Articles by "Makam Wali"
Tampilkan postingan dengan label Makam Wali. Tampilkan semua postingan
Temanggung, TABAYUNA.com - Ketua Tanfidziyah PCNU Temanggung KH. Muhammad Furqon Masyhuri menegaskan bahwa guru-guru di naungan Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (NU) harus tampil laiknya kiai di pesantren. Hal itu diungkapkan saat pengurus LP Ma'arif PWNU Jateng sowan ke kediaman beliau, Sabtu malam (22/6/2019).

"Saya punya masukan, harusnya ada muatan takdib dab ta'lim di sekolah dan madrasah Ma'arif agar anak-anak itu beradab dan alim. Selain tarbiyah, takdib dan ta'lim perlu diajarkan untuk mendukung program pemerintah dalam menguatkan karakter bangsa. Makanya, guru Ma'arif harus tampil seperti kiai," katanya.

Pihaknya juga menegaskan, di sekolah dan madrasah Ma'arif perlu dihadirkan muatan pelajaran Kitab Ta'lim Al-Muta'allim karya Syaikh Az-Zarnuji. "Mungkin berbeda dengan penerapan di pesantren. Kitab Ta'lim, diajarkan bukan teksnya, namun substansinya saja yang penting berorientasi pada pembangunan karakter anak," tegasnya.

Jika selama ini sudah ada pembiasaan membaca Asmaul Husna sebelum pembelajaran, lanjut Gus Furqon, maka nanti bisa diambil salah satu petikan bait kitab Ta'lim yang mengutamakan adab untuk dibaca sebelum pelajaran dimulai. "Dalam kitab ini, banyak bait menjelaskan bagaimana etika murid pada guru, kemuliaan guru, bagaimana sikap murid pada guru dan lainnya," beber dia.

Hal inilah menurut Gus Furqon menjadi nilai tawar bagi sekolah dan madrasah Ma'arif dari yang lainnya. "Di Temanggung sendiri, banyak SD dan SMP negeri sudah tutup dan merger lantaran kekurangan siswa karena pada lari ke MI dan MTs Ma'arif. Bahkan madrasah yang saya kelola, misalnya, muridnya membludak dan kekurangan ruangan. Ini merupakan bukti bahwa sekolah di Ma'arif sudah bagus karena memang mengutamakan aspek takdib, taklim, selain tarbiyah," bebernya.

Hadir Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng R. Andi Irawan, Sekretaris LP Ma'arif PWNU Jateng Mahmudi Abduh, Bendahara LP Ma'arif PWNU Jateng Ahmad Muzammil, Wakil Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng Fakhrudin Karmani. Hadir juga Ketua Panitia Porsema Zaedun, Wakil Ketua Panitia Porsema Hamidulloh Ibda, Sekretaris Panitia Porsema Abdulloh Muchib dan lainnya.

Usai berdiskusi, pengurus LP Ma'arif PWNU Jateng melakukan ziarah kubur di kuburan Ki Ageng Makukahan Kedu dan KH. Subchi Parakan. Kegiatan itu dilakukan untuk mengawali rangkaian Porsema XI di Temanggung yang akan digelar 24-27 Juni 2019. (Tb98/Hi).
Parakan, TABAYUNA.com - Bagi warga nahdliyin ziarah ke makam aulia merupakan sebuah kebiasaan rutin. Ziarah tidak sekadar menjadi komunikasi sosial, namun juga komunikasi spiritual antara manusia dengan hal-hal metafisik.

Bagi kebanyakan orang, terdapat kebahagiaan dan ketenangan tersendiri ketika bisa bermunajat dan berdoa di makam para wali.

Menyadari akan pentingnya hal tersebut, PAC Fatayat Parakan menyelenggarakan safari  ziarah ke makam para wali di kawasan Temanggung dan Magelang Selasa, (5/2/2019) bertepatan dengan hari libur Imlek.

Menurut Yuni Haniah, kordinator kegiatan, ziarah bertujuan untuk lebih meningkatkan kualitas diri kepada Allah dengan mengenang  sejarah para wali dalam berjuang dan menyebarkan agama Islam. "Dengan mendatangi makam para aulia disamping memanjatkan doa dan tahlil juga dapat meneladani perjuangan beliau dalam berdakwah" ungkapnya.

Route diawali dari makam simbah KH Subkhi Kauman Parakan, Wali Majnun Bandunggede Kedu, komplek makam  Gunungpring Muntilan dan diakhiri di makam KH. Abdul Hamid Kajoran Salaman Magelang.

Dalam kesempatan ini, acara diikuti 80 peserta yang berasal dari ranting Fatayat se kecamatan Parakan. Adapun yang ditunjuk sebagai pendamping dan imam tahlil adalah K.Rofiq, kiai muda asal Tegalroso, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah. (tb44/nn).

Pati – Mbah Anggur yang memiliki nama asli Sumowijoyo, merupakan salah satu waliyullah yang lokasi kuburannya di sebelah barat Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. Beliau merupakan salah satu murid dari Ki Brojoseti Singo Barong pendiri Desa Dukuhseti, Pati.

Pada Kamis malam (27/12/2018), Jamaah Pasrah merayakan Haul Mbah Anggur dengan menggelar beberapa ritual di kompleks kuburannya. “Malam ini (Kamis), Jamaah Pasrah dan warga di hutan di makam Mbah Anggur yang sudah terlaksana  mulai tahun 1999 sampai 2018 menggelar haul Mbah Anggur,” kata Ngalimun Ketua II Jamaah Pasrah.

Dijelaskannya, bahwa peringatan haul itu bersamaan dengan peringatan Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. “Malam ini kita barengkan dengan Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani,” ujar perangkat Desa Dukuhseti, Pati, tersebut kepada wartawan.

Mantan Ketua GP Ansor Dukuhseti ini menjelaskan, bahwa Mbah Anggur merupakan salah satu murid dari Mbah Brojoseti Singo Barong waliyullah dan pendiri Desa Dukuhseti. “Kalau Haul Mbah Brojoseti Singo Barong bersamaan dengan Maulid Nabi. Sedangkan Mbah Anggur itu murid dari Mbah Brojoseti yang dulu meninggal karena konon disembelih Ki Gede Tualang seorang siluman sakti yang memusuhi Mbah Brojoseti,” lanjut dia.

Di dalam kuburan, juga masih tersimpan kayu yang digunakan untuk menyembelih Mbah Anggur tersebut. “Ini adalah kayu yang digunakan Ki Gede Tualang yang dulu membunuh Mbah Anggur, yang sampai saat ini masih tersimpan dan menjadi saksi bisu kehidupan,” papar guru SMK Jamaah Pasrah tersebut.

Ia berharap, melalui peringatan haul tersebut, masyarakat dapat meneladani sosok Mbah Anggur sebagai salah satu tokoh yang turut babat alas di wilayah Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. (tb44).
Jiken, TABAYUNA.com - Meski telah beberapa kali turun hujan, warga Desa Jiken Kecamatan Jiken Kabupaten Blora masih kekurangan air bersih. Melihat kondisi ini, pemerintah desa (Pemdes) setempat menginisiasi pelaksanaan Sholat Istisqa di tempat keramat di desa setempat, Masohan.
Masohan, oleh penduduk setempat, dipercaya sebagai tempat dimana Eyang Jatikusumo atau Mbah Janjang mengambil air wudhu sebelum melaksanakan sholat. Di tempat ini, mereka membawa serta ayam panggang dan dawet, dua sajian kesukaan sesepuh Jiken itu.
“Masyarakat Desa Jiken benar-benar kekurangan air. Di pemukiman warga, sumber air telah mengering. Kami mengajak masyarakat untuk berdoa memohon hujan dengan Sholat Istisqa,” terang Kades Jiken, Istanti, Jumat (10/11).
Sholat Istisqa, secara literal bermakna sholat untuk memohon curahan hujan, dipimpin oleh Kyai Abdul Kholiq. Dalam sholat ini, disampaikan pula Khotbah Istisqa oleh Kyai Syifaun Niam.
Usai sholat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan warga menyantap ambeng (sajian, red) ayam panggang dan dawet. Sejak tiga hari sebelumnya, mereka bersama berpuasa sebagai rangkaian dari Sholat Istisqa tersebut.
“Di tempat ini ada kedung (sungai dalam). Di bawah kedung itu, menurut cerita tutur orang-orang sepuh Jiken, terdapat goa bawah tanah yang menghubungkan Masohan dengan Janjang,” terang Kyai Syifaun Niam.
Uniknya, sebelum Sholat Istisqa dimulai hujan turun dengan derasnya. Meski demikian, warga tetap menggelar ritual tersebut lantaran sudah terlanjur memasak ayam panggang dan mebuat dawet.
“Nah itu uniknya, sebelum pelaksanaan Sholat hujan turun. Tapi, warga sudah terlanjur masak-masak, bikin tumpeng, masak ayam panggang dan dawetnya juga sudah jadi. Prosesi pun  dilanjutkan,” imbuh Syifaun Niam yang juga Ketua Rijalul Ansor Blora ini.
Masohan terletak di utara Desa Jiken, berada di kawasan tengah hutan. Di kawasan itu, terdapataliran air yang meski kemarau tak pernah berhenti mengalir. Usai Sholat Istisqo, beberapa warga menyempatkan mandi di lokasi tersebut. (tb44/nasir).
Magelang, TABAYUNA.com - Mahasiswa Prodi PGMI STAINU Temanggung melakukan ziarah ke makam waliyullah Mbah Dalhar Watucongol di Gunungpring, Muntilan, Magelang, Jumat (02/11/2018).

Kegiatan ini diinisiasi Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) PGMI yang diikusi mahasiswa STAINU Temanggung bersama Imam Syafaat pengasuh Pondok Pesantren Asma’ul Husna Kemloko Kidul, Kranggan, Temanggung yang melakukan ziarah ke makam waliyullah di Gunungpring tersebut.

Gunungpring merupakan salah satu daerah yang memiliki bukti sejarah peninggalan perkembangan Islam di Indonesia. Hingga saat ini, makam Gunungpring menjadi tujuan wisata religi di Magelang. Hal itu dikarenakan kompleks menjadi tempat persemayaman Kyai Raden Santri yang merupakan putra dari Ki Ageng Pemanahan sekaligus wali tanah Jawa, Simbah Kyai H. Dalhar, serta ulama lain.

Menurut Indah Wahyuningsih pengurus HMP bahwa kegiatan ini kami lakukan sebagai penguatan spiritual dan menjaga kekompakan mahasiswa PGMI STAINU Temanggung. "Alhamdulillah kami juga didampingi oleh bapak Imam Syafaat Pengasuh pondok pesantren Asma’ul Husna," kata dia.

Munawaroh Ketua HMP PGMI mengatakan banyak pengalaman luar biasa dalam ziarah tersebut.
“Alhamdulillah kegiatan mendapatkan pengalaman luar biasa, selain berziarah kami juga mendapatkan ilmu dari bapak Imam Syafaat bahwa untuk mencapai kesuksesan hidup kami harus berusaha mencari ilmu sebanyak mungkin, mencapai tujuan hidup yang hakiki dan kreatif dengan dilandasi sikap istiqomah," kata dia.

Sementara itu Imam Syafaat menambahkan bahwa ziarah bertujuan untuk mendekatkan diri pada Allah. “Simbah Kyai H. Dalhar merupakan salah satu guru para ulama. Kharisma, akhlak, dan ketinggian ilmunya menjadikan rujukan banyak umat Islam untuk belajar dan mendalami ilmu agama Islam. Semoga mahasiswa PGMI STAINU Temanggung mampu mengenang kebaikan-kebaikannya sehingga tabarruk atau mendapatkan keberkahan," katanya.


Kaprodi PGMI Hamidulloh Ibda menambahkan kegiatan yang dilakukan Mahasiswa PGMI STAINU Temanggung merupakan salah satu cara merawat tradisi Islam di Indonesia. "Berziarah, berdoa dan bertafakur adalah hal yang perlu dilakukan untuk merawat rasa kemanusiaan, keagamaan, dan kebangsaan kita,” ujar dia.

Penulis buku Filsafat Umum Zaman Now ini menegaskan, kegiatan intelektual wajib dilakukan mahasiswa. "Tapi selain ibadah mahzah, kegiatan spiritual seperti ziarah ini juga tak kalah pentingnya sebagai wahana mengingat kematian dan utamanya berwasilah pada waliyullah agar urusan kita dimudahkan Allah," papar dia. (tb55/agw).

TABAYUNA.com – Berbeda dengan KH. Abdurrahmah Wahid (Gus Dur), KH Mustofa Bisri (Gus Mus) memiliki pendapat sendiri soal ciri-ciri waliyullah. Menurutnya, ada 2 cara agar seseorang menjadi seorang “wali”. Syarat pertama, rabbunallah, mengagungkan Allah sedangkan yang kedua tsummastaqamu, kemudian beristiqamahlah!

Paparan itu dikemukakan KH Mustofa Bisri dalam Pengajian Umum dalam rangka Haul Mbah Muhammad Arif yang dilaksanakan di Masjid Jami Muhamad Arif Dukuh Sendang Sari RW. 01 Desa Banjaran Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara, Rabu (12/9/2018) siang.

Syarat berikutnya disampaikan Gus Mus, begitu kiai ini akrab disapa yakni alla takhafu wala tahzanu. “Jangan takut dan jangan susah,” tandasnya kepada ratusan jamaah yang memadati lokasi pengajian.

“Susah dengar dolar naik berarti bukan “wali”,” seloroh Gus Mus sembari disambut tawa hadirin.

Contoh ketakukan dan kesusahan lain yang diungkapnya saat menjelang tahun politik seperti sekarang ini. “Politisi-politisi kok semakin menjadi-jadi. Tahun politik kok semakin seperti ini keadaannya,” bebernya.

Atas kondisi itulah pengasuh pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang ini kerap diundang aparat kepolisian untuk mengisi ceramah. Kiai nyentrik berusia 74 tahun ini juga menegaskan di manapun berada harus tetap khusyuk.

“Di Bangsri, Semarang, Jakarta, dan Singapura harus khusyuk. Di masjid Tuhannya Gusti Allah. Di pasar juga juga Allah Tuhannya, bukan “untung”,” jelasnya disambut tawa hadirin lagi.

Dalam pengajian yang juga dimeriahkan grup rebana Polwan Polres Jepara “Esthi Bakti Warapsari” Gus Mus yang juga Rais Syuriyah PBNU ini menegaskan Mbah Arif adalah “wali”.

Kesempatan itu dia mengajak jamaah agar tidak perlu menghiraukan kelompok yang membidahkan maulid nabi, haul maupun tradisi nahdliyin yang lain.

“Haul tujuannya mengingat Mbah Arif. Mbah Arif sudah wafat tapi saya meyakini orang baik. Karena mengajak orang untuk masuk surga,” tandas Gus Mus. (tb44/sm).
Pati, TABAYUNA.com - Di hari kedua pada Selasa (17/7/2018), Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMK Jamaah Pasrah (JAPA) Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Pati, pelajar SMK JAPA dihimbau untuk menjadi pelopor keselamatan dan ketertiban lalu lintas di jalan raya.

Hal itu diungkapkan Aiptu Suwarto, Kanit Bhinmas Polsek Dukuhseti, di hadapan enam puluh siswa-siswi baru SMK Japa yang mengikuti MPLS di hari kedua tersebut. "Pelajar harus menjauhi kenakalan remaja dan harus menjadi pelopor lalu lintas," tegas dia.

Diajak Ziarah Kubur
Sementara pada MPLS hari ketiga, Rabu (18/7/2018), dilanjutkan dengan kegiatan spiritual ziarah kubur ke makam wali.

"MPLS pada hari ketiga, kegiatannya ziarah ke makam Syekh Hamim atau Mbah Klompro, Mbah Amar Maruf pendiri Yayasan Jamaah Pasrah dan SMK Jamaah Pasrah dan Mbah Brojoseti Singo Barong perintis agama Islam di Desa Dukuhseti," kata Minan.

Menurut dia, kegiatan ziarah kubur ini rutin sebagai wujud penghambaan kepada Allah melalui walisah lewat para waliyullah. Tahun 2017 kemarin juga telah terlaksana kegiatan ziarah kubur pada awal pembelajaran.

Peserta didik, menurut Minan, wajib dibekali kecerdasan spiritual di samping bekal intelektual dan emosional. Hal itu sangat penting di era Revolusi Industri 4.0 ini agar mereka tidak tercerabut dari tradisi Islam yang sudah dilestarikan sejak dulu. (tb44/hms)
TABAYUNA.com - Jika kita teliti mendalam, gerakan Wahabi, Salafi, yang getol mengoyak pemurnian Islam dengan memisahkan nasionalisme dan spirit keagamaan, mereka bisa bar-bar merusak makam-makam wali di Nusantara ini termasuk makam Walisongo. Kita belajar dari tragedi di Timur Tengah.

Sayyidina Abdul Muthalib, kakek Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam adalah pemimpin Makkah yang disegani kaum Quraisy dan bangsa Arab secara umum. Ketika Rasulullah lahir, beliau membawa sang bayi Thawaf lalu memberinya nama Muhammad.

Beliau juga terkenal dengan kedermawanannya, sampai hewan-hewan di gunung pun mengenali beliau sebab seringnya beliau memberi mereka makan.

Beliau pula yang diamanati Allah, untuk kembali menemukan sumur Zamzam setelah ratusan tahun tertimbun.

Beliau memiliki sebuah kursi di depan Ka'bah yang dikelilingi para pembesar kaum lainnya. Tak ada seorang pun yang berani menduduki kursi tersebut karena wibawanya. Tetapi kepada Rasulullah, beliau tak segan-segan mendudukannya di kursi itu, bahkan ketika rapat pembesar Quraisy sekali pun.

Beliau wafat saat Rasulullah berusia delapan tahun. Jenazahnya dimakamkan di Ma'ala, Makkah dengan tempat khusus, dimana makam beliau dinaungi kubah sebagai penghormatan. Ketika kaum Wahabi menguasai Hijaz, makam beliau bersama makam Ummu Khadijah serta semua makam keluarga dan sahabat Rasulullah disana dihancurkan. Peristiwa ini terjadi tahun 1924-1926 M. (tb33/alanu).
Kudus, TABAYUNA.com -  Di Kabupaten Kudus, banyak sekali objek wisata religi. Salah satunya, wisata religi Makam Tjondronegaran Kudus, Jawa Tengah. Saat momentum saling memaafkan masih terasa dibulan syawal ke sepuluh, hal tersebut diagendakan mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam, STIBI Syekh Jangkung Pati mengunjungi  Kompleks Pesarean Sedo Moekti (Makam Tjondronegaran) yang berada di Desa Kaliputu, Ahad pagi (24/6/2018). 

Mahasiswa STIBI Syekh Jangkung yang bervarian asalnya berdatangan, ada yang dari Pati, Kudus, Demak, Jepara, maupun Blora, mereka berduyun-duyun semangat berdatangan sejak pagi.

Achmad Fakhrudin, Presma STIBI Syekh Jangkung, menyampaikan,"sebenarnya, hari ini agenda kita yang pasti Halalbihalal, saling menyambung tali silaturrahim antar mahasiswa, sekaligus, mengemas acara dengan diskusi kecil di kompleks makam," jelasnya.

Edy Supratno, selaku Kaprodi SPI(Sejarah Peradaban Islam) STIBI Syekh Jangkung,"pihaknya sangat mendukung agenda-agenda seperti ini, apalagi diskusi sejarah bagi mahasiswa sejarah yang menjadi disiplin ilmu yang dipelajari mereka(Mahasiswa), lokasi makam Sedo Moekti sudah begitu mewakili diskusi kali ini," tandasnya.



Acara yang dimulai dengan menapaki satu-persatu makam dari Trah Tjondronegaran hingga Makam RMP. Sosrokartono ini disambut baik oleh Temu Sunarto yang merupakan juru kunci makam. Selain itu, turut hadir beberapa Dosen, maupun karyawan. Nampak juga kehadiran dari beberapa komunitas di Kabupaten Kudus, antara lain Jenank(Jejaring Napak Tilas Kabupaten Kudus), Parist(alumni LPM Paradigma IAIN Kudus), dan anak-anak ODM(Omah Dongeng Marwah).(tb44/Aniq)
Kunjungan keluarga dzurriyah Mbah Sholeh Darat di kantor PCNU Kota Semarang usai haul Mbah Sholeh Darat ke-118 di makam Bergota Semarang.
TABAYUNA.com - Dalam rangka haul akbar ke 118 Syaikh Muhammad Sholeh bin Umar AsSamaroni atau yang lebih dikenal dengan nama Mbah Sholeh Darat dilaksanakan pagi ini, Ahad (24/06/2018) dengan ziarah dan tahlil akbar di Makam KH Sholeh Darat, Kompleks Pemakaman Bergota Kota Semarang oleh PCNU Kota Semarang, Pengajian Ahad Pagi 1939, dan Komunitas Pecinta KH Sholeh Darat (KOPISODA).

Untuk memberikan pemahaman sejarah tentang KH. Sholeh Darat kepada bangsa, Ketua PCNU Kota Semarang, Drs. KH. Anashom, MHum dalam sambutannya menyampaikan kepada para keturuan Mbah Sholeh untuk dapat menulis cerita tentang Mbah Sholeh, sehingga penulisan buku biografi bisa dilengkapi.

"Monggo, kepada para dzurriyyah untuk bisa menceritakan, menulis tentang Mbah Sholeh dan dikirimkan ke Kopisoda atau PCNU Semarang" kata Anashom kepada Tabayuna.com, Minggu (24/6/2018).

Ketua Pengajian Ahad Pagi 1939, KH. Muhammad Abdul Mun'im menyatakan harapannya agar masyarakat bisa lebih giat dalam mengaji. Dikatakan, mempelajari satu bab tentang ilmu agama lebih utama daripada orang yang diberikan umur 7000 tahun dan diterima amal ibadahnya. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadist Nabi, kata Kiai Mun'im. Karena dengan landasan pemahaman ilmu yang jelas akan menjadikan sebuah amal ibadah itu berkualitas dan diterima oleh Allah SWT.

Ditambahkan, Haul dan Tahlil Akbar KH Sholeh Darat yang dihadiri ratusan jamaah, menghadirkan Wakil Mudir 'Am Idaroh Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thoriqah Al Mu'tabarah Annahdliyyah (Jatman), Habib Umar Muthahar untuk mengisi mauidah hasanah. Hadir pula segenap tokoh masyarakat. (TB44/ichwan).
Peringatan Haul Sunan Kuning di komplek Jalan Sri Kuncoro 1 RT 6 RW 2 Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah. (Foto: rappler.idntimes.com).
TABAYUNA.com - Ketika mendengarkan nama Sunan Kuning, pasti dalam benak kita adalah lokalisasi, tempak nakal, dan tempat jajan lelaki hidung belang. Sunan Kuning, selama ini dipahami sebagai lokalisasi terbesar di Jawa Tengah.

Selain ada makam Mbah Soleh Darat di Bergota, lalu ada Sunan Pandanaran, di Kota Semarang juga ada makam Sunan Kuning yang sangat dekat dengan Bandara Ahmad Yani Semarang. Alamat Makam Sunan Kuning ini sangat dekat dengan alamat lokalisasi Sunan Kuning Semarang atau sekarang sudah menjadi Resosialisasi Argorejo Semarang.

Yang menjadi permasalahan, ada dua makam Sunan Kuning, yaitu di Kota Semarang, Jawa Tengah dan di Tulungagung, Jawa Timur. Misteri ini yang menjadikan Tabayuna.com kewalahan karena harus mencari data-data ilmiah dan faktual.

Padahal, Sunan Kuning, penamaan itu, berasal dari ulama besar asli Tionghoa, namanya Soen An Ing. Karena orang Jawa Susah menyebut Soen An Ing, maka dengan simpel menyebut Sunan Kuning.

Sunan Kuning, makamnya ada di Semarang, ada juga di Tulungagung. Selain melakat nama Sunan Kuning, atau Kanjeng Sunan Kuning, Soen An Ing juga memiliki nama lain Raden Mas Garendi, Zaenal Abidin, dan lainnya.

Dalam buku Geger Pacinan 1740-1743, Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC, RM Daradjadi menyebut Raden Mas Garendi bersama Kapitan Sepanjang (Khe Panjang) dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) mengobarkan perlawan sengit terhadap VOC di wilayah kekuasaan Mataram. Perlawanan itu disebut sebagai pemberontakan terbesar yang dihadapi VOC selama berkuasa di Nusantara.

Para pemberontak Jawa-Tionghoa menobatkan Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning sebagai raja Mataram bergelar Sunan Amangkurat V Senopati Ing Alaga Abdurahman Sayidin Panatagama pada 6 April 1742 di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kala itu, cucu Amangkurat III yang dibuang VOC baru berumur 16 tahun--sumber lain menyebut 12 tahun. Dia pun dianggap sebagai raja orang Jawa dan Tionghoa.

Kesalahan Sejarah Pelacuran di Sunan Kuning
Sejarah Resosialisasi Argorejo atau lokalisasi Sunan Kuning harus diluruskan. Sebab, pada aslinya Sunan Kuning adalah ulama Islam asal Tionghoa bernama asli Soen An Ing atau dikenal juga dengan sebutan Kanjeng Sunan Kuning atau Raden Mas Garendi.

Sunan Kuning, tiap kali diucapkan memang tak lepas dari tempat nakal. Fitria (2012: 70) menyebut, prostitusi menjadi fenomena sosial yang tidak mengenal tempat dan suasana. Ia akan senantiasa hadir selama ada yang membutuhkan, ia merupakan bagian dari institusi sosial yang akan tetap lestari dan berkembang selama masih dibutuhkan. Kenyatannya, pelacuran memiliki power sebagai institusi yang selalu dibutuhkan. Selama ada nafsu seksual, maka selama itu pula akan ada institusi yang menyediakan. Karena itu, permasalahan dalam prostitusi tidak hanya soal pelacuran akan tetapi pelanggan yang juga menikmati jasa pelacuran

Sedangkan Lokollo (2009: 41) menjelaskan, dalam praktiknya, pelacuran terbagi atas beberapa varian. Pertama, Prostitusi yang terdaftar dan terorganisir. Pelakunya diawasi oleh bagian vice control dari kepolisian, yang dibantu dan bekerjasama dengan Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan. Pada umumnya dilokalisasi dalam satu daerah tertentu. Penghuninya secara periodic harus memeriksa dari pada dokter atau petugas kesehatan dan mendapatkan suntikan dan pengbatan sebagai tindakan kesehatan dan keamanan umum.

Kedua, Prostitusi yang tidak terdaftar. Termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang melakukan prostitusi secara gelap dan liar, baik secara perorangan maupun kelompok. Perbuatannya tidak terorganisir, tempatnya tidak tentu, bisa disembarang tempat,  baik mencari klien sendiri, maupun melalui calocalo dan panggilan. Mereka tidak mencatatkan
diri kepada yang berwajib, sehingga kesehatannya sangat diragukan, karena belum tentu mereka itu mau memeriksakan kesehatannya kepada dokter.

Praktik Pelacuran di Sunan Kuning, memang praktik pelacuran dalam arti “cara-cara kerja” para pelacur dalam menghadapi langganannya, banya pola-pola dan liku-likunya. Secara garis besar dapat disebut beberapa pola.

Pertama, Pelacur Bordil. Yaitu praktik pelacuran, dimana para pelacur dapat dijumpai di tempat-tempat tertentu, berupa rumah-rumah yang dinamakan bordil, yang mana umunya ditiap bordil dimiliki oleh seorang yang namanya germo.

Kedua, pelacur panggilan dalam pelacuran (Call Girl Prostitution). Praktik pelacuran di mana si pelacur dipanggil oleh si pemesan ke tempat lain yang telah ditentukan, mungkin di hotel atau di wisma daerah pariwisata.

Ketiga, pelacur jalanan (Sreet Prostitution). Ini merupakan bentuk prostitusi yang menyolok. Di kota-kota besar kerap kali orang dengan mudah dapat menjumpai wanita yang berdandan dan rias yang mencolok, seolah menjajakan diri, untuk dibawa oleh yang meghendakinya. Biasanya pelacur yang berada di jalanan dibawa ke hotel-hotel murahan, atau berbordil atau kemana saja yang membawa (Soedjono, 1977: 70-74)

Mustaqim (2016: 73) menyebut, data terakhir yang disebutkan oleh pengurus Resosialisasi Argorejo, anak asuh yang terdaftar di sana sebanyak 569. Status anak asuh ini terbagi menjadi tiga di antaranya: a. 103 Belum kawin. b. 38 Menikah. c. 428 Janda

Anak asuh adalah istilah yang digunakan untuk panggilan wanitawanita yang bekerja di Resosialisasi Argorejo Sunan Kuning Semarang. Meskipun banyak istilah lain seperti Wanita Pekerja seks (WPS), Wanita Tuna Susila (WTS), Pekerja Seks Komersial (PSK), pelacur, dan lain-lain. Begitu juga dengan istilah-istilah baru seperti bispak, wanita penghibur, jablai, kimcil dan lain-lain. 

Istilah anak asuh ini digunakan karena berhubungan dengan tempat mereka bekerja yaitu resosialisasi yang aktifitas di dalamnya bukan hanya tempat hiburan dan prostitusi, melainkan terdapat program bimbingan dan pengentasan bagi anak asuh itu sendiri. Selain itu penggunaan nama anak asuh lebih diutamakan di Resosialisasi Argorejo dibandingkan dengan penggunaan nama panggilan yang lain (Mustaqim, 2016: 6).

Terlepas dari kondisi ini, Sunan Kuning tetaplah Sunan Kuning, seorang waliyullah yang menyebar Islam dan melawan VOC Belanda kala itu. Dari penelusuran Tabayuna.com, ada dua makam atau kuburan Sunan Kuning. Pertama di Kota Semarang, lokasinya di bukit pekayangan, atau bukit argorejo, sekitar 50-70 meter dari Resosialisasi Argorejo.  Kedua di Tulungagung. Makam di Tulungagung ini masih sedikit orang yang tahu, khususnya warga Semarang sendiri. Sebab, kuburan Sunan Kuning hanya dianggap di bukit pekayangan saja yang dulu ditemukan oleh Mbah Sabirin.

Makam Sunan Kuning di Semarang
Kebesaran nama Sunan Kuning, ulama dan pejuang di Tanah Jawa yang tercoreng lokalisasi tentu wajib hukumnya untuk diluruskan. 
Komplek makam Sunan Kuning di  Jalan Sri Kuncoro 1 RT 6 RW 2 Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah. (Foto: rappler.idntimes.com).
Meski kenyataannya, makam Sunan Kuning berada hanya berjarak 50 meter dari kompleks Resosialisasi Argorejo. 

Tepatnya berada di sebuah bukit di Jalan Sri Kuncoro 1 RT 6 RW 2 Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah. Orang menyebut bukit mini itu sebagai Gunung Pekayangan.



Makam Sunan Kuning di Tulungagung
Sejarah Sunan Kuning di Semarang, dengan Sunan Kuning di Tulungagung ternyata ada persamaan dan perbedaan. Persamaannya, ia sama-sama Tionghoa, sama-sama dikisahkan ulama yang melawan VOC Belanda, dan bernama lain Mas Garenda, Soen An Ing.
Makam Sunan Kuning di Dusun Krajan, Desa Macanbang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. (Foto: Penerbit Menara Madinah).

Dari sejarah yang dituturkan pemuka agama di Tulungagung, Zainal Abidin atau yang biasa disebut Sunan Kuning.

Lokasi makam Zainal Abidin atau yang biasa disebut Sunan Kuning, dimakamkan di Dusun Krajan, Desa Macanbang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Selama menjalankan tugas, banyak halangan yang dihadapi. Makam Sunan Kuning memang sudah menjadi salah satu tempat yang ramai diziarahi. Terutama di malam Jumat Legi. Tak hanya dari Tulungagung dan sekitarnya, tetapi juga dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Maklum, Zainal Abidin konon berasal dari Jawa Tengah.

Akan tetapi, karena belum ada fokus penelitian, maka hingga kini kejelasan tentang asal usul masih masih simpang siur. Termasuk keberadaan masjid yang kini masih kokoh berdiri. Apakah benar-benar peninggalan Zainal Abidin atau Tiban. Tiban, menurut kepercayaan orang Jawa, mendadak berdiri atau terbentuk tanpa ada yang membangun.

Uniknya, dari penuturuan ulama setempat, pembangunannya tak lagi menggunakan tenaga manusia, melainkan bantuan makhluk-makhluk halus. Zainal Abidin diyakini menginjakkan kaki di Tulungagung sekitar tahun 1727 silam. Berdasar buku Sejarah dan Babat Tulungagung yang diterbitkan di oleh Pemkab Tulungagung, dia merupakan murid atau salah satu santri dari Kiai Mohammad Besari, tokoh ulama yang cukup ternama dan disegani asal Jetis, Ponorogo.

Di Ponogoro, Mohammad Besari, diberikan tanah perdikan dari Sunan Pakubuwono II dari Keraton Surakarta. ”Itu menurut buku Babat Tulungagung. Sejarah tentang Sunan Kuning sendiri sampai sekarang belum ada yang pasti, banyak cerita yang beredar. Termasuk kepercayaan orang di sekitar masjid sana,” kata Nurcholis, salah satu peneliti Sunan Kuning.

Setelah menuntut ilmu di Kota Reog, itu Sunan Kuning diberikan tugas atau amanat untuk menyebarkan agama Islam di daerah timur. Yakni, Tulungagung dan sekitarnya, termasuk Blitar dan Kediri. Makanya, beberapa pendapat juga menyebutkan, Sunan Kuning dimakamkan di kompleks pemakaman Wali di Setonogedong, Kota Kediri.

Ulama Tionghoa Soen An Ing ini memiliki jasa besar bagi perkembangan Islam di Nusantara. Kita harus menjaga makamnya, dan meluruskan stigma buruk yang kini menimpanya. (tb44/Hi).


Makam Mbah Duniyah di Tayu Wetan, Kabupaten Pati. (Foto: Pop FM).
TABAYUNA.com - Mbah Duniyah, atau akrab disapa Mbah Duni, merupakan wali perempuan yang dikenal sebagai "wali mantenan" bagi orang di wilayah Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Dari keterangan Ngalimun, sarkub dan Ketua Yayasan Jamaah Pasrah Pati, Mbah Duniyah terkenal tidak hanya di Tayu, melainkan di berbagai tempat, khususnya di Tayu, Dukuhseti, Margoyoso sampai ke Jepara.

Baca: Perbedaan Wali Kiriman dan Wali Tiban dalam Islam
Baca: Ziarah Ke Makam Sunan Pojok Yuk, Sekarang Mirip Wisata Candi Lo!

"Dulu, entah sekarang, tiap warga yang mau menikah, resepsi, tak berani melakukan sebelum ziarah ke makam Mbah Duniyah di Tayu Wetan," kata dia baru-baru ini kepada Tabayuna.com.

Tak hanya itu, bagi orang yang sulit mendapatkan jodoh, juga disarankan bertawasul ke Mbah Duniyah.

Dijelaskan dia, Mbah Dunia termasuk salah satu wali Jawa yang memiliki karamah di bidang pernikahan atau perjodohan. "Lokasi pasujudannya juga terkenal dan sering didatangi banyak orang, lokasinya di Gerit, Cluwak, dekat Pasar Gerit," beber dia.

Uniknya, Pasar Gerit di dekat petilasan Mbah Duniyah ini hanya buka setiap Senin Pahing saja. Banyak warga dari Pati, Rembang, Jepara, Grobogan, Blora, bahkan Demak, Semarang dan luar Jawa bertandang ke pasar itu untuk mencari pengobatan karena di sana hanya menjual makanan tradisional.

Di sisi lain, ada juga tradisi Salawat Burdah Senin Pahing adalah tradisi yang dilaksanakan oleh
 masyarakat Desa Tayu Wetan, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati.

Tradisi ini dilaksanakan setiap hari Senin Pahing di makam Mbah Duniyah untuk menghormati tokoh Mbah Duniyah sebagai cikal bakal Desa Tayu. Tradisi tersebut dilaksanakan setiap Senin
 Pahing dikarenakan hari Senin Pahing diyakini oleh masyarakat setempat sebagai hari
 wafatnya Mbah Duniyah.

Tradisi salawat burdah dilaksanakan di makam Mbah Duniyah dengan tujuan untuk meramaikan makam Mbah Duniyah serta mendoakan Mbah Duniyah. Di samping itu, tradisi Salawat Burdah Senin Pahing ini dapat menjadi ajang silaturrahmi antar warga masyarakat Desa Tayu Wetan.

Baca: Kisah Wali Kiriman Syekh Abdurrahman Ba'alwy Banyutowo yang Jasadnya Masih Utuh

Pasar Gerit di Cluwak
Keunikan karamah Mbah Duniyah tak sekadar di Tayu saja. Namun juga terawat sampai sekarang di Kecamatan Cluwuk, Kabupaten Pati. Khususnya, di Desa Gerit yang merupakan desa yang ada Pasar Gerit.

Pasar Gerit, adalah pasar yang berlokasi di Desa Gerit, desa ini terletak di daerah lereng gunung muria, dan dipinggiran pantai Benteng Portugis, Desa Gerit ini masuk kecamatan cluwak kabupaten pati atau desa Gerit ini terletak di sebelah utara desa ngablak.

Mayoritas mata pencaharian warga Gerit adalah petani.Desa gerit ini terdiri atas lima perdukuhan. Mulai dari Dukuh Lepasan, Dukuh Kepoh, Dukuh Krajan, Dukuh Dawung  dan Dukuh Toyong.

Di Desa Gerit, Cluwak, Pati ini terkenal dengan Pasar Paing dan kue kucur serta makana tradisional lainnya yang menjadi andalan para penjualnya.

Setiap Minggu Legi sore, di Pasar Gerit ini akan ramai pengunjung dari berbagai daerah di Kabupaten Pati maupun dari luar Pati di wilayah Panturua. Di pasar ini terkenal dengan ngidang.



Pasar ini dulu ceritanya ada sebuah wanita tua bernama Mbah Duni atau Mbah Duniyah yang melakukan perjalanan kemudian dia lelah dan lalu beristirahat di daerah pasar itu. Kemudian memakan bekalnya dan sampahnya masih dibiarkan berterbaran di situ sambil ngomong "laraanku kok kececeran nok kene kabeh koyo pasar" dan tidak sengaja kemudian ada yang jualan kue kucur di situ setiap hari itu.

Kala itu, Mbah Duniyah juga ngomong jika ada anak-anak, cucu, keluarga, atau saudara yang sakit, disarankan membeli jajanan di Pasar Paing tersebut.

Singkat cerita, kemudian lambat laut pedagangnya bertambah banyak dan jadilah Pasar Paing itu sampai sekarang.

Di sana, ada makanan khas tradisional daerah Pati. Ada penjual yang menjajakan kucur, gethuk, dawet, singkong, kedelai, hawuk-hawuk, serabi, tiap Senin Paing. Jika Anda penasaran, segera saja ke sana. Dan, jangan lupa bertawasul di petilasan Mbah Duniyah di dekat Pasar Gerit tersebut (tb44/hms).

Ilustrasi: Makam Mbah Hasbullah di Kembang, Pati
Tabayuna.com - Dalam khazanah kebudayaan Islam di Nusantara ini memang menarik. Salah satunya adalah adanya idiom Wali Kiriman dan Wali Tiban. Waliyullah atau wali Allah dalam definisi umum merupakan kekasih Allah yang diberi karamah saat hidup bahkan ketika meninggal duni karamahnya masih bisa dirasakan orang di sekitarnya.

Meski bukan kelahiran pribumi, namun jika pernah hidup di suatu tempat, lalu babat alas, melalukan dakwah, menyebar Islam, mendirikan masjid, pondok pesantren, maka dia tidak disebut wali kiriman atau tiban.

"Wali kiriman adalah wali yang dikirim oleh sulthonil auliya' berdasar atas kecintaan warga terhadap sultonil auliya' seperti di Desa Kragan Rembang. Masyarakatnya gemar bersalawat dan baca manaqibnya. Tapi desanya belum ada walinya, maka di situ dikirim wali biar desa tersbut ada walinya atau di buat wali ahlal qoryah," ujar Ngalimun peneliti wali asal Dukuhseti, Pati, Kamis (17/5/2018).

Definisi berikutnya, belum tentu juga di desa itu sudah memeluk Islam. Bisa juga masyarakat di suatu tempat itu memang belum ada Islam sama sekali dan masyarakatnya butuh sosok yang islami. Wali Kiriman menurut dia, tidak hanya berasal dari Indonesia sendiri, namun bisa dari luar negeri terutama daerah Timur Tengah.

Ketua Pengurus Makam Ki Brojoseti Singo Barong Dukuhseti ini juga mencontohkan wali kiriman di tempatnya. "Ada Abdurrahman Ba'alawy di Desa Banyutowo itu juga wali kiriman. Dulu ditemukan oleh warga sekitar tahun 1980an saat menggali parit untuk TPI Banyutowo," ujar dia.

Dijelaskan dia, dulu yang mencari nasabnya langsung Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan. "Jadi ini wali kiriman dari timur tengah karena saat ditemukan, kondisi jenazah masih utuh," ujar dia.

Pihaknya juga mencontohkan wali kiriman Syekh Ibrahim. "Kalau ini saya dan Kang Bawi dan Wagiman saat membuat tambak milik Pak Narmo di Congot, Dukuh Selempung, Desa Dukuhseti sekitar tahun 1990an," beber dia.

Sedangkan wali tiban, kata dia, adalah wali yang tiba-tiba diketemukan atau wali itu minta dihormat akan memberikan karomahnya kepada warga untuk menunjukkan kewaliannya.

"Yang bisa kumunikasi adalah sarkub (sarjana kuburan) contohnya seperti Gus Dur, Habib Lutfi bin Yahya, Mbah Umar Sarang, Mbah Amar Ma'ruf, banyak sekali kiai-kiai yang seperti itu namanya sarkub," lanjut mantan Ketua GP Ansor Dukuhseti itu. (Tb11).
Temanggung, TABAYUNA.com - Untuk mendukung dan sekaligus menjaga tradisi sadranan, tim KKN STAINU Temanggung di Desa Tawangsari, Temabarak, turut mempertahankan budaya  kearifan lokal sadranan bersama masyarakat Jokopati dan ndalem pada Kamis (19/4/2018).

Baca: KKN STAINU Temanggung Sasar Penguatan Kelembagaan dan SDM

"Mereka melaksanakan kegiatan yang setiap tahunnya diadakan warga setempat. Acara ini merupakan salah stu wujud dari kecintaan dan hormat kepada para orang tua yang telah gugur mendahului," tutur ketua panitia kegiatan dalam siaran pers yang diterima TABAYUNA.com.

Tim KKN STAINU Temanggung, dalam hal ini berpartisipasi mengikuti rangkain acaranya, hal ini juga dapat disinyalir untuk mewujudkan program kerja KKN STAINU Temanggung yang salah satunya juga melaksanakan pengakatan ulama kharismatik di daerah Temanggung agar dikenal dan mengudara.

Baca: Daftar Makam Wali di Temanggung yang Wajib Kamu Ziarahi! 

"Sehinga kelak menjadi salah satu dari berbagai makam yang dipusatkan sebagai tempat wisata religi, yang dikelola dengan baik dan dishare melalui sistem informasi desa," kata Almaksirun Koordinator KKN STAINU Temanggung di Desa Tawangsari tersebut.

Baca: Penguatan SDM Kelembagaan Keagamaan Jadi Fokus KKN STAINU Temanggung 
Baca: Lewat FGD, KKN STAINU Temanggung di Tawangsari Rumuskan Program Unggulan


Kegiatan ini dibuka oleh Kadus setempat. Sementara mauhidoh khasanah dan doa bersama dipimpin KH Kholil As Ary Bolong, Selopampang, Temanggung. Dalam kegiatan ini, ratusan warga turut antusias mengikuti kegiatan rutin tiap tahunnya tersebut. (Tb44/hms).

TABAYUNA.com - Temanggung sebagai salah satu kabupaten di Jawa Tengah memiliki potensi wisata religi yang besar. Sebab, banyak sekali makam waliyullah di Temanggung dan sekitarnya yang dulu pernah berjasa besar bagi perkembangan Islam di Kota Tembakau ini.

Baca: Daftar Makam Wali di Balikpapan yang Jadi Wisata Religi
Baca: Daftar Makam Wali di Jawa Barat yang Jadi Wisata Religi


Dari data yang dihimpun Tabayuna.com sampai Maret 2018 ini, ada sejumlah makam-makam wali yang wajib Anda kunjungi untuk dijadikan wisata religi dan tentunya untuk bertahlil, yasinan, dan bertawasul untuk mendapatkan rida Allah melalui cipratan karomah dari wali yang diziarahi tersebut.

Berikut daftar makam waliyullah atau makam pejuang di wilayah Temanggung dan sekitarnya.
1. Simbah Joyonegoro Temanggung
2. Simbah kyai Parak awwal Parakan
3. Simbah kyai Parak tsani Parakan
4. Simbah kyai Subkhi Parakan
5. Simbah Kyai Muhaiminan Gunargo Parakan
6. Simbah Kyai Limbung Ngadirejo
7. Simbah Kyai Muneng Candiroto
8. Simbah Kyai Abdullah Bafaqih Jumo
9. Simbah Sayyid Abdurahman Jumo
10. Simbah Syeh Sulaiman Kedu
11. Simbah KH. Mandur Kandangan
12. Simbah Sunan Geseng Walitelon
13. Simbah Wanuyoso/Hassan Munadi Kaloran
14. Simbah KH. Washil Kaloran
15. KH.Masduqi nglondong parakan
16. Simbah Kyai Nido Muhammad Kranggan
17. Simbah Kyai Tholabuddin Kranggan
18. Simbah Kyai Adam Muhammad Kranggan
19. Simbah Abdullah Rosyad Cekelan Madureso
20. Simbah Kyai Nawawi Lungge
21. Simbah Kyai Pahing Tembarak
22. Simbah kyai Jogopati Tembarak
23. Simbah Nyai Blirik Tembarak
24. Simbah Sunan Plumbon Tembarak
25. Simbah Kyai Murangan Mudal
26. Simbah kyai Pikat Pikatan
27. Simbah Kyai Abdul Hadi Soffan Jampirejo
28. Simbah kyai Padang Tmg 1
29. Simbah Kyai Bahri Joho Temanggung
30. Simbah kyai Bakung tlogorejo
31. Simbah Kyai adam/suruh Kertosari
32. Simbah Kyai kowang kowangan
33. Mbah kh Nashoha usman jetis parakan
34. Mbah kyai ilyas kali pahing
35. Mbah kyài muslih kali pahing
36. Mbah kyai abdurrohim jetis parakan
37. Simbah ky ageng ali ibrahim wnsbo jurang
38. Ki Ageng Makukuhan Kedu
39. Mbah kyai balak. Malahan nguwet kranggan
40. Mbah kyai bohosworo,  paingan nguwet kranggan
41. Simbah kyai juweni ali mursid tanggulanom selopampang
42. Simbah majnun mbandung gede
43. Simbah mangku yudo ketitang jumo
44. Simbah kh dahlan muzammil padureso jumo
45. Raden pulang geni padureso jumo
46. KH Mubassyir ngadirejo
47. Simbah kyai kholifah tegallurung bulu.       
48. Simbah KH.Idris plumbon Selopampang
49. Simbah kyai kepil dan
50. Kyai Pakuaji Dangkel Parakan
51. kiyai rujak beling bulan selopampang
52. Sunan puger dempel candiroto
53. Simbah K.Hasyim Abdurrahman Bulan selopampang.       
54. KH.Zaenal Arifin Salamrejo.
55. Simbah kiyai Ridwan Salamrejo.
56. Simbah K.Sonhaji Salamrejo
57. Simbah Kyai Tengu Tengon Jragan Tembarak
58. Simbah Sayyid Abdulloh Grembul Jragan Tembarak
59. Simbah Kyai Juragan Jragan Tembarak
60. Nyai Tari Gentingsari Kec. Bansari
61. Wongso Citro dan Citro Wongso Gentingsari Kec. Bansari
63. Mbh Kaji Kantong Gentingsari Kec. Bansari
64. Mbah Hasyim Asyari Gentingsari Kec. Bansari
65. Simbah KH.M Zahri kemloko tempuran kaloran
66. Simbah Kyai Zahroni kemloko tempuran
67. Mbah Tholabuddin Mandisari
68. Simbah K Rofii Bulu
69. R noto yudo ketitang jumo
70. Simbah K mustaqim jurang Temanggung
71. Simbah K Saubani tegallurung bulu
72. Simbah KH Chamidun tegallurung buli
73. Simbah KH Muslich Campursalam Parakan
74. Simbah K muhamad fajar tegowano kaloran
75. Simbah KH. Geneng tlogorejo
76. Simbah K Bledu banyuurib
77. Simbah K.H Shofwan Giyanti
78. Simbah K.H. Yasin Giyanti
79. Simbah K Kholil Mukhtar jampirejo
80. KH Ali Parakan
81. KH Usman Parakan
82. Kyai  sobari ploso  kandangan
83. Kh.fahrurozi kauman parakan
84. kH. Thohir azzainy parakan
85. kH. Nawawi parakan
86. Simbah Sunan Madusari Botoputih Tembarak
87. Simbah Kyai Poleng Kuncen Botoputih Tembarak
88. Simbah Nyai Kupi Kupen pringsurat
89. Kh sukri ghozali jurang
90. Kh komaruddin. Jurang
91. kyai putu jmbn gemawang
92. kyai tambak boyo jmbn gemawang
93. Mbah kyai R.Mustahal (awal) bin Nido muhammad jetis parakan.
94. Mba kyai R Abdulloh jetis parakan .
95. Mbah kyai R Ilyas jetis parakan.
96. Mbah kyai R Utsman jetis parakan.
97. Simbah kyai ADNAN ABDULLOH Pendowo Kranggan
98. Mbah kyai zaenal kupen gal wungu pringsurat
99. Simbah kyai Abdullah Satari Lamuk Katekan Ngadirejo
100. Ridho sumargo bejen
101. Simbah KH Masyhuri Dimyati prapak kranggan
102. Mbah dimyati sholeh prapak kranggan
103. Mbah sholeh mas'ud prapak kranggan
104. Kyai Brojosuro ds tempuran tlogomulyo
105. kyai joyodrono ds tempuran tlogomulyo
106. kyai Mangkuyudo ds tempuran tlogomulyo
107. KH. Muhamad Zuhdi, Pengasuh PoPes Nurul Hikmah, Pundung Tlogo mulyo.
108. Adipati sindurejo jumo
109. Kh muhtadi bentisan sukomarto
110. Syeh toyo ahmad dahlan sukomarto
111. Syeh mubarok sukomarto
112. K sholeh amin sukomarto
113. Syeh mansur barang jumo
114. Citro menggolo gunung gempol jumo
115. Suro menggolo gunung gempol jumo
116. Syeh mahsum sukomarto
117. Syeh a sayekti sukomarto
118. Suro dento sukomarto
119. Syeh jogo gejagan ngdrjo
120. Syeh dento yugo gelangan wnboyo
121. Yai fatimah ketitang jumo
122. Yai blintik ketitang  jumo
123. Syeh gagak baning kramat tegal rejo ngadirjo
124. Abul yamin bantir
125. Simbah K. Losari, Kemloko tempuran
126. Simbah K. Dagel, kemloko tempuran
127. Simbah K. Chasan Ali, kemloko tempuran
128. Sumbah K. Brojol, tmg 1
129. simbah KH. Dalhar Malebo
130. R. rahmad Jlamprag menggoro tembarak
131. R. bojonegoro Jlamprag menggoro tembarak
132. R nur ahmad/ kiageng gedepleret Jlamprag menggoro tembarak
133. nyai Ratu kemuning Jlamprag menggoro tembarak
134. Simbah Kyai Maksum di Patemon Gesing
135. Kyai Soib Maksum Ploso Kandangan
136. Simbah Kyai Basri Kr Tengah Parakan
137. Simbah Kyai Ishadi Mantenan Greges Tembarak
138. Bp Thohuri Botoputih Tembarak
139. Simbah KH Rohmat Salakan Gondosuli Bulu
140. Simbah Kyai Dumaeri Salakan Gondosuli Bulu
141. simbah kyai hasan mukmin pare kranggan
142. simbah kyai Ahmad roji pare kranggan
143. simbah kyai maksum pare kranggan
144. Simbah Kyai Sudo Pati Sayid Hasan Ali Dusun Talun Desa Pagersari
145. SIMBAH KH. IDRIS ZARKASYI GONDANGAN TLOGOREJO TEMANGGUNG v
146. SIMBAH KYAI SUKIRMAN BIN YA'KUB GONDANGAN TLOGOREJO TEMANGGUNG
147. K. Sobari, Ploso Kandangan.
148. KH. Dalhar, Malebo, kandangan
149. KH. Djamhuri, mbalun, kandangan
150. K. Umar Nawawi, mbalun Kandangan.
151. K. Hasan Mustari, semawen, wadas, kandangan
152. K. Fadlol Jalaludin, semawen, wadas.
153. K. Ahmad Dimyati, Semawen, wadas, kandangan.
154.kyai muhammad qonarodon arrohman jurang tmg
155. Kh nur ngadirjo(termasuk penyepuh bambu runcing/sego manis)
156. k h damawi ngadirejo
157. K bardan wonolobo tepusen kaloran
158. K waningdito wonolobo tepusen kaloran
159. Bp Kyai Faqih Tembarak
160. Bp Kyai Syahri Kemloko Tembarak
161. Bp Kyai Mohrofii Tawangsari Tembarak
162. Bp Kyai Asyhari Tawangsari Tembarak
163. Bp Kyai Muhlashin Tawangsari Tembarak
164. Simbah Kyai Mutsman Ngaglik Jragan Tembarak
165. Simbah Kyai Nursidi Jragan Tembarak
166. Simbah Kyai Asmudi Jragan Tembarak
167. Bp Kyai Rouyan Menggoro Tembarak
168. Bp Kyai Qosim Greges Tembarak
169. Kyai sapuangin tlogopucang kandagan
170. Kyai gesing muncar gemawang
171. Kyai Rajekwesi muncar gemawang
172. Kyai Surodipo muncar gemawang
173. Kyai Ahmad Muhammad Wulanggeni kemiri ombo gemawang
174. Kyai Guntur geni plumbon
175. Gagak Andoko dusun kemloko selopampang
176. kyai abdullah   gejagan
177. kyai nur hasan ngadirejo
178. kyai getas kumbang
179. kyai dadungawuk gejagan.
180. Kyai Surowani tegalwungu kopen pringsurat
181. Kyai Surodadi bengkal
182. Kyai Suropodo suropadan pringsurat
183. Simbah Wali Tamansari tepung Sari walitelon selatan tmg
184. Simbah Wali Wersi walitelon Selatan tmg
185. ....kiai Aji soko ngimbrang bulu
186. kiai kidang grising semondo mondoretno bulu
187.. kiai Penatus semondo mondoretno bulu
188.raden panji purwonegoro.yai lancing sembir candiroto
189.R puryogati ketitang jumo
190.R brojo suro ketitang jumo.
191. KH Ahmad Karnawi tegalwungu kupen pringsurat
192. Bp KH Yusak Tengon Jragan Tembarak

Selama ini sudah banyak orang mencari informasi seputar jejak wali di Temanggung, makam keramat di Temanggung, makam gunung sumbing, tempat terangker di Temanggung, makam Sunan Kedu, makam mbah wali limbung kabupaten Temanggung, makam wali limbung dan lainnya. (Tb33/hms).
Ratusan orang berjubel untuk ziarah
Temanggung, TABAYUNA.com - Jika dihimpun, banyak sekali waliyullah yang menjadi pusat wisata religi di wilayah Kabupaten Temanggung. Salah satunya adalah Ki Ageng Purboyoso Kusumo, pahlawan agama Islam dari Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Baca: Daftar Makam Wali di Balikpapan yang Jadi Wisata Religi
Baca: Daftar Makam Wali di Jawa Barat yang Jadi Wisata Religi
Baca: Daftar Makam Wali di Temanggung yang Wajib Kamu Ziarahi! 

Hal itu terbukti pada Kamis 15 Maret 2018, digelar Haul Ki Ageng Purboyoso Kusumo dan pengajian Akbar yang dihadiri 500 pengunjung lebih di Dusun Biron, Desa Banaran, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung.



Setelah tahlil selesai, dilanjutkan kenduren di sepanjang jalan depan makam Ki Ageng Purboyoso Kusumo bersama warga setempat  dan peziarah dari Desa Ngarianak, Kabupaten Kendal.



Jalaludin Kepala Desa Banaran menjelaskan kegiatan haul tersebut dihelat dua kali dalam setahun. "Haul diadakan setiap dua tahun sekali tepatnya Jum'at Kliwon di bulan Rajab," kata dia kepada wartawan.



Dijelaskan pula, bahwa Ki Ageng Purboyoso Kusumo dulunya berasal Ngarianak, Kecamatan Singaraja, Kabupaten Kendal. Kemudian, jasad beliau dimakamkan di Dusun Biron Temanggung karena dulunya terjadi peperangan besar.



Pihaknya berharap, dengan kenduren itu, bisa nguri-uri kabudayan jawi dan do'a tahlil para pengunjung dan warga setempat mendapat keberkahan semata.



"Jasad auliya boleh tiada, tapi jasa jasanya yang terus mengembang, terus memperkuat ukhuwah islamiyah," kata dia.

Baca: Makam-makam Waliyullah di Pulau Bali yang Wajib Dikunjungi
Baca: Ziarah Ke Makam Sunan Pojok Blora Yuk, Sekarang Mirip Wisata Candi Lo!

Mustafidzin, pengunjung acara tahlilan, merasa takjub dengan dengan adat masyarakat setempat ramai. mereka berebut memberikan makanan yang diberikan peziarah. Ayam, entok dan menu istimewa lainnya.



Ia bersama ratusan peziarah lain merasakan aura khas Jawa Islam yang dibalut dengan kenduran yang sangat menyatukan warga dari berbagai kalangan dan jabatan. (tb99/ulin).
Blora, TABAYUNA.com - Makam Sunan Pojok Blora, Jawa Tengah sekarang didesain menarik seperti laiknya wisata candi. Proyek penataan kawasan wisata sejarah dan wisata religi, Makam Sunan Pojok Blora yang dilaksanakan oleh Dinas Kepemudaan Olahraga, Kebudayaan dan Priwisata (Dinporabudpar) sudah memasuki tahap finishing. Tidak lama lagi, komplek makam tokoh besar Blora yang terletak di sebelah selatan Alun-alun Kota itu akan diresmikan.

Baca juga: Daftar Wali-wali di Indonesia yang Wajib Kamu Ziarahi

Kepala Dinporabudpar, Drs. Kunto Aji saat dihubungi Kamis (12/10/2017) menerangkan bahwa sesuai rencana, peresmian kawasan Makam Sunan Pojok akan dilaksanakan pada hari Selasa (17/10/2017) pekan depan bersamaan dengan acara Haul Sunan Pojok 1439 Hijriyah.

“Peresmian akan dilakukan langsung oleh Bupati Djoko Nugroho dengan penandatanganan prasasti, bersamaan dengan pengajian akbar dalam rangka Haul Sunan Pojok. Sehingga momentumnya pas, bisa disaksikan oleh ribuan jamaah,” ucap Drs. Kunto Aji.

Ia lantas menjelaskan beberapa bentuk penataan kawasan makam yang akan diresmikan adalah telah selesainya pembangunan joglo utama untuk para peziarah, pembangunan gapura utama makam, pagar, penataan tempat wudhu dan beberapa ornamen hiasan berupa lampu penerangan serta lainnya.

“Saat ini proses finishing terus dilakukan. Insya Allah pekan depan selesai dan siap diresmikan oleh Bupati,” lanjutnya.

Penataan kawasan Makam Sunan Pojok ini didanai dari APBD Kabupaten tahun 2017 sebesar Rp 833 Juta yang dikerjakan oleh rekanan CV. Lumintu Jaya sejak awal Juni lalu.

Dengan adanya proyek penataan dan perluasan Makam Sunan Pojok diharapkan akan bisa menambah destinasi wisata, utamanya wisata religi di Kabupaten Blora.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, hari Kamis ini beberapa pekerja masih tampak melakukan pengecatan dan penyelesaian pembangunan gapura lorong masuk di sebelah selatan makam. Dua tiang lampu hias berwana kuning kombinasi hijau juga dipasang di dalam komplek makam untuk menunjang penerangan saat malam hari.

Meskipun proyek penataan masih tahap finishing, namun sudah ada beberapa pengunjung yang datang untuk melakukan ziarah ke Makam Sunan Pojok. Tak jarang ada juga beberapa anak muda sedang mengabadikan suasana di gapura depan yang dibangun bergaya klasik layaknya bangunan candi. (Tb33/Hms).
Walikota Bandung Ridwan Kamil bersama istri saat ziarah. (Foto: portal.bandung.go.id).
Tabayuna.com - Daftar makam wali di Bandung Jawa Barat menjadi salah satu tujuan berwisata religi bagi para sarkub atau peziarah dari berbagai daerah. Pencarian tim tabayuna.com memang menemukan sejumlah daftar makam wali atau orang-orang sepuh pendiri Bandung.


Ada banyak orang mencari informasi seputar tempat ziarah daerah Bandung yang memang berbeda dengan Cirebon atau Tasikmalaya. Kemudian juga makam keramat di Bandung, tempat wisata ziarah di Jawa Barat, bahkan juga tempat ziarah katolik di Bandung, makam mahmud Bandung Jawa Barat, tempat wisata islami di Bandung, makam keramat di kota Bandung dan lain sebagainya.

Berikut daftar makam wali di Bandung yang berhasil ditemukan tim Tabayuna.com di bawah ini:

1. Sumur Bandung – Kota Cikapungdung
2. Gunung Cibuni – Cibuni Bandung
3. Wali Habbib Ayyib Muhammad bin Salim Assagaf - Lokasinya terletak di Taman Pemakaman Umum Cibarunai, Sarijadi Bandung
4. Rd. Adipati Wiranatakusumah VI (Dalem Kaum) sebagai pendiri Kota Bandung.
5. Bupati Bandung  Rd. Tumenggung Wira Angun-Angun (1641 -1709) - Jalan Karanganyar, R.H.A.A Wiranatakusumah
6. Pahlawan Nasional Rd. Dewi Sartika - di Jalan Karanganyar, R.H.A.A Wiranatakusumah
7. Syekh Maulana Muhammad Syafei yang juga dikenal sebagai Pangeran Raja Atas Angin - Lokasinya di di RT 07/RW 07, Desa Cijenuk, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat.
8. Bupati Bandung kedua, Rd. Ardikusumah yang terkenal dengan nama Demang Timbanganten (1681-1704)
9. Raden Tumenggung Anggadiredja I yang dikenal Dalem Gordah (1704-1747)
10. Kampung Mahmud - Lokasinya di Bandung

Anda jika ingin ke sana, kalau bisa naik travel, bus, angkutan, gojek atau grab yang mudah dijangkau. Jika Anda rombongan, jangan lupa menginap di hotel, losmen, wisma, atau penginapan murah di sekitar lokasi makam.

Jika pulang, jangan lupa membeli oleh-oleh, atau berwisata kuliner di sekitar Bandung. Sebab, Bandung sangat kaya akan wisata kulinernya selain kaosnya. (Tb4).