TEMANGGUNG, Tabayuna.com – Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung resmi memulai Asesmen Lapangan (AL) Akreditasi Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, pada Jumat (17/7/2026) di ruang rapat BPP INISNU Temanggung. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 17–18 Juli 2026, menjadi momentum penting bagi institusi untuk menunjukkan komitmen dalam membangun budaya mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan.
Pembukaan asesmen dihadiri oleh jajaran Ketua Dewan Pengurus Badan Pelaksana
Penyelenggara (BPP) INISNU Temanggung, pimpinan institut, sivitas akademika,
dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta para pemangku kepentingan.
Tim asesor dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) yang melakukan
asesmen adalah Dr. H. Akhmad Rifa'i, M.Phil., dosen UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, dan Dr. Dyah Nawangsari, M.Ag., dosen Universitas Islam Negeri Kiai
Haji Achmad Siddiq.
Dalam sambutannya, Rektor INISNU Temanggung, Dr. Hamidulloh Ibda,
M.Pd., menyampaikan bahwa asesmen lapangan bukan sekadar proses penilaian
administratif, melainkan bagian dari ikhtiar institusi untuk terus meningkatkan
kualitas tridarma perguruan tinggi. Ia memaparkan perkembangan INISNU
Temanggung yang kini memiliki tiga unit pengelola program studi (UPPS) dengan
delapan program studi, termasuk dua program studi berakreditasi Unggul, serta
penguatan internasionalisasi melalui berbagai kerja sama akademik dengan
perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di Malaysia, Thailand, Taiwan, hingga
Australia.
Ketua Dewan Pengurus BPP INISNU Temanggung, Drs. H. Nur Makhsun,
M.S.I., menegaskan komitmen badan penyelenggara dalam mendukung peningkatan
mutu akademik melalui penguatan sumber daya manusia, sarana prasarana, jejaring
nasional dan internasional, serta pengembangan kelembagaan. Berbagai capaian
tersebut menjadi bagian dari dukungan BPP terhadap peningkatan kualitas seluruh
program studi di lingkungan INISNU Temanggung.
Mewakili tim asesor, Dr. H. Akhmad Rifa'i, M.Phil. menjelaskan bahwa
asesmen lapangan tidak hanya berorientasi pada dokumen, tetapi lebih jauh
melihat kesungguhan perguruan tinggi dalam mengelola mutu secara berkelanjutan.
Ia mengungkapkan bahwa LAMDIK saat ini telah melakukan perubahan
instrumen akreditasi dari versi 2.0 menuju 3.0. Namun demikian, menurutnya,
perguruan tinggi tidak perlu terfokus pada perubahan instrumen semata.
"Ada perubahan instrumen dari 2.0 ke 3.0 di LAMDIK, tetapi jangan
terlalu dipikirkan. Yang paling penting adalah kesungguhan perguruan tinggi
dalam mengelola mutu," ujarnya.
Menurutnya, dokumen Laporan Evaluasi Diri (LED) merupakan cerminan
kemampuan institusi melakukan evaluasi secara objektif terhadap kondisi yang
sebenarnya.
"Namanya LED itu harus mengevaluasi diri sendiri secara
objektif," tegasnya.
Ia menambahkan, tujuan utama akreditasi bukan sekadar memperoleh nilai
terbaik, melainkan membangun kepercayaan masyarakat terhadap mutu perguruan
tinggi. "Akreditasi itu membangun kepercayaan masyarakat, mahasiswa, dan
para stakeholders," katanya.
Rifa'i juga mengapresiasi perkembangan pendidikan tinggi di Temanggung.
Menurutnya, masyarakat kini memiliki pilihan untuk memperoleh pendidikan
berkualitas tanpa harus pergi ke kota besar.
"Tidak harus ke Jogja, tetapi di Temanggung sudah ada perguruan
tinggi yang berkembang. Namun kalau di Jogja sudah lebih maju, itu harus
dikejar, harus terus mengikuti perkembangan, jangan sampai lengah,"
pesannya.
Sementara itu, Asesor II, Dr. Dyah Nawangsari, M.Ag., mengawali
arahannya dengan mencairkan suasana. Ia mengakui bahwa proses asesmen sering
kali membuat perguruan tinggi merasa tegang. "Menjadi asesi itu memang
panas dingin," ujarnya disambut senyum peserta.
Menurutnya, tugas pertama asesor bukan hanya melakukan penilaian,
tetapi juga mempererat silaturahmi antarlembaga.
"Tugas kami pertama adalah silaturahmi, menambah tali
persaudaraan," katanya.
Dyah mengaku baru pertama kali berkunjung ke Kabupaten Temanggung dan
berharap asesmen berlangsung dalam suasana yang nyaman dan terbuka.
Ia menegaskan bahwa kedatangan asesor bertujuan memastikan kesesuaian
antara dokumen dengan kondisi nyata di lapangan. "Kami di sini ingin
membuktikan kepada LAMDIK, bukan seperti di media sosial yang memakai
filter," ungkapnya.
Karena itu, ia meminta seluruh sivitas akademika menjalani asesmen
dengan santai tanpa rasa takut. "Kita bawa santai saja, tetap fresh, tidak
perlu tegang. Yang penting ketika kami bertanya, dijawab apa adanya sesuai
kondisi yang ada," pesannya.
Asesmen lapangan ini menjadi tahapan penting dalam proses reakreditasi
Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam INISNU Temanggung. Selain melakukan
verifikasi dokumen, tim asesor juga akan mengonfirmasi implementasi sistem
penjaminan mutu, pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, tata kelola program
studi, serta melakukan wawancara dengan pimpinan, dosen, mahasiswa, tenaga
kependidikan, alumni, dan para pengguna lulusan.
Melalui asesmen lapangan tersebut, INISNU Temanggung berharap dapat
semakin memperkuat budaya mutu, meningkatkan kepercayaan publik, serta
memperkokoh posisi Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam sebagai program
studi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan pendidikan
tinggi di era yang terus berubah. (*)


Tambahkan Komentar