Di sebuah desa, di antara hamparan sawah yang menghijau dan barisan perbukitan Menoreh yang membisu, tersembunyi sebuah legenda tentang "Sendang Panguripan", mata air kehidupan. Konon, air dari sendang ini memiliki khasiat menyembuhkan segala penyakit dan membawa keberuntungan bagi siapa pun yang meminumnya. Namun, keberadaan sendang itu dirahasiakan dan hanya bisa ditemukan oleh orang-orang yang berhati bersih dan memiliki keberanian.
Dua sahabat karib, Arya yang lincah dan Laras yang penuh rasa ingin tahu, tumbuh besar dengan cerita tentang Sendang Panguripan. Arya, dengan jiwa petualangnya yang membara, selalu bermimpi untuk menemukan sendang itu. Sementara Laras, dengan kecintaannya pada buku-buku kuno dan cerita rakyat, berusaha mencari petunjuk melalui berbagai catatan dan tuturan para sesepuh desa.
Suatu sore, di bawah rindangnya pohon beringin tengah-tengah desa, Laras menunjukkan sebuah potongan lontar tua kepada Arya. Lontar itu, yang ia temukan di loteng rumah kakeknya, berisi puisi kuno yang diyakini sebagai petunjuk menuju Sendang Panguripan. Puisi itu penuh dengan metafora dan simbol-simbol alam yang membuat Arya mengerutkan kening.
"Lihat, Arya," kata Laras bersemangat, "di sini tertulis tentang 'dua gunung kembar yang menjaga gerbang', 'sungai perak yang berkelok', dan 'bisikan angin di pohon purba'. Kurasa ini adalah petunjuk tentang lokasi Sendang Panguripan."
Arya mengamati potongan lontar itu dengan saksama. Ia memang tidak begitu mahir dalam menafsirkan puisi, tetapi ia mengenali beberapa ciri alam yang disebutkan. "Gunung kembar? Mungkinkah itu Gunung Lanang dan Gunung Wadon yang terlihat dari desa kita?" tebak Arya.
Laras mengangguk setuju. "Dan 'sungai perak yang berkelok' bisa jadi adalah Kali Bogowonto yang membelah desa. Tapi bagaimana dengan 'bisikan angin di pohon purba'?"
Malam itu, Arya dan Laras tidak bisa tidur nyenyak. Mereka terus memikirkan teka-teki dalam puisi lontar itu. Keesokan harinya, mereka memutuskan untuk memulai petualangan mereka. Dengan berbekal peta desa yang usang, potongan lontar, dan semangat yang membara, mereka menyusuri jalan setapak, melewati sawah yang terbentang luas, dan mendaki lereng perbukitan.
Perjalanan mereka tidaklah mudah. Mereka harus berhati-hati meniti jalan setapak yang licin, menyeberangi sungai kecil yang airnya dingin menyentuh kaki, dan menghindari semak belukar yang tajam. Namun, rasa penasaran dan harapan untuk menemukan Sendang Panguripan terus memompa semangat mereka.
Setelah berjalan cukup jauh, mereka tiba di sebuah lembah yang diapit oleh dua bukit yang tampak serupa, persis seperti gambaran "dua gunung kembar" dalam puisi lontar. Di tengah lembah itu, mengalir sungai kecil yang airnya tampak berkilauan tertimpa sinar matahari, menyerupai "sungai perak yang berkelok".
Arya dan Laras saling pandang dengan gembira. Mereka merasa semakin dekat dengan tujuan mereka. Kini, mereka hanya perlu menemukan "pohon purba" yang disebutkan dalam puisi. Mereka menyusuri tepi sungai, mengamati setiap pohon yang mereka lewati.
Tiba-tiba, Laras menunjuk ke arah sebuah pohon beringin yang sangat besar dan tua, berdiri kokoh di atas sebuah gundukan tanah. Cabang-cabangnya menjulang tinggi ke langit, dan akarnya mencengkeram tanah dengan kuat. Pohon itu tampak jauh lebih tua dan lebih besar dari pohon-pohon lain di sekitarnya.
"Arya, lihat! Kurasa itu 'pohon purba' yang dimaksud," seru Laras.
Mereka bergegas menuju pohon beringin itu. Saat mereka mendekat, mereka mendengar suara gemericik air yang samar. Mereka mencari sumber suara itu di sekitar pohon dan menemukan sebuah celah kecil di antara akar-akar yang besar. Dengan hati-hati, mereka mengintip ke dalam celah itu.
Di dalamnya, mereka melihat sebuah mata air kecil yang airnya jernih dan segar. Di sekeliling mata air itu tumbuh lumut hijau dan beberapa jenis tanaman air yang langka. Mereka berdua tertegun. Apakah ini Sendang Panguripan yang legendaris itu?
Arya dan Laras memberanikan diri masuk ke dalam celah itu. Mereka mendekati mata air dan melihat airnya yang berkilauan. Tanpa ragu, mereka menangkupkan tangan dan meminum air dari sendang itu. Airnya terasa sangat segar dan sedikit manis, seperti ada energi yang mengalir dalam tubuh mereka.
Setelah meminum air itu, mereka merasa tubuh mereka lebih segar dan pikiran mereka lebih jernih. Mereka juga merasakan kedamaian dan ketenangan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Mereka yakin bahwa mereka telah menemukan Sendang Panguripan yang sesungguhnya.
Sebelum pergi, mereka berjanji untuk menjaga rahasia keberadaan sendang itu dan menghormati alam sekitarnya. Mereka tahu bahwa harta karun sejati bukanlah air ajaib itu sendiri, melainkan petualangan yang telah mereka lalui bersama, persahabatan yang semakin erat, dan pelajaran tentang pentingnya menjaga alam dan warisan leluhur. Mereka meninggalkan tempat itu dengan hati yang penuh syukur dan janji untuk kembali menjaga Sendang Panguripan, mata air kehidupan di jantung desa. (TB44).
Tambahkan Komentar