Semarang, TABAYUNA.com – Setelah dikembangkan oleh Yunita Tiara Riski guru kelas III SDN Sekaran 02 Kota Semarang, beberapa waktu lalu, buku cerita Setiti terbukti efektif sebagai media pembelajaran literasi finansial di SDN Sekaran 02. “Nilai rerata pemahaman literasi finansial meningkat dari skor 53,9 menjadi 88,02. Perubahan sikap murid saat mengelola uang saku sangat signifikan, murid mulai terbiasa menyisihkan uang saku untuk bumbung kemanusiaan, infaq dan menyimpan sisa uang saku di dalam celengan,” beber Yunita pada 21 Juli 2025.
Guru kelas III Yunita Tiara Riski, S.Pd.,
menegaskan bahwa pembelajaran literasi finansial dengan media buku cerita
Setiti sangat efektif. Buku cerita Setiti merupakan judul buku yang menceritakan kisah tokoh
anak usia sekolah dasar yang bernama Setiti, Setia, Sekar dan Tita dalam
mengelola uang mereka. Nama tokoh utama
Setiti mengadaptasi istilah Jawa "Setiti" yang memiliki arti teliti
dan tekun.
Dijelaskan dia, bahwa buku cerita Setiti berbasis
kearifan lokal Kota Semarang dan nilai filosofi karakter masyarakat Jawa dalam
mengelola uang, diantaranya: aja milek barang kang melok, jer basuki mawa
bea, urip iku urup, becik ketitik ala ketara, ajining
diri saka lathi ajining raga saka busana, gemi nastiti ngati-ati. Cerita Setiti memuat 6 materi literasi
finansial sesuai dengan ruang lingkup materi literasi finansial yang
dikemukakan oleh Kemdikbud (2017) yaitu konsep uang, menabung, amal, prioritas,
potensi sumber daya alam, dan anti korupsi. Dalam buku ini juga memuat bahan
pendukung dan penguat pemahaman literasi finansial berupa adiksimbas (apa,
dimana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana dan simpulan), dilengkapi dengan
sekilas info, misi, ‘challenge’, dan kata-kata hari ini.
“Murid antusias membaca buku Setiti, hingga ada yang
ingin membeli buku Setiti karena ceritanya relevan dengan kehidupan mereka.
Mereka ingin membaca buku Setiti di rumah. Beberapa murid selepas kegiatan
pembelajaran literasi menemui saya, menanyakan berapa harga buku Setiti? Dimana
kami bisa membeli buku Setiti?” beber Yunita.
Dengan memanfaatkan warisan budaya,
kearifan lokal, generasi muda dapat belajar dari pengalaman leluhur mereka
tentang bagaimana mengelola uang dengan bijaksana untuk keberlanjutan finansial
jangka panjang.
Tambahkan Komentar