Salatiga, TABAYUNA.com – Pada kegiatan pengayaan teori penelitian bertajuk Varian Sumber Belajar Keagamaan Moderat Siswa Madrasah Aliyah di Era Disrupsi, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah Prof. Dr. Syamsul Ma’arif, menjelaskan banyak teori tentang sumber belajar moderat di Grand Wahid Hotel, Salatiga, Kamis (14/1/2021).


Merujuk definisi AECT 1977, dijelaskan Prof Syamsul bahwa learning resources atau sumber belajar dalam perspektif teknologi pendidikan, berupa semua sumber (data, orang, dan benda) yang dapat digunakan oleh peserta didik secara terpisah atau dalam kombinasi, biasanya secara informal, untuk memfasilitasi pembelajaran; mereka mencakup pesan, orang, bahan, perangkat, teknik, dan pengaturan.


Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Pengayaan Teori Penelitian Tahap 1 dan Sinkronisasi Program dan Kegiatan Puslitbang dan Balai Litbang Agama Semarang yang terlaksanak sejak 12 Januari 2021 dan akan berakhir pada 15 Januari 2021. Ada tiga bidang dalam penelitian tersebut, mulai dari kelas pendidikan, lektur, dan Bimas Islam. Khusus untuk bidang pendidikan, pada hari ketiga diisi oleh Ketua FKPT Jateng.


Sebagai Ketua FKPT, Prof Syamsul menjelaskan bahwa tugas FKPT itu ada tiga, yaitu kesiapsiagaan, counter radikalisasi, dan deradikalisasi. Penulis buku Membumikan Ilmu Pendidikan Nusantara ini menjelaskan, untuk menentukan kriteria terpapar radikalisme sudah diatur dalam regulasi.


“Dalam Pasal 22 PP. Nomor 77 Tahun 2019 ayat 2 dijelaskan 3 kriterita orang terpapar radikalisme. Pertama, memiliki akses terhadap informasi yang bermuatan paham radikal terorisme. Kedua, memiliki hubungan dengan orang/kelompok orang yang diindikasikan memiliki paham radikal terorisme. Ketiga, Memiliki pemahaman kebangsaan yang sempit yang mengarah pada paham radikal terorisme. Keempat, memiliki kerentanan dari aspek ekonomi, psikologi, dan/atau budaya sehingga mudah dipengaruhi oleh paham radikal terorisme,” beber penulis buku Sekolah Harmoni: Restorasi Pendidikan Pesantren tersebut.


Banyaknya data yang FKPT temukan tentang sumber belajar yang saat ini serba digital dan tidak otoritatif seperti kitab kuning, guru, kiai, ustaz, mengharuskan rencana riset yang dilakukan Balitbang Agama Kota Semarang serius untuk menguatkan moderasi beragama. Sebab, sumber belajar saat ini sudah bergeser ke sumber-sumber digital yang tidak otoritatif, dan menurut data yang dimiliki BNPT-FKPT, sumber-sumber belajar digital sudah dikuasi kaum radikal.


“Berdasarkan penelitian BNPT-FKPT tahun 2019, menunjukkan terpaan konten agama di dunia digital direbut kelompok radikal. Untuk terpaan konten agama di Youtube ada 22,94 persen, Path 0,29 persen, Instagram 45,41 persen, Twitter 2,67 persen, WA 45,47 persen, Facebook 47,73 persen,” papar Prof Syamsul.


Untuk itu, learning resources bagi pemahaman keagamaan moderat harus dikuatkan. “Gerakan Islam Wasathiyah atau Islam moderat harus menyediakan sumber belajar yang memiliki corak faham keagamaan mainstream umat Islam di Indonesia, yaitu yang selalu menjaga keseimbangan,” lanjut pengasuh Pesantren Riset Al-Khawarizmi Semarang tersebut.


Dekan FPK UIN Walisongo ini juga menegaskan, bahwa sumber belajar keagamaan moderat harus mengarah kepada pendidikan damai, Islam Indonesia, memiliki visi profetik (humanisasi, liberasi, dan transendensi untuk transformasi), toleransi dan pluralisme, menggunakan pendekatan head (kepala), heart (hati), dan hand (tangan).


“Cirinya dapat dilihat dari membangun ketahanan keluarga, masyarakat, dan pemerintah, merawat kebhinekaan, kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi pandemi dan gerakan radikal, peningkatan jejaring kerjasama, penguatan imunitas dan nasionalisme,” paparnya.


Pihaknya menegaskan bahwa contoh moderasi sejati seperti kearifan Masyarakat berupa ritual kepercayaan seperti adanya sesajen, kenduren, dan slametan harus dimasukkan ke dalam kurikulum. "Contoh seperti ini ada tidak? Dikonsumsi anak-anak tidak? Atau hanya dikonsumsi elit, konsumsi peneliti? Bahkan, ustaz-ustaz saja jarang mencontohkan. Mencontohkan saja langsung menghukumi kafir, bidah, ini kan harus direm,” ujar guru besar Ilmu Pendidikan Islam tersebut.


Profesor kelahiran Grobogan ini menegaskan, bahwa penerbitan dan penerjemahan buku/kitab-kitab digital harus diwaspadai karena ini bagian dari sumber belajar. “Kita harus tetap waspada dengan learning resources produk kelompok radikal, karena saat ini ada hasil riset menemukan penerbit-penerbit buku yang radikal,” bebernya.


Di akhir paparan, pihaknya mengajak semua peneliti dalam forum itu agar merefresh teori-teori milenial yang secara paradigmatik dan metodologis dapat menjawab tantangan zaman. (Tb55/Ibda).



Semarang, TABAYUNA.com - Kelompok 18 KKN MIT-DR (Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terprogram dari Rumah) UIN (Universitas Islam Negeri) Walisongo Semarang produksi jamu kunyit asam. Hal ini dilakukan dalam rangka menjaga imun di tengah pandemi. Ziya, anggota kelompok 18 menegaskan bahwa pembuatan minuman herbal ini dikhususkan distribusinya kepada santri pada Rabu (13/1/2021).

“Berhubung pengabdiannya di perumahan yang dikeliingi pesantren, jamu ini sengaja dibuat agar santri tetap sehat selama lockdown di pesantren. Jamu ini langsung didistribusikan seketika pasca pengemasan selesai. Jadi, masih terjaga higenisnya, kata dia.

Produksi dilakukan dengan memanfaatkan lima bahan alami:  kunyit, gula asam, gula jawa, asam jawa, serta garam. Bahan direbus selama 15 menit di salah satu asrama pesantren Darul Falah Besongo, Perumahan Bank Niaga, Ngaliyan, Semarang. Pada tahap akhir, jamu dikemas dalam botol ukuran 100 ml.

“Jamu berhasil terkemas sebanyak 20 botol dan dibagikan secara merata,” lanjut perempuan kelahiran Kudus tersebut menambahkan.

Selain mempertahankan imun, inovasi program kerja ini dimaksudkan sebagai ladang dalam meningkatkan perekonomian. Pembuatannya yang mudah menjadikan edukasi mengenai jamu ini bisa dipahami.

“Jamu ini rasanya enak, perpaduan antara manis dan asamnya pas, tidak pahit seperti jamu kunyit asam yang sering saya minum saat di rumah,” komentar Yudha, anggota kelompok 18 ketika ditanyai selepas minum jamu. (tb22/Novia)


Semarang, TABAYUNA.com – Balai Penelitian dan Pengembangan Agama (BLA) Semarang menggelar kegiatan Pengayaan Teori Penelitian Tahap 1 dan Sinkronisasi Program dan Kegiatan Puslitbang dan Balai Litbang Agama Semarang yang terlaksana di Grand Wahid Hotel, Salatiga, sejak Senin (12/1/2021) sampai Jumat (15/1/2021). Teknis kegiatan ini tetap mematuhi protokol kesehatan yaitu mencuci tangan, menjaga jarak, memakai maker, dan ruangan dipisah dengan tiga kelas, beberapa pemateri juga menyampaikan materi melalui aplikasi Zoom. 


Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang memiliki tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan dalam beberapa bidang. Pada kegiatan ini, ada tiga kelas yang disiapkan untuk melakukan pengayaan teori penelitian, mulai dari Bimas Islam, lektur, dan pendidikan.

Dalam pembukaan, Kepala Balai Litbang Agama (BLA) Semarang Dr. Samidi, S.Ag., M.S.I., menegaskan bahwa ada tiga judul penelitian di awal 2021 ini karena ada peningkatan anggaran.
Ketiga penelitian yang akan dilakukan itu bertajuk Varian Sumber Belajar Keagamaan Moderat Siswa Madrasah Aliyah Di Era Disrupsi, Produksi Wacana Keagamaan Ulama di Media Sosial, dan Otoritas Sumber Pengetahuan Keagamaan Moderat di Era Di Disrupsi.

Beberapa pakar dihadirkan dalam kegiatan itu untuk ketiga kelas. Seperti Prof. Dr. Irwan Abdullah dan Dr. Mohamad Yusuf, Dekan FIP Universitas Negeri Semarang Dr. Edy Purwanto, M.Si., Ketua FKPT Jawa Tengah Prof. Dr. Syamsul Ma’arif, M.Ag., Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang Prof. Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti, M.Si., dan direncanakan juga akan diisi oleh Sekretaris Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Prof. Dr. H. Moh. Isom, M.Ag.

“Saya harap kegiatan berjalan sampai selasai, karena Prof Isom berencana akan ke sini,” kata Kepala Balai Litbang Agama (BLA) Semarang Dr. Samidi, S.Ag., M.S.I., di akhir sambutannya.

Dalam kegiatan pembukaan itu, selain Kepala Balai Litbang Agama (BLA) Semarang Dr. Samidi, S.Ag., M.S.I., hadir juga mendampingi Peneliti Ahli Utama Drs. H. Wahab, M.Pd, dan Kasubbag TU/Perencana BLA Semarang H. Darwiyanto, M.Ed. Hadir juga sebagai peserta peneliti dari internal BLA Semarang, tamu undangan dari Unwahas, AIS Muhammadiyah Semarang, LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah, dan lainnya. (Tb55/Ibda).


Temanggung, TABAYUNA.com
- Pembangunan MTs Integrasi (Mumtas) Al-Hudlori Temanggung secara resmi dimulai pada Senin (11/1/2021) yang ditandai dengan peletakan batu pertama. Pembangunan MTs di bawah naungan Yayasan Al-Hudlori ini resmi dibangun di Kebonsari, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung dengan luas 4.026 m2. 

Hadir Bupati Temanggung H. Muhammad Al-Hadziq, Anggota Komisi 8 DPR RI KH Muslich Zaenal Abidin, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Temanggung Drs. Suyono, MM.,  Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Temanggung, KH. Ahamd Muhdzir, Ketua LP. Ma'arif NU Temanggung Drs H Yusuf Purwanto M.Ag., Kiai Abdul Aziz dari Temanggung, Habib Muchsin bin Abdul Qodir Al-aydrus, KH. Muhamad Ridwan Abdan Magelang, KH. Minanurrohman Ansori Payaman Magelang, Drs. KH. Usman Ridlo, Kiai Isa Bahri Temanggung, dan sejumlah tokoh masyarakat.

Ketua Yayasan Al-Hudlori H. Abdul Hakim Siradj Abdan mengatakan bahwa pembangunan MTs Integrasi (Mumtas) Al-Hudlori ini disiapkan dana sekitar Rp 16 miliar. Menurutnya, apa perbedaan MTs Mumtas Al-Hudlori dengan yang lain. Pertama, MTs Mumtas Al-Hudlori memiliki paradigma keilmuan integrasi, yaitu sebuah cara pandang model paradigma yang mengintegrasikan, menyatukan, meleburkan ilmu-ilmu umum dan ilmu agama atau dengan agama itu sendiri. Paradigma ini sudah didiskusikan, dikaji matang dan sudah tersusun dalam sebuah buku ilmiah. Jangankan madrasah/sekolah, perguruan tinggi saja masih banyak yang belum memiliki paradigma keilmuan yang mapan.

“Integrasi ini memiliki latarbelakang, selama ini banyak sekolah umum yang terlalu berkiblat pada Barat sehingga lulusan mereka cenderung sekuler, liberal, dan mendewakan akal. Di satu sisi, ada pula yang cenderung mengutamakan Islam namun menolak Barat, sehingga lulusannya cenderung kaku, konservatif, puritan, dan radikal. Maka Yayasan Alhudlori memilih jalan integrasi sebagai wujud moderasi ilmu dan moderasi beragama,” katanya.

Kedua, wujud integrasi itu nanti kami kembangkan lewat kurikulum, program intra dan ekstrakurikuler, serta penguatan mutu yang tidak hanya unggul dalam sains, matematik, bahasa, literasi, namun juga karakter atau akhlakul karimah sebagai ciri khas madrasah. Ketiga, MTs Mumtas Alhudlori mengembangkan program tahfiz Alquran dan Hadis yang terintegrasi dengan asrama / pesantren siswa.

Keempat, kita ke depan akan mengembangkan Gerakan literasi Madrasah melalui Lembaga Pers Siswa, Jurnal Ilmiah Guru, Penerbitan Al-Khudlori yang menjadi produk ilmiah siswa maupun guru melalui publikasi berbasis karya tulis jurnalistik, karya tulis ilmiah, karya sastra, dan karya digital. Kelima, penguasaan bahasa daerah, bahasa nasional, bahasa asing utamanya Inggris, dan Arab secara aktif.

“Dengan ikhtiar ini, semoga mampu mewujudkan pendidikan di wilayah Temanggung menjadi obor kemajuan sesuai prinsip pesantren, yaitu almuhafadatu ala qadimissalih, wal akhdu biljadidil aslah, yang berarti merawat tradisi lama yang baik, dan menerima serta mengembangkan tradisi baru yang lebih baik. Hal itulah yang kami pegang teguh dan akan kami kembangkan melalui madrasah integrasi Alhudlori yang sudah pada tahap peletakan batu pertama ini,” lanjutnya.

MTs Integrasi (Mumtas) Al-Hudlori ini memiliki fasilitas gedung yang bagus, pondok pesantren, kantin, musala, dan disiapkan para pakar atau guru yang hafiz Alquran dan hadis.

Sementara itu, Bupati Temanggung dalam sambutannya menegaskan bahwa pihaknya mengapresiasi atas pembangunan tersebut. Pihaknya juga merasa bangga dan sekaligus terima kasih kepada yayasan yang telah ikut berperan mencerdaskan generasi penerus melalui pendidikan madrasah.

Bupati juga berharap semoga madrasah ini nantinya akan melahirkan generasi-generasi cerdas, beriman dan bertakwa. Generasi Ahlussunnah yang mencintai Pancasila dan NKRI. (tb44/Ibda)