Ilustrasi: Makam Mbah Hasbullah di Kembang, Pati
Tabayuna.com - Dalam khazanah kebudayaan Islam di Nusantara ini memang menarik. Salah satunya adalah adanya idiom Wali Kiriman dan Wali Tiban. Waliyullah atau wali Allah dalam definisi umum merupakan kekasih Allah yang diberi karamah saat hidup bahkan ketika meninggal duni karamahnya masih bisa dirasakan orang di sekitarnya.

Meski bukan kelahiran pribumi, namun jika pernah hidup di suatu tempat, lalu babat alas, melalukan dakwah, menyebar Islam, mendirikan masjid, pondok pesantren, maka dia tidak disebut wali kiriman atau tiban.

"Wali kiriman adalah wali yang dikirim oleh sulthonil auliya' berdasar atas kecintaan warga terhadap sultonil auliya' seperti di Desa Kragan Rembang. Masyarakatnya gemar bersalawat dan baca manaqibnya. Tapi desanya belum ada walinya, maka di situ dikirim wali biar desa tersbut ada walinya atau di buat wali ahlal qoryah," ujar Ngalimun peneliti wali asal Dukuhseti, Pati, Kamis (17/5/2018).

Definisi berikutnya, belum tentu juga di desa itu sudah memeluk Islam. Bisa juga masyarakat di suatu tempat itu memang belum ada Islam sama sekali dan masyarakatnya butuh sosok yang islami. Wali Kiriman menurut dia, tidak hanya berasal dari Indonesia sendiri, namun bisa dari luar negeri terutama daerah Timur Tengah.

Ketua Pengurus Makam Ki Brojoseti Singo Barong Dukuhseti ini juga mencontohkan wali kiriman di tempatnya. "Ada Abdurrahman Ba'alawy di Desa Banyutowo itu juga wali kiriman. Dulu ditemukan oleh warga sekitar tahun 1980an saat menggali parit untuk TPI Banyutowo," ujar dia.

Dijelaskan dia, dulu yang mencari nasabnya langsung Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan. "Jadi ini wali kiriman dari timur tengah karena saat ditemukan, kondisi jenazah masih utuh," ujar dia.

Pihaknya juga mencontohkan wali kiriman Syekh Ibrahim. "Kalau ini saya dan Kang Bawi dan Wagiman saat membuat tambak milik Pak Narmo di Congot, Dukuh Selempung, Desa Dukuhseti sekitar tahun 1990an," beber dia.

Sedangkan wali tiban, kata dia, adalah wali yang tiba-tiba diketemukan atau wali itu minta dihormat akan memberikan karomahnya kepada warga untuk menunjukkan kewaliannya.

"Yang bisa kumunikasi adalah sarkub (sarjana kuburan) contohnya seperti Gus Dur, Habib Lutfi bin Yahya, Mbah Umar Sarang, Mbah Amar Ma'ruf, banyak sekali kiai-kiai yang seperti itu namanya sarkub," lanjut mantan Ketua GP Ansor Dukuhseti itu. (Tb11).
Bagikan :

Tambahkan Komentar