Oleh Deby Arum Sari 

Mahasiswa PGMI INISNU Temanggung

 

Biodata Buku

Judul: Membangun  Paradigma Keilmuan Integrasi-Kolaborasi, Collaboratiob of  Science, Takafutul Ulum 

Penulis : Hamidulloh ibda’ 

Editor  : Khamim Saifuddin & Moh. Syafi'

ISBN   : 978-623-96062-0-6

Cetakan : I, Januari 2021

Tebal Halaman : 202 Halaman

Penerbit : YAPTINU Temanggung

 

Isi resensi 

Buku ini merupakan bagian dari diskusi panjang sejak digagasnya rencana alih status pada September 2019 yang disusun oleh Hamidullah Ibda’. Buku ini tentang paradigma keilmuan yang menjadi cara pandang perguruan tinggi dalam menentukan berbagai macam kegiatan akademik maupun non-akademik

Dalam buku ini dijelaskan mengenai Paradigma keilmuan dengan metafora” ketupat ilmu”. 

Ketupat Ilmu merupakan bentuk paradigma dengan model integrasi-kolaborasi. Dalam bahasa Inggris bisa disebut Collaboratiob of science, dalam bahasa Arab takatuf Al – Ulum yang berarti kolaborasi keilmuan yang secara metodologi” menganyam ilmu” karena gambar atau simbol yang dipilih adalah ketupat yang selanjutnya disebut “ketupat ilmu”. (Hal.88).

Di buku ini juga dijelaskan tentang sejarah dari kata ketupat. Yang merujuk pada kolaborasi agama, ilmu, dan budaya.

Dalam konsep ketupat ilmu atau kolaborasi ilmu ini, mengambil model integrasi keilmuan yang kemudian digabungkan dengan kolaborasi atau “ integrasi- kolaborasi”. Bangun Collaboration og science ini dilakukan dengan cara integrasi-kolaborasi yang dikembangkan dengan model/metode di atas . Model paradigma keilmuan yang sudah ditulis di atas, yaitu islamisasi ilmu( pengislaman ilmu), ilmunisasi Islam ( pengilmuwan Islam), dan integrasi keilmuan. Paradigma keilmuan Ketupat Ilmu mengacu kepada paradigma integrasi yang didesain dengan skema kolaborasi. ( Hal.119).

Model paradigma keilmuan ketupat Ilmu adalah integrasi kolaborasi. Secara filosofis, dapat dijelakan melalui skema anyaman ilmu, Collaboratiob of science, takatuful Ulum (kolaborasi ilmu). Ketiganya memiliki desain yang sama, yaitu sama-sama menggerakkan atau mengembangkan ilmu dan agama secara bersamaan, yng luarnya sangat ditentukan oleh metodologi yang dipilih.

(Hal.121).

Paradigma integrasi dan kolaborasi ilmu memiliki tiga landasan yaitu yang pertama landasan ontolologi yang bersumber pada Al-quran dan Hadits, yang kedua landasan epistomologis landasan ini bermode Islam dan juga barat. Kemudian landasan yang terakhir yaitu landasan aksiologis berdasarkan dari prinsip Aswaja.

Di dalam buku ini juga ada beberapa penjelasan tentang makna filosofis metaforaa ketupat ilmu yaitu meliputi  warna- warna yang ada di gambar ketupat ilmu.

 

Kelebihan

Sampulnya menarik dan kertasnya cukup tebal dan bagus, buku ini juga ditulis dengan runtut sehingga pembaca memahami apa yang terdapat pada buku dan berisi dengan pengetahuan yang luas cocok dibaca berbagai kalangan orang 

Kekurangan 

Banyak kata-kata asing yang susah dipahami oleh orang awam sehingga penjelasan kurang dapat dicerna dengan baik, buku ini juga terdapat gambargambar yang kurang jelas.

 

Bagikan :

Tambahkan Komentar