Articles by "Sejarah"
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Parakan tempo dulu (detik.com).
Temanggung, TABAYUNA.com - Dalam studi etnografi atau antropologi, setiap daerah memiliki sejarah dan keunikannya. Bisa dari aspek budaya, bahasa, tradisi, kearifan lokal dan lainnya. Salah satunya adalah Kabupaten Temanggung dan Kecamatan Parakan. Dua tempat ini tidak dapat dipertentangkan atau dibandingkan. Namun secara administratif, Parakan merupakan bagian dari Kabupaten Temanggung.

Masalahnya, mengapa bagi orang luar Temanggung, Parakan lebih terkenal? Dan, seolah-olah menjadi "Kabupaten" sendiri. Untuk itu, berikut penjelasan dari akademisi STAINU Temanggung, Khamim Saifuddin dosen Sejarah Peradaban Islam yang berhasil diwawancarai.

"Secara historis, Parakan iku sama dengan Lasem, Kabupaten Rembang," katanya, Kamis (7/3/2019).

Lain halnya dengan Temanggung dan Parakan, ada beberapa daerah yang kadang lebih terkenal atau dikenal publik daripada kabupaten atau kotanya. Seperti contoh antara Kabupaten Grobogan dengan Purwodadi, Kabupaten Pati dengan Juwana, Blora dengan Cepu, Rembang dengan Lasem, Jepara dengan Karimunjawa, Kabupaten Semarang dengan Ungaran, Demak dengan Kadilangu atau Mranggen, Kendal dengan Kaliwungu, Brebes dengan Bumiayu, dan lainnya.

Khamim menjelaskan, bahwa ada akar historis yang mendasari Parakan lebih dikenal. Selain peran KH. Subkhi sebagai pelopor Bambu Runcing yang dikenal se Nusantara, ada beberapa alasan mendasar dalam sejarah di Temanggung.

"Sebelum ibukotanya Temanggung, dulu zaman Belanda, Parakan itu kawedanan," lanjut penulis buku biografi KH. Ilyas Kalipaing tersebut.

Pihaknya juga menganalisis, bahwa ada beberapa hal unik antara orang Temanggung dengan Parakan. "Temuan saya, sampai hari ini orang Parakan secara psikologis belum bisa welcome dengan orang Temanggung. Di bidang apapun, orang Parakan pasti tidak mau kalah dengan orang Temanggung," lanjut Kepala Lembaga Penjamin Mutu STAINU Temanggung tersebut.

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, disebutkan bahwa Kabupaten Temanggung terdiri dari 20 kecamatan, 23 kelurahan, dan 266 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 769.843 jiwa dengan luas wilayah 837,71 km² dan sebaran penduduk 919 jiwa/km². Sedangkan Parakan sendiri bagian dari Kabupaten Temanggung.

Parakan Ibukota Temanggung
Tiap Kabupaten atau Kota, pasti memiliki pusat pemerintahan. Dalam sejarahnya, seperti dinukil dari detik.com, bahwa Parakan masih menjadi ibu kota Temanggung sebelum pecah Perang Jawa (Perang Diponegoro tahun 1820-an) dengan pemimpin pertamanya yaitu Tumenggung Soemodilogo.

Diketahui, bahwa peristiwa yang terkenal kala itu adalah pertempuran antara pasukan Tumenggung Soemodilogo melawan pasukan Diponegoro yang dipimpin oleh Sentot Alibasjah dan Kyai Maja dan diakhiri kekalahan pasukan Soemodilogo dengan dipenggalnya Mustaka Soemodilogo oleh pemimpin pasukan Diponegoro, yaitu Sentot Alibasjah tapi ada yang berkeyakinan bahwa eksekutornya adalah Kyai Maja.

Pertempuran tersebut merupakan bukti nyata politik Devide et Impera yang biasa dipraktekkan Belanda untuk menguasai dan mencengkeram daerah jajahannya.

Hingga sekarang alasan Tumenggung Soemodilogo memutuskan untuk melawan Pangeran Diponegoro masih merupakan misteri karena menurut cerita rakyat yang beredar diketahui bahwa Tumenggung Soemodilogo dan Pangeran Diponegoro masih memiliki hubungan darah karena masih sama-sama darah biru Mataram-Menoreh.

Usai perang jawa berakhir dan dimenangkan Belanda maka ibu kota Temanggung dipindahkan ke Kecamatan Temanggung (ibu kota kabupaten yang sekarang) dan keturunan Tumenggung Soemodilogo ditunjuk Belanda sebagai Bupati Temanggung pertama (peristiwa ini juga dijadikan peringatan ulang tahun kelahiran Kabupaten Temanggung).

Jika Anda berjalan-jalan di pusat Parakan maka Anda akan merasakan berada di masa lalu karena masih banyak dokar yang lalu-lalang di jalan dan masih menjadi mode transportasi favorit selain ojek. Terutama jika Si Penumpang membawa barang bawaan banyak.

Sayangnya, daerah ini tidak memiliki buah tangan khas tapi Anda bisa membeli sayuran segar dengan harga yang sangat murah dengan kualitas yang sangat baik.

Kiai Parak Bambu Runcing
Nama Parakan makin membumi ketika KH. Subchi atau KH. Subkhi diusulkan menjadi Pahlawan Nasional beberapa tahun ini. Dalam profilnya, buku "Karomah Para Kiai" yang ditulis Samsul Munir Amin (2008:134) menyebut KH. Subchi memiliki nama asli, kecill, atau nama lahir Mohamad Benjing,

Nama setelah berumah tangga R Somowardojo, Nama setelah haji menjadi Subchi/ Subki/ Subeki) merupakan tokoh nasional yang lahir di Parakan, Temanggung pada 31 Desember 1858 dan beliau meninggal di Parakan, Temanggung, 6 April 1959 pada umur 100 tahun.

KH. Subchi adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan penggagas senjata bambu runcing. Ia merupakan penasihat Barisan Bambu Runcing bersama dengan Kyai-kyaipengurus lain diantaranya K.H. Sumogunardho, K.H. M. Ali dan K.H. Nawawi.

Namanya diabadikan sebagai nama jalan di Parakan, Temanggung. Senjata bambu runcing dan fotonya juga terpampang pada Vitrin Sudut I di Monumen Yogya Kembali Yogyakarta. Hal inilah yang menjadi Parakan lebih dikenal dari Temanggung.

Meski demikian, tidak ada perbandingan antara Temanggung dan Parakan. Temanggung tetaplah Temanggung sebagai Kabupatennya Parakan. Dan Parakan tetaplah Parakan sebagai bagian dari Kecamatannya Temanggung. Jadi tidak ada perdebatan antara Temanggung dan Parakan. Jika Anda memperdebatkan, njuk ngopo?
Ilustrasi Tribun
Oleh Naizam

Ketika Perang Badar Nabi Saw. memandang kepada semua sahabatnya yang saat itu berjumlah tiga ratus orang lebih. Nabi Saw. juga memandang kepada pasukan kaum musyrik, ternyata jumlah mereka seribu orang lebih. Kemudian Nabi Saw.
menghadapkan dirinya ke arah kiblat (saat itu beliau memakai kain selendang dan kain sarungnya) lalu berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ فَلَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ أَبَدًا

"Ya Allah tunaikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika golongan kaum muslim ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini selama-lamanya."

Nabi Saw. terus-menerus memohon pertolongan kepada Tuhannya dan berdoa kepada-Nya sehingga kain selendangnya terlepas dari pundaknya. Lalu Abu Bakar datang menghampirinya dan memungut kain selendangnya, kemudian disandangkan di tempatnya, dan Abu Bakar tetap berdiri di belakangnya. Kemudian Abu Bakar berkata, "Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya Dia pasti akan menunaikan apa yang telah dijanjikan­Nya kepadamu."

Peristiwa tersebut melatar belakangi turunnya ayat 9 surat Al Anfal.
Kontesknya terjadi pada saat perang Badar, dmna jumlah kaum Muslimin sangat sedikit sedangkan kaum musyrikin yang ingin memusnahkan Islam dari muka bumi sangatlah banyak sehingga wajar Rasulullah berdoa semacam itu sebab memang itulah satu-satunya pasukan kaum Muslimin yang ada di seluruh dunia. Bila Allah berkehendak kaum muslimin kalah dalam perang Badar maka itu sama saja dengan berkehendak memusnahkan seluruh kekuatan Islam yang ada sehingga tak ada lagi yang menyembah Nya di muka bumi ini.

Lalu kok tiba-tiba ada orang yg berdo'a yang isinya ikut-iktan do'a nabi saw tsb untuk kepentingan politik, kekuasaan.
Jadi seakan-akan mereka adalah para ashabul badr dan lawan politiknya adalah kaum musyrikin.

Astaghfirullah... semoga kita semua mendapat hidayah dari Allah Swt.

Sumber referensi: Tafsir Ibnu Katsir.
Oleh: Agus Sunyoto Lesbumi

Alhamdulillah, akhir-akhir ini orang merasakan manfaatnya Nahdlatul Ulama (NU). Dulu, orang yang paling bahagia, paling sering merasakan berkahnya NU adalah keluarga orang yang sudah meninggal : setiap hari dikirimi doa dan tumpeng.

Hari ini begitu dunia dilanda kekacauan, ketika Dunia Islam galau: di Afganistan perang sesama Islam, di Suriah perang sesama Islam, di Irak, perang sesama Islam. Semua ingin tahu, ketika semua sudah jebol, kok ada yang masih utuh: Islam di Indonesia.

Akhirnya semua ingin kesini, seperti apa Islam di Indonesia kok masih utuh. Akhirnya semua sepakat: utuhnya Islam di Indonesia itu karena memiliki jamiyyah NU. Akhirnya semua pingin tahu NU itu seperti apa.

Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda yang sudah menceritakan santri NU,  namanya Christia Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in , tapi tidak islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.

Mengapa? Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri. Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Semua santri kok melawan Belanda.

Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar. Dia belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab. Maka akhirnya paham betul Islam.

Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada.

Mencari Allah disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya Gusti. Padahal ada pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng. Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya sembahyang. Mencari syaikhun, ustadzun , tidak ketemu, ketemunya kiai. Padahal ada nama kerbau namanya kiai slamet. Mencari mushalla tidak ketemu, ketemunya langgar.

Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas. Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia, bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa.

Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees. Orang disini makanannya nasi (sego).  Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa beras itu, bahasa inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz .

Yang disebut ruz, ketika di sawah, namanya pari, padi. Disana masih ruz, rice. Begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan. Disana masih ruz, rice. Jadi ilmunya sudah mulai kucluk , korslet.

Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahami ruz, rice , padahal disini sudah dinamai gabah. Begitu dibuka, disini namanya beras, disana masih ruz, rice . Begitu bukanya cuil, disini namanya menir, disana masih ruz, rice. Begitu dimasak, disini sudah dinamai sego , nasi, disana masih ruz, rice.

Begitu diambil cicak satu, disini namanya
upa, disana namanya masih ruz, rice. Begitu dibungkus daun pisang, disini namanya lontong, sana masih ruz, rice. Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, sana masih ruz, rice. Ketika diaduk dan hancur, lembut, disini namanya bubur, sana namanya masih ruz, rice.

Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing.

Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinting (berkopiah miring dan bersarung ngelinting). Kedua, mambu rokok (bau rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit).

Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa. Maka, jangankan  Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan di tanah Arab.

Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah . Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Padahal itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham. Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” saja. Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.

Lha , akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia. Kenapa? Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia, Islam pada umumnya. Kenapa? Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia.

Kenapa? Karena Islam tumbuhnya tidak disini, tetapi di Arab. Rasulullah orang Arab. Bahasanya bahasa Arab. Yang dimakan juga makanan Arab. Budayanya budaya Arab. Kemudian Islam datang kesini, ke Indonesia.

Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik. Orang belum terdidik itu mudah dijajah. Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp 20.000 atau mie instan sebungkus, beres. Kalau mengajak orang berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.

Islam datang ke Eropa juga dalam keadaan terpuruk. Tetapi Islam datang kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang kuat-kuatnya. Bangsa anda sekalian ini bukan bangsa kecoak. Ini karena ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai 2/3 dunia, namanya Majapahit.

Majapahit ini bukan negara sembarangan. Universitas terbesar di dunia ada di Majapahit, namanya Nalanda. Hukum politik terbaik dunia yang menjadi rujukan adanya di Indonesia, waktu itu ada di Jawa, kitabnya bernama Negarakertagama. Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya Sutasoma. Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan kaya-raya.

Cerita surga di Jawa itu tidak laku. Surga itu (dalam penggambaran Alquran): tajri min tahtihal anhaar (airnya mengalir), seperti kali. Kata orang disini: “mencari air kok sampai surga segala? Disini itu, sawah semua airnya mengalir.” Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para ulama penyebar Islam. Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah. Artinya dakwah disini tidak mudah.

Diceritain pangeran, orang Jawa sudah punya Sanghyang Widhi. Diceritain Ka’bah orang jawa juga sudah punya stupa: sama-sama batunya dan tengahnya sama berlubangnya. Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni.

Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari raya kedri. Sudah lengkap. Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan. Kenapa? Orang Jawa pada waktu itu beragama hindu. Hindu itu berprinsip yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia.

Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia. Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri. Kasta ini tidak boleh bicara agama.

Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra . Kasta ini juga tidak boleh bicara agama. Jadi kalau ada cerita Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa dterima akal. Secara teori ilmu pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama.

Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya, bingungnya memahami Islam di Indonesia. Dibawahnya ada kasta paria, yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Dibawah Paria ada pencopet, namanya kasta Tucca. Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca. Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.

Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait dengan Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu bagusnya, mencoba diislamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini.

Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang disini mau memakan manusia. Namanya aliran Bhirawa. Munculnya dari Syiwa. Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa bisa melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa atau murco.

Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil dan menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya. Lha ini terus menjadi jenglot atau batara karang.

Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk gagal moksa. Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah, namanya ilmu ngrogoh sukmo . Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajar dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, mengajarkan Pancamakara.

Supaya bisa ngrogoh sukmo, semua sahwat badan dikenyangi, laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging manusia. Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas. Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus.

Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran tenang, tidak banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan, badan tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul orang-orang macam Sumanto.

Ketika sudah pada bisa ngrogoh sukmo, ketika sukmanya pergi di ajak mencuri namanya
ngepet . Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya santet. Ketika sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya pelet. Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet.

Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis di-ingkung oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan lagi, maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali tentara ulama dari Iran, yang tidak bisa dimakan orang Jawa.

Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi. Karena lidah orang Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan Syekh Subakir. Di Jawa ini di duduki bala tentara Syekh Subakir, kemudian mereka diusir.

Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil Cicalap, Pelabuhan Ratu, dan Banten. Di namai Banten, di ambil dari bahasa Sansekerta, artinya Tumbal. Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu, Gunung Kawi, Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan). Disana mereka dipimpin Menak Sembuyu dan Bajul Sengoro.

Karena Syekh Subakir sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua muridnya namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim Asmoroqondi). Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah, anak perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak, melahirkan Raden Ainul Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.

Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah Patung Totok Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah. Setelah menyerah, melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air biasa, ingkung manusia diganti ayam, matra ngrogoh sukmo diganti kalimat tauhid; laailaahaillallah. Maka kita punya adat tumpengan.

Kalau ada orang banyak komentar mem-bid’ah -kan, ceritakanlah ini. Kalau ngeyel, didatangi: tabok mulutnya. Ini perlu diruntutkan, karena NU termasuk yang masih mengurusi beginian.

Habis itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid Jamaluddin al-Husaini al-Kabir. Mendarat di Semarang dan menetap di daerah Merapi. Orang Jawa sulit mengucapkan, maka menyebutnya Syekh Jumadil Kubro.

Disana dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat, membuat pesantren puro di daerah Karawang. Punya murid bernama Datuk Kahfi, pindah ke Amparan Jati, Cirebon. Punya murid Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Inilah yang bertugas mengislamkan Padjajaran. Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang dan Walangsungsang.

Nah , Syekh Jumadil Kubro punya putra punya anak bernama Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoroqondi, bapaknya Walisongo. Mbah Ishak melahirkan Sunan Giri. Mbah Ibrahim punya anak Sunan Ampel. Inilah yang bertugas mengislamkan Majapahit.

Mengislamkan Majapahit itu tidak mudah. Majapahit orangnya pinter-pinter. Majapahit Hindu, sedangkan Sunan Ampel Islam. Ibarat sawah ditanami padi, kok malah ditanami pisang. Kalau anda begitu, pohon pisang anda bisa ditebang.

Sunan Ampel berpikir bagaimana caranya? Akhirnya beliau mendapat petunjuk ayat Alquran. Dalam surat Al-Fath, 48:29 disebutkan : ".... masaluhum fit tawrat wa masaluhum fil injil ka zar’in ahraja sat’ahu fa azarahu fastagladza fastawa ‘ala sukıhi yu’jibuz zurraa, li yagidza bihimul kuffar………”

Artinya: “…………Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)……………”

Islam itu seperti tanaman yang memiliki anak-anaknya, kemudian hamil, kemudian berbuah, ibu dan anaknya bersama memenuhi pasar, menakuti orang kafir. Tanaman apa yang keluar anaknya dulu baru kemudian ibunya hamil? Jawabannya adalah padi.

Maka kemudian Sunan Ampel dalam menanam Islam seperti menanam padi. Kalau menanam padi tidak di atas tanah, tetapi dibawah tanah, kalau diatas tanah nanti dipatok ayam, dimakan tikus.

Mau menanam Allah, disini sudah ada istilah pangeran. Mau menanam shalat, disini sudah ada istilah sembahyang. Mau menanam syaikhun, ustadzun, disini sudah ada kiai. Menanam tilmidzun, muridun , disini sudah ada shastri, kemudian dinamani santri. Inilah ulama dulu, menanamnya tidak kelihatan.

Menanamnya pelan-pelan, sedikit demi sedikit: kalimat syahadat, jadi kalimasada. Syahadatain, jadi sekaten. Mushalla, jadi langgar. Sampai itu jadi bahasa masyarakat. Yang paling sulit mememberi pengertian orang Jawa tentang mati.

Kalau Hindu kan ada reinkarnasi. Kalau dalam Islam, mati ya mati (tidak kembali ke dunia). Ini paling sulit, butuh strategi kebudayaan. Ini pekerjaan paling revolusioner waktu itu. Tidak main-main, karena ini prinsip. Prinsip inna lillahi wa inna ilaihi rajiun berhadapan dengan reinkarnasi. Bagaimana caranya?

Oleh Sunan Ampel, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun kemudian di-Jawa-kan: Ojo Lali Sangkan Paraning Dumadi.

Setelah lama diamati oleh Sunan Ampel, ternyata orang Jawa suka tembang, nembang, nyanyi. Beliau kemudian mengambil pilihan: mengajarkan hal yang sulit itu dengan tembang. Orang Jawa memang begitu, mudah hafal dengan tembang.

Orang Jawa, kehilangan istri saja tidak lapor polisi, tapi nyanyi: ndang baliyo, Sri, ndang baliyo . Lihat lintang, nyanyi: yen ing tawang ono lintang, cah ayu. Lihat bebek, nyanyi: bebek adus kali nyucuki sabun wangi. Lihat enthok: menthok, menthok, tak kandhani, mung rupamu. Orang Jawa suka nyanyi, itulah yang jadi pelajaran. Bahkan, lihat silit (pantat) saja nyanyi: … ndemok silit, gudighen.

Maka akhirnya, sesuatu yang paling sulit, berat, itu ditembangkan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun diwujudkan dalam bentuk tembang bernama Macapat . Apa artinya Macapat? Bahwa orang hidup harus bisa membaca perkara Empat.

Keempat perkara itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika turun di dunia. Nyawa itu produk akhirat. Kalau raga produk dunia. Produk dunia makanannya dunia, seperti makan. Yang dimakan, sampah padatnya keluar lewat pintu belakang, yang cair keluar lewat pintu depan.

Ada sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma). Kalau mani ini penuh, bapak akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur dan dititipkan di rahim ibu. Tiga bulan jadi segumpal darah, empat bulan jadi segumpal daging. Inilah produk dunia.

Begitu jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. “Dul, turun ya,”. “Iya, Ya Allah”. “Alastu birabbikum?” (apakah kamu lupa kalau aku Tuhanmu?). “Qalu balaa sahidnya,” (Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang nyawa,. ”fanfuhur ruuh” (maka ditiupkanlah ruh itu ke daging). Maka daging itu menjadi hidup. Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging ini. (lihat, a.l.: Q.S. Al-A’raf, 7:172, As-Sajdah: 7 -10, Al-Mu’min: 67, ed. )

Kemudian, setelah sembilan bulan, ruh itu keluar dengan bungkusnya, yaitu jasad. Adapun jasadnya sesuai dengan orang tuanya: kalau orang tuanya pesek anaknya ya pesek; orang tuanya hidungnya mancung anaknya ya mancung; orang tuanya hitam anaknya ya hitam; kalau orang tuanya ganteng dan cantik, lahirnya ya cantik dan ganteng.

Itu disebut Tembang Mocopat: orang hidup harus membaca perkara empat. Keempat itu adalah teman nyawa yang menyertai manusia ke dunia, ada di dalam jasad. Nyawa itu ditemani empat: dua adalah Iblis yang bertugas menyesatkan, dan dua malaikat yang bertugas nggandoli, menahan. Jin qarin dan hafadzah.

Itu oleh Sunan Ampel disebut Dulur Papat Limo Pancer. Ini metode mengajar. Maka pancer ini kalau mau butuh apa-apa bisa memapakai dulur tengen (teman kanan) atau dulur kiwo (teman kiri). Kalau pancer kok ingin istri cantik, memakai jalan kanan, yang di baca Ya Rahmanu Ya Rahimu tujuh hari di masjid, yang wanita nantinya juga akan cinta.

Tidak mau dulur tengen, ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Jaran Goyang, ya si wanita jadinya cinta, sama saja. Kepingin perkasa, kalau memakai kanan yang dipakai kalimah La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim . Tak mau yang kanan ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Bondowoso, kemudian bisa perkasa.

Mau kaya kalau memakai jalan kanan ya shalat dhuha dan membaca Ya Fattaahu Ya Razzaaqu , kaya. Kalau tidak mau jalan kanan ya jalan kiri, membawa kambing kendhit naik ke gunung kawi, nanti pulang kaya.

Maka, kiai dengan dukun itu sama; sama hebatnya kalau tirakatnya kuat. Kiai yang ‘alim dengan dukun yang tak pernah mandi, jika sama tirakatnya, ya sama saktinya: sama-sama bisa mencari barang hilang. Sama terangnya. Bedanya: satu terangnya lampu dan satunya terang rumah terbakar.

Satu mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan senternya utuh; sedangkan yang satu mencari dengan blarak (daun kelapa kering yang dibakar), ayamnya ketemu, hanya blarak-nya habis terbakar. Itu bedanya nur dengan nar.

Maka manusia ini jalannya dijalankan seperti tembang yang awalan, Maskumambang: kemambange nyowo medun ngalam ndunyo , sabut ngapati, mitoni , ini rohaninya, jasmaninya ketika dipasrahkan bidan untuk imunisasi.

Maka menurut NU ada ngapati, mitoni,
karena itu turunnya nyawa. Setelah Maskumambang, manusia mengalami tembang Mijil. Bakal Mijil : lahir laki-laki dan perempuan. Kalau lahir laki-laki aqiqahnya kambing dua, kalau lahir perempuan aqiqahnya kambing satu.

Setelah Mijil, tembangnya Kinanti. Anak-anak kecil itu, bekalilah dengan agama, dengan akhlak. Tidak mau ngaji, pukul. Masukkan ke TPQ, ke Raudlatul Athfal (RA). Waktunya ngaji kok tidak mau ngaji, malah main layangan, potong saja benangnya. Waktu ngaji kok malah mancing, potong saja kailnya.

Anak Kinanti ini waktunya sekolah dan ngaji. Dibekali dengan agama, akhlak. Kalau tidak, nanti keburu masuk tembang Sinom: bakal menjadi anak muda (cah enom), sudah mulai ndablek, bandel.

Apalagi, setelah Sinom, tembangnya asmorodono , mulai jatuh cinta. Tai kucing serasa coklat. Tidak bisa di nasehati. Setelah itu manusia disusul tembang Gambuh , laki-laki dan perempuan bakal membangun rumah tangga, rabi, menikah.

Setelah Gambuh, adalah tembang Dhandanggula. Merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Setelah Dhandanggula , menurut Mbah Sunan Ampel, manusia mengalami tembang Dhurma.

Dhurma itu: darma bakti hidupmu itu apa? Kalau pohon mangga setelah berbuah bisa untuk makanan codot, kalau pisang berbuah bisa untuk makanan burung, lha buah-mu itu apa? Tenagamu mana? Hartamu mana? Ilmumu mana yang didarmabaktikan untuk orang lain?

Khairunnas anfa’uhum linnas , sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Sebab, kalau sudah di Dhurma tapi tidak darma bakti, kesusul tembang Pangkur.

Anak manusia yang sudah memunggungi dunia: gigi sudah copot, kaki sudah linu. Ini harus sudah masuk masjid. Kalau tidak segera masuk masjid kesusul tembang Megatruh : megat, memutus raga beserta sukmanya. Mati.

Terakhir sekali, tembangnya Pucung. Lha ini, kalau Hindu reinkarnasi, kalau Islam Pucung . Manusia di pocong. Sluku-sluku Bathok, dimasukkan pintu kecil. Makanya orang tua (dalam Jawa) dinamai buyut, maksudnya : siap-siap mlebu lawang ciut (siap-siap masuk pintu kecil).

Adakah yang mengajar sebaik itu di dunia?
Kalau sudah masuk pintu kecil, ditanya Malaikat Munkar dan Nankir. Akhirnya itu, yang satu reinkarnasi, yang satu buyut . Ditanya: “Man rabbuka?” , dijawab: “Awwloh,”. Ingin disaduk Malaikat Mungkar – Nakir apa karena tidak bisa mengucapkan Allah.

Ketika ingin disaduk, Malaikat Rakib buru-buru menghentikan: “Jangan disiksa, ini lidah Jawa”. Tidak punya alif, ba, ta, punyanya ha, na, ca, ra, ka . “Apa sudah mau ngaji?”kata Mungkar – Nakir. “Sudah, ini ada catatanya, NU juga ikut, namun belum bisa sudah meninggal”. “Yasudah, meninggalnya orang yang sedang belajar, mengaji, meninggal yang dimaafkan oleh Allah.”

Maka, seperti itu belajar. Kalau tidak mau belajar, ditanya, “Man rabbuka?” , menjawab, “Ha……..???”. langsung dipukul kepalanya: ”Plaakkk!!”. Di- canggah lehernya oleh malaikat. Kemudian jadi wareng , takut melihat akhirat, masukkan ke neraka, di- udek oleh malaikat, di-gantung seperti siwur, iwir-iwir, dipukuli modal-madil seperti tarangan bodhol , ajur mumur seperti gedhebok bosok.

Maka, pangkat manusia, menurut Sunan Ampel: anak – bapak – simbah – mbah buyut – canggah – wareng – udek-udek – gantung siwur – tarangan bodol – gedhebok bosok. Lho, dipikir ini ajaran Hindu. Kalau seperti ini ada yang bilang ajaran Hindu, kesini, saya tabok mulutnya!

Begitu tembang ini jadi, kata Mbah Bonang, masa nyanyian tidak ada musiknya. Maka dibuatkanlah gamelan, yang bunyinya Slendro Pelok : nang ning nang nong, nang ning nang nong, ndang ndang, ndang ndang, gung . Nang ning nang nong: yo nang kene yo nang kono (ya disini ya disana); ya disini ngaji, ya disana mencuri kayu.

Lho, lha ini orang-orang kok. Ya seperti disini ini: kelihatannya disini shalawatan, nanti pulang lihat pantat ya bilang: wow!. Sudah hafal saya, melihat usia-usia kalian. Ini kan kamu pas pakai baju putih. Kalau pas ganti, pakainya paling ya kaos Slank.

Nah, nang ning nang nong, hidup itu ya disini ya disana. Kalau pingin akhiran baik, naik ke ndang ndang, ndang ndang, gung. Ndang balik ke Sanghyang Agung. Fafirru illallaah , kembalilah kepada Allah. Pelan-pelan. Orang sini kadang tidak paham kalau itu buatan Sunan Bonang.

Maka, kemudian, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dibuatkan tumpeng agar bisa makan. Begitu makan kotor semua, dibasuh dengan tiga air bunga: mawar, kenanga dan kanthil.

Maksudnya: uripmu mawarno-warno, keno ngono keno ngene, ning atimu kudhu kanthil nang Gusti Allah (Hidupmu berwarna-warni, boleh seperti ini seperti itu, tetapi hatimu harus tertaut kepada Allah). Lho , ini piwulang-piwulangnya, belum diajarkan apa-apa. Oleh Sunan Kalijaga, yang belum bisa mengaji, diajari Kidung Rumekso Ing Wengi. Oleh Syekh Siti Jenar, yang belum sembahyang, diajari syahadat saja.

Ketika tanaman ini sudah ditanam, Sunan Ampel kemudian ingin tahu: tanamanku itu sudah tumbuh apa belum? Maka di-cek dengan tembang Lir Ilir, tandurku iki wis sumilir durung? Nek wis sumilir, wis ijo royo-royo, ayo menek blimbing. Blimbing itu ayo shalat. Blimbing itu sanopo lambang shalat.

Disini itu, apa-apa dengan lambang, dengan simbol: kolo-kolo teko , janur gunung. Udan grimis panas-panas , caping gunung. Blimbing itu bergigir lima. Maka, cah angon, ayo menek blimbing . Tidak cah angon ayo memanjat mangga.

Akhirnya ini praktek, shalat. Tapi prakteknya beda. Begitu di ajak shalat, kita beda. Disana, shalat 'imaadudin, lha shalat disini, tanamannya mleyor-mleyor, berayun-ayun.

Disana dipanggil jam setengah duabelas kumpul. Kalau disini dipanggil jam segitu masih disawah, di kebun, angon bebek, masih nyuri kayu. Maka manggilnya pukul setengah dua. Adzanlah muadzin, orang yang adzan. Setelah ditunggu, tunggu, kok tidak datang-datang.

Padahal tugas Imam adalah menunggu makmum. Ditunggu dengan memakai pujian. Rabbana ya rabbaana, rabbana dholamna angfusana , – sambil tolah-toleh, mana ini makmumnya – wainlam taghfirlana, wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.

Datang satu, dua, tapi malah merokok di depan masjid. Tidak masuk. Maka oleh Mbah Ampel: Tombo Ati, iku ono limang perkoro….. . Sampai pegal, ya mengobati hati sendiri saja. Sampai sudah lima kali kok tidak datang-datang, maka kemudian ada pujian yang agak galak: di urugi anjang-anjang……. , langsung deh, para ma'mum buruan masuk. Itu tumbuhnya dari situ.

Kemudian, setelah itu shalat. Shalatnya juga tidak sama. Shalat disana, dipanah kakinya tidak terasa, disini beda. Begitu Allahu Akbar , matanya bocor: itu mukenanya berlubang, kupingnya bocor, ting-ting-ting, ada penjual bakso. Hatinya bocor: protes imamnya membaca surat kepanjangan. Nah, ini ditambal oleh para wali, setelah shalat diajak dzikir, laailaahaillallah.

Hari ini, ada yang protes: dzikir kok kepalanya gedek-gedek, geleng-geleng? Padahal kalau sahabat kalau dzikir diam saja. Lho, sahabat kan muridnya nabi. Diam saja hatinya sudah ke Allah. Lha orang sini, di ajak dzikir diam saja, ya malah tidur. Bacaannya dilantunkan dengan keras, agar ma'mum tahu apa yang sedang dibaca imam.

Kemudian, dikenalkanlah nabi. Orang sini tidak kenal nabi, karena nabi ada jauh disana. Kenalnya Gatot Kaca. Maka pelan-pelan dikenalkan nabi. Orang Jawa yang tak bisa bahasa Arab, dikenalkan dengan syair: kanjeng Nabi Muhammad, lahir ono ing Mekkah, dinone senen, rolas mulud tahun gajah.

Inilah cara ulama-ulama dulu kala mengajarkan Islam, agar masyarakat disini kenal dan paham ajaran nabi. Ini karena nabi milik orang banyak (tidak hanya bangsa Arab saja). Wamaa arsalnaaka illa rahmatal lil ‘aalamiin ; Aku (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

Maka, shalawat itu dikenalkan dengan cara berbeda-beda. Ada yang sukanya shalawat ala Habib Syekh, Habib Luthfi, dll. Jadi jangan heran kalau shalawat itu bermacam-macam. Ini beda dengan wayang yang hanya dimiliki orang Jawa.

Orang kalau tidak tahu Islam Indonesia, pasti bingung. Maka Gus Dur melantunkan shalawat memakai lagu dangdut. Astaghfirullah, rabbal baraaya, astaghfirullah, minal khataaya, ini lagunya Ida Laila: Tuhan pengasih lagi penyayang, tak pilih kasih, tak pandang sayang. Yang mengarang namanya Ahmadi dan Abdul Kadir.

Nama grupnya Awara. Ida Laila ini termasuk Qari’ terbaik dari Gresik. Maka lagunya bagus-bagus dan religius, beda dengan lagu sekarang yang mendengarnya malah bikin kepala pusing. Sistem pembelajaran yang seperti ini, yang dilakukan oleh para wali. Akhirnya orang Jawa mulai paham Islam.

Namun selanjutnya Sultan Trenggono tidak sabaran: menerapkan Islam dengan hukum, tidak dengan budaya. "Urusanmu kan bukan urusan agama, tetapi urusan negara,” kata Sunan Kalijaga. “Untuk urusan agama, mengaji, biarlah saya yang mengajari,” imbuhnya.

Namun Sultan Trenggono terlanjur tidak sabar. Semua yang tidak sesuai dan tidak menerima Islam di uber-uber. Kemudian Sunan Kalijaga memanggil anak-anak kecil dan diajari nyanyian:

Gundul-gundul pacul, gembelengan.
Nyunggi-nyunggi wangkul, petentengan.
Wangkul ngglimpang segane dadi sak latar 2x

Gundul itu kepala. Kepala itu ra’sun. Ra’sun itu pemimpin. Pemimpin itu ketempatan empat hal: mata, hidung, lidah dan telinga. Empat hal itu tidak boleh lepas. Kalau sampai empat ini lepas, bubar.

Mata kok lepas, sudah tidak bisa melihat rakyat. Hidung lepas sudah tidak bisa mencium rakyat. Telinga lepas sudah tidak mendengar rakyat. Lidah lepas sudah tidak bisa menasehati rakyat. Kalau kepala sudah tidak memiliki keempat hal ini, jadinya gembelengan.

Kalau kepala memangku amanah rakyat kok terus gembelengan, menjadikan wangkul ngglimpang, amanahnya kocar-kacir. Apapun jabatannya, jika nanti menyeleweng, tidak usah di demo, nyanyikan saja Gundul-gundul pacul. Inilah cara orang dulu, landai.

Akhirnya semua orang ingin tahu bagaimana cara orang Jawa dalam ber-Islam. Datuk Ribandang, orang Sulawesi, belajar ke Jawa, kepada Sunan Ampel. Pulang ke Sulawesi menyebarkan Islam di Gunung Bawakaraeng, menjadilah cikal bakal Islam di Sulawesi.

Berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di penjuru Sulawesi. Khatib Dayan belajar Islam kepada Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ketika kembali ke Kalimantan, mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan.

Ario Damar atau Ario Abdillah ke semenanjung Sumatera bagian selatan, menyebarkan dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Sumatera.
Kemudian Londo (Belanda) datang. Mereka semua – seluruh kerajaan yang dulu dari Jawa – bersatu melawan Belanda.

Ketika Belanda pergi, bersepakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka kawasan di Indonesia disebut wilayah, artinya tinggalan para wali. Jadi, jika anda meneruskan agamanya, jangan lupa kita ditinggali wilayah. Inilah Nahdlatul Ulama, baik agama maupun wilayah, adalah satu kesatuan: NKRI Harga Mati.

Maka di mana di dunia ini, yang menyebut daerahnya dengan nama wilayah? Di dunia tidak ada yang bisa mengambil istilah: kullukum raa’in wa kullukum mas uulun ‘an ra’iyatih ; bahwa Rasulullah mengajarkan hidup di dunia dalam kekuasaan ada sesuatu yaitu pertanggungjawaban.

Dan yang bertanggungjawab dan dipertanggung jawabkan disebut ra’iyyah. Hanya Indonesia yang menyebut penduduknya dengan sebutan ra’iyyah atau rakyat. Begini kok banyak yang bilang tidak Islam.

Nah, sistem perjuangan seperti ini diteruskan oleh para ulama Indonesia. Orang-orang yang meneruskan sistem para wali ini, dzaahiran wa baatinan, akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Kenapa kok bernama Nahdlatul Ulama. Dan kenapa yang menyelamatkan Indonesia kok Nahdlatul Ulama? Karena diberi nama Nahdlatul Ulama. Nama inilah yang menyelamatkan. Sebab dengan nama Nahdlatul Ulama, orang tahu kedudukannya: bahwa kita hari ini, kedudukannya hanya muridnya ulama.

Meski, nama ini tidak gagah. KH Ahmad Dahlan menamai organisasinya Muhammadiyyah: pengikut Nabi Muhammad, gagah. Ada lagi organisasi, namanya Syarekat Islam, gagah. Yang baru ada Majelis Tafsir Alquran, gagah namanya. Lha ini “hanya” Nahdlatul Ulama. Padahal ulama kalau di desa juga ada yang hutang rokok.

Tapi Nahdlatul Ulama ini yang menyelamatkan, sebab kedudukan kita hari ini hanya muridnya ulama. Yang membawa Islam itu Kanjeng Nabi. Murid Nabi namanya Sahabat. Murid sahabat namanya tabi’in . Tabi’in bukan ashhabus-shahabat , tetapi tabi’in , maknanya pengikut.

Murid Tabi’in namanya tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikut. Muridnya tabi’it-tabi’in namanya tabi’it-tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikutnya pengikut. Lha kalau kita semua ini namanya apa? Kita muridnya KH Hasyim Asy’ari.

Lha KH Hasyim Asy’ari hanya muridnya Kiai Asyari. Kiai Asyari mengikuti gurunya, namanya Kiai Usman. Kiai Usman mengikuti gurunya namanya Kiai Khoiron, Purwodadi (Mbah Gareng). Kiai Khoiron murid Kiai Abdul Halim, Boyolali.

Mbah Abdul Halim murid Kiai Abdul Wahid. Mbah Abdul Wahid itu murid Mbah Sufyan. Mbah Sufyan murid Mbah Jabbar, Tuban. Mbah Jabbar murid Mbah Abdur Rahman, murid Pangeran Sambuh, murid Pangeran Benowo, murid Mbah Tjokrojoyo, Sunan Geseng.

Sunan Geseng hanya murid Sunan Kalijaga, murid Sunan Bonang, murid Sunan Ampel, murid Mbah Ibrahim Asmoroqondi, murid Syekh Jumadil Kubro, murid Sayyid Ahmad, murid Sayyid Ahmad Jalaludin, murid Sayyid Abdul Malik, murid Sayyid Alawi Ammil Faqih, murid Syekh Ahmad Shohib Mirbath.

Kemudian murid Sayyid Ali Kholiq Qosam, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Ahmad Al-Muhajir, murid Sayyid Isa An-Naquib, murid Sayyid Ubaidillah, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Ali Uraidi, murid Sayyid Ja’far Shodiq, murid Sayyid Musa Kadzim, murid Sayyid Muhammad Baqir. Sayyid Muhammad Baqir hanya murid Sayyid Zaenal Abidin, murid Sayyidina Hasan – Husain, murid Sayiidina Ali karramallahu wajhah . Nah, ini yang baru muridnya Rasulullah saw.

Kalau begini nama kita apa? Namanya ya tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit…, yang panjang sekali. Maka cara mengajarkannya juga tidak sama. Inilah yang harus difahami.

Rasulullah itu muridnya bernama sahabat, tidak diajari menulis Alquran. Maka tidak ada mushaf
Alquran di jaman Rasulullah dan para sahabat. Tetapi ketika sahabat ditinggal wafat Rasulullah, mereka menulis Alquran.

Untuk siapa? Untuk para tabi’in yang tidak bertemu Alquran. Maka ditulislah Alquran di jaman Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman. Tetapi begitu para sahabat wafat, tabi’in harus mengajari dibawahnya.

Mushaf Alquran yang ditulis sahabat terlalu tinggi, hurufnya rumit tidak bisa dibaca. Maka pada tahun 65 hijriyyah diberi tanda “titik” oleh Imam Abu al-Aswad ad-Duali, agar supaya bisa dibaca.

Tabiin wafat, tabi’it tabi’in mengajarkan yang dibawahnya. Titik tidak cukup, kemudian diberi “harakat” oleh Syekh Kholil bin Ahmad al-Farahidi, guru dari Imam Sibawaih, pada tahun 150 hijriyyah.

Kemudian Islam semakin menyebar ke penjuru negeri, sehingga Alquran semakin dibaca oleh banyak orang dari berbagai suku dan ras. Orang Andalusia diajari “ Waddluha” keluarnya “ Waddluhe”.

Orang Turki diajari “ Mustaqiim” keluarnya “ Mustaqiin”. Orang Padang, Sumatera Barat, diajari “ Lakanuud ” keluarnya “ Lekenuuik ”. Orang Sunda diajari “ Alladziina ” keluarnya “ Alat Zina ”.

Di Jawa diajari “ Alhamdu” jadinya “ Alkamdu ”, karena punyanya ha na ca ra ka . Diajari “ Ya Hayyu Ya Qayyum ” keluarnya “ Yo Kayuku Yo Kayumu ”. Diajari “ Rabbil ‘Aalamin ” keluarnya “ Robbil Ngaalamin” karena punyanya ma ga ba tha nga.

Orang Jawa tidak punya huruf “ Dlot ” punyanya “ La ”, maka “ Ramadlan ” jadi “ Ramelan ”. Orang Bali disuruh membunyikan “ Shiraathal…” bunyinya “ Sirotholladzina an’amtha ‘alaihim ghairil magedu bi’alaihim waladthoilliin ”. Di Sulawesi, “’ Alaihim” keluarnya “’ Alaihing ”.

Karena perbedaan logat lidah ini, maka pada tahun 250 hijriyyah, seorang ulama berinisiatif menyusun Ilmu Tajwid fi Qiraatil Quran , namanya Abu Ubaid bin Qasim bin Salam. Ini yang kadang orang tidak paham pangkat dan tingkatan kita. Makanya tidak usah pada ribut.

Murid ulama itu beda dengan murid Rasulullah. Murid Rasulullah, ketika dzikir dan diam, hatinya “online” langsung kepada Allah SWT. Kalau kita semua dzikir dan diam, malah jadinya tidur.
Maka disini, di Nusantara ini, jangan heran.

Ibadah Haji, kalau orang Arab langsung lari ke Ka’bah. Muridnya ulama dibangunkan Ka’bah palsu di alun-alun, dari triplek atau kardus, namanya manasik haji. Nanti ketika hendak berangkat haji diantar orang se-kampung.

Yang mau haji diantar ke asrama haji, yang mengantar pulangnya belok ke kebun binatang. Ini cara pembelajaran. Ini sudah murid ulama. Inilah yang orang belajar sekarang: kenapa Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama selamat, sebab mengajari manusia sesuai dengan hukum pelajarannya ulama.

Anda sekalian disuruh dzikir di rumah, takkan mau dzikir, karena muridnya ulama. Lha wong dikumpulkan saja lama kelamaan tidur. Ini makanya murid ulama dikumpulkan, di ajak berdzikir.

Begitu tidur, matanya tidak dzikir, mulutnya tidak dzikir, tetapi, pantat yang duduk di majelis dzikir, tetap dzikir. Nantinya, di akhirat ketika “wa tasyhadu arjuluhum ,” ada saksinya. Orang disini, ketika disuruh membaca Alquran, tidak semua dapat membaca Alquran. Maka diadakan semaan Alquran.

Mulut tidak bisa membaca, mata tidak bisa membaca, tetapi telinga bisa mendengarkan lantunan Alquran. Begitu dihisab mulutnya kosong, matanya kosong, di telinga ada Alqurannya.

Maka, jika bukan orang Indonesia, takkan mengerti Islam Indonesia. Mereka tidak paham, oleh karena, seakan-akan, para ulama dulu tidak serius dalam menanam. Sahadatain jadi sekaten. Kalimah sahadat jadi kalimosodo. Ya Hayyu Ya Qayyum jadi Yo Kayuku Yo Kayumu.

Ini terkesan ulama dahulu tidak ‘alim. Ibarat pedagang, seperti pengecer. Tetapi, lima ratus tahun kemudian tumbuh subur menjadi Islam Indonesia. Jamaah haji terbanyak dari Indonesia. Orang shalat terbanyak dari Indonesia. Orang membaca Alquran terbanyak dari Indonesia.

Dan Islam yang datang belakangan ini gayanya seperti grosir: islam kaaffah, begitu diikuti, mencuri sapi. Dilihat dari sini, saya meminta, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, jangan sekali-kali mencurigai Nahdlatul Ulama menanamkan benih teroris.

Teroris tidak mungkin tumbuh dari Nahdlatul Ulama, karena Nahdlatul Ulama lahir dari Bangsa Indonesia. Tidak ada ceritanya Banser kok ngebom disini, sungkan dengan makam gurunya. Mau ngebom di Tuban, tidak enak dengan Mbah Sunan Bonang.

Saya yang menjamin. Ini pernah saya katakan kepada Panglima TNI. Maka, anda lihat teroris di seluruh Indonesia, tidak ada satupun anak warga jamiyyah Nahdlatul Ulama. Maka, Nahdlatul Ulama hari ini menjadi organisasi terbesar di dunia.

Dari Muktamar Makassar jamaahnya sekitar 80 juta, sekarang di kisaran 120 juta. Yang lain dari 20 juta turun menjadi 15 juta. Kita santai saja. Lama-lama mereka tidak kuat, seluruh tubuh kok ditutup kecuali matanya. Ya kalau pas jualan tahu, lha kalau pas nderep di sawah bagaimana. Jadi kita santai saja. Kita tidak pernah melupakan sanad, urut-urutan, karena itu cara Nahdlatul Ulama agar tidak keliru dalam mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad saw.
Ilustrasi
Menebarkan Islam dengan Damai, Tidak Melaknat dan Mencaci Maki Orang-Kelompok (1)

Oleh: NUR KHOLIK RIDWAN

Dalam bebagai sejarah babad dan cerita lokal, disebutkan bahwa para pendakwah Islam di kalangan para wali itu, menampilkan Islam melalui jalan yang baik, dengan perkataan-perkataan yang baik, melalui perguruan; melalui dakwah keliling; melalui ikatan pernikahan; melalui penguatan ekonomi, melalui budaya-seni, dan lain-lain. Melalui jalan kekuasaan politik, ditempuh setelah jalan kultural itu menjadi dasar utamanya, dan kekuasaan politik hanya menjadi salah satu jalan saja. Ketika jalan kekuasaan politik hancur, tidak masalah, dan dibangun lagi melalui cara-cara yang sesuai dengan keadaannya, karena fondasi utamanya diletakkan melalui jalan kultural dan dakwah yang damai dan ramah, melalui basis-basis kultural.

Dan, jalan inilah yang ditempuh umat Islam di Nusantara sejak awal, dan diteruskan para penerusnya hingga hari ini. Dalam dakwah mereka itu, para wali menampilkan ajaran-ajaran Islam, dan tidak mengungkapkan ungkapan-ungkapan kebencian, tidak bahasa olok-olok, dan tidak mencaci maki.

Syaikh Nurjati di Gunung Amaparan Jati, seperti disebutkan dalam PWSBC menyebutkan: “Bahwa tiap-tiap orang (Islam) harus memiliki empat pokok, yaitu kebaikan budi, kemurahan hati, sopan santun-merendah diri-jangan takabur–jangan congkak; melakukan pengetahuan dengan hati-hati, jangan sampai dikatakan orang bahwa ia tidak baik dan tidak benar.” Syaikh Nurjati juga memberi pesan kepada Ki Somadullah (Walangsungsang) bahwa “Perhiasan ilmu itu adalah perbuatan secara hati-hati tidak sembarangan…” (hlm. 25-26)

Agar hati-hati itu, menurut Sunan Ampel yang juga diceritakan dalam PWSBC:  “Hendaknya kita membendung hawa nafsu, karena setan selalu menggoda manusia melalui hawa nafsu. Andaikata hawa nafsu dibiarkan  dipengaruhi setan, niscaya segala peraturan akan dilanggar dan akhirnya segala peraturan akan dilanggar dan manusia akan berantakan.” (hlm. 111).

Sedangkan Syaikh Ibrahim (Maulana Malik Ibrahim) seperti dituturkan dalam Kropak Ferrara, menyebutkan dalam wejangannya: “Jangan takabur dan berbangga diri, jangan sombong dan meremehkan orang, dan jangan mengagungkan diri karena kekuasaan dan sebab berharta” (wejangan No. 22).

Islam yang disebarkan para wali, sejak awal digariskan melalui kehati-hatian dan tidak boleh meremehkan orang, sebab sikap meremehkan dan tidak hati-hati itu bagian dari hawa nafsu yang merusak. Hati-hati dalam menyampaikan kepada orang-orang dilakukan agar yang tampak dari Islam dan pemeluk Islam adalah akhlak yang baik. Sebegitu pentingnya arti para pendakwah dalam menyebarkan Islam, lebih penting lagi adalah kalau dia berdakwah dengan ilmu yang ditampilkan atau disampaikan secara hati-hati, awas, dan tidak meremehkan orang.

Mereka menyadari bahwa Islam yang didakwahkan kepada manusia Jawa, mengharuskan upaya melalui peramuan, pemahaman, dan kearifan. Jalan damai dalam Islam kultural di Jawa ini, sejauh kita pelajari dari berbagai wejangan-wejangan dan naskah-naskah, tidak disampaikan dengan kasar, sembrono, mencaci maki dan menghina orang. Sebab, hal-hal seperti ini, bukan hanya akan menimbulkan kerugian bagi penampakan Islam, tetapi juga bagi diri mereka sendiri dan masyarakat, bahkan akibat buruk pada saat kematian.

Memang dalam berbagai wejangan itu, ditampilkan hikmah-hikmah para wali di Jawa, dan tidak menjelaskan dari sudut pengutipan riwayat dan penafsiran dari ayat-ayat Al-Qur’an. Hal ini masuk akal, mengingat saat itu yang diperlukan adalah bimbingan-bimbingan ringkas, bersifat mendasar, tanpa harus menyebut-nyebut sumbernya, sehingga mudah dicerna. Mereka menyadari bahwa soal huda, petunjuk, memberi adzab, dan menjadikan orang baik, dan buruk, semuanya adalah atas kehendak dan perkenan Alloh, dan para dai hanya menyampaikan, dan menjalankan perintah-perintah yang diperoleh melalui apa yang difahami dari bacaan-bacaan mereka, dan juga ilham-ilham yang mereka terima atau mimpi-mimpi yang mereka alami, seperti mimpi Walangsungsang bertemu Nabi Muhammad.

Al-Qur’an Melarang Mendoakan Keburukan dan Melaknat

Ketika hikmah-hikmah para wali Jawa hal itu dibaca pada saat ini, ketika ilmu-ilmu keislaman berkembang (baik secara positif dan negatif sekaligus), maka hikmah-hikmah demikian dirasa memerlukan pencarian dasar-dasarnya, di tengah gempuran retorika kembali ke Al-Qur’an dan hadits cukup kuat, dan agar generasi baru tidak kehilangan pijakan oleh retorika Islam yang disebarkan dengan simbol-simbol yang membuat gaduh, melalui bahasa-bahasa yang mencaci mak, kasar, dan melaknati orang.
Dalam hal ini, Alloh menegaskan soal urusan orang bertaubat, memberikan keburukan, dan kebaikan sekalipun, itu hanya milik Alloh; dan karenanya, Nabi Muhammad hanya bertindak sebagai penyampai, penyeru, pengajak, dan kemudian menegakkan hukum-hukumnya dengan seimbang.

Alloh berfirman dalam QS. Ali Imron ayat 128, yang berbunyi demikian:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ اَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَاِنَّهُمْ ظٰلِمُوْنَ

Artinya:

“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.”

Penjelasan yang lengkap soal riwayat-riwayat tentang ayat di atas disebutkan oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Ad-Durrul Mantsur fit Tafsir bil-Ma’tsur (Juz III: 760-763), begini:

Melalui jalan sahabat Anas

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Imam Ahmad, Abdu bin Humaid, Imam al-Bukhori, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam an-Nasa’i, Abu Ya’la, Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim, An-Nuhas di dalam kitab Nashikh-nya dan al-Hafizh al-Baihaqi dalam kitab ad-Dala’il meriwayatkan dari sahabat Anas, bahwa Nabi Muhammad telah pecah giginya yang keempat, dan wajahnya dilukai sehingga mukanya berlumuran darah, maka beliau berkata: “Bagaimana bisa suatu kaum bahagia  yang berbuat demikian terhadap kaumnya yang mengajak mereka kepada Tuhannya. Maka turunlah ayat surat Ali Imron ayat 128.

Perkataan Qotadah, Ar-Robi’, dan al-Hasan

Riwayat Ibnu Jarir dari Qotadah menyebut ayat ini turun dalam kasus perang Uhud, lalu Nabi berdoa sama dengan di atas. Riwayat dari Ar-Rabi’, menyebutkan ayat di atas berkaitan denga kasus perang Uhud, yang menyebabkan giginya Nabi pecah dan wajahnya dilukai, lalu berdoa untuk memperolah huda dan dholalah, dan mendoakan kepada mereka untuk masuk surga dan neraka, maka turunlah ayat ini. Riwayat Ibnu Humaid dari al-Hasan, menyebut ayat ini berkaitan dengan perang Uhud, yang menyebabkan gigi Nabi pecah dan wajahnya dilukai, lalu berdoa untuk mereka, lalu turunlah ayat ini (yang meluruskannya).

Melalui jalan Salim

Dalam riwayat Abdurrazaq, Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir dari Qotadah, menceritakan bahwa Salim Maula Abi Hudzaifah yang membasuh darah Nabi Muhammad (ketika wajahnya terluka), dan Nabi kemudian berkata: “Tidaklah bahagia sebuah kaum…. sampai turunnya ayat ini.”

Melalui jalan Ibnu Umar

Pertama, diriwayatkan Imam al-Bukhori, Imam Ahmad, Imam Nasa’i, Ibnu Jarir, dan al-Baihaqi dalam kitab ad-Dala’il, dari Ibnu Umar yang berkata, Rosulullah bersabda: “Ya Alloh, laknatlah Abu Sufyan, Ya Alloh laknatlah Suhail bin Amru, Ya Alloh laknatlah Shofwan bin Umayyah, maka turunlah ayat ini…” Maka diterima taubat mereka semua.

Kedua, diriwayatkan Imam Tirmidzi dan menshahihkannya, Ibu Jarir, Ibnu Abi Hatim dari Ibu Umar berkata: “Nabi Muhammad shollallohu alai wasallam berdoa selama 4 bulan (doa tentang keburukan kepada seseorang-kaum), maka Alloh menurunkan ayat ini. Maka Alloh memberi hidayah kepada mereka untuk masuk Islam.

Ketiga, ada juga riwayat Ibnu Ishaq, an-Nuhas di dalam kitab Nashikhnya, dari Salim bin Abdullah bin Umar berkata: “Seorang laki-laki Quraisy datang kepada Nabi: Engkau mencegah dari melakukan mencaci maki, sungguh telah mencaci maki orang Arab.” Orang itu sambil membalik dan menungging sehingga terlihat kemaluannya. Maka Nabi melaknat dan mendoakannya, maka turunlah ayat ini. Kemudian laki-laki itu menjadi Islam dan baik Islamnya.

Keempat, diriwayatkan dari Ibnu Umar juga bahwa, Nabi melaknat dalam sholat fajar setelah ruku di  dalam raka`at yang akhir: “Ya Alloh laknatlah fulan dan fulan”, kepada manusia dari kalangan munafiqin dan mendoakan kepada mereka, maka turunlah ayat ini.

Melalui jalan Abu Hurairah

Diriwayatkan Imam al-Bukhori, Imam Muslim, Ibu Jarir, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim, An-Nuhas di dalam kitab Nashikhnya, al-Baihaqi dalam Sunannya, dari Abu Hurairah rodhiyallohu `anhu berkata “bahwa Rosulullah apabila hendak mendoakan dari seseorang atau bagi seseorang, maka beliau berkata setelah membaca sami`allohu liman hamidah: “Ya Alloh Pengatur kami, selamatkanlah Khalid bin al-Walid, dan Salamah bin Hisyam, Ayasy bin Abi Rabi’ah, dan al-mustadh`afin dari orang-orang mukmin … berkata dengan jahar dalam hal itu. dan Rasulullah berkata di dalam sebagian sholatnya pada sholat fajar: “Ya Alloh laknatlah fulan dan fulan, untuk kehidupan dari kehidupan orang-orang Arab”, sampai Alloh menurunkan surat Ali Imron ayat 128. Dan di dalam lafazh yang lain, Rosulullah berdoa: “Ya Alloh laknatlah Lihyan, Ri’lan, Dzakwan, Ushaiyyah, yang telah bermaksiat kepada Alloh dan Rosulnya, kemudian sampai kepada kami (berita) bahwa beliau meninggalkan itu (annahu taraka dzalika), ketika diturunkan ayat surat Ali Imron ayat 128.

Melacak riwayat pada Shohih al-Bukhori, dalam kitab tafsirnya, tentang ayat ini, yang bersumber dari riwayat Salim dari ayahnya (hadits No. 4559) dan dari riwayat Abu Hurairah (No. 4560), demikian bunyinya:

عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي سَالِمٌ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ مِنَ الْفَجْرِ يَقُولُ: (اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلاَنًا وَفُلاَنًا وَفُلاَنًا). بَعْدَ مَا يَقُولُ: (سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ). فَأَنْزَلَ اللَّهُ: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ} إِلَى قَوْلِهِ: {فَإِنَّهُمْ ظَا

Artinya:

“Dari az-Zuhri berkata, Salim mengabarkan kepadaku, dari ayahnya, bahwa Rosulullah apabila setelah mengangkat kepalanya dari ruku di dalam rakaat akhir sholat fajar, beliau berkata: “Ya Alloh laknatlah fulan, dan fulan, dan fulan, setelah beliau membaca samillohu liman hamidah robbana walakal hamdu,” maka Alloh mewahyukan (saat itu) ayat: “Laisa laka minal amri syai’un” sampai ayat “fa’innahum zholimun” (QS. Ali Imron [3]:

 عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ وَأَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى أَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ لأَحَدٍ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ، فَرُبَّمَا قَالَ إِذَا قَالَ: ((سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ، وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ، وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ)). يَجْهَرُ بِذَلِكَ وَكَانَ يَقُولُ فِي بَعْضِ صَلاَتِهِ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ: ((اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلاَنًا وَفُلاَنًا)). لأَحْيَاءٍ مِنَ الْعَرَبِ، حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ} الآيَةَ.00

Artinya:

“Dari Said bin Mutsayyab dan Abi Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairoh rodhiyallohu `anhu: “Bahwasanya Rosulullah apabila hendak mendoakan dari seseorang atau bagi seseorang, maka beliau berkata setelah membaca sami`allohu liman hamidah “Ya Alloh Pengatur kami, selamatkanlah Khalid bin al-Walid, dan Salamah bin Hisyam, dan Ayasy bin Abi Rabiah… dan Rasulullah berkata di dalam sebagian sholatnya pada sholat fajar: “Ya Alloh laknatlah fulan dan fulan, untuk kehidupan orang-orang Arab”, sampai Alloh menurunkan surat Ali Imron ayat 128.

Riwayat-riwayat di atas menyebutkan ada beberapa sebab diturunkannya ayat ini, di antaranya ada yang berhubungan dengan perang Uhud, orang-orang non Islam Quraisy,  perilaku seseorang yang mencaci maki di depan Nabi, dan doa Nabi untuk melaknat orang-orang munafiqin, termasuk juga doa kepada kaum Lihyan, Ri’il, Dzakwan, dan Ushaiyyah. Semuanya, disebut sebagai sebab-sebab turunnya surat Ali Imron ayat 128, melalui jalur riwayat masing-masing.
Keterangan yang menarik dari riwayat-riwayat yang dijelaskan Imam as-Suyuthi di atas adalah perkataan:

“Tsumma balaghona annuhu taraka dzalika” (kemudian sampai riwayat kepada kami, sesungguhnya Nabi meninggalkan doa yang demikian itu).
“Fahadahumullohu lil Islam” (Alloh kemudian memberi hiayah mereka untuk masuk Islam).
“Fatiba alaihim kullahum” (maka diterima taubat mereka semuanya).
“Tsumma aslama ar-rujulu fahasuna islamuhu” (Kemudian laki-laki itu masuk Islam, maka baik  Islamnya).

Berdasarkan hal ini, menjadi sangat jelas, Nabi Muhammad kemudian menghentikan untuk mendoakan kejelekan kepada orang-orang, baik kepada orang-orang yang tidak Islam atau orang munafiq. Bahkan di antara mereka kemudian ada yang masuk Islam dan disebut sebagai “baik Islamnya”; dan disebut taubatnya diterima semua; dan Alloh memberi hidayah kepada mereka.

Imam al-Mawardhi dalam tafsir an-Nukat wal `Uyun Tafsirul Mawardhi (versi Darul Kutub al-Ilmiyyah dan Mu’assasah al-Kutub ats-Tsaqofiyah, Beirut, I: 420-421) menyebutkan, ayat ini mengandung perkataan-perkataan begini:

“Salah satunya, bukanlah termasuk urusanmu (Nabi Muhammad) untuk memberi keburukan dan kebaikan mereka, dan sesungguhnya itu (kembali) kepada Alloh, untuk menerima taubatnya atau mengadzab mereka; kedua, dan bukan urusanmu apa yang engkau kehendaki kepadanya dan berbuat kepadanya dalam persoalan sahabat-sahabatmu dan perkara-perkara mereka, dan sesungguhnya hal itu (kembali) kepada Alloh apa yang diperbuat-Nya dengan kelembutan kepada mereka di dalam taubat dan perbaikan atau mengadzab dan mencelanya.”

Perkataan ini memberi pengertian yang terang bahwa berdoa untuk keburukan atau kelaknatan secara khusyu’ kepada Alloh (tidak di hadapan orang yang dihina dan tidak dihadapan publik) yang dilakukan orang yang dicintai Alloh, yaitu Nabi Muhammad, pernah dilakukan, tetapi kemudian dikoreksi oleh Alllah; juga menghina kepada kaum non-Islam Quraisy, juga dikoreksi dan ditinggalkan.

Ayat di atas juga bukti adanya wahyu yang menghendaki dakwah dan ajakan kepada Islam itu dilakukan dengan damai dan ajakan yang baik, sebab soal mengadzab, melaknat, memberikan keburukan, dan juga sebaliknya soal hidayah, kelembutan, dan penerimaan taubat yang ada dalam diri orang-orang, hanyalah milik Alloh. Mereka yang menjadikan alasan Nabi melaknat kaum Lihyan, Ri’il, Dzakwan dan Ushaiyyah, untuk melaknat orang dan mencaci orang dalam dakwah, dikatakan oleh riwayat Imam as-Suyuthi di atas: “Tsumma balaghona annuhu taraka dzalika” (kemudian sampai pada kami riwayat, bahwa Nabi meninggalkan itu) dengan diturunkannya ayat itu, yaitu surat Ali Imron ayat 128.

Riwayat soal Lihyan, Ri’il, Dzakwan dan Ushaiyyah itu, dalam Shohih Bukhori disebutkan pada hadits No. 4088, dan akan diulas tersendiri. Ini memberi pengertian bahwa dalam kasus mendoakan keburukan kepada kaum Lihyan, Ri’il, Dzakwan dan Ushaiyyah itu, dilakukan Nabi setelah dibunuhnya 70-an qurra’ kiriman Nabi di Bi'ru Maunah, yang menggetarkan umat Islam dan Nabi. Akan tetapi praktik ini telah ditinggalkan karena ada ayat surat Ali Imran yang turun, sebagaimana disebut Imam as-Suyuthi di atas.

Oleh karena itu, menjadikan alasan kasus doa keburukan kepada Lihyan, Ri’il, Dzakwan dan Ushaiyyah itu, pada saat ini untuk melaknati, mencaci maki, dan sejenisnya dengan kata-kata buruk itu di hadapan banyak orang, atau dilakukan kepada orang yang tidak Islam sekalipun; atau kepada orang yang sudah beragama Islam, tidaklah tepat, dan justru menjadi tanda dari perilaku buruk yang tidak mau mengambil perilaku Nabi Muhammad sebagai teladan, dan Al-Qur’an sebagai dala’il. Wallohu a’lam.

Bersambung.

KH Siroj Payaman berdiri di belakang KH Dalhar Watucongol (depan). Foto: Nu Online.
Oleh Idammatussilmi
Mahasiswi Prodi PGMI STAINU Temanggung
  
Biodata Jurnal
Judul Jurnal: Mengkaji Kearifan Kyai Siradj dalam Merengkuh Masyarakat Melalui Irang-Irang Sekar Panjang
Nama Penulis: Baedhowi
Penerbit: STAINU PRESS TEMANGGUNG
ISSN/EISSN: 1979-5866
Vol/No: Edisi 7 Vol. IV,  April
Tahun: 2008
Sumber: Jurnal Ilmiah, Citra Ilmu, Kajian Budaya dan Keislaman, Temanggung: Sekolah Tinggi Islam Nahdlatul Ulama Temanggung, 2008.
Tebal Halaman: 127-143


Sejarah Naskah
Naskah Irang-Irang Sekar Panjang adalah naskah yang secara historis dipengaruhi oleh kondisi masyarakat lokal (Payaman dan sekitarnya) yang masih deka dengan budaya abangan (hlm 132). Melalui naskah ini, Kyai Siradj ingin melihat budaya kaum abanngan yang masih sangat luas dengan ajaran-ajaran Islam melalui kesenian atau budaya Jawa yang masih dilakukan oleh masyarakatnya disekitarnya.

Dari kenyataan yang muncul seperti itu,  Kyai Siradj mencoba memberikan nasehat-nasehat kepada masyarakatnya di waktu sela-sela pengajian seminggu sekali atau seninan (tiap hari senin). Akan tepapi karena sebagian dari jama’ah  tersebut adalah orang-orang yang mua’laf sehingga kurang minatnya untuk mempelajari Islam lebih dalam lagi. Kyai Siradj mencoba membuat metode dengan tembang-tembang bernuansa Islam atau semacam suluk. Isi dari suluk tersebut mengandung beberapa pengajaran seperti taukhid, fikih tasawuf dan lainya yang berhubungan dengan agama.

Dalam menjalankan dakwahnya untuk membangun masyarakat yang masih dalam katagori abangan Kyai Sirad melakukan kegiatan pengajian dalam seminggu sekali dengan jama’ahnya, tentu beliau juga melihat situasi dan kondisi jama’ahnya baik secara sosiologis maupun psikologis yang tentunya juga mengalami perubahan-perubahan sedikit demi sedikait, sehingga apa yang ajarkan  dalam naskah Irang-Irang sepertinya juga mengikuti kondisi masyaraka tersebut.

Kyai Siradj sangat memahami bahwa bab-bab yang dituangkan dalam Irang-Irang tampak melompat-lompat dan tidak sistematis serta secara tematis tidak ada pembagian pada setiap juznya. Kekurang sistematisan bab-bab yang dituangkan dalam Irang-Irang juga dipahami karena biasanya sebelum pengajian Kyai Siradj dimulai terlebih dahulu didahului dengan mendendangkan tembang Irang-Irang yang disampaikan oleh Kyai Kurmen (sebagai penulis naskah) dan sekaigus juga sebagai pentafsir dari naskah tersebut dalam pengajian pembuka (hlm 133). Isi dari naskah-naskah itu  semuanya hasil dari penegajhian yang disampaikan oleh Kyai Siradj. Kumpulan nari naskah tersebut akhirnya dikumpulkan dan dibawa oleh Sayyid Abdurrahman bin Husain al-Idrus, Muntilan, Magelang dan sampai pada saat ini masih terus dicetak ulang dan digandakan oleh keluarganya.

Bahan Isi Naskah/ Sisi Ajaran
Kandungan yang terdapat dalam naskah tersebut sebenarnya banyak diambil dari al-Qur’an maupun Hadist Nabi. Meskipun diambil dari al-Qur’an dan Hadis Kyai Siradj juga cukup tanggap dan cermat dengna kondisi masyarakat didaerahnya (daerah magelang dan sekitarnya) dan Jawa Tengah Tinur pada umumnya yang telah lama mengenal tembang-tembang Jawa melalui mocopat, geguritan, tembang suluk, Irang-Irang yang masih diapresiasi masyarakat Jawa sebagai  budaya dan kesenian miliknya.

Dengan pemahaman masyarakat yang seperti itu, Kyai Siradj mempunyai ide untuk merubah  kesenangan mereka. Hal ini terbukti dari bagaimana beliau tetap masih mau memperhatikan budaya mayarakat sekitarnya, meskipun itu hanya digunakan sebagai perantara (wasilah) atau strategi dakwah untuk menyampaikan nilai-nilai keimanan dan keislaman (hlm134). Kedua aspek sangat mendukung Kyai Siradj dalam membuat naskah Irang-Irang Panjang. Dari kedua hal tersebut yang menjadi dasr isi dari naskah Irang-Irang Sekar Panjang.

Aspek Keimanan
Dalam naskah Irang-Irang tampak aspek keimanan yang disematkan Kyai Siradj dalam tuangan tembang-tembangnya. Aspek keimanan yang diberikan Kyai Siradj kepada jama’ahnya dengan memberikan bekal dan persiapan diri manusia terhadap kehidupan manusia di akhirat nanti. Jadi pengajaran aspek keimanan yang ada dalam naskah ini selalu dikaitkan dengan kehidupan nanti di akhirat.. Alasan yang berkaitan dengan soal keakhiratan sangat jelas dan banyak diterangkan dalam al-Qur’an sebagai bentuk kehidupan dimasa depan.

Hanya saja untuk memberikan gambaran tentang akhirat bagi orang awam perlu adanya pemahaman-pemahaman dalam bentuk adanya kebangkitan manusia pada hari akhir nanti dengan mempertimnagkan amal perbuatan yang dibawanya. Dengan pertimbangan amal tersebut manusia akan dibawa ke surga atau ke neraka untuk mempertanggung perbuatanya selagi di dunia. Dengan segala kepedihan maupun kenikmatan yang bisa dirasakan secara fisik. Hal ini juga ditegaskan dalam tembang-tembangnya. Penegasan tersebut, juga sejalan dengan hadist Nabi yang menganjurkan kehidupan di dunia ini sebagai sarana semata untuk mencapai kehidupan yang lebih abadi di akhirat.

Kyai Siradj menjadi seorang ulama dengan penuh kearifanya. Kyai Siradj semakin mendapat simpati masyarakatnya. Prinsip yang visioner dalam memandangan jamaah melalui kacamata kasih sayang (yandruzu al-ummah bin ain al-rahman) tampak nyata, kepedullianya sejakk awal adalah dalam menyelamatkan keimanan mereka (hlm 135).

Contoh pada juz kedua, telah didahului dengan bab tentang cara memperoleh ilmu (bab nggolek ngelmu) pengarang baru menybutkan tentang aspek keimanan, misalnya tentang bab,”Wujude Pengeran” (Bagaimana wujud Tuhan) yang menampakkan cirikhas pandangan tuhan sebagai dzat yang tidak bisa diumpamakan (laisa kamislihi syaiun wahua sami’ul bashir); bab kedua “Iman maring Malaikat” (beriman kepada Malaikat); bab” Nerima Pesten Olo Becik” (Menerima Kepastian Baik dan Buruk dari Tuahan). Kemudian diteruskan dengan bab “Rukune Islam” (Rukun Islam); (Mengetahui sampurnanya Islam); bab”Wongkan Tinggal Sholat” (Orang yang Meninggalkan Sholat); bab “Siksa Kubur terus Neroko” (Siksa Kubur terus dimasukan ke neraka) (hlm 135-136).

Aspek Keislaman
Yang dimaksudkan aspek keislaman dalam naskah Irang-Irang adalah masih adanya unsur kesatuan pandangan Kyai Siradj terhadap unsur theologis, fikih dalam arti luas dan tasawuf. Kasatuan semacam ini juga mencerminkan aspek ideologis Kyai Siradj yang masih setia mengikuti aliran ortodoks yakni, pengikut tulen ahlus Sunah (hlm 137). Hal ini juga terbukti bahwa beliau secara teologis mengikuti faham al-Asy’ari dan dalam fikih banyak mengikuti mazdhab Syafi’i sedangkan dalam bertasawuf pengikut aliran thariqat Szadzaliyyah.

Pandanngan semacam ini meski dalam naskah Irang-Irang Sekar Panjang juz 2, hanya disebut sekilas dalam bab “Ngaweruhi Sampurnane Islam” (Mengetahui Sempurnanya Islam). Kutipan bab tersebut diungkapkan Kyai Siradj yang ada dalam jilid kedua naskah Irang-Irang Sekar Panjang dengan kata-kata:
“Wajib sira ngaweruha # Ing anane Islam ira”;
“Sampurnane Islam iki # Kumpulane patang perkara”;
“Ingkang dingin saka papat # Anane ilmu ma’rifat”;
“Kaping pindo saka papat # Anane ilmu syari’at”;
“Kaping telu saka papat # Anane ilmu thariqat”;
“Kaping pate kanggo tukul # Anane ilmu haqiqat”;

Terjemahan bebasnya: ”Kamu sekalian wajib mengetahui tentang keislaman kamu; Sempurnanya Islam itu disebabkan oleh kumpulnya empat hal; Yang pertama dari empat tersebut: 1. Adanya ilmu ma’rifat; no 2 dari empat, adanya ilmu syari’at; no 3 dari empat, adanya ilmu thariqat; no 4 dari semuanya adalah sebagai sarana menumbuhkan ilmu haqiqat.”(hlm 138)

Lebih dari itu dalam aspek keislaman ini, penulis melihat bahwa Kyai Siradj juga mempunyai kepedulian  terhadap aspek mistik (tasawuf). Namun, karena lagi-lagi dalam naskah ini lebih dipeeruntukkan buat orang awam, maka aspek tasawuf ini hanya ditulis sekilas dan samar-samar sebagai nasihat untuk jama’ahnya. Naskah Irang-Irang sekar panjang ini dibuat bagi orang awam yang masih lemah ilmu keislamnya, sehuingga Kyai Siradj tidak menjelaskan secara terperinci mengenai aspek tasawuf.

Menurut pereview metode dakwah KyaiSiradj dengan naskah Irang-Irang Sekar Panjang ini beliau lebih menekankan kepada Jama’ahnya untuk selalu bertawakal, yang artinya selalu berusaha sekuat tenaganya dan pasrah dengan hasil yang diterimanya sebab beliau menyadari bahwa di dunia ini banyak keinginan manusia tetapi sedikit yang terpenuhi. Hal tersebut menimbulkan kaluh kesah manusia dan sikap putus asa.

Relevansi dan Kontekstualisasi Naskah
Singkat dari kajian tentang Kyai Siradj dan naskah Irang-Irang setidaknya bisa diketahui bagaimana kearifan beliau dalam memperbaiki masyarakatnya. Kepiawaian beliau dalam memenfaatkan modal simbois, modal kultural, modal intelektual (hlm 141).
Secara asketis, pemaknaan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan persoalan duniawi juga perlu ditafsir ulang, misalnya tentang perlunya menjauhi kehidupan duniawi (Zuhud). Hal tersebut bukan berarti kita mesti meninggalkan seluruh aktivitas yang berkaitan dengan persoalan ekonomis, namun kegiatan ekonomis yang produktif jangan sampai menjebak kita dengan hidup yang meterialis dan hedonistis sehingga lupa akan Allah SWT (hlm 143).

Secara estetika, yakni dari sisi irama lagu dan syairnya tembang  Irang-Irang tentunya masih disesuaikan dengan kondisi keyakinan yang lebih modern meskipun semua itu masih memakai bahasa Jawa dan mencerminkan budaya lokal seperti budaya kejawen yang masih kental. Ini berarti tembang Irang-Irang juga memungkinkan untuk dikembangkan dengan bantuan musik modern dalam rangka pendinamisan musikalisasi nilai-nilai islam yang dikemas dalam budaya pop-Jawa. Dengan metode tembang ini akan membuat ketertarikan masyarakan sehingga selain untuk melestarikan budaya adat mereka juga bisa mempelajari Islam yang sepenuhnya.

Kekurangan  
Kekurangan dalam jurmal ilmiah ini menurut pereview adalah

Aspek Bahasa
Terdapat kalimat yang diulang-ulang.
Terdapat beberapa tulisan yang kurang.

Aspek Metode
Telaah konsep
Pada konsep ini kurang begitu menonjol kurang begitu jelas. Karena belum terpapar secara jelas isi penyampaian kepada pembaca tentang ide yang sudah dibahas dalam penelitian Kyai Siradj dalam dakwahnya melalui naskah Irang-Irang Sekar Panjang.

Aspek Isi
Hasil penelitian
Pada jurnal ilmiah ini hasil penelitian dari penulis tidak dijelaskan dan tidak ditulis secara terperinci sehingga pera pembaca menjadi kurang faham.
Simpulan
Pada jurnal ilmiah ini tidak ada kesimpulan dalam penjelasan dari meteri yang diteliti.

Kelebihan
Kekurangan dalam jurmal ilmiah ini menurut pereview adalah

Aspek Bahasa
Bahasa yang digunakan lugas, jelas dan tepat sasaran.
Bahasa yang digunakan mudah untuk dipahami
Kata yang digunakan dalam jurnal ilmiah ini esuai dengan KBBI..

Aspek Metode
Metode literatur.
Dalam penggunakan metode ini sudah sesuai karena penulis sudah menjelaskan dengan rinci dan masalah penelitan sudah jelas. Penulis sudah memperdalam pengetahuan tentang bidang yang diteliti dan mengetahui hasil penelitian yang berhubungan dan yang sudah pernah dilaksanakan. Mengerahui perkembangan ilmu dari ide materi ynag dipilih dalam jurnal ilmiah.

Aspek Isi
Masalah
Permasalahan yang terjadi dalam jurnal ilmiah ini sangat jelas terlihat. Masalah yang terjadi karena masyarakat khususnya di provinsi Jawa ini yang masih didominasi dengan masyarakat abangan, sehingga dari budaya tersebut menjadikan PR atau tugas Kyai Siradj untuk mengubahnya. 

Rumasan Masalah
Perumusan masalah juga sudah tersusun secara berurutan karena mulai dari biografi Kyai Siradj, dari segi Sejarah naskah, pembahasan isi naskah, sampai pada relevansi dan kontekstualisasi naskah.
Tujuan
Tujuan dalan jurnal ilmiah ini suga sudah sangat jelas yaitu untuk mengenalkan kita pada tokoh ulama yang mengislamisasi dari budaya abangan yang masih melekat di hati masyarakat.

Aspek hasil dan pembahasan
Aspek dan pembahasan dalam jurnal ilmiah ini sudah menjawab solusi dari permasalahan penulis mengenai proses Islamisasi yang dilakukan Kyai Siradj dengan metode Irang-Irang Sekar Panjang. Hasil dari jurnal ilmiah ini disertai dengan bukti-bukti yang cukup jelas.

Aspek Daftar Pustaka
Daftar Pustaka yang dicantum oleh penulis sudah dicantumkan dengan penelitian-penelitian terdahulu sehingga sudah ada bahan pembandingnya.

Kritik dan Saran
Jurnal ilmiah ini telah tersusun sesuai dengan langkah-langkah yang benar. Akan  tetapi masih ada kekurangan. urutan atau sitematika dalam penulisan telah tersusun dengan baik mulai dari judul penelitian, nama penulis, abstrak, pendahuluan, kajian pustaka, metode, hasil dan pembahasan, daftar pustaka. Menurut pereview jurnal ilmiah ini sudah jelas, akan lebih jelasnya lagi jika metode telaah konsep yang disajikan agar lebih rinci dan ditambah dengan dengan bentuk-bentuk strategi yang dilakukan oleh Kyai Siradj dalam dakwahnya, atau metode telaah dan hasil penelitian yang lebih rinci.

Selain itu, dalam jurnal ilmiah ini sebaiknya penulis juga menambahkan kesimpulan agar lebih jelas para pembaca. Secara keseluruhan jurnal ilmiah ini sangat bagus karena penulis sudah mengikuti aturan penulisan yang benar dan daftar pustaka yang dicantum oleh penulis sudah dicantumkan dengan penelitian-penelitian terdahulu sehingga sudah ada bahan pembandingnya.