TABAYUNA.com - Gerakan Salafy dan Wahabi merupakan dua aliran dalam Islam yang seringkali diperbincangkan dan kadang-kadang disalahpahami oleh banyak orang. Salafi dan Wahabi adalah dua istilah yang sering kali dikaitkan dengan gerakan dan pemahaman Islam yang serupa, tetapi mereka memiliki perbedaan tertentu dalam penggunaan dan konteksnya.

 

Istilah "Salafi" berasal dari kata "Salaf", yang berarti generasi pertama umat Islam, yaitu Sahabat Nabi Muhammad SAW, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in. Gerakan Salafi menekankan pentingnya kembali kepada ajaran Islam yang murni dan orisinal sesuai dengan pemahaman para Salafus Shalih. Mereka menekankan pengikutannya terhadap Al-Qur'an dan Sunnah secara harfiyah (tekstual) dan menolak berbagai bentuk bid'ah (inovasi) dalam agama. Gerakan Salafi memiliki variasi dalam interpretasi dan praktik, tetapi intinya adalah kesatuan dalam penghormatan terhadap ajaran-ajaran agama Islam yang dianggap benar menurut pemahaman Salaf.

 

Istilah "Wahabi" berasal dari nama Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang ulama asal Arab Saudi yang hidup pada abad ke-18. Pemahaman Islam yang diadvokasikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab sering kali disebut sebagai Wahhabisme. Gerakan Wahhabi menekankan kembali pada ajaran Islam yang murni dengan penekanan kuat pada Tawhid (keesaan Allah) dan menentang berbagai bentuk bid'ah dalam agama. Meskipun gerakan Wahhabi memiliki kesamaan dengan gerakan Salafi dalam penekanan pada kembali kepada ajaran Islam yang murni, tetapi istilah "Wahabi" cenderung lebih spesifik mengacu pada gerakan yang berasal dari Arab Saudi dan mengikuti pemahaman khusus yang dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab.

 

Meskipun terdapat perbedaan dalam konteks dan sejarah masing-masing istilah, kadang-kadang mereka digunakan secara bergantian atau secara tidak tepat dalam percakapan umum. Namun, secara teknis, ada perbedaan dalam penggunaan dan konotasi kedua istilah tersebut.

 

Gerakan Ulama Salafy

Gerakan Ulama Salafy adalah gerakan yang mengacu pada pemahaman agama Islam yang berlandaskan pada metodologi Salafus Shalih, yaitu generasi pertama umat Islam (Sahabat Nabi Muhammad SAW, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in). Gerakan ini menekankan pentingnya kembali kepada ajaran Islam yang murni dan orisinal sesuai dengan pemahaman para Salafus Shalih, tanpa banyak penambahan atau interpretasi yang dianggap menyimpang dari ajaran aslinya.

 

Para ulama Salafy sering kali menekankan pada pentingnya memahami dan mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah secara harfiyah (secara tekstual), serta menolak berbagai bentuk bid'ah (inovasi) dalam agama. Mereka juga cenderung kritis terhadap berbagai praktik atau ajaran yang dianggap bertentangan dengan pemahaman Islam yang mereka anggap sebagai ajaran yang benar.

 

Gerakan ini memiliki ciri khas dalam pendekatan mereka terhadap pemahaman Islam dan dalam interaksi mereka dengan masyarakat dan pemerintahan. Meskipun terdapat variasi dalam interpretasi dan praktik di dalam gerakan ini, tetapi inti dari gerakan ini adalah kesatuan dalam penghormatan terhadap ajaran-ajaran agama Islam yang dianggap benar menurut pemahaman mereka. Sejumlah ciri-cirinya yaitu sebagai berikut.

 

Pertama, Rujukan kepada Salafus Shalih. Salah satu ciri utama gerakan Salafy adalah penekanan pada pemahaman dan praktik Islam yang mengikuti contoh dan ajaran Salafus Shalih, yaitu generasi awal umat Islam, seperti Sahabat Nabi Muhammad SAW dan generasi setelahnya.

 

Kedua, Menolak praktik Tawassul dan Istighatsah. Salafy cenderung menolak praktik tawassul dan istighatsah (memohon pertolongan kepada selain Allah) yang dianggap sebagai bentuk syirik atau menyekutukan Allah.

 

Ketiga, Gerakan Salafy sangat menghargai hadits sebagai sumber utama pemahaman Islam. Mereka cenderung memprioritaskan hadits sahih dalam pengambilan keputusan agama.

 

Keempat, Menolak Bid'ah, rajin melakukan pembidahan. Salafy menekankan penolakan terhadap inovasi atau bida'ah dalam agama. Mereka berpegang pada prinsip bahwa agama Islam sudah sempurna dan tidak memerlukan perubahan atau tambahan.

 

Gerakan Ulama Wahabi

Gerakan Ulama Wahabi, atau sering disebut juga sebagai gerakan Wahhabisme, merujuk pada pemahaman Islam yang didasarkan pada ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792), seorang ulama asal Arab Saudi. Pemahaman ini menekankan kembali pada ajaran Islam yang murni, sebagaimana yang dipahami oleh generasi pertama Islam, Salafus Shalih, dengan penekanan kuat pada Tawhid (keesaan Allah) dan menentang berbagai bentuk bid'ah (inovasi) dalam agama.

 

Gerakan ini telah memiliki pengaruh yang signifikan di banyak bagian dunia, terutama di wilayah Arab Saudi dan sebagian besar Semenanjung Arab, serta telah menyebarkan pengaruhnya ke berbagai negara lain melalui pendanaan dan dakwah. Salah satu ciri khas gerakan ini adalah penolakan terhadap praktik-praktik atau keyakinan-keyakinan yang dianggap bertentangan dengan pemahaman Islam yang mereka anut.

 

Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua ulama atau praktisi Islam di Arab Saudi atau di tempat lain yang memegang pemahaman Salafy atau Wahabi mengikuti garis keras dalam interpretasi dan praktik mereka. Terdapat variasi dalam pemahaman dan pendekatan di antara mereka, dan tidak semuanya mengadopsi pendekatan yang sama dalam interaksi dengan masyarakat dan pemerintahan.

 

Ciri-ciri ulama Wahabi yaitu: Pertama, Pemahaman Luhur Tauhid. Wahabi menekankan pemahaman yang luhur tentang tauhid atau keesaan Allah. Mereka sangat mengutamakan tauhid dan menekankan pentingnya menghindari bentuk-bentuk syirik dalam praktik keagamaan.

 

Kedua, Menolak Taqlid Buta. Wahabi cenderung menolak taqlid buta, yaitu mengikuti ulama tanpa pertimbangan atau pemahaman pribadi. Mereka mendorong individu untuk memahami sendiri ajaran Islam melalui studi dan analisis pribadi.

 

Ketiga, Penyucian dari Bid'ah. Seperti Salafy, Wahabi juga menolak praktik bida'ah dalam agama dan berusaha untuk mengembalikan praktik keagamaan kepada asal-usulnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Salafus Shalih.

 

Keempat, Wahabi seringkali terlibat dalam kegiatan sosial dan amal, terutama dalam menyebarkan pemahaman tauhid. Mereka juga dikenal aktif dalam upaya dakwah Islam di seluruh dunia.

 

Penting untuk diingat bahwa tidak semua individu yang mengidentifikasi diri sebagai Salafy atau Wahabi akan memiliki ciri-ciri ini secara mutlak. Terdapat variasi dalam pemahaman dan praktik di dalam kedua gerakan ini. Artikel ini hanya memberikan gambaran umum tentang ciri-ciri yang sering dikaitkan dengan Salafy dan Wahabi dalam Islam.

 

Bahaya Ulama Salafi dan Wahabi bagi umat Islam di Indonesia

Pertanyaan tentang bahaya ulama Salafi dan Wahabi bagi umat Islam di Indonesia sering kali menciptakan perdebatan, karena pandangan terhadap gerakan ini bisa sangat bervariasi tergantung pada sudut pandang individu. Saya akan mencoba merangkum pandangan yang berbeda-beda.

 

Beberapa orang berpendapat bahwa pengaruh ulama Salafi dan Wahabi dapat menghasilkan interpretasi Islam yang sangat literalis dan keras, serta bisa memicu intoleransi terhadap pandangan yang berbeda dalam agama. Mereka khawatir bahwa penekanan yang kuat pada penolakan terhadap bid'ah (inovasi) dan penafsiran harfiah terhadap Al-Qur'an dan Sunnah bisa menyebabkan ketidakpengertian terhadap konteks sosial dan historis yang penting dalam pemahaman agama. Ini bisa memicu polarisasi dan konflik di dalam masyarakat.

 

Kritik terhadap ekstremisme. Ada keprihatinan tentang potensi radikalisasi di kalangan mereka yang mengadopsi pemahaman Salafi atau Wahabi yang ekstrem. Beberapa kelompok atau individu yang berasal dari lingkaran ini telah terlibat dalam kegiatan yang dianggap sebagai ekstremisme atau terorisme, yang menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan dan stabilitas di Indonesia.

 

Pemisahan dari tradisi lokal. Kritik lain adalah bahwa gerakan Salafi atau Wahabi cenderung menolak praktik-praktik keagamaan dan budaya lokal yang telah diakomodasi dalam Islam di Indonesia selama berabad-abad. Ini bisa mengancam keragaman budaya dan religiusitas Indonesia, serta memicu ketegangan antara pendukung gerakan ini dengan tradisi lokal yang lebih inklusif.

 

Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua ulama atau praktisi Salafi atau Wahabi di Indonesia menganut pandangan ekstrem, dan tidak semua pengikut gerakan ini terlibat dalam aktivitas yang merugikan. Banyak yang mengadopsi pendekatan yang lebih moderat dan berusaha untuk berkontribusi secara positif dalam masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk memahami keragaman dalam pandangan dan praktik di dalam gerakan Salafi dan Wahabi, serta untuk tidak menggeneralisasi semua anggotanya sebagai ancaman bagi masyarakat.

Bagikan :

Tambahkan Komentar