Oleh : Deby Arum Sari
Ada hari-hari ketika tubuhku berjalan, tapi jiwaku tertinggal entah di mana. Aku tersenyum, berbicara, bekerja, seperti biasa. Tapi di dalam, semuanya terasa sunyi dan hampa. Aku seperti mesin yang diprogram untuk terus hidup, padahal di balik kulit ini ada hati yang ingin berhenti sejenak dan hanya... diam.
Aku dan jiwaku pernah akur, dulu. Saat dunia masih sederhana. Saat luka bisa sembuh dengan pelukan ibu atau bermain di bawah hujan. Tapi entah sejak kapan kami mulai terpisah. Mungkin saat dunia mulai menuntut lebih dari yang bisa kutanggung. Atau saat aku mulai berpura-pura kuat agar tak jadi beban bagi siapa pun.
Suatu malam, aku duduk di pojok kamar dan berbisik lirih, “Di mana kamu?”
Jiwaku tidak menjawab. Tapi ia hadir dalam bentuk sesak, yang menyelinap perlahan seperti kabut, lalu menggenang menjadi tangis. Tangis yang bukan karena sedih, tapi karena akhirnya... merasa lagi. Setelah sekian lama hanya bertahan, hanya "berfungsi".
Aku mulai sadar, aku terlalu sering memaksa. Memaksa tersenyum saat ingin berteriak. Memaksa baik-baik saja demi tidak membuat orang lain khawatir. Aku lupa: jiwaku bukan mesin. Ia tidak butuh dilawan. Ia butuh istirahat. Ia butuh didengar. Ia butuh dipeluk—oleh diriku sendiri.
Kini, aku sedang belajar menyatu kembali dengannya. Belajar mengatakan tidak tanpa rasa bersalah. Belajar menangis tanpa merasa lemah. Belajar bahagia tanpa perlu validasi dari luar. Dan yang paling sulit: belajar memaafkan diriku sendiri—untuk semua luka yang kututup rapat.
Aku dan jiwaku masih dalam perjalanan menuju pulih. Tapi kami sudah berjalan bersama lagi, meski pelan. Dan bagiku, tak ada yang lebih menenangkan daripada tahu bahwa aku tak lagi sendirian di dalam diriku sendiri.


Tambahkan Komentar