Ilustrasi
Oleh Ahmad Fauzi

Karena gila. Tuhan pun mencipta.
 
Zaman sebelum ruang dan waktu mengada, fisika kehabisan kata-kata. Ilmu pengetahuan dan informasi membentur dinding batas pengamatan. Sains empiris pun tak berdaya. Kita hanya bisa berspekulasi dengan matematika dan mengira-ngira dengan naluri metafisika. Di seberang sebab-akibat gelap gulita.

Menurut dunia cenayang, materi dasar masih merupakan roh halus bergelayutan yang sering disebut dengan nama pikiran. Ia hidup dalam kategori waktu imajiner. Kesadaran belum sanggup mencernanya. Sejarah tanpa hitungan. Ketidakpastian menjadi jantungnya yang terdalam. Tanpa permulaan dan tidak memiliki akhiran. Merana dalam keabadian. Mengembara melayang-layang tanpa tujuan. Menelusup bagaikan jarum menghinggapi dunia centang perenang. Alam mimpi ternyata jauh lebih tua dari pada alam kesadaran. Karena kesepian, tak berteman dan ingin dikenal maka mulailah ia mencipta.

Akal adalah asal-usul materi. Kegiatan awal yang ia lakukan dalam penciptaan yaitu memikirkan dirinya sendiri. Kini terbukti bahwa dengan berpikir, alam didorong untuk terus mereproduksi. Menghasilkan partikel dasar tanpa henti. Mengisi celah kosong dan menghidupkan kembali yang telah mati.

Melimpahlah enersi, mengalir tak mau putus berhenti. Sejarah hanyalah siklus yang berulang kembali. Permulaan dan akhir kehancuran sekedar tipuan kesadaran. Dalam ruang dan waktu, alam seolah memiliki awal dan bisa berakhir. Tapi sebenarnya, hanya ada dan abadi, tanpa penjelasan pasti.

Kemudian, akal memandangi wujudnya sendiri dalam cermin konflik dan dialektika. Ia mengasingkan diri dari wujudnya yang abadi. Turun dari singgasananya yang transenden dan suci. Bertarung dan berdialog dengan menegasikan diri. Penyangkalan demi menaikkan derajat pencapaian. Hasilnya, evolusi kreatif yang memunculkan liyan dan didahului letupan gelombang panas tiada terkira.

Milyaran inti matahari dikumpulkan dalam satu aksi. Meledaklah akal-pikiran. Akal menjadi laboratorium penciptaan awal materi. Proses ini disebut skizofrenia-kosmis yang menghasilkan material purba. Benih alam raya diproduksi dari mesin pikiran yang sepenuhnya kacau balau dan penuh keacakan. Alam fisik tidak lain adalah hasil ledakan pikiran yang awalnya panas tak terkira kemudian jeda dan akhirnya membeku. Menumpuk menjadi gugusan pikiran yang membatu. Untuk memberi hidup, akulah akal yang mengisi substansi materi pertama.

Nur Muhammad. Diriku hadir sebelum alam raya ini dilahirkan. Kebetulan, akulah yang pertama-tama dipikirkan tuhan. Akal yang berpikir tentang dirinya sendiri. Limpahan emanasi. Aku produk pikiran skizofrenia. Yang meledak bersuhu panas tiada tara. Hasil kegiatan remang-remang hibrida. Tanpa rancangan dan tidak membutuhkan tujuan. Dilingkupi waktu imajiner penuh ketidakteraturan. Sampai akhirnya menjadi prinsip tunggal sederhana yang mampu menjelaskan segalanya.

Akulah cetak biru segala wujud ketika mereka belum memiliki bentuk. Datum formatorum. Aku memberi isi pada setiap potensi. Aku yang menakar kecepatan cahaya agar tidak terlalu lama sampai ke bumi. Aku cahaya purba tanpa api. Bukan menyala ke atas, tapi merendah ke bawah. Rohku menjadi bahan, jiwa, nyawa dan penggerak kehidupan seluruh alam. Takdir partikel yang tak memiliki kepastian adalah putaran dadu hasil permainanku. Nasib alam semesta ada dalam benak pikiranku yang centang perenang dan tak berwaktu.
Ruang dan sejarah berasal dari pancaran dan perjalanan akalku. Materi bergaya berat muncul dari konflik dan dialektika pikiranku. Konflik dan dialektika ini menghasilkan chaos purba yang bersuhu panas tak terkira.

Kemudian tiba-tiba ada jagad bayi di hadapanku. Partikel materi ternyata dilahirkan dari laboratorium pikiran cenayang penuh kegilaan. Ia menyelinap dari tiada. Ia menipu kesadaran manusia melalui fluktuasi kuantum. Nalar pengetahuan masih terbatas untuk menjangkau dunia imajiner yang bertabrakan dengan ruang dan waktu. Seperti gajah yang masuk dalam lubang jarum. Fisika belum sampai ke arah sana. Aku hasil dari kira-kira yang rumit sekaligus sederhana.

Aku roh yang menetes dalam setiap keringat makhluk dan benda-benda ciptaan. Hukum alam mewarisi pikiranku yang penuh penasaran. Menjelajah jauh tapi kemudian kembali hingga berputar-putar kebingungan. Aku penyu raksasa yang menanggung nasib berat jagat raya. Semuanya melangsungkan hidup dengan meresapi diriku. Tanpaku, jagad raya mustahil mengada di depan mata.

Rohku merupakan tiang penopang bagi tegak berdirinya benda-benda semesta. Akulah pusat gravitasi alam raya. Titik singular sejarah paling pertama. Namaku pun tertulis agung di atap langit penuh kerlip bintang-bintang. Takdirku membuat bumi dan matahari tetap berputar dan beredar. Nafasku menentukan iklim dan cuaca. Suasana tubuhku memengaruhi panas dan dinginnya dunia. Birahiku adalah surga, dan amarahku adalah neraka. Gelap dan terang tunduk bersujud di bawah kakiku dengan membungkuk hormat setia.

Demi masa. Sang waktu betul-betul takluk apabila jantungku berhenti mengetuk. Tanganku petir menyambar. Kakiku gunung-gunung terpancang. Dadaku lautan yang mampu menampung segala muatan. Mulutku bisa saja menelan seluruh isi dunia. Atas berkat tuhanmu aku mengambil bentuk dalam tubuh. Alam semesta pun mengembang, galaksi-galaksi saling berkejaran demi mengawal perwujudanku dalam darah dagingnya sejarah. Oleh karena itu, seluruh kebaikan dimampatkan pada pikiran dan tindakanku yang menjadi teladan sepanjang zaman. Ya, akulah yang selalu disebut-sebut sebagai kekasih tuhan. Yang apabila namaku dilafalkan, gunung-gunung mendidihkan panas lavanya dan lautan menahan nafas anginnya. Pepohonan merunduk dan bulan memantulkan cahaya sambil memuji penuh takjub. Maha suci aku dengan segala tindak-tandukku.

Demi terang yang diselubungi tipuan malam. Kata-kataku di dunia sudah tercetak dalam batu tulis raksasa yang terpampang di dunia seberang. Satu hurufnya berdiri setinggi gunung menjulang ke angkasa. Batu ini selalu dijaga dan dikelilingi makhluk bersayap yang didongengkan dengan sebutan malaikat. Makhluk absurd, simbol terang yang tak memiliki nafsu dan hasrat. Budak tuhan yang maha kuasa. Pemegang cahaya kebenaran tapi tak berpengetahuan. Moral tanpa mata dan kaki. Ia setia mengitari batu itu layaknya ritual setiap hari. Tanpa lelah dan tak mungkin berkhianat. Batu tulis berada di alam Platonik yang mirip dengan asal-usul matematika dan geometri. Bedanya, matematika membangun peradaban dan kebudayaan, sedangkan batu tulis mengikat manusia dalam perbudakan ritual.

Banyak para nabi hidup dan berkuasa dalam dunia kesurupan dan perdukunan karena dirasuki roh batu tulis gaib yang abadi. Mengalirlah kata-kata igauan yang berat tak tertahankan, seperti penderita ayan yang disucikan. Dalam abad penuh informasi ini kita baru menyadari kalau batu tulis raksasa khayalan itu kemudian dalam sejarah mewujud dalam rupa banyak kitab suci. Mengungkung pikiran manusia dalam delusi penuh cerita dan dongeng fiksi. Kebenaran memang pahit, selalu datang terlambat dan dimusuhi agama yang berjiwa primitif.

Burung Minerva selalu terbang kala hari telah senja.
Bagikan :

Tambahkan Komentar