Ilustrasi Medcom.id

Oleh Nia Lestari

Budaya atau adat istiadat merupakan ciri khas dari tiap-tiap daerah. Dari setiap daerah mempunyai budaya dan adat istiadat yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dari budaya tersebut menjadi suatu keunikan, keistimewaan, dan karakteristik tersendiri. Temanggung atau yang lebih dikenal dan populer dengan kota tembakau dengan begitu banyak penduduknya, terpecah dalam 20 kecamatan. Dalam setiap kecamatan tentunya mempunyai budaya sendiri-sendiri. Sebut saja Kecamatan Ngadirejo, tepatnya Desa Purbosari, Dusun Liyangan. Adapun Desa Liyangan mempunyai adat istiadat yang dimiliki kelurahan Purbosari adalah Grebeg Suro, Kirab, Sadranan, dan masih banyak lagi.

Grebeg biasanya dilakukan dalam acara-acara tertentu, katakanlah ketika Suro, Maulud, dan Ruwah untuk memperingati hari-hari bersejarah dalam Islam. Kirab merupakan suatu tradisi yang diwarisi dan diturunkan oleh nenek moyang dan terus dilestarikan di zaman sekarang. Setiap tahunnya desa Purbosari, tepatnya dusun Liyangan selalu melakukan  dan menggelar acara kirab tersebut untuk nguri-uri budaya jawa. Acara ini sering kali disebut oleh masyarakat sebagai Kirab Liyangan.

Tahun ini, kirab Liyangan dilakukan di bulan Oktober yaitu tanggal 06 Oktober 2019. Acara ini diikuti oleh seluruh warga di desa Purbosari. Kirab ini dimaksudkan sebagai simbol rasa syukur masyarakat kepada Allah Swt atas limpahan rezeki yang telah di berikan. Kirab budaya ini berupa gunungan hasil bumi di masyarakat setempat. Mereka berebut gunungan hasil bumi tersebut bahkan ketika pembacaan doa belum selesai. Terdapat sepuluh gunungan kecil yang berisi sayur-mayur, dan buah-buahan yang menjadi sasaran warga. Sebagian warga lain yang tidak kebagian gunungan tersebut mereka berebut air yang bersumber dari tuk Liyangan. Warga percaya air dari Tuk Liyangan yang sudah dibacakan doa ini dapat membawa keberkahan.

Salah seorang pengunjung, Murni, mengatakan bahwa air ini dapat menghilangkan keriput, menyembuhkan segala penyakit, dan juga mengurangi segala masalah. Sebelum acara kirab Budaya Liyangan membawa ke sepuluh gunungan keliling Liyangan, Purbosari Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung dan di bawa ke Situs Liyangan yang merupakan permukiman sejaran yang dulunya di duduki oleh kerajaan Mataram Kuno.

Menurut Saifudin Ansori, Kepala desa Purbosari mengatakan hal ini sudah menjadi tradisi turun temurun dari nenek moyang yang akan terus di jaga kelestariannya.

Media Integritas Warga

Selain sebagai acara ritual, acara Kirab Budaya Liyangan dengan penyajian berbagai tradisi, tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, khususnya untuk wisata situs Liyangan. Bukan hanya menarik wisatawan, akan tetapi Kirab Budaya ini menjadi salah satu media dan pemersatu warga. Kalau di hari-hari biasa yang tidak ada acara mereka disibukkan dengan kegiatan mereka sendiri-sendiri, maka dengan adanya kegiatan ini, di harapkan  menjadi satu wadah dan media tersendiri bagi mereka untuk bisa berkumpul-kumpul antara satu sama lain.

Bahkan di acara ini menjadi ajang menambah keluarga karena mereka akan bertemu dengan warga dusun yang lain, di mana mereka belum sama-sama kenal. Hal ini di buktikan dengan semakin akrabnya antar dusun di desa Purbosari. Hasilnya pun sangat luar biasa di rasa warga, karena dapat mempererat kerukunan antar  warga di desa tersebut.

Walhasil, budaya sangat banyak manfaatnya apabila kita sebagai penerus bangsa selalu menjaga dan melestarikan budaya di setiap daerah kita. Bukankah bahagia itu sederhana ? dengan kita berkumpul, saling berinteraksi, maka kerukunan antar warga akan tercipta. Bukankah demikian ?

Bagikan :

Tambahkan Komentar