Oleh: Deby Arum Sari

Dito adalah anak kelas 5 SD yang sangat suka bersepeda. Setiap sore, ia selalu mengayuh sepedanya keliling desa, melewati sawah, jembatan bambu, dan pohon-pohon besar yang seperti penjaga setia jalanan. Tapi suatu hari, Dito menemukan sesuatu yang tidak biasa.


Pagi itu, ketika sedang membersihkan gudang di belakang rumah bersama kakeknya, Dito melihat sebuah sepeda tua berwarna merah yang sangat berdebu. "Sepeda siapa ini, Kek?" tanya Dito sambil menyentuh sadelnya.


"Itu sepeda kakek waktu kecil. Tapi katanya... itu sepeda ajaib," jawab sang kakek sambil tersenyum misterius.


Dito tertawa, "Sepeda ajaib? Maksudnya bisa terbang?"


"Kau coba saja sendiri. Tapi ingat, jangan gunakan sepeda itu untuk hal yang serakah atau jahat."


Malamnya, Dito tak bisa tidur. Pikirannya terus terbayang sepeda ajaib. Keesokan harinya, diam-diam ia mendorong sepeda tua itu keluar rumah dan mulai mengayuhnya.


Awalnya terasa biasa saja, tapi ketika Dito berkata pelan, “Andai aku bisa pergi ke negeri awan,” tiba-tiba sepeda itu mengeluarkan suara kring kring lalu... wuuuussshh! Roda depannya terangkat, lalu tubuh Dito dan sepedanya melayang tinggi ke langit!


Ia benar-benar berada di negeri awan! Segalanya putih, empuk, dan penuh warna pelangi. Burung-burung bisa berbicara, dan ada kelinci yang bisa menyanyi. Dito tertawa riang, bermain seluncuran pelangi dan makan permen kapas dari awan.


Namun tiba-tiba, datang awan hitam bernama Awu, si awan iri. Ia tidak suka ada anak manusia masuk ke dunia mereka. “Kau tidak boleh di sini!” teriak Awu sambil mengumpulkan hujan badai.


Dito panik, tapi sepeda ajaibnya berbisik, “Jangan takut, ucapkan keinginan pulang.”


Dengan cepat Dito menutup mata dan berkata, “Aku ingin pulang ke rumah sekarang!”


Wuuuusshhh! Dalam sekejap, ia sudah kembali di belakang rumah, dengan sepeda tua yang kini bersih dan berkilau seperti baru.


Sejak hari itu, Dito menjaga sepeda itu dengan baik dan hanya menggunakannya ketika benar-benar perlu. Ia tahu, kekuatan ajaib adalah anugerah yang harus disyukuri, bukan untuk pamer atau disalahgunakan.


Dan setiap kali ia mengayuh sepedanya, Dito selalu tersenyum... karena siapa tahu, petualangan ajaib berikutnya sedang menunggu di tikungan jalan.

Bagikan :

Tambahkan Komentar