Oleh : Deby Arum Sari

Setiap malam, ketika langit mulai pekat dan angin laut berembus kencang, ayah sudah bersiap. Dengan tubuh yang mulai membungkuk dimakan usia, ia memanggul jaring, membawa obor, dan melangkah pelan menuju perahu kayu kecilnya. Saat orang lain terlelap dalam hangatnya rumah, ayah justru berlayar menantang gelap dan dingin demi sesuap nasi untuk kami.


Ayah seorang nelayan sederhana. Tak pernah sekolah tinggi, tapi laut telah mengajarkannya arti kesabaran, keberanian, dan keikhlasan. Ia tahu laut bisa memberi, tapi juga bisa mengambil kapan saja. Dan setiap malam ia pergi, ibu selalu menyalakan lampu minyak di teras sebagai penunjuk jalan pulang, seolah mengusir segala bahaya dari gelombang yang mungkin datang tiba-tiba.


Aku ingat betul, saat badai datang tanpa diduga dan ayah belum juga pulang. Kami semua panik, tapi ibu hanya menggenggam tanganku sambil berbisik, “Percaya sama laut dan doa ayahmu.” Subuh baru datang ketika bayangan perahu kecil terlihat di ujung horizon. Ayah pulang, wajahnya pucat, bajunya basah kuyup, tapi tetap tersenyum sambil mengangkat ember ikan.


"Maaf cuma dapat sedikit, tapi ayah masih bisa pulang. Itu sudah cukup," katanya pelan.


Meski hasil laut semakin tak menentu, ayah tak pernah menyerah. Uang sekolahku dikumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil lelang ikan di dermaga. Sepatu sekolahku dulu hanya satu pasang selama tiga tahun, disemir dengan arang agar tetap tampak hitam dan layak. Tapi aku bangga—karena setiap hal yang kupunya, datang dari peluh dan air asin perjuangan ayah.


Kini, setelah aku lulus kuliah dan bekerja di kota, aku pulang membawa kabar gembira. Di tengah matahari pagi dan aroma laut yang masih sama, aku memeluk ayah di tepi dermaga.


"Ayah… perjuanganmu nggak sia-sia. Aku sudah jadi orang yang ayah harapkan."


Ayah hanya tersenyum, menepuk pundakku. “Bagus. Tapi jangan lupakan laut. Laut sudah jadi saksi perjuangan kita.”


Dan hari itu, langkah kaki  ayah kembali menuju perahunya. Meski usianya tak muda lagi, ia tetap melangkah ke laut, seperti biasa—dengan harapan yang tak pernah surut.

Bagikan :

Tambahkan Komentar