oleh: Zahra Agid Tsabitah
Aroma kopi robusta yang kuat bercampur dengan bau kue cubit hangat selalu menyambut Maya di kedai kopi kecil di sudut Kota Lama Semarang. Kedai itu, dengan dinding bata ekspos dan jendela-jendela kayu besar, adalah tempat pelariannya setelah seharian berkutat dengan angka di kantor akuntan. Namun, beberapa bulan terakhir, ada alasan lain yang membuatnya betah berlama-lama di sana: Bima.
Bima adalah barista di kedai itu. Dengan senyumnya yang hangat dan tatapan matanya yang teduh, ia selalu berhasil meredakan lelah Maya. Percakapan mereka awalnya hanya seputar pesanan kopi dan cuaca, namun perlahan merambat ke buku favorit, musik indie, hingga mimpi-mimpi yang mereka simpan rapat.
Maya merasakan ada sesuatu yang berbeda setiap kali matanya bertemu mata Bima. Ada getaran halus yang menjalari hatinya, perasaan hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia menyukai caranya Bima mengingat jenis kopi kesukaannya, bagaimana ia selalu menyelipkan cerita singkat tentang biji kopi dari berbagai daerah di setiap pesanan.
Bima pun merasakan hal yang sama. Maya, dengan kesederhanaan dan kecerdasannya, selalu berhasil membuatnya tertarik. Ia menikmati setiap diskusi kecil mereka, bagaimana Maya bisa tertawa lepas mendengar leluconnya yang kadang garing. Ada ketenangan yang ia rasakan setiap kali Maya duduk di meja favoritnya dekat jendela.
Suatu sore, hujan gerimis membasahi jalanan Kota Lama. Kedai kopi itu tidak terlalu ramai. Maya seperti biasa memesan kopi susu dan duduk di mejanya. Bima menghampirinya setelah selesai membuat pesanan pelanggan lain.
"Hujan ya," katanya sambil tersenyum, menyeka tangannya dengan lap bersih.
"Iya," jawab Maya, menatap tetesan air di jendela. "Tapi suasana seperti ini justru membuat kopi terasa lebih nikmat."
Bima duduk di kursi kosong di depan Maya. "Betul. Ada semacam kehangatan tersendiri." Mereka terdiam sejenak, menikmati kebersamaan yang terasa begitu nyaman.
Lalu, Bima memberanikan diri. "Maya, sebenarnya... sudah lama aku ingin mengatakan ini. Aku menikmati setiap kali kamu datang ke sini. Percakapan kita, senyummu... semuanya membuat hari-hariku terasa lebih berwarna."
Wajah Maya bersemu merah. Ia menunduk, salah tingkah. "Aku juga, Bima. Aku selalu menantikan sore untuk bisa datang ke sini dan bertemu kamu."
Bima meraih tangan Maya yang tergeletak di meja. Jemarinya terasa hangat di kulit Maya. "Mungkin... kita bisa melanjutkan percakapan ini di luar kedai? Mungkin besok malam, kita bisa makan malam bersama?"
Maya mengangkat wajahnya, menatap mata Bima yang penuh harap. Senyumnya merekah. "Aku akan sangat senang."
Malam itu, hujan terus mengguyur Kota Lama. Namun di dalam kedai kopi, kehangatan cinta mulai tumbuh, sehangat aroma kopi robusta dan semanis senyum yang terukir di bibir Maya dan Bima. Cinta, terkadang, memang bisa ditemukan di tempat yang sederhana, dalam percakapan yang mengalir, dan dalam tatapan mata yang saling menemukan. Di kedai kopi kecil itu, di jantung Kota Lama yang menyimpan sejuta cerita, kisah cinta mereka baru saja dimulai, seperti senja yang indah menutup hari dan membuka harapan untuk esok yang lebih cerah.


Tambahkan Komentar