Ilustrasi
TABAYUNA.com – Lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kota Semarang, Jawa Tengah tahun 2018 ini membuka 709 formasi bagi Anda semua. Informasi ini dilansir dari bkpp.semarangkota.go.id yang bisa Anda akses secara gratis.
Di Jawa Tengah sendiri, ada banyak formasi CPNS dibuka selain di Kota Semarang. Sejak tanggal 19 September 2018 kemarin, formasi mulai dibuka dan Anda bisa pantau di sscn.bkn.go.id.

Di Jawa Tengah sendiri, Anda bisa mencari informasi lowongan CPNS 2018 di Rembang, informasi lowongan CPNS 2018 di Kudus, informasi lowongan CPNS 2018 di Pati, informasi lowongan CPNS 2018 di Blora, informasi lowongan CPNS 2018 di Grobogan, Demak, Jepara, informasi lowongan CPNS 2018 di Kendal, informasi lowongan CPNS 2018 di Kabupaten Semarang, informasi lowongan CPNS 2018 di Batang, Pekalongan, Brebes, informasi lowongan CPNS 2018 di Pemalang, informasi lowongan CPNS 2018 di Banyumas, Banjarnegara, informasi lowongan CPNS 2018 di Salatiga, informasi lowongan CPNS 2018 di Temanggung, Magelang, Kota Magelang, informasi lowongan CPNS 2018 di Klaten, informasi lowongan CPNS 2018 di Wonosobo, informasi lowongan CPNS 2018 di Purworejo, informasi lowongan CPNS 2018 di Purbalingga, informasi lowongan CPNS 2018 di Solo, informasi lowongan CPNS 2018 di Boyolali, informasi lowongan CPNS 2018 di Jogjakarta, informasi lowongan CPNS 2018 di Wonogiri, informasi lowongan CPNS 2018 di berbagai daerah di Jateng.



Silakan lihat informasi lowongan CPNS 2018 di Kota Semarang dan download DI SINI atau lihat di bawah ini:

Oleh: Nur Kholik Ridwan

Gus Dur berkata: “Seorang yang tidak mau lagi mengakui gurunya tetap sebagai guru sepanjang hidupnya, ia akan kehilangan barokah yang diperoleh dari gurunya itu. Paham yang dikembangkan bahkan menganggap bahwa guru itu mempunyai kedudukan yang lebih utama daripada orang tuanya sendiri: Aba’uka tsalatsatun, abuka alladzi waladaka, walladzi zawwajaka ibnatahu, walladzi `allamaka wahuwa afdholuhum (bapak-bapakmu ada tiga macam, yaitu yang meperanakkan dirimu, yang mengawinkanmu dengan anak gadisnya, dan yang mengajarimu ialah yang utama di antara mereka” (Islam Kosmopolitan, hlm. 81).

Saya belum berhasil menemukan sumber rujukan dari perkataan hikmah ini, “Aba’uka tsalatsatun”. Dalam Ensiklopedi hadits yang sangat tebal, Jam`ul Jawami yang dikarang Imam Jalaluddin as-Suyuthi, tidak dicantumkan. Demikian juga dalam Maqoshidul Hasanan karya as-Sakhowi, juga tidak ada.

Perkataan di atas mengandung arti kedudukan utama seorang guru bagi seorang murid, dalam pandangan orang-orang dahulu di kalangan masyarakat Islam Ahlussunnah Waljama’ah, dan masyarakat Islam di Nusantara. Perkataan di atas mengandaikan ada 3 orang: Orang tua kandung, mertua, dan guru. Tetapi dalam praktiknya, orang tua bisa saja menjadi guru, demikian juga mertua; dan hal ini menjadi utama, ketika orang tua kandung atau mertua, juga sekaligus guru. Pengutamaan kepada mereka kemudian diwujudkan dalam penghormatan kepada guru. Mengirimi hadiah fatihah, dan mendoakan; demikian juga seorang guru, akan mendoakan murid-muridnya.

Berkaitan dengan penghormatan itu, dalam kitab Ta’lim ada perkataan Imam Ali, yang berbunyi begini: “Saya adalah seorang hamba bagi orang yang telah mengajariku satu huruf, terserah saya mau dijual, ataupun mau dimerdekakan tetap menjadi hambanya.” Perkataan Imam Ali ini adalah perkataan-perkataan simbolik. Seorang guru yang alim dan arif, tidak mungkin menjadikan murid sebagai hamba. Karena seorang yang alim dan arif, yang menjadi guru adalah laksana Nabi kepada umatnya, maka dia adalah bapak dan juga orang tua yang mengasuh, membesarkan dan mengajarinya-mendidiknya tentang ilmu. Maka perkataan di atas, lebih merupakan ajakan untuk menghormati dan berinteraksi dengan adab adab yang baik kepada guru.

Karena kedudukan penting seorang guru, lebih-lebih guru yang menunjukkan jalan spiritual, guru yang menunjukkan pedoman hidup halal haram, guru yang menunjukkan mengenal Alloh, maka guru-guru seperti ini, adalah guru yang memang pantas dan layak dihormati. Guru yang demikian adalah bapak bagi para murid-muridnya; dan doa yang mustajabah menurut sebagian hadits Nabi di antaranya adalah doa-doa bapak kepada anaknya, yang berarti juga di dalamnya guru-guru kepada muridnya. Guru-guru yang demikian, mereka ini mengajari pengertian-pengertian agama, sekaligus ijazah-ijazah dzikir dan talqin-talqin wirid.

Perkataan hikmah di atas, oleh Gus Dur dikutip dalam rangka menjelaskan relasi hubungan ketaatan guru murid. Akan tetapi guru yang demikian, adalah guru yang mencapai derajat Arifin, tidak mengeksploitir murid untuk kepentingan sendiri dan kepentingan materi lainnya. Hal ini pernah terjadi, ketika terjadi perpindahan banyak pengikut tarekat di Jombang, karena perbedaan-perbedaan tertentu. Mereka kemudian berbondong-bondong pindah ke Cukir, dari guru sebelumnya ke guru di Cukir.

Gus Dur menyimpulkan dari perjalanan perpindahan murid-murid tarekat di Jombang ke Cukir itu, dan pergulatan di dalam Nahdlatul Ulama, dia mengatakan begini: “Ada kecenderungan para ulama peserta sidang untuk membuat koreksi atas paham yang selama ini berlaku bahwa ketaatan mutlak kepada guru dan larangan pindah guru, hanya berlaku bagi guru yang memiliki pengetahuan ke-Tuhanan yang sempurna (tingkatan Arifin), dan memiliki wewenang mengajar dari guru yang sebelumnya, secara ijasah lisan dan tertulis, serta tidak mengeksploitisir murid-muridnya untuk kepentingan sendiri baik yang bersifat materi maupun yang lainnya” (hlm. 83).

Menurut Gus Dur, “formulasi baru terhadap ajaran ketaatan kepada guru ini, benar-benar merupakan pemahaman yang sangat radikal karena dengan demikian diakui bahwa ada kiai di pedesaan sekarang ini yang tidak pantas diakui sebagai guru thariqoh, pengakuan yang belum pernah ada dalam sejarah perkembangan Islam di Jawa.”

Perkembangan ini, kemudian juga menjadi salah satu sebab lahirnya JATMAN dan kyai-kyai yang berafiliasi tarekat kepada NU. Pada saat yang sama, hal ini juga menunjukkan dengan terang-terangan, bahwa kyai-kyai NU itu telah melakukan penafsiran yang radikal dalam praktik guru-murid ini, perpindahan kepada guru lain itu syah dengan alasan-alasan tertentu. Hal ini bahkan kemudian dijawab oleh keputusan di kalangan tarekat yang berafiliasi kepada NU. Bahkan keputusan NU sendiri pada April 1935, telah menyebutkan begini: “Pindah dari satu tarekat ke tarekat lain boleh asal dapat mengikuti syarat yang ditentukan.”

Dasar dari kitabnya diambil dari Majmuatur Rosail, “ Demikian pula boleh perindah dari satu tarekat ke tarekat lain dengan syarat mampu memenuhi segala aturan dan konsisten dengan adab tariqoh yang ia masuki” (Majmuatur Rosail Syaikh Sulaiman Zuhdi an-Naqsyabandi).

Oleh karena itu, kita melihat bagaimana perilaku dan sikap kyai-kyai hubungannya dengan politik dan kenegaraan, apalagi Pilkada. Seorang murid pun syah berbeda dengan pilihan gurunya. Hanya saja, perbedaan itu dijaga jangan sampai melahirkan ketidakhormatan, atau tindakan-tindakan yang tidak patut dalam adab. Demikian pula, seorang guru, tidak pada tempatnya mewajibkan muridnya untuk memilih calon tertentu, atau politik tertentu demi kepentingan tertentu, karena yang diwajibkan itu yang tidak bisa di bantah adalah mengangkat pemimpin di kalangan kaum muslimin. Tentang figurnya atau calon calon yang dipilih, seorang murid dan guru bahkan bisa berbeda pendapat, tetapi tetap harus saling menghormati, menjaga adab-adab.

Karena kewajiban guru adalah membimbing halal-haram, adab-adab tarekat, membimbing pengertian-pengertian tentang ahwal, tentang maqomat, dan lain-lain. Oleh karena itu Gus Dur menegaskan: “Ulama adalah pewaris Nabi”, yang mengandung implikasi infalibitas komunitas melalui kebenaran para pemuka agamanya.” Karena infalibitas itu juga terdapat di dalam komunitas pemimpin agama, dan adanya perubahan-perubahan itu sendiri, juga keterbatasan dalam cara pandang dalam meletakkan hubungan perubahan-perubahan sosial dengan kelompok masyarakat lain dengan para pemuka agama, mengharuskan adanya alternatif-alternatif dalam pandangan seorang murid.

Hubungan kedekatan dengan Alloh adalah rahasia seseorang atau guru itu dengan Alloh. Sementara bagi orang lain dan masyarakat, hubungan kedekatan pemuka agama dengan sang Pencipta Pemilik al-hayah, kedudukannya itu, diuji melalui akhlak-akhlak, tindakan-tindakan politik, dan sikap-sikapnya, yang meski tampakan lahir tidak mencerminkan kebenaran haqiqinya, tetapi begitulah hukum-hukum sosialnya harus diterima. Ketika pemuka agama dan seorang guru melakukan tindakannya dengan didasarkan pada warid-warid akibat laku riyadhohnya selama ini, itu tidak mengikat kepada orang lain, termasuk kepada murid-muridnya kecuali itu dilihat sebagai dan ditempatkan dalam dimensi adab- adab semata, tidak lebih.

Akan tetapi kalau itu menjadi keputusan para guru dalam istikhoroh-istikhoroh mereka, dalam jumlah yang banyak, dan mereka dikenal ahli dzikir, ahli tarekat, dan ahli wirid, ahli fastabiqul khoirot, dan amal-amal sejenis, maka seorang murid hendaknya melihat, para guru yang jumlahnya banyak ini, memutuskan dengan didasarkan pada hal-hal yang lebih maslahah untuk diikuti. Begitupun dengan adanya keputusan yang membolehkan pindah guru, dengan syarat-syarat tertentu di atas; dan tidak dibolehkan dalam hal-hal tertentu, terdapat kemaslahatan di dalamnya.

Akan tetapi saya sendiri, lebih memilih tetap bersama guru yang lama, tetapi saya tidak mengikuti pendapat-pendapat politiknya secara keseluruhan, sehingga menjadi mudah dalam menyikapinya; demikian pula saya juga mengambil tarekat yang lain, dengan tetap menjalankan tarekat yang lama dan tidak meninggalkannya, dan mengamalkan apa yang diambil dari guru yang baru. Wallohu a’lam.
TABAYUNA.com - Lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Agama (Kemenag) tahun 2018 ini terbuka untuk Anda semua yang memenuhi persyaratan akademik.


Kementerian Agama adalah kementerian yang bertugas menyelenggarakan pemerintahan dalam bidang agama. Usulan pembentukan Kementerian Agama pertama kali disampaikan oleh Mr. Muhammad Yamin dalam Rapat Besar (Sidang) Badan Penyelidik Usaha – Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), tanggal 11 Juli 1945. Dalam rapat tersebut Mr. Muhammad Yamin mengusulkan perlu diadakannya kementerian yang istimewa, yaitu yang berhubungan dengan agama. Menurut Yamin, "Tidak cukuplah jaminan kepada agama Islam dengan Mahkamah Tinggi saja, melainkan harus kita wujudkan menurut kepentingan agama Islam sendiri. Pendek kata menurut kehendak rakyat, bahwa urusan agama Islam yang berhubungan dengan pendirian Islam, wakaf dan masjid dan penyiaran harus diurus oleh kementerian yang istimewa, yaitu yang kita namai Kementerian Agama”.


Menurut Kepala Biro Kepegawaian Kemenag Ahmadi, pada tahun ini Kemenag akan  menerima 17.175 CPNS, untuk ditempatkan di seluruh satuan kerja Kemenag se-Indonesia. Adapun persyaratan penerimaan CPNS, mengikuti syarat yang ditetapkan pada Sistem Seleksi CPNS Nasional. Untuk mengikuti seleksi,  calon pelamar dapat mengakses https://sscn.bkn.go.id, yang mulai dapat diakses sejak 19 September 2018, pukul 13.00 WIB. 
Sebelumnya, Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Kemenag Nurkholis Setiawan menyatakan Kementerian Agama mendapat formasi 17.175 CPNS. Formasi yang ditetapkan bagi Kemenag ini adalah jumlah terbesar di antara 76 Kementerian/Lembaga di Indonesia yang melaksanakan rekrutmen CPNS Tahun 2018.
“Jumlah ini sesuai dengan Keputusan Menpan RB Nomor 49 tahun 2018 perihal formasi pegawai kementerian agama tahun anggaran 2018,” kata Nurkholis, Senin (12/09) lalu. 
Adapun jumlah alokasi terbesar formasi CPNS diperuntukkan bagi guru dan dosen. Menurut Nurkholis, berdasarkan Kemenpan RB Nomor 49 Tahun 2018, tersedia 10.520 formasi bagi guru pelamar umum, 1.480 formasi bagi guru honorer eks KII, dan 4.485 formasi dosen.
“Selebihnya, terdapat lowongan untuk penghulu, penyuluh, jabatan fungsional tertentu (JFT), dan jabatan fungsional umum (JFU),” imbuhnya.

Tahun 2018 ini, Kemenag membuka total formasi 17.175 formasi dari berbagai formasi. Mulai dari guru MI Negeri, MTs Negeri, MA Negeri, sampai pada STAIN, IAIN, UIN se Indonesia.

Ada lowongan untuk guru, lowongan untuk dosen 2018, dan seterusnya.

Informasi lebih lanjut, silakan buka kemenag.go.id dan sscn.bkn.go.id untuk pendaftaran. Sebelum tahun 2019, 2020, pastikan Anda sudah mendaftarkan diri sebagai CPNS agar nanti bisa menjadi PNS.


Silakan lihat formasi lengkap download DI SINI atau di bawah ini:


Demak, TABAYUNA.com – Prof Dr KH Said Aqil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat hadir dalam Pengajian Umum dalam rangka Haul Akbar Kanjeng Sunan Kalijaga ke-433 yang berlangsung di Gedung Pangeran Wijil V, Kadilangu Demak, Jawa Tengah pada Rabu (19/9/2018) malam mengajak masyarakat yang hadir untuk meneladani Sunan Kalijaga.

Pihaknya juga menegaskan, bahwa Islam Nusantara menjadi solusi bagi semesta alam.

Hal itu menurut Kiai Said bisa dilakukan untuk menangkal radikalisme. Dalam kegiatan yang dibarengkan dengan Ijazah Massal ia mengungkapkan radikalisme itu berkembang karena lemahnya tradisi keilmuan, literasi.

Berkait dengan NU sebutnya organisasi sosial keagamaan ini adalah pewaris kebenaran. Sehingga dirinya menandaskan NU tidak ekstrem kanan dan kiri tetapi berada di tengah-tengah, umatan wasathan.

Sehingga dalam belajar ilmu harus kepada ahlinya yakni kepada kiai dan ulama. Di samping itu Kiai Said juga memaparkan tentang Islam Nusantara. Dalam pandangannya Islam Nusantara bukanlah agama baru. “Islam Nusantara adalah solusi untuk dan selaras dengan ajaran Islam yang ramah bagi semesta alam,” paparnya.

Hal serupa disampaikan H. Fatchan Subhi. Di sela-sela kegiatan bertajuk “Melestarikan Tradisi Para Wali untuk Menjaga Keutuhan NKRI” ini anggota DPR RI dari FPKB ini menjelaskan momen ini penting untuk menapaktilasi dakwah Kanjeng Sunan yang sejuk dan selaras dengan tradisi dan budaya masyarakat.

Hadir dalam kegiatan yang dihadiri ribuan jamaah di antaranya KH Musaddad Syarif, tokoh masyarakat Demak yang juga mantan Ketua PCNU Demak. (Tb33/ip).