Antusiasme peserta: Hasan Chabibie (dua dari kanan) saat sedang menyampaikan materi Workshop Technopreneurship di Ponpes Al Islah, Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/08/2017).
Pati, TABAYUNA.com - Selama ini, produk teknologi di Indonesia atau Nusantara masih sekadar wasilah di bidang wirausaha. Padahal, banyak orang sekarang ini lebih suka menggunakan jasa antar berbasis teknologi daripada meminta anak atau saudaranya membelikan makanan ke luar rumah.

"Lebih cepat pesan go food daripada perintah adiknya beli ke luar rumah," kata Hasan Chabibie ST., M.SI., narasumber dari Pustekkom Kemdikbud RI dalam Workshop Technopreneurship di Ponpes Al-Islah, Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/08/2017) siang.

Menurutnya, kepraktisan produk teknologi melahirkan transaksi busnis yang lebih murah karena memotong sekian jalur distribusi. Aplikasi semacam Go-Jek dan lainnya adalah bentuk nyata dari bisnis yang menggunankan teknologi sebagai basis perkembangan.

Baca juga: Kelompok SARACEN Dedengkot Penyebar Kebencian Dibekuk Polisi, Waspadai Ulahnya!

Antusiasme peserta: Suasana Workshop Technopreneurship di Ponpes Al Islah, Kadilangu, Trangkil, Pati, Sabtu (26/08/2017).

Dalam tehnopreneurship, lanjut Hasan, sebuah inovasi mencoba menemukan antara pengguna (user) produk dengan teknologi kreatif sehingga terciptalah pasar. "Tolong, yang muda-muda pintarlah mencari apa saja sih peluang tekologi untuk mmenuhi kebutuhan pasar," ujar Hasan yang juga mantan Ketua PW IPNU Jateng itu, di hadapan ratusan hadirin workshop.

Walau banyak yang belum menciptakan inovasi teknologi, setidaknya pemanfaatan teknologi untuk wirausaha terus didorong agar bisa mengurangi intelektual tanpa bekerja, utamanya di kalangan lulusan SMK yang menurut Hasan masih banyak menyumbang angka tinggi pengangguran.

"Anak-anak SMK itu dididik terampil menggunakan teknologi, tapi sayangnya setelah lulus mereka tidak banyak dibekali bagaimana cara menggunakannnya sehingga menjadi technopreneur," tandas Hasan, didampingi narasumber lainnya, praktisi technopreneur, Rifan Herriyadi.

Rifan yang kemudian membincang technopreneurship dari sisi praktisnya menyebutkan bahwa daftar orang kaya di dunia kini tidak lagi didominasi oleh pebisnis konvensional, "dominasi jumlah orang kaya sekarang bergeser ke bisnis teknologi," jelasnya.

Kepada peserta, Rifan juga menjelaskan banyaknya paluang bisnis via internet yang pernah dia lakukan, mulai dari menulis konten berbayar, menjadi youtuber, optimasi website untuk jualan online hingga pemanfaatan media sosial.

Baca juga: Cara Cepat Membasmi Penyebar Hoax di Facebook, Twitter dan Instagram

"Keuntungan menggunakan sarana teknologi internet itu bisa menjalankan bisnis 24 jam, modal kecil, dan hemat promosi," imbuh Rifan yang juga santri alumni Guyangan, Trangkil, Pati ini mengakhiri materinya.

Dalam workshop yang terselenggara atas kerjasama PC IPNU Pati dan AIS Jawa Tengah tersebut, hadir pula Kepala Balai Pustekkom Jateng, Didik Wira Samudra, SH, M.Kom., sebagai pembuka acara.

Kata Ketua Panitia, Irham Shodiq S.Pd.I, peserta yang hadir dalam workshop adalah kalangan pelajar, santri, mahasiswa, guru, dan warga masyarakat yang ingin belajar menjual hasil trasi dan produk lokal dari Trangkil via online. (TB44/ab).
Bagikan :

Tambahkan Komentar