Istriku tiba-tiba marah. Entah tidak tahu apa sebabnya. Setelah kudekap, kutanya, ia pun baru menjawab dan menarasikan apa yang sedang membuatnya kesal. “Ada mahasiswa PPL di SD itu nggak mudeng etika, membuat RPP dan instrumen penilaiannya juga semrawut,” katanya sekitar pertengahan Agustus 2018 lalu.

Jawabannya kukejar. “La namanya mahasiswa, biasa to kayak gitu,” kataku sambil meyakinkannya. Ia menjelaskan, katanya mahasiswa PPL tahun ini beda karena mahasiswanya tidak aktif, tidak grapyak, dan tidak paham cara mengorganisasikan tim dengan sekolah. Aku pun bertanya, “Apa bocahe dudu aktivis to?” Ternyata, jawaban istriku mengamininya. Rata-rata, mereka bukan aktivis, bahkan tampak mahasiswa yang tidak pernah mendapat perkaderan di organisasi.

Saya memandang mereka dari kacamata istriku sendiri. Meski ia dulu pernah jadi mahasiswa teladan, lulusan terbaik, dan pendiri Warung Komunikasi dan Diskusi Karya Ilmiah (Warkop DKI) PGSD Unnes dan aktivis UKM Penelitian, saya rasa masih kurang dalam berorganisasi. Begitu pula saya sendiri.

Tapi, apa yang dialami istriku tersebut juga pernah saya alami. Saya berada pada kondisi yang dihadapkan pada wajah-wajah yang tidak pernah berorganisasi. Dari situ, saya menyebut inilah dampak dari “dosa-dosa besar” mahasiswa.

Saat ini banyak yang menyandang status “mahasiswa”, tapi daya kritis, intelektualitas, pola pikir, dan perlakuannya tidak mencerminkan mahasiswa. Saya membuat rumus, ada beberapa dosa-dosa besar mahasiswa. Pertama, malas membaca. Di sini bukan membaca gawai, WA, atau media sosial, melainkan lebih pada membaca serius pada karya ilmiah. Ya, skripsi, tesis, disertasi, buku, jurnal, artikel, bahkan karya sastra. Rata-rata, mahasiswa sekarang judul dan penulis buku asing bagi mereka. Ironis.

Kedua, malas membeli buku. Buku adalah bukti intelektualitas, bahkan menjadi “bukti kekayaan intelektual mahasiswa”. Kenang-kenangan terindah dan dapat dilihat secara fisik setelah lulus kuliah adalah buku. Sebab, saat ini menyisihkan uang untuk membeli buku sangat susah, mahasiswa lebih ringan merogoh kocek membeli kuota daripada buku. Padahal, selain untuk keperluan ilmu, buku bermanfaat membantu perkuliahan sampai pada menulis makalah, artikel, dan skripsi. Minimal, jika belum bisa menulis buku, maka belilah buku!

Ketiga, malas menulis dan publikasi intelektual. Sama, mereka tiap menit, bahkan tiap detik lihai menulis status di Facebook, Twitter, Instragam, layanan pesan WA, namun sangat budreg ketika disuruh menulis makalah dengan benar, baik, dan indah. Padahal, yang namanya menulis, publikasi intelektual, saat ini sangat dihargai lembaga atau media massa. Saya pun, bisa kuliah, bahkan bisa membayar kuliah sampai S2, bahkan juga mendapat jodoh, itu berkat tulisan.

Keempat, plagiasi, falsifikasi dan fabrikasi. Plagiat ini menjadi bahaya laten di kalangan akademisi. Harusnya, mahasiswa belajar cara menyitasi, kaidah selingkung, dan author guideline. Membuat makalah saja, hampir 100 persen full plagiat dari blog, itu pun semrawut cara menyitasinya. Nauzubillah.

Kelima, malas diskusi. Kemalasan diskusi menjadi indikator mahasiswa sudah tidak mencintai ilmu, kemajuan, dan tidak suka intelektualisme. Mereka cenderung mendasarkan sesuatu pada gawai, ngobrol tanpa arah dan jalan-jalan saja. Iklim diskusi sangat susah dibangun jika demikian. Padahal, mereka bisa berdiskusi dengan siapa saja, dan kapan saja. Maka indikator kampus itu maju atau tidak, ada pada kelompok-kelompok kecil yang melestarikan diskusi-diskusi di pojok-pojok kampus.

Keenam, malas membuat tugas dan memasrahkan tugasnya pada teman atau pacarnya. Ini juga bahaya laten. Kuliah kok ora gelem rekoso. Yang namanya mencari ilmu, memerangi kebodohan itu ya harus serius, tidak bisa iseng atau guyonan.

Ketujuh, malas mengikuti lomba. Suatu lomba, bagi saya adalah ajang menunjukkan kemampuan komparatif dan kompetitif. Saat ini, hampir tiap bulan ada perlombaan yang hadiahnya juga lumayan. Bukan hadiahnya yang dicari atau diburu, melainkan lebih pada menunjukkan marwah intelektualitas dan juga taring kritisme mahasiswa. Adapun hadiah hanya bonus. Mulai dari lomba menulis, olahraga, seni, hingga pada debat mahasiswa.

Kedelapan, tidak ikut organisasi sekaligus malas bersosialisasi. Mahasiswa yang seperti ini justru akan inferior di mata masyarakat. Mereka sebagai bagian dari masyarakat, akan dikenal dan dibutuhkan ketika egaliter, dan merakyat. Masak mahasiswa tidak merakyat? Cara untuk bersosialisasi jelas ada pada organisasi. Organisasi itu, ibarat jendela kecil untuk melihat dunia yang lebih luas.

Kesembilan, dosa terakhir mahasiswa adalah malas demonstrasi. Dosenku dulu bilang, “satu kali demo, lebih baik daripada seribu kali kuliah”. Saya berpikir, memang demikian. Jika saya hitung, saya sendiri ikut demo hampir 78 kali lebih. Belum lagi ditambah dengan para buruh, dan beberapa aktivis di luar kampus. Maka, belum disebut mahasiswa jika belum pernah demo! Pertanyaannya, apakah Anda ini masih laik disebut mahasiswa?

Jika tidak mahasiswa, lalu Anda ini siapa? Duh!



Tulisan ini sudah dimuat di Kolom Dosen, Buletin PGMI (BUMI) Prodi PGMI STAINU Temanggung edisi 1 (Agustus-September 2018).
Bagikan :

Tambahkan Komentar