunan Kuning.

Setelah menuntut ilmu di Kota Reog, itu Sunan Kuning diberikan tugas atau amanat untuk menyebarkan agama Islam di daerah timur. Yakni, Tulungagung dan sekitarnya, termasuk Blitar dan Kediri. Makanya, beberapa pendapat juga menyebutkan, Sunan Kuning dimakamkan di kompleks pemakaman Wali di Setonogedong, Kota Kediri.

Ulama Tionghoa Soen An Ing ini memiliki jasa besar bagi perkembangan Islam di Nusantara. Kita harus menjaga makamnya, dan meluruskan stigma buruk yang kini menimpanya. (tb44/Hi).