Oleh: Zahra Agid Tsabitah

Malam itu, bulan sabit memudar di balik awan tebal, menyisakan kegelapan pekat yang ditelan oleh rimbunnya kebun kopi. Aku, Rio, bersama dua temanku, Arya dan Sita, nekat menyusuri jalan setapak berlumpur menuju sebuah rumah tua di ujung kebun. Kata orang, rumah itu angker. Ditinggalkan pemiliknya puluhan tahun lalu setelah tragedi misterius menimpa keluarga mereka. Kami, anak-anak kota yang bosan dengan hiburan biasa, mencari sensasi.


Udara dingin merasuk tulang, membawa aroma tanah basah dan samar-samar bau kemenyan yang menyesakkan. Semakin dekat, siluet rumah itu tampak semakin menyeramkan. Jendela-jendela yang pecah seperti mata kosong menatap kami, dan pintu depan yang lapuk sedikit terbuka, seolah mengundang kami masuk ke dalam pelukan kegelapan.


"Kau yakin ini ide bagus, Rio?" suara Sita bergetar, memecah keheningan. Wajahnya pucat pasi di bawah cahaya senter yang kami bawa.


Arya, yang biasanya paling berani, kali ini juga terlihat gelisah. "Aku dengar, di rumah ini sering terdengar suara tangisan anak kecil."


Aku, dengan sok berani, tertawa kecil. "Itu cuma cerita konyol. Ayo, kita buktikan!"


Kami melangkah masuk. Debu tebal menyelimuti setiap sudut ruangan, baunya apek dan pengap. Furnitur tua yang berbalut kain putih terlihat seperti hantu yang bersembunyi. Di ruang tamu, sebuah piano usang berdiri kaku. Jarinya-jari keyboardnya kotor dan berkarat.


Tiba-tiba, sebuah suara lirih terdengar dari lantai atas. Krieeeet… krieeeet… seperti langkah kaki yang menyeret. Jantung kami serasa berhenti berdetak.


"Apa itu?" bisik Sita, suaranya nyaris tak terdengar.


"Mungkin tikus," sahut Arya, meskipun suaranya sama gugupnya denganku.


Kami memutuskan untuk naik ke lantai dua. Setiap anak tangga berderit, seolah meratap di bawah bobot kami. Di ujung lorong gelap, ada sebuah kamar yang pintunya tertutup rapat. Dari celah bawah pintu, terpancar cahaya remang-remang.


Arya dengan ragu membuka pintu itu. Bau bunga melati yang sangat kuat menyeruak, menusuk hidung. Di tengah ruangan, sepasang boneka perempuan tua duduk di atas kursi goyang, menghadap ke arah kami. Mata boneka itu seperti terbuat dari kaca, memantulkan bayangan kami yang memucat.


Tiba-tiba, kursi goyang itu bergerak. Kriet… kriet… perlahan, lalu semakin cepat. Boneka-boneka itu seolah mengangguk, menatap kami dengan tatapan kosong namun penuh arti.


Sita menjerit histeris. "Ayo pergi! Ayo pergi sekarang!"


Kami berbalik dan berlari sekuat tenaga menuruni tangga. Namun, saat kami sampai di lantai bawah, suara piano dari ruang tamu mulai terdengar. Sebuah melodi sendu, sebuah lagu pengantar tidur yang terdengar mengerikan. Jarinya-jari itu bergerak sendiri, memainkan nada demi nada.


Kami tak berani menoleh. Yang kami lakukan hanyalah berlari, keluar dari rumah terkutuk itu, menembus kegelapan kebun kopi tanpa menoleh ke belakang. Kami terus berlari hingga napas kami tersengal, hingga kami merasa aman dari bayang-bayang rumah itu.


Sejak malam itu, kami tidak pernah lagi berani mendekati kebun kopi, apalagi rumah tua itu. Suara melodi piano dan tatapan kosong boneka-boneka itu masih menghantui mimpi-mimpi kami. Dan kadang-kadang, di tengah malam yang sunyi, dari kejauhan, seolah terbawa angin malam, kami masih bisa mendengar melodi sendu itu, mengalun dari kedalaman kebun kopi, seolah memanggil kami kembali.

Bagikan :

Tambahkan Komentar