Articles by "Cerpen"
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan


Oleh : Deby Arum Sari

Ada hari-hari ketika tubuhku berjalan, tapi jiwaku tertinggal entah di mana. Aku tersenyum, berbicara, bekerja, seperti biasa. Tapi di dalam, semuanya terasa sunyi dan hampa. Aku seperti mesin yang diprogram untuk terus hidup, padahal di balik kulit ini ada hati yang ingin berhenti sejenak dan hanya... diam.


Aku dan jiwaku pernah akur, dulu. Saat dunia masih sederhana. Saat luka bisa sembuh dengan pelukan ibu atau bermain di bawah hujan. Tapi entah sejak kapan kami mulai terpisah. Mungkin saat dunia mulai menuntut lebih dari yang bisa kutanggung. Atau saat aku mulai berpura-pura kuat agar tak jadi beban bagi siapa pun.


Suatu malam, aku duduk di pojok kamar dan berbisik lirih, “Di mana kamu?”

Jiwaku tidak menjawab. Tapi ia hadir dalam bentuk sesak, yang menyelinap perlahan seperti kabut, lalu menggenang menjadi tangis. Tangis yang bukan karena sedih, tapi karena akhirnya... merasa lagi. Setelah sekian lama hanya bertahan, hanya "berfungsi".


Aku mulai sadar, aku terlalu sering memaksa. Memaksa tersenyum saat ingin berteriak. Memaksa baik-baik saja demi tidak membuat orang lain khawatir. Aku lupa: jiwaku bukan mesin. Ia tidak butuh dilawan. Ia butuh istirahat. Ia butuh didengar. Ia butuh dipeluk—oleh diriku sendiri.


Kini, aku sedang belajar menyatu kembali dengannya. Belajar mengatakan tidak tanpa rasa bersalah. Belajar menangis tanpa merasa lemah. Belajar bahagia tanpa perlu validasi dari luar. Dan yang paling sulit: belajar memaafkan diriku sendiri—untuk semua luka yang kututup rapat.


Aku dan jiwaku masih dalam perjalanan menuju pulih. Tapi kami sudah berjalan bersama lagi, meski pelan. Dan bagiku, tak ada yang lebih menenangkan daripada tahu bahwa aku tak lagi sendirian di dalam diriku sendiri.


Oleh: Deby Arum Sari

Dito adalah anak kelas 5 SD yang sangat suka bersepeda. Setiap sore, ia selalu mengayuh sepedanya keliling desa, melewati sawah, jembatan bambu, dan pohon-pohon besar yang seperti penjaga setia jalanan. Tapi suatu hari, Dito menemukan sesuatu yang tidak biasa.


Pagi itu, ketika sedang membersihkan gudang di belakang rumah bersama kakeknya, Dito melihat sebuah sepeda tua berwarna merah yang sangat berdebu. "Sepeda siapa ini, Kek?" tanya Dito sambil menyentuh sadelnya.


"Itu sepeda kakek waktu kecil. Tapi katanya... itu sepeda ajaib," jawab sang kakek sambil tersenyum misterius.


Dito tertawa, "Sepeda ajaib? Maksudnya bisa terbang?"


"Kau coba saja sendiri. Tapi ingat, jangan gunakan sepeda itu untuk hal yang serakah atau jahat."


Malamnya, Dito tak bisa tidur. Pikirannya terus terbayang sepeda ajaib. Keesokan harinya, diam-diam ia mendorong sepeda tua itu keluar rumah dan mulai mengayuhnya.


Awalnya terasa biasa saja, tapi ketika Dito berkata pelan, “Andai aku bisa pergi ke negeri awan,” tiba-tiba sepeda itu mengeluarkan suara kring kring lalu... wuuuussshh! Roda depannya terangkat, lalu tubuh Dito dan sepedanya melayang tinggi ke langit!


Ia benar-benar berada di negeri awan! Segalanya putih, empuk, dan penuh warna pelangi. Burung-burung bisa berbicara, dan ada kelinci yang bisa menyanyi. Dito tertawa riang, bermain seluncuran pelangi dan makan permen kapas dari awan.


Namun tiba-tiba, datang awan hitam bernama Awu, si awan iri. Ia tidak suka ada anak manusia masuk ke dunia mereka. “Kau tidak boleh di sini!” teriak Awu sambil mengumpulkan hujan badai.


Dito panik, tapi sepeda ajaibnya berbisik, “Jangan takut, ucapkan keinginan pulang.”


Dengan cepat Dito menutup mata dan berkata, “Aku ingin pulang ke rumah sekarang!”


Wuuuusshhh! Dalam sekejap, ia sudah kembali di belakang rumah, dengan sepeda tua yang kini bersih dan berkilau seperti baru.


Sejak hari itu, Dito menjaga sepeda itu dengan baik dan hanya menggunakannya ketika benar-benar perlu. Ia tahu, kekuatan ajaib adalah anugerah yang harus disyukuri, bukan untuk pamer atau disalahgunakan.


Dan setiap kali ia mengayuh sepedanya, Dito selalu tersenyum... karena siapa tahu, petualangan ajaib berikutnya sedang menunggu di tikungan jalan.


Oleh : Deby Arum Sari

Setiap malam, ketika langit mulai pekat dan angin laut berembus kencang, ayah sudah bersiap. Dengan tubuh yang mulai membungkuk dimakan usia, ia memanggul jaring, membawa obor, dan melangkah pelan menuju perahu kayu kecilnya. Saat orang lain terlelap dalam hangatnya rumah, ayah justru berlayar menantang gelap dan dingin demi sesuap nasi untuk kami.


Ayah seorang nelayan sederhana. Tak pernah sekolah tinggi, tapi laut telah mengajarkannya arti kesabaran, keberanian, dan keikhlasan. Ia tahu laut bisa memberi, tapi juga bisa mengambil kapan saja. Dan setiap malam ia pergi, ibu selalu menyalakan lampu minyak di teras sebagai penunjuk jalan pulang, seolah mengusir segala bahaya dari gelombang yang mungkin datang tiba-tiba.


Aku ingat betul, saat badai datang tanpa diduga dan ayah belum juga pulang. Kami semua panik, tapi ibu hanya menggenggam tanganku sambil berbisik, “Percaya sama laut dan doa ayahmu.” Subuh baru datang ketika bayangan perahu kecil terlihat di ujung horizon. Ayah pulang, wajahnya pucat, bajunya basah kuyup, tapi tetap tersenyum sambil mengangkat ember ikan.


"Maaf cuma dapat sedikit, tapi ayah masih bisa pulang. Itu sudah cukup," katanya pelan.


Meski hasil laut semakin tak menentu, ayah tak pernah menyerah. Uang sekolahku dikumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil lelang ikan di dermaga. Sepatu sekolahku dulu hanya satu pasang selama tiga tahun, disemir dengan arang agar tetap tampak hitam dan layak. Tapi aku bangga—karena setiap hal yang kupunya, datang dari peluh dan air asin perjuangan ayah.


Kini, setelah aku lulus kuliah dan bekerja di kota, aku pulang membawa kabar gembira. Di tengah matahari pagi dan aroma laut yang masih sama, aku memeluk ayah di tepi dermaga.


"Ayah… perjuanganmu nggak sia-sia. Aku sudah jadi orang yang ayah harapkan."


Ayah hanya tersenyum, menepuk pundakku. “Bagus. Tapi jangan lupakan laut. Laut sudah jadi saksi perjuangan kita.”


Dan hari itu, langkah kaki  ayah kembali menuju perahunya. Meski usianya tak muda lagi, ia tetap melangkah ke laut, seperti biasa—dengan harapan yang tak pernah surut.


Oleh: Zahra Agid Tsabitah

Pak Tua renta itu duduk di beranda kecilnya, menatap jalanan yang ramai. Matanya yang keriput menyimpan banyak cerita, namun bibirnya jarang terbuka. Orang-orang memanggilnya Pak Bisu. Bukan karena ia tak bisa bicara, melainkan karena ia memilih diam.


Dahulu, Pak Tua adalah seorang musisi terkenal. Biola adalah belahan jiwanya. Melodi yang keluar dari gesekan dawainya mampu menyentuh relung hati pendengarnya, membawa suka dan duka dalam harmoni yang indah. Ia berkeliling dunia, memukau ribuan orang dengan senandung biolanya.


Namun, sebuah tragedi merenggut segalanya. Kebakaran melanda rumahnya, mengambil nyawa istri dan putrinya tercinta. Biolanya, satu-satunya warisan dari ayahnya, juga ikut hangus dilalap api. Sejak saat itu, Pak Tua membisu. Musik, yang dulunya adalah sumber kebahagiaannya, kini menjadi duri dalam ingatannya.


Setiap sore, seorang gadis kecil bernama Anya datang ke depan rumah Pak Tua. Ia tak pernah mencoba mengajaknya bicara. Ia hanya duduk di trotoar, mengeluarkan seruling bambunya yang sederhana, dan memainkan lagu-lagu riang. Melodinya tak semegah biola Pak Tua dulu, namun penuh dengan kepolosan dan semangat hidup.


Awalnya, Pak Tua tak menghiraukan Anya. Namun, setiap sore, alunan seruling itu selalu hadir, menembus dinding bisunya. Ada sesuatu dalam kesederhanaan nada itu yang perlahan meruntuhkan tembok kepedihan dalam hatinya.


Suatu sore, saat Anya memainkan sebuah lagu anak-anak yang riang, tanpa sadar Pak Tua mengetuk-ngetukkan jarinya mengikuti irama. Anya melihatnya dan tersenyum tulus. Ia terus bermain, dan kali ini, Pak Tua ikut bersenandung pelan. Suaranya serak dan bergetar, namun ada kehangatan di dalamnya.


Sejak hari itu, setiap sore mereka berbagi musik. Anya dengan serulingnya yang ceria, dan Pak Tua dengan senandung pelannya. Mereka tak banyak bicara, namun musik menjadi jembatan yang menghubungkan dua jiwa yang berbeda usia dan pengalaman.


Suatu hari, Anya membawa sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado lusuh. Ia memberikannya kepada Pak Tua. Dengan ragu, Pak Tua membukanya. Di dalamnya, tergeletak sebuah biola tua, bukan biola mahalnya dulu, namun tampak terawat dan siap dimainkan.


Anya tersenyum. "Kakek pernah cerita pada ayahku tentang biola kesayangan Kakek. Ini bukan biola yang sama, tapi ayah menemukannya di pasar loak. Semoga Kakek mau memainkannya lagi."


Air mata mengalir di pipi keriput Pak Tua. Ia mengambil biola itu dengan tangan gemetar. Ia usapkan jarinya pada dawai yang berdebu. Lalu, perlahan, ia mulai menggeseknya. Nada pertama terdengar sumbang, namun kemudian mengalun lembut, membawa kembali kenangan yang telah lama terkubur.


Melodi itu tidak lagi penuh kesedihan, namun juga ada harapan dan rasa syukur. Senandung biola Pak Tua kembali terdengar, berpadu dengan riang seruling Anya, menciptakan harmoni kehidupan di balik pintu rumah tua itu. Diamnya Pak Tua bukan lagi tentang kepedihan, melainkan tentang bagaimana musik, bahkan dalam kesederhanaannya, mampu menyembuhkan luka dan menemukan kembali kebahagiaan.


Oleh: Zahra Agid Tsabitah

Angin senja membelai dedaunan akasia di halaman rumah tua itu, membawa serta aroma melati yang kian semerbak. Arka, seorang pemuda dengan tatapan mata penuh rasa ingin tahu, mendongak menatap jendela loteng. Sudah bertahun-tahun rumah itu kosong, dijuluki ‘Rumah Angker’ oleh anak-anak kampung. Namun, bagi Arka, rumah itu menyimpan misteri yang jauh lebih menarik daripada sekadar hantu.


Hari itu, rasa penasaran Arka mencapai puncaknya. Berbekal senter dan secangkir keberanian, ia menyelinap masuk melalui celah pagar yang rusak. Debu tebal menyelimuti setiap sudut. Perabot-perabot usang tertutup kain putih, tampak seperti siluet hantu dalam remang senja. Arka melangkah perlahan, matanya menyapu setiap detail, mencari petunjuk.


Di ruang tamu, sebuah jam dinding kuno berhenti di angka dua belas. Jarumnya berkarat, seolah waktu telah membeku di sana. Arka mendekat, menyentuh permukaannya yang dingin. Tiba-tiba, ia merasakan tarikan aneh. Bukan, bukan tarikan fisik, melainkan semacam desiran energi yang membuat bulu kuduknya meremang.


Ia terus menyusuri ruangan demi ruangan hingga sampailah ia di sebuah kamar tidur utama. Di sana, di atas meja rias yang berdebu, tergeletak sebuah jam tangan saku perak yang kusam. Jam tangan itu tampak antik, dengan ukiran bunga mawar yang indah namun samar termakan usia. Arka mengambilnya, membalikkan jam tersebut. Ada tulisan kecil yang terukir di bagian belakang: "Untuk Sarah, selamanya."


Tanpa sadar, Arka memutar kenop jam itu. Sebuah suara klik pelan terdengar. Seketika, cahaya biru lembut memancar dari jam, mengisi ruangan. Arka terkesiap, menjatuhkan jam itu ke lantai. Namun, jam itu tidak pecah. Justru, cahaya itu semakin kuat, menyelimuti Arka. Ia merasakan pusing yang luar biasa, seolah tubuhnya ditarik ke dalam pusaran air.


Ketika pusing itu mereda, Arka mendapati dirinya berdiri di tempat yang sama, namun dengan pemandangan yang berbeda. Debu telah sirna, perabot-perabot tampak baru dan berkilauan. Aroma melati yang tadi samar, kini menyeruak kuat, memenuhi udara. Sebuah potret wanita muda yang cantik terpajang di dinding, tersenyum lembut. Sarah, Arka menduga.


Ia mendengar suara riuh dari luar, suara kereta kuda dan gelak tawa. Arka melangkah ke jendela. Pemandangan di luar adalah kota lama, dengan bangunan-bangunan berarsitektur kolonial yang megah, dan orang-orang yang berlalu lalang mengenakan pakaian kuno. Arka menyadari sesuatu yang mustahil: ia telah melompati waktu.


Panik menyergap. Ia melihat jam tangan saku itu masih ada di tangannya. Ia mencoba memutar kenopnya lagi, berharap bisa kembali. Namun, kali ini tidak ada reaksi. Jam itu tampak seperti jam tangan biasa.


Selama beberapa hari berikutnya, Arka mencoba beradaptasi. Ia menyamar sebagai seorang pendatang, mencari pekerjaan serabutan untuk bertahan hidup. Ia mencoba mencari tahu tentang Sarah dan pemilik rumah itu, berharap menemukan petunjuk untuk kembali ke zamannya. Ia mendengar cerita tentang seorang wanita bernama Sarah yang menghilang secara misterius bertahun-tahun yang lalu, dan kekasihnya yang setia, seorang penemu brilian, meninggal tak lama setelah itu karena patah hati.


Arka menyadari bahwa jam tangan itu mungkin adalah ciptaan penemu itu, sebuah alat untuk melintasi waktu. Ia mulai mempelajari segala sesuatu tentang penemuan dan teori waktu yang ada di era itu, mencari celah, petunjuk, atau apa pun yang bisa membawanya pulang. Ia menghabiskan malam-malamnya di perpustakaan, membaca buku-buku tebal, mencari pola, mencari kode.


Hingga suatu malam, ia menemukan sebuah arsip tua, berisi catatan-catatan pribadi sang penemu. Di sana, terselip sebuah diagram rumit dan tulisan tangan yang berbunyi: "Untuk Sarah, aku akan menemukanmu di mana pun kau berada, bahkan jika itu berarti melampaui batas waktu. Jam ini adalah kuncinya. Putar kenopnya pada saat bulan purnama penuh, saat bintang-bintang sejajar, dan gerbang akan terbuka."


Arka memeriksa kalender. Malam itu adalah malam bulan purnama penuh. Ia berlari kembali ke rumah tua itu, yang kini tampak hidup dan berseri. Ia menemukan posisi bintang-bintang yang sesuai dengan diagram, lalu dengan gemetar, ia memutar kenop jam tangan saku itu.


Cahaya biru yang sama muncul lagi, kali ini lebih terang dan kuat. Pusaran energi kembali menariknya. Kali ini, Arka tidak panik. Ia berpegangan erat pada jam tangan itu, dengan harapan di dadanya.


Ketika ia membuka mata, aroma melati kembali menjadi samar. Debu kembali menyelimuti perabot-perabot. Jam dinding kuno di ruang tamu kembali berhenti di angka dua belas. Ia telah kembali.


Arka terduduk lemas, terengah-engah. Di tangannya, jam tangan saku perak itu tampak lebih berkilau, seolah energinya telah terisi kembali. Ia melihat ukiran di belakangnya: "Untuk Sarah, selamanya."


Arka tersenyum tipis. Ia telah mengalami sesuatu yang luar biasa, sebuah petualangan melintasi waktu. Ia tidak tahu apakah ia akan menggunakannya lagi, namun ia tahu satu hal: rahasia rumah tua itu kini terkuak, dan ia adalah satu-satunya yang tahu. Mungkin, jam tangan itu bukan hanya alat untuk melintasi waktu, tapi juga pengingat bahwa cinta sejati bisa melampaui batas apa pun, bahkan waktu itu sendiri. Ia meletakkan jam tangan itu kembali ke tempatnya, di atas meja rias, membiarkannya menyimpan rahasia sampai suatu hari nanti, mungkin, ada Arka lain yang cukup berani untuk menemukannya.


oleh: Zahra Agid Tsabitah

Langit senja di tepi sawah selalu menjadi kanvas bagi impian Sasa. Setiap sore, ia duduk di pematang, menatap layang-layang merahnya yang menari-nari ditiup angin. Layang-layang itu bukan sekadar mainan; ia adalah harapan, simbol kebebasan yang selalu ia dambakan.


Sasa tinggal bersama Nenek di sebuah gubuk reyot. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan kerasnya hidup. Nenek selalu mengajarkan, "Hidup ini seperti layang-layang, Sasa. Kadang angin menerbangkanmu tinggi, kadang menjatuhkanmu. Tapi selama talinya kuat, kau bisa bangkit lagi."


Suatu hari, angin bertiup begitu kencang. Layang-layang merah Sasa melesat tinggi, lebih tinggi dari biasanya. Hati Sasa berdebar senang, namun sedetik kemudian, ia merasakan sentakan. Tali layang-layang itu putus. Layang-layang merahnya terbang menjauh, menghilang ditelan jingga senja.


Air mata Sasa tumpah. Ia merasa separuh jiwanya ikut terbang bersama layang-layang itu. Nenek memeluknya erat. "Tidak apa-apa, Nak. Layang-layang itu memang sudah waktunya terbang bebas. Mungkin ia akan mendarat di tempat yang lebih baik."


Sasa tidak percaya. Bagaimana mungkin ada yang lebih baik dari tangannya? Beberapa hari berlalu, Sasa kehilangan semangat. Pematang sawah terasa hampa.


Hingga suatu pagi, seorang kakek tua dari desa seberang datang ke gubuk mereka. Di tangannya, sebuah layang-layang merah yang sedikit lusuh, namun masih utuh. "Ini milik anakmu, Nenek?" tanyanya. "Aku menemukannya tersangkut di dahan pohon di puncak bukit sana. Anakku yang sakit, melihatnya dari jendela, dan hatinya jadi gembira sekali. Ia merasa mendapat harapan baru."


Sasa terhenyak. Layang-layang merahnya telah melakukan perjalanan yang jauh, melewati bukit yang tak pernah bisa ia jangkau. Dan di sana, ia telah membawa kebahagiaan bagi seseorang.


Nenek tersenyum. "Lihat, Sasa. Kadang, kehilangan bukanlah akhir. Tapi awal dari sesuatu yang baru. Layang-layangmu tidak hilang. Ia hanya menemukan tujuan yang lain, dan dengan begitu, ia bisa memberi manfaat yang lebih besar."


Sasa memandang layang-layang merah itu, lalu ke arah bukit yang menjulang. Ia mengerti. Kehilangan layang-layang itu memang menyakitkan, namun layang-layang itu telah memberikan makna yang lebih dalam. Ia telah menjadi simbol harapan bagi orang lain, bahkan tanpa ia sadari.


Sejak hari itu, Sasa tidak lagi bersedih. Ia kembali ke pematang sawah, menatap langit senja. Ia belajar bahwa melepaskan terkadang adalah cara terbaik untuk memberi ruang bagi sesuatu yang lebih besar dan bermakna untuk terjadi. Layang-layang merahnya mungkin tidak lagi ada di tangannya, tetapi kisahnya telah menumbuhkan harapan dan kebahagiaan di hati yang lain, sekaligus mengajarkan Sasa arti sejati dari kebebasan dan tujuan hidup.


oleh: Zahra Agid Tsabitah

Aroma kopi robusta yang kuat bercampur dengan bau kue cubit hangat selalu menyambut Maya di kedai kopi kecil di sudut Kota Lama Semarang. Kedai itu, dengan dinding bata ekspos dan jendela-jendela kayu besar, adalah tempat pelariannya setelah seharian berkutat dengan angka di kantor akuntan. Namun, beberapa bulan terakhir, ada alasan lain yang membuatnya betah berlama-lama di sana: Bima.


Bima adalah barista di kedai itu. Dengan senyumnya yang hangat dan tatapan matanya yang teduh, ia selalu berhasil meredakan lelah Maya. Percakapan mereka awalnya hanya seputar pesanan kopi dan cuaca, namun perlahan merambat ke buku favorit, musik indie, hingga mimpi-mimpi yang mereka simpan rapat.


Maya merasakan ada sesuatu yang berbeda setiap kali matanya bertemu mata Bima. Ada getaran halus yang menjalari hatinya, perasaan hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia menyukai caranya Bima mengingat jenis kopi kesukaannya, bagaimana ia selalu menyelipkan cerita singkat tentang biji kopi dari berbagai daerah di setiap pesanan.


Bima pun merasakan hal yang sama. Maya, dengan kesederhanaan dan kecerdasannya, selalu berhasil membuatnya tertarik. Ia menikmati setiap diskusi kecil mereka, bagaimana Maya bisa tertawa lepas mendengar leluconnya yang kadang garing. Ada ketenangan yang ia rasakan setiap kali Maya duduk di meja favoritnya dekat jendela.


Suatu sore, hujan gerimis membasahi jalanan Kota Lama. Kedai kopi itu tidak terlalu ramai. Maya seperti biasa memesan kopi susu dan duduk di mejanya. Bima menghampirinya setelah selesai membuat pesanan pelanggan lain.


"Hujan ya," katanya sambil tersenyum, menyeka tangannya dengan lap bersih.


"Iya," jawab Maya, menatap tetesan air di jendela. "Tapi suasana seperti ini justru membuat kopi terasa lebih nikmat."


Bima duduk di kursi kosong di depan Maya. "Betul. Ada semacam kehangatan tersendiri." Mereka terdiam sejenak, menikmati kebersamaan yang terasa begitu nyaman.


Lalu, Bima memberanikan diri. "Maya, sebenarnya... sudah lama aku ingin mengatakan ini. Aku menikmati setiap kali kamu datang ke sini. Percakapan kita, senyummu... semuanya membuat hari-hariku terasa lebih berwarna."


Wajah Maya bersemu merah. Ia menunduk, salah tingkah. "Aku juga, Bima. Aku selalu menantikan sore untuk bisa datang ke sini dan bertemu kamu."


Bima meraih tangan Maya yang tergeletak di meja. Jemarinya terasa hangat di kulit Maya. "Mungkin... kita bisa melanjutkan percakapan ini di luar kedai? Mungkin besok malam, kita bisa makan malam bersama?"


Maya mengangkat wajahnya, menatap mata Bima yang penuh harap. Senyumnya merekah. "Aku akan sangat senang."


Malam itu, hujan terus mengguyur Kota Lama. Namun di dalam kedai kopi, kehangatan cinta mulai tumbuh, sehangat aroma kopi robusta dan semanis senyum yang terukir di bibir Maya dan Bima. Cinta, terkadang, memang bisa ditemukan di tempat yang sederhana, dalam percakapan yang mengalir, dan dalam tatapan mata yang saling menemukan. Di kedai kopi kecil itu, di jantung Kota Lama yang menyimpan sejuta cerita, kisah cinta mereka baru saja dimulai, seperti senja yang indah menutup hari dan membuka harapan untuk esok yang lebih cerah.


Oleh : Anisa Rejeki

Namaku Naila, aku duduk di kelas 5 SD. Di pergelangan tangan kiriku, ada jam tangan kecil berwarna ungu muda. Warnanya sudah agak pudar, dan talinya sedikit sobek. Tapi aku tetap memakainya setiap hari. Karena itu... hadiah ulang tahun dari Ayah.


Waktu aku ulang tahun ke-9, Ayah bilang, “Jam ini buat Naila supaya nggak telat salat dan sekolah.” Lalu dia mengecup keningku dan tertawa. Aku ingat betul wajahnya saat itu .. hangat, penuh cinta. Aku senang sekali, karena itu pertama kalinya aku punya jam tangan sendiri.


Sejak saat itu, aku selalu pakai jam itu ke mana-mana. Bahkan waktu tidur pun kadang lupa melepasnya. Ayah juga sering tanya, “Jamnya masih dipakai, kan?” Aku selalu menjawab, “Masih dong, Yah!”


Tapi semuanya berubah sejak Ayah mulai sering batuk. Lama-lama, Ayah jadi cepat lelah. Kata Ibu, Ayah harus istirahat dan berobat. Beberapa hari kemudian, Ayah dibawa ke rumah sakit. Rumah terasa lebih sunyi tanpa suaranya.


Setiap kali kami menjenguk Ayah, aku selalu menunjukkan jam tanganku. Ayah tersenyum lemah dan mengusap kepalaku. Tapi senyumnya tidak seceria biasanya. Aku tahu, Ayah sedang berusaha kuat untuk kami.


Hingga pagi itu, Ibu membangunkanku dengan pelukan yang sangat erat. Tangannya gemetar, dan matanya basah.


“Naila... Ayah sudah nggak sakit lagi. Ayah sudah tenang di sisi Allah.”


Hatiku terasa seperti pecah. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan Ibu. Rasanya seperti ada lubang besar di dalam dadaku.


Hari-hari setelah itu berjalan pelan dan sepi. Aku tetap ke sekolah, tapi seperti ada yang hilang. Di kelas, aku lebih banyak diam. Teman-teman bertanya, “Naila kenapa?” Tapi aku cuma tersenyum dan berkata, “Nggak apa-apa.”


Setiap kali aku merasa sedih atau rindu, aku melihat jam tangan itu. Jarumnya masih berdetik, seperti mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan... walau rasanya hatiku berhenti.


Suatu sore, saat main di halaman rumah, jam tanganku tersangkut di pagar dan terjatuh. Talinya putus, kacanya retak. Aku langsung memungutnya dan menatapnya lama.


“Maaf ya, Yah... aku nggak hati-hati,” bisikku sambil menahan air mata.


Ibu yang melihatku segera mendekat dan memelukku. “Jamnya rusak nggak apa-apa, Nak. Yang penting kenangan Ayah tetap ada di hatimu.”


Keesokan harinya, Ibu mengajakku ke tukang jam di pasar. Jam itu diperbaiki, diganti talinya, dan dibersihkan. Meski bentuknya sudah sedikit berbeda, aku tetap bahagia.


Karena aku tahu, bukan soal jamnya yang penting... tapi siapa yang memberikannya.

Setiap kali jarum jam itu berdetik, aku bisa mendengar suara Ayah di hatiku:

“Naila anak hebat. Jangan menyerah ya. Ayah selalu bangga padamu.”

Kini, jam tangan itu tak sekadar alat penunjuk waktu. Ia adalah jam tangan kenangan, yang selalu membawaku kembali pada sosok Ayah, walau hanya lewat detakan waktu dan ingatan yang tak pernah padam.


Oleh: Ghaida Mutmainnah

Gang kecil di ujung kampung selalu menjadi tempat favorit Aksa dan Naira bermain setiap sore. Gang itu sempit, hanya cukup untuk satu motor lewat, tapi bagi mereka, itu adalah “istana rahasia” yang penuh petualangan. Ada pohon jambu yang dahannya menjuntai, tembok rumah yang penuh coretan kapur warna, dan suara kicau burung yang terdengar seperti lagu.


Aksa, dengan rambutnya yang selalu berantakan, duduk di atas pagar bata sambil mengayunkan kaki. Di sebelahnya, Naira yang mengenakan pita biru di rambut, sibuk menggambar di buku sketsanya. Mereka berdua adalah sahabat sejak TK, dan kini duduk di kelas 5 SD.


“Naira, kalau kita sudah besar nanti, kamu mau jadi apa?” tanya Aksa tiba-tiba.


Naira mengangkat kepalanya, tersenyum. “Aku mau jadi guru. Biar bisa ngajarin anak-anak membaca.”


“Kalau aku jadi pilot, aku akan antar kamu ke mana saja gratis!” kata Aksa sambil tertawa.


Naira ikut tertawa. “Janji ya? Jangan lupa. Kamu pilot, aku guru. Kita tetap sahabat!”


Aksa mengulurkan kelingkingnya. Naira menyambut dengan kelingkingnya juga. Mereka membuat janji, janji yang mereka kira akan selamanya.


Tapi musim hujan membawa kabar yang tak mereka duga. Ayah Naira mendapat pekerjaan di kota besar. Dalam dua minggu, Naira harus pindah.


Hari itu, Naira berdiri di ujung gang, menatap Aksa yang mendengar kabar itu dengan wajah muram. Hujan rintik turun pelan, membasahi ujung rambut mereka.


“Kamu beneran pindah?” suara Aksa serak.


Naira mengangguk pelan. “Iya… tapi aku nggak akan lupa janji kita. Kamu pilot, aku guru. Kita sahabat selamanya.”


Aksa menggigit bibir. “Tapi kalau kita jauh, kita nggak bisa main lagi di sini. Siapa yang bakal nemenin aku manjat pohon jambu?”


Naira menatap pohon jambu yang daunnya basah. “Kita tulis surat, ya? Biar tetap bisa cerita.”


Aksa diam. Ia menunduk, lalu mengulurkan kelingking lagi. “Janji di ujung gang. Kamu harus balas semua suratku!”


Naira tersenyum, meski air matanya ikut jatuh bersama hujan. “Janji!”


Hari-hari berlalu tanpa Naira di ujung gang. Aksa sering duduk sendirian di pagar bata, menulis surat untuk sahabatnya. Ia bercerita tentang nilai ulangan, tentang pohon jambu yang berbuah lagi, tentang kucing liar yang kini punya anak. Surat-surat itu ia masukkan ke kotak pos, berharap Naira membacanya sambil tersenyum.


Surat balasan Naira pun selalu datang. Ia bercerita tentang sekolah barunya, teman-teman barunya, dan rindunya pada gang kecil tempat mereka dulu bermain.


Hingga suatu hari, surat balasan berhenti datang. Sebulan, dua bulan, tiga bulan—tak ada kabar. Aksa mulai gelisah. Ia menulis lebih banyak surat, tapi semua kembali tanpa jawaban.


Tahun demi tahun berganti. Pohon jambu di ujung gang sudah tumbang. Tembok rumah penuh coretan kapur kini dicat ulang. Dan Aksa, yang kini sudah SMA, masih sering berjalan ke ujung gang. Ia berdiri di sana, mengenang masa kecilnya.


“Kalau aku jadi pilot beneran, apa Naira masih ingat janji kita?” gumamnya.


Suatu sore yang cerah, di ujung gang yang kini sepi, seorang gadis dengan pita biru di rambutnya berdiri sambil tersenyum. Ia menatap Aksa yang berjalan pulang dengan seragam SMA.


“Aksa…” suaranya lembut, tapi cukup untuk membuat Aksa menoleh.


Aksa terdiam. Gadis itu… rambutnya masih sama, pita biru yang sama, tapi kini ia terlihat lebih dewasa.


“Naira?” Aksa hampir tak percaya.


Naira tersenyum lebar. “Maaf, aku lama nggak balas surat. Waktu itu aku sakit lama… sampai harus berhenti sekolah sebentar. Tapi aku selalu simpan semua suratmu.”


Aksa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Semua rindu yang tertahan seakan meledak. “Aku pikir kamu lupa sama janji kita.”


“Mana mungkin,” jawab Naira sambil tertawa kecil. “Aku kan sahabatmu. Janji di ujung gang itu sakral!”


Mereka berdua berdiri di sana, di tempat yang penuh kenangan. Pohon jambu memang sudah tumbang, tapi hati mereka tetap menyimpan masa kecil yang tak pernah hilang.


Aksa tersenyum. “Jadi, kamu masih mau jadi guru?”


Naira mengangguk. “Dan kamu masih mau jadi pilot?”


“Masih. Supaya aku bisa antar kamu gratis ke mana saja,” jawab Aksa.


Naira tertawa. Mereka lalu mengaitkan kelingking kali ini dengan perasaan yang lebih dalam. Janji yang dulu mereka buat sebagai anak kecil kini terasa lebih berarti.


Di ujung gang itu, mereka tak hanya menemukan kembali sahabat lama, tapi juga menemukan bahwa janji masa kecil bisa jadi benih rasa yang tumbuh diam-diam.


Oleh : Khansa Aisyatul Nabilla

Raka bukan siapa-siapa di sekolah. Ia bukan ketua kelas, bukan juara lomba cerdas cermat, bahkan bukan anggota ekskul apa pun. Tapi semua orang mengenalnya sebagai “anak yang pernah jatuh dari panggung saat lomba senam massal." Satu kejadian yang cukup untuk menjatuhkan harga diri dan membangkitkan meme di seluruh grup kelas. Namun, siapa sangka di balik reputasi memalukannya, Raka menyimpan rasa suka yang cukup dalam terhadap Naya ketua OSIS yang selalu tampil sempurna, pintar, ramah, dan wangi seperti tisu basah rasa lemon. Setiap kali Raka melihat Naya berjalan melewati lorong sekolah, seakan waktu memperlambat langkahnya dan angin bertiup hanya untuknya. Masalahnya, Naya akan pindah sekolah bulan depan karena orang tuanya pindah tugas ke luar kota. Itu berarti Raka hanya punya waktu tiga minggu untuk menyatakan cinta, atau menyesal seumur hidup.


Setelah melalui diskusi panjang penuh strategi bersama dua sahabatnya Ucup dan Beni, yang sama-sama tidak ahli cinta tapi sok bijak bak konsultan kehidupan. Lahirlah ide gila yaitu menyatakan cinta saat upacara bendera. “Upacara itu momen nasionalis. Kalau kamu berani menyatakan cinta saat itu, dia pasti kagum,” kata Ucup sambil menggambar sketsa posisi tiang bendera dan area tembak pandangan ke Naya. “Lu harus jadi petugas pembaca Pancasila. Biar setelah sila kelima, langsung disisipin ‘Dan saya juga cinta kamu, Naya!’” tambah Beni, sambil ketawa-ketiwi membayangkan ekspresi guru-guru. Raka yang setengah waras, setengah nekat, mengangguk mantap. Ia pun menyuap Pak Jajang selaku guru olahraga yang juga pembina upacara dengan dua kotak nasi padang dan teh botol cap ulat pucuk kesukaannya demi mendapat posisi pembaca Pancasila hari Senin.


Hari Senin datang. Raka berdiri di lapangan dengan tangan gemetar. Seragamnya rapi, rambut disisir, dan keringat dingin menetes di pelipis. Saat giliran membaca tiba, ia melangkah ke podium dengan degupan jantung seperti bedug takbir. “Sila pertama… Ketuhanan Yang Maha… Cint—eh… Maha Esa!” Suara cekikikan terdengar dari berbagai penjuru. Tapi Raka lanjut. Sampai sila kelima, ia menguatkan diri dan menambahkan, “Dan saya juga cinta kamu, Naya.” Seketika lapangan sekolah meledak oleh tawa dan sorak-sorai. Pak Jajang nyaris menjatuhkan topi. Naya yang berdiri tak jauh dari tiang bendera tampak kaget sekaligus bingung. Dan Raka? Ia hanya ingin tanah terbuka dan menelannya saat itu juga. Setelah upacara, ia dipanggil ke ruang BK. Bu Yeni, guru BK yang terkenal lembut, hanya menghela napas sambil menahan senyum. “Kamu tahu, Raka. Sekolah ini bukan panggung sinetron.” Tapi entah mengapa, beliau tak terlalu marah. Mungkin karena melihat niat Raka yang begitu tulus.


Ketika Raka keluar dari ruang BK, ia terkejut melihat Naya sudah menunggunya di taman depan. “Kamu tahu nggak?” kata Naya sambil tersenyum kecil. “Itu... pengakuan cinta paling absurd yang pernah aku terima. Tapi juga paling jujur.” Raka hanya bisa tersenyum kaku, tak percaya Naya tidak marah atau menjauhinya. “Aku pindah minggu depan. Tapi kalau kamu nggak sibuk, aku pengin makan siang bareng kamu sebelum pergi,” lanjutnya pelan. Raka terdiam, lalu mengangguk seperti robot kehabisan baterai. Seminggu kemudian, sebelum Naya benar-benar pindah, ia meninggalkan sebuah surat kecil di dalam loker Raka. Isinya singkat tapi manis “Terima kasih sudah bikin Senin pagiku jadi luar biasa. Kalau nanti kamu jadi guru atau presiden, jangan lupa tetap absurd, ya. – Naya” Sejak hari itu, Raka bukan lagi “Senam Boy”. Ia dikenal sebagai “Pahlawan Cinta Pancasila” bukti bahwa kadang, cinta yang disampaikan dengan cara paling konyol pun bisa sampai ke hati.


Oleh: Audia Widyaningrum

Sejak kecil, bagi Risa, menyanyi bukanlah sekadar hobi, melainkan napas kedua. Di usianya yang baru menginjak tujuh tahun, ia sudah sering memanjat kursi tamu, menjadikan remote televisi sebagai mikrofon, dan berimajinasi di depan ribuan penonton yang hanya ada di kepalanya. Suaranya mungkin belum merdu sempurna, kadang melenceng, tapi semangatnya tak pernah padam.


Orang tuanya, meski kadang tersenyum geli melihat tingkah polah Risa, tak pernah melarang. Mereka justru membelikannya karaoke set mini saat ulang tahunnya yang kesepuluh. Sejak itu, kamar Risa berubah menjadi panggung. Teman-teman sekolah sering berkumpul, bukan untuk mengerjakan PR, melainkan untuk sesi sing-along dadakan yang dipimpin oleh Risa.


Memasuki masa SMA, suara Risa semakin matang. Ia mulai belajar teknik vokal secara otodidak dari YouTube, menirukan penyanyi idolanya, dan menemukan gaya bernyanyinya sendiri. Tak butuh waktu lama, bakatnya tercium oleh guru kesenian. Risa diminta bergabung dengan paduan suara sekolah dan tak jarang menjadi vokalis utama di acara-acara pentas seni. Perasaan gugup selalu menyerangnya sesaat sebelum naik panggung, namun begitu nada pertama meluncur dari bibirnya, semua kegelisahan itu lenyap ditelan alunan melodi. Di atas panggung, ia merasa menjadi dirinya yang paling otentik.


Namun, hidup tak selalu semerdu lagu favoritnya. Setelah lulus kuliah, Risa bekerja di sebuah perusahaan swasta. Jam kerja yang panjang, tuntutan pekerjaan yang tinggi, dan hiruk pikuk Jakarta perlahan mengikis waktu dan energinya untuk bernyanyi. Mikrofon di kamarnya mulai berdebu, senar gitarnya mengendur, dan buku-buku lagu kesayangannya tersimpan rapi di rak. Sesekali ia mencoba bersenandung saat mandi atau dalam perjalanan pulang, tapi rasanya berbeda. Ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang terasa hambar.


Suatu malam, setelah seharian penuh dengan rapat dan tenggat waktu, Risa merasa sangat lelah. Ia duduk di sofa, menatap kosong layar televisi. Tiba-tiba, sebuah melodi yang familiar terlintas di benaknya. Melodi lagu lama yang sering ia nyanyikan saat remaja. Tanpa sadar, bibirnya mulai mengikuti. Perlahan, satu demi satu kata terucap, membentuk lirik yang sempurna. Suara yang sempat meredup itu kini kembali bergema, meski hanya di dalam kamarnya yang sunyi.


Rasanya seperti meminum air setelah berhari-hari kehausan. Lega, menyegarkan, dan mengembalikan semangat yang sempat hilang. Malam itu, Risa memutuskan untuk tidak membiarkan kesibukan merenggut passion-nya. Ia mulai menyisihkan waktu, entah itu hanya 15 menit sebelum tidur atau saat istirahat makan siang, untuk bernyanyi. Ia bahkan mulai mengikuti kelas vokal lagi di akhir pekan.


Menyanyi bukan lagi sekadar penampilan di atas panggung atau pujian dari orang lain. Bagi Risa, menyanyi adalah cara untuk melepaskan penat, mengungkapkan perasaan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata, dan yang paling penting, menjadi dirinya sendiri. Setiap nada yang ia lantunkan adalah pengingat bahwa di tengah segala kesibukan dan tuntutan hidup, ada satu hal yang akan selalu ada untuknya: nada-nada yang membebaskan jiwanya.


Oleh: Audia Widyaningrum

Senja selalu menjadi waktu favorit Reno. Dari jendela kamarnya yang kecil, ia bisa melihat langit perlahan berubah warna, dari biru cerah menjadi jingga keunguan, lalu dihiasi bintang-bintang yang satu per satu muncul. Reno, si bungsu dari empat bersaudara, merasa seperti bintang kecil di tengah galaksi keluarganya. Kakak-kakaknya adalah bintang-bintang yang jauh lebih terang.


Ada Kak Bayu, si sulung yang gagah dan berwibawa, selalu menjadi kebanggaan orang tua dengan prestasinya di kampus. Lalu Kak Citra, si tengah yang cantik dan lembut, punya bakat melukis yang luar biasa. Dan Kak Doni, si nomor tiga yang ceria dan jago olahraga, selalu jadi pusat perhatian dengan tingkah lucunya. Sementara Reno? Ia sering merasa tak punya keistimewaan.


"Reno, tolong ambilkan handuk!" suara Kak Bayu sering terdengar.

"Reno, bantu Kakak mencari pensil warna!" pinta Kak Citra.

"Reno, passing bolanya ke sini!" teriak Kak Doni.


Ia memang selalu ada, selalu siap membantu, tapi perannya terasa seperti bayangan. Tak ada yang benar-benar fokus padanya. Orang tua sibuk dengan urusan Kak Bayu yang akan lulus, atau Kak Citra yang ikut pameran, atau Kak Doni yang akan bertanding. Reno sering menghabiskan waktu sendiri, membaca buku-buku lama atau menggambar di buku catatannya.


Suatu sore, saat semua kakaknya sibuk dengan urusan masing-masing, Reno mendengar percakapan kedua orang tuanya di ruang tamu.


"Kasihan Reno ya, Bu. Dia sering sendirian," kata Ayah.

"Iya, Yah. Kakak-kakaknya memang punya kelebihan masing-masing. Reno belum terlihat menonjol," sahut Ibu.


Hati Reno mencelos. Ia selalu tahu itu, tapi mendengarnya langsung membuat dadanya sesak. Ia berlari ke kamarnya, matanya berkaca-kaca. Benarkah ia tak punya kelebihan? Apa sebenarnya bakat Reno?


Malam itu, Reno tak bisa tidur. Ia bangkit, mengambil buku gambarnya, dan mulai mencoret-coret. Ia menggambar sebuah pemandangan senja, sama seperti yang ia lihat dari jendelanya. Dengan setiap goresan pensil, ia menumpahkan perasaannya. Kesepian, kerinduan akan perhatian, dan sedikit harapan.


Pagi harinya, Ibu masuk ke kamar Reno untuk membangunkannya. Matanya menangkap buku gambar yang terbuka di meja. Ia mengambilnya, dan napasnya tertahan. Gambar senja itu begitu hidup, dengan gradasi warna yang halus dan detail yang menakjubkan. Ada pohon-pohon kecil, sebuah rumah mungil, dan bintang-bintang yang mulai berkelip.


"Reno... ini kamu yang gambar?" tanya Ibu pelan, suaranya sedikit bergetar.

Reno mengangguk malu-malu.


Sejak hari itu, ada yang berbeda. Ibu sering meminta Reno menggambar untuknya, entah itu pemandangan, bunga, atau potret keluarga. Perlahan, perhatian kecil itu mulai tumbuh. Kak Citra, yang dulunya tak begitu memperhatikan, kini sering datang dan mengagumi gambar-gambar Reno, bahkan memberinya tips dan trik melukis. Kak Bayu sering memuji karyanya, dan Kak Doni sesekali meminta Reno menggambar karakter kartun favoritnya.


Reno mulai ikut lomba menggambar di sekolah, awalnya hanya untuk iseng. Tapi ia memenangkannya! Gambarnya dipajang di mading sekolah, dan teman-temannya mulai mengenal Reno bukan hanya sebagai "adiknya Kak Bayu", tapi sebagai "Reno si pelukis".


Perjalanan Reno sebagai anak bungsu mengajarkannya sesuatu yang berharga. Ia mungkin tak lahir dengan bakat yang langsung terlihat mencolok seperti kakak-kakaknya. Ia mungkin harus menemukan jalannya sendiri, di tengah bayang-bayang mereka. Namun, justru dari kesendirian dan usahanya menemukan jati diri, ia berhasil memancarkan cahayanya sendiri. Ia adalah bintang kecil yang tak perlu bersaing, karena ia punya keindahan cahayanya sendiri.


Dan seperti senja yang selalu berbeda setiap harinya, Reno tahu bahwa ia akan terus tumbuh, terus melukis, dan terus menunjukkan pada dunia bahwa setiap bintang, sekecil apa pun itu, memiliki tempatnya sendiri di galaksi yang luas.


Oleh: Audia Widyaningrum

Di sebuah desa kecil yang selalu diselimuti kabut pagi dan aroma tanah basah, ada sebuah warung kopi sederhana bernama Warung Kopi Mbok Tinah. Letaknya di pojok pertigaan jalan, beratap seng tua, dan ditemani kursi-kursi kayu yang sudah miring sebelah. Tapi jangan salah—warung itu adalah pusat informasi, gosip, dan patah hati.


Pagi itu, langit mendung sejak subuh. Burung pun enggan berkicau. Mbok Tinah yang sudah 30 tahun jualan kopi, berdiri sambil menatap awan.


"Hmm, bau-bau hujan," gumamnya, sambil membalik pisang goreng.


Tak lama kemudian, datanglah pelanggan setia: Pak Darto, duda tiga kali yang selalu datang dengan sandal jepit dan cerita absurd. Ia duduk sambil menaruh helm setengah pecahnya di meja.


“Mbok, kopi satu. Manis kayak kenangan pertama,” katanya sambil senyum-senyum sendiri.


Mbok Tinah hanya geleng-geleng. “Kenangan pertama yang mana, to, Pak? Yang ditinggal atau yang ninggalin?”


Belum sempat Pak Darto menjawab, DRAAAK! — hujan turun. Deras sekali. Hujan deras itu jatuh di atap seng seperti irama gendang dangdut. Warung seketika penuh oleh pengendara motor yang berteduh, lengkap dengan bau jas hujan basah dan suara sandal lecak.


Di pojok warung, duduk seorang pemuda asing. Namanya Galang, anak kota yang sedang liburan ke desa. Ia sibuk merekam suara hujan dengan ponselnya.


“Mas, rekam apa to?” tanya Mbok Tinah penasaran.


“Suara hujan, Mbok. Buat relaxing sound, biar bisa tidur.”


Pak Darto menimpali, “Halah, zaman saya dulu, cukup denger cicak jatuh aja langsung merem!”


Semua tertawa. Galang ikut tertawa, meskipun dia tak begitu paham kenapa cicak bisa jadi patokan tidur.


Tiba-tiba, dari balik hujan, muncul sosok perempuan muda mengenakan jas hujan warna kuning cerah. Ia masuk warung dengan senyum malu-malu.


“Eh, itu kan Lala!” teriak Pak Darto, semangat seperti anak muda.


Lala, gadis desa yang baru pulang kuliah dari kota, tersipu. Ia memesan teh manis dan duduk di dekat Galang. Hujan masih deras, dan suasana warung berubah jadi romantis.


Seketika, Mbok Tinah bergumam ke Pak Darto, “Lha, cocok to mereka? Yang satu rekam hujan, yang satu datang pas hujan.”


Pak Darto mengangguk, “Hujan memang selalu bawa jodoh, Mbok. Kalau nggak jodoh, ya paling banter bawa masuk angin.”


Semua kembali tertawa.


Hujan pun reda perlahan. Satu per satu orang pergi. Galang dan Lala masih duduk, mengobrol pelan tentang kota, kampung, dan suara hujan yang ternyata sama indahnya di mana pun.


Dan Mbok Tinah? Ia hanya tersenyum, menyeduh kopi baru, sambil bergumam, “Warung tua ini, saksi hujan… dan mungkin juga saksi cinta.”


Oleh: Anisa Rejeki

Namaku Dika, kelas 5 SD. Aku anak yang cukup rajin… kalau tugasnya tentang menggambar atau bermain peran. Tapi kalau sudah soal Matematika, otakku langsung panas kayak wajan goreng tempe.


Hari Senin kemarin, Bu Rina, guru Matematika kami, memberikan PR tentang pecahan. Katanya, "Ini gampang, ya. Cuma 5 soal."


Gampang buat beliau, tapi buat aku? Itu sama aja kayak disuruh ngitung bintang di langit.


Di rumah, aku duduk di depan buku tugas selama satu jam, tapi halaman itu tetap kosong seperti perutku pas belum sarapan. Jadi aku punya ide cemerlang: besok pagi aku akan mengintip tugas teman. Tapi harus rahasia!


Targetku sudah jelas: Tama.

Dia anak paling pintar di kelas, selalu dapat nilai 100, dan... dia baik. Tapi kalau soal tugas, dia suka bilang, "Kerjakan sendiri, biar tambah pintar."


Aku mulai menyusun Rencana Misi Rahasia Mengintip Tugas Tama.


Hari H: Selasa Pagi


Aku datang ke sekolah lebih awal. Aku bawa kaca pembesar mainan dan buku catatan kecil. Aku bahkan pakai topi bulu-bulu milik adik bayiku buat penyamaran. Pokoknya serius!


Di kelas, Tama duduk di bangku depan dekat jendela. Buku tugasnya selalu dia keluarkan sambil menunggu bel masuk. Nah, di situlah aku akan beraksi.


Aku duduk di belakangnya, pura-pura baca buku. Tapi sebenarnya, aku sedang intip ke bawah mejanya.


Masalahnya, Tama menaruh buku tugasnya... di dalam tas.


Waduh! Gimana dong?


Aku bisik-bisik, "Tama, kamu udah ngerjain PR belum?"


Tama menoleh. "Udah dong. Kamu?"


Aku senyum canggung. "Iya… tinggal sedikit." (Padahal belum nulis satu angka pun!)


"Hebat," kata Tama sambil senyum. Ih, kenapa dia baik banget sih? Jadi nggak enak mau ngintip.


Tapi misi adalah misi. Aku harus bertindak.


Saat Tama berdiri mau buang sampah ke tempat sampah di pojok kelas, aku cepat-cepat nyelongok ke dalam tasnya. Nah, ketemu! Buku tugasnya di sana, terbuka di halaman PR.


Aku langsung catat cepat—pecahan satu per dua ditambah satu per tiga sama dengan (duh, ini gimana caranya?)


Pas aku lagi sibuk menyalin, tiba-tiba


“Dika, kamu ngapain lihat tas orang?”


Suara itu.... BU RINA!

Tiba-tiba beliau sudah berdiri di pintu, melihat aku yang lagi setengah jongkok dengan ekspresi kayak ketangkep basah nyuri kue lebaran.


Aku langsung berdiri tegap. “Saya.....saya.... lihat semut, Bu.”


“Semut?” tanya Bu Rina sambil menaikkan alis.


“Iya Bu, semutnya masuk ke tas Tama. Saya mau selamatkan,” jawabku cepat.


Bu Rina mendekat. “Jadi kamu penyelamat semut sekarang?”


Aku senyum malu-malu. “Iya, Bu... semacam pahlawan kecil...”


Teman-teman di kelas mulai cekikikan. Tama datang dan kebingungan, “Lho, ada apa?”

“Gak apa-apa, Tama. Semutnya sudah aman,” kataku, mencoba tetap keren.

Akhirnya, Bu Rina menyuruhku duduk. Tapi beliau tidak marah. Malah, beliau bilang,

“Kalau kamu belum bisa, tanya ke teman atau ke Bu Guru, jangan mengintip. Tugas itu buat belajar, bukan buat lomba mencontek.”

Aku manggut-manggut. Malu sih, tapi aku lega nggak dihukum. Dan lebih lega lagi… Tama gak marah!

Malah waktu istirahat, Tama datang dan ngajarin aku cara ngerjain pecahan. Ternyata gampang banget kalau dia yang jelasin.

Hari itu aku belajar dua hal penting:

1. Pecahan itu tidak seseram yang kupikir.

2. Mengintip itu bukan cara yang tepat, apalagi kalau ada guru di belakangmu.

Sejak saat itu, aku gak pernah bikin misi rahasia mengintip tugas lagi. Tapi, aku tetap pakai topi bulu-bulu itu kadang-kadang. Biar gaya.


Oleh: Ghaida Mutmainnah

Langit sore itu seperti kanvas yang disengaja dilukis dengan warna jingga, merah, dan ungu yang berpadu indah. Burung-burung pulang ke sarang, dan angin sore menyapa lembut wajahku yang sedikit lelah setelah seharian bekerja. Aku duduk di bangku taman, hanya ingin menikmati sisa waktu sebelum malam menutup hari.


Taman kota ini selalu jadi tempat favoritku untuk mencari ketenangan. Suasana yang tidak terlalu ramai, aroma rumput basah, dan suara gemericik air dari kolam kecil di tengah taman. Aku menatap lurus ke langit senja, berharap ada yang menarik perhatianku selain sepi yang selalu setia menemani.


Tapi sore itu berbeda. Seseorang berdiri di ujung jalan setapak, tampak ragu-ragu. Dia membawa buku di tangannya, dengan rambut panjang yang diikat asal-asalan. Pakaian sederhananya kemeja krem dan celana jeans justru membuatnya terlihat hangat di bawah cahaya senja.


Aku tak tahu kenapa mataku tak bisa lepas darinya. Dan saat dia akhirnya mengangkat kepala, pandangan kita bertemu. Tatapannya—yang sedikit terkejut—membuat dadaku berdegup aneh.


Dia berjalan pelan mendekat, lalu duduk di bangku sebelahku. Taman ini cukup sepi, jadi kehadirannya terasa begitu nyata. Sesaat kita hanya diam, seolah tak ingin merusak keindahan senja.


“Hari ini senjanya cantik, ya,” katanya tiba-tiba. Suaranya lembut, seperti nada gitar yang dipetik pelan.


Aku tersenyum, sedikit kaku. “Iya, cantik sekali. Rasanya sayang kalau dilewatkan.”


Dia mengangguk, menatap langit yang mulai kehilangan cahaya jingganya. “Aku sering datang ke sini, tapi biasanya nggak ada yang duduk di bangku ini. Kamu sering ke sini juga?”


“Cukup sering. Tempat ini semacam pelarian dari sibuknya dunia.”


Dia tertawa kecil. “Sama. Kadang aku bawa buku, kadang cuma duduk aja kayak sekarang. Namaku Aira.”


“Raka,” jawabku, sambil mengulurkan tangan. Dia menyambutnya dengan hangat. Dan entah kenapa, aku merasa berjabat tangan dengannya seperti membuka pintu ke dunia yang baru.


Kita berbicara banyak hal. Tentang pekerjaan, tentang hobi, tentang alasan kenapa kami berdua sama-sama senang duduk di taman sore hari. Aira bercerita dia seorang penulis lepas yang mencari inspirasi di mana saja, sedangkan aku seorang pegawai kantor yang diam-diam memimpikan hidup lebih sederhana.


“Kadang aku berpikir, hidup terlalu cepat berlalu. Kita terlalu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa menikmati hal-hal kecil seperti ini,” katanya sambil menunjuk ke langit yang mulai temaram.


Aku mengangguk. “Mungkin itu sebabnya Tuhan menciptakan senja. Supaya kita berhenti sejenak, melihat langit, dan bersyukur masih bisa bernapas.”


Aira tersenyum. Senyum yang hangat, sederhana, tapi entah kenapa membuat dadaku terasa penuh.


Waktu berjalan begitu cepat. Matahari sudah hampir tenggelam, dan udara mulai dingin. Aira mengecek jam tangannya, lalu berkata dengan nada sedikit berat, “Sepertinya aku harus pulang. Besok aku ada deadline tulisan.”


Aku mengangguk, meski sebenarnya enggan. “Boleh aku… berharap kita bertemu lagi di sini?” tanyaku dengan ragu.


Dia tersenyum, kali ini lebih lebar. “Tentu. Kalau semesta mengizinkan, kita pasti bertemu lagi.”


Dia bangkit, melangkah pergi. Tapi sebelum benar-benar menjauh, dia menoleh dan melambaikan tangan. “Sampai jumpa, Raka.”


“Sampai jumpa, Aira.”


Dan sore itu, di ujung senja, aku tahu aku baru saja menemukan seseorang yang akan selalu memenuhi pikiranku.


Sejak sore itu, aku kembali ke taman setiap hari di jam yang sama. Tapi Aira tak kunjung muncul. Setiap bangku kosong di taman membuat dadaku terasa makin berat.


Hingga pada hari ketiga, saat aku hampir putus asa, dia datang. Dengan buku di tangan dan senyum yang sama.


“Kukira kamu sudah bosan menunggu,” katanya sambil duduk di sampingku.


“Mana mungkin,” jawabku. “Senja nggak pernah membosankan. Apalagi kalau ada kamu.”


Wajahnya memerah, dan aku tahu pertemuan ini akan jadi awal cerita yang tak bisa lagi kuceritakan dengan kata-kata biasa.


Oleh: Ghaida Mutmainnah

Hujan turun deras di luar jendela, membenturkan dirinya ke kaca seperti ingin menyampaikan sesuatu. Di dalam kafe kecil itu, aroma kopi pekat bercampur dengan wangi kayu basah. Aku duduk di sudut, menatap layar ponsel yang kosong, menunggu pesan darimu yang entah akan datang atau tidak.


Kita pernah duduk di sini persis di meja ini tertawa begitu keras sampai barista harus menegur. Dulu, kau bilang, “Kalau nanti kita tua, kita akan tetap datang ke sini, ya? Pesan menu yang sama, duduk di sudut yang sama.”


Aku tersenyum pahit. Menu yang sama masih ada, sudut yang sama masih ada, hanya kau yang tidak ada.


Aku ingat pertemuan kita pertama kali di halte bus. Aku sedang menulis di buku catatan, kau tiba-tiba duduk di sebelahku dan dengan santai berkata, “Kamu tahu nggak, kenapa orang yang kita tunggu selalu terasa lebih lama datangnya daripada bus?”


Aku menoleh, heran dengan pertanyaan random itu. Kau tersenyum, dan aku tak bisa menahan tawa. Entah sejak kapan, kau mulai duduk di sebelahku setiap sore, bercerita tentang film, buku, bahkan tentang anjing tetanggamu yang suka menggonggong tengah malam.


“Kita kayak orang asing yang nggak asing,” katamu suatu hari. Dan kalimat itu melekat di kepalaku sampai sekarang.


Setelah berminggu-minggu, kita akhirnya jadi “kita.” Bukan lagi dua orang asing di halte. Malam itu, di bawah lampu jalan, kau mengatakannya sambil gemetar, “Kalau aku nggak bilang sekarang, aku takut menyesal. Mau nggak, jadi bagian dari hidupku?”


Aku menjawab dengan senyum yang lebih besar daripada kata “iya” yang keluar. Malam itu, kata ‘kita’ resmi dilahirkan.


Kita menulis cerita bersama. Pergi ke pasar malam, mencoba semua wahana sampai pusing, makan mi ayam di warung kecil langgananmu, hingga berbagi mimpi-mimpi kecil yang terlihat mustahil tapi selalu kau buat terasa mungkin.


Kau selalu berkata, “Kalau ada kamu, mustahil pun jadi mungkin.”


Namun, kata ‘kita’ mulai retak pelan-pelan. Kita sibuk. Aku sibuk dengan kerjaan yang menumpuk, kau sibuk mengejar karier di kota lain. Kita bilang akan berjuang, tapi jarak selalu punya cara membuat segalanya berubah.


Pesan-pesanmu semakin jarang. Telepon yang dulu kita lakukan sampai tertidur kini hanya sekadar formalitas. Aku sering duduk dengan ponsel di tangan, berharap ada chat darimu.


Suatu malam, kau hanya menulis:


 “Maaf, aku terlalu lelah. Besok kita ngobrol, ya.”


Besok itu tak pernah benar-benar datang.


Dan akhirnya hari itu tiba. Hari di mana kita duduk berhadapan di kafe ini, hanya untuk membicarakan tentang “akhir.” Kau terlihat lelah, matamu sayu, senyummu yang dulu hangat kini terasa dipaksakan.


“Aku nggak mau kita terus begini, saling menunggu tanpa kepastian,” katamu.

“Apa maksudmu?” tanyaku, walau aku tahu apa yang kau maksud.

“Kita… sudah nggak sama lagi. Mungkin kita harus…”

“Berhenti?” potongku, dengan suara yang hampir pecah.


Kau mengangguk. Hanya itu. Tak ada kata panjang, tak ada drama. Hanya anggukan dan tatapan yang memohon maaf.


Kini aku di sini lagi, di sudut yang sama, dengan kopi yang sama, sendirian. Semua terasa kosong tanpa tawa dan ceritamu.


Aku menulis pesan panjang di ponsel:


 “Apa kabar? Kadang aku masih berharap kita bisa kembali jadi kita. Tapi mungkin sekarang kita hanyalah dua orang asing lagi kali ini tanpa halte.”


Tapi aku tak pernah menekan tombol kirim. Karena aku tahu, sebelum kata kita jadi kenangan, kau sudah memilih untuk jadi masa lalu.


Hujan masih turun di luar. Aku menyeruput kopi yang sudah dingin, menatap kursi kosong di depanku, dan dalam hati berkata:


 “Terima kasih sudah jadi ‘kita’, walau sebentar. Semoga bahagia, di mana pun kamu sekarang.”


Oleh: Audia Widyaningrum

Sarah selalu percaya, jawaban terbaik untuk setiap pertanyaan hidup yang rumit adalah jalan-jalan. Bukan sekadar liburan mewah, tapi perjalanan yang spontan, yang membawanya jauh dari hiruk pikuk kota dan rutinitas yang menjemukan. Hari itu, dengan ransel favorit dan sepasang sepatu hiking usang, ia siap sekali lagi membuktikannya.


Pagi itu, tiket kereta ekonomi menuju suatu tempat di Jawa Timur, yang namanya pun ia baru tahu semalam, sudah ada di tangannya. Tujuannya? Ia tidak punya tujuan pasti. Ia hanya ingin mengikuti ke mana angin membawanya, seperti daun kering yang menari.


Perjalanan dimulai dengan deru kereta yang menenangkan. Pemandangan di luar jendela berubah perlahan, dari gedung-gedung tinggi menjadi hamparan sawah hijau yang diselingi bukit-bukit kokoh. Di sampingnya, seorang ibu tua dengan senyum ramah menawarkan sepotong ubi rebus. Percakapan singkat itu terasa lebih akrab daripada obrolan panjang dengan rekan kerja.


Setibanya di stasiun yang sepi, Sarah melihat papan petunjuk arah ke sebuah desa kecil di lereng gunung. Tanpa ragu, ia memutuskan untuk berjalan kaki. Matahari mulai condong, memancarkan cahaya keemasan yang menghangatkan. Setiap langkah di jalan setapak berbatu terasa seperti membuang beban dari pundaknya. Udara bersih, suara burung berkicau, dan aroma tanah basah adalah simfoni yang sempurna.


Di desa itu, ia menemukan sebuah penginapan sederhana yang dikelola sepasang suami istri paruh baya. Mereka menyambutnya hangat, seolah ia adalah keluarga yang pulang kampung. Malamnya, sambil menyesap teh hangat, Sarah mendengarkan cerita-cerita penduduk lokal tentang legenda gunung dan kearifan hidup. Ia menyadari, setiap tempat memiliki jiwanya sendiri, dan jiwa itu terungkap melalui orang-orangnya.


Esok paginya, ia memutuskan mendaki bukit terdekat. Jalurnya curam, sesekali ia terpeleset, namun semangatnya tak padam. Semakin tinggi ia melangkah, semakin luas pemandangan yang terhampar di bawahnya. Dari puncak, ia melihat desa yang tadi malam menampungnya, sawah-sawah yang seperti permadani hijau, dan langit biru tanpa batas.


Di sana, di ketinggian itu, Sarah merasa sepertinya ia bisa menyentuh awan. Pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal di benaknya—tentang karier, tentang masa depan, tentang arah hidupnya—seolah mengecil dan larut dalam keagungan alam. Ia menyadari, terkadang, kita hanya perlu menjauh sejenak, melihat gambaran besar dari ketinggian, untuk menemukan perspektif baru.


Perjalanan pulang terasa berbeda. Sepatu hikingnya kini menyimpan lebih banyak debu, ranselnya terasa lebih ringan, dan hatinya... hatinya penuh dengan rasa syukur dan inspirasi baru. Jalan-jalan bukan lagi sekadar pelarian, melainkan sebuah penemuan. Penemuan akan keindahan dunia, kebaikan hati orang-orang asing, dan yang terpenting, penemuan akan dirinya sendiri.


Sarah tersenyum. Ia tahu, petualangan tak pernah benar-benar berakhir. Selama sepasang sepatu dan dunia masih menanti, ia akan terus berjalan.



Oleh: Futimatul Islamiyah

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh hamparan sawah hijau, hiduplah seorang pemuda bernama Arif. Sejak kecil, Arif sudah terbiasa membantu orang tuanya bekerja di ladang. Namun, hatinya selalu tertuju pada cita-cita besar: ingin menjadi seorang guru agar bisa mengubah nasib desanya.


Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Arif sudah bangun untuk belajar di bawah sinar lampu minyak. Buku-buku bekas yang ia dapat dari sekolah desa menjadi harta berharga baginya. Meski sering lelah dan ingin menyerah, tekadnya untuk menggapai mimpi tak pernah pudar.


Suatu hari, Arif mendengar kabar bahwa akan ada ujian beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke kota. Ia tahu ini adalah kesempatan emas yang harus diraihnya. Dengan semangat membara, ia mulai belajar lebih giat, mengorbankan waktu bermain dan istirahat demi masa depan yang lebih cerah.


Namun, perjuangan Arif tidak mudah. Keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya harus bekerja sambil belajar. Ia menjadi tukang ojek di sore hari untuk membantu biaya sekolah. Meski lelah, senyum dan harapan selalu menghiasi wajahnya setiap kali mengayuh sepeda motor kecilnya.


Hari ujian pun tiba. Dengan tangan gemetar dan hati penuh doa, Arif mengerjakan soal demi soal. Ia tahu ini adalah pintu gerbang menuju masa depan yang selama ini ia impikan. Setelah ujian selesai, ia kembali ke desa dengan rasa lega dan harapan yang menggelora.


Beberapa minggu kemudian, pengumuman hasil ujian beasiswa datang. Arif dinyatakan lulus dan mendapatkan beasiswa penuh untuk belajar di kota. Kegembiraan dan rasa syukur tak bisa ia sembunyikan. Ia tahu perjuangannya selama ini tidak sia-sia.


Di kota, Arif menghadapi tantangan baru. Lingkungan yang berbeda dan pelajaran yang lebih sulit membuatnya harus terus beradaptasi dan berjuang. Namun, semangatnya untuk menjadi guru dan membantu desanya selalu menjadi motivasi terbesar dalam setiap langkahnya.


Tahun demi tahun berlalu, Arif akhirnya berhasil menjadi guru. Ia kembali ke desanya dengan penuh kebanggaan, membawa ilmu dan pengalaman untuk mengajar anak-anak desa. Perjuangan panjangnya membuktikan bahwa mimpi besar bisa terwujud dengan kerja keras dan ketekunan, meski harus melewati jalan penuh liku dan tantangan.

Oleh Zahra Agid Tsabitah

Di sebuah desa, di antara hamparan sawah yang menghijau dan barisan perbukitan Menoreh yang membisu, tersembunyi sebuah legenda tentang "Sendang Panguripan", mata air kehidupan. Konon, air dari sendang ini memiliki khasiat menyembuhkan segala penyakit dan membawa keberuntungan bagi siapa pun yang meminumnya. Namun, keberadaan sendang itu dirahasiakan dan hanya bisa ditemukan oleh orang-orang yang berhati bersih dan memiliki keberanian.


Dua sahabat karib, Arya yang lincah dan Laras yang penuh rasa ingin tahu, tumbuh besar dengan cerita tentang Sendang Panguripan. Arya, dengan jiwa petualangnya yang membara, selalu bermimpi untuk menemukan sendang itu. Sementara Laras, dengan kecintaannya pada buku-buku kuno dan cerita rakyat, berusaha mencari petunjuk melalui berbagai catatan dan tuturan para sesepuh desa.


Suatu sore, di bawah rindangnya pohon beringin tengah-tengah desa, Laras menunjukkan sebuah potongan lontar tua kepada Arya. Lontar itu, yang ia temukan di loteng rumah kakeknya, berisi puisi kuno yang diyakini sebagai petunjuk menuju Sendang Panguripan. Puisi itu penuh dengan metafora dan simbol-simbol alam yang membuat Arya mengerutkan kening.


"Lihat, Arya," kata Laras bersemangat, "di sini tertulis tentang 'dua gunung kembar yang menjaga gerbang', 'sungai perak yang berkelok', dan 'bisikan angin di pohon purba'. Kurasa ini adalah petunjuk tentang lokasi Sendang Panguripan."


Arya mengamati potongan lontar itu dengan saksama. Ia memang tidak begitu mahir dalam menafsirkan puisi, tetapi ia mengenali beberapa ciri alam yang disebutkan. "Gunung kembar? Mungkinkah itu Gunung Lanang dan Gunung Wadon yang terlihat dari desa kita?" tebak Arya.


Laras mengangguk setuju. "Dan 'sungai perak yang berkelok' bisa jadi adalah Kali Bogowonto yang membelah desa. Tapi bagaimana dengan 'bisikan angin di pohon purba'?"


Malam itu, Arya dan Laras tidak bisa tidur nyenyak. Mereka terus memikirkan teka-teki dalam puisi lontar itu. Keesokan harinya, mereka memutuskan untuk memulai petualangan mereka. Dengan berbekal peta desa yang usang, potongan lontar, dan semangat yang membara, mereka menyusuri jalan setapak, melewati sawah yang terbentang luas, dan mendaki lereng perbukitan.


Perjalanan mereka tidaklah mudah. Mereka harus berhati-hati meniti jalan setapak yang licin, menyeberangi sungai kecil yang airnya dingin menyentuh kaki, dan menghindari semak belukar yang tajam. Namun, rasa penasaran dan harapan untuk menemukan Sendang Panguripan terus memompa semangat mereka.


Setelah berjalan cukup jauh, mereka tiba di sebuah lembah yang diapit oleh dua bukit yang tampak serupa, persis seperti gambaran "dua gunung kembar" dalam puisi lontar. Di tengah lembah itu, mengalir sungai kecil yang airnya tampak berkilauan tertimpa sinar matahari, menyerupai "sungai perak yang berkelok".


Arya dan Laras saling pandang dengan gembira. Mereka merasa semakin dekat dengan tujuan mereka. Kini, mereka hanya perlu menemukan "pohon purba" yang disebutkan dalam puisi. Mereka menyusuri tepi sungai, mengamati setiap pohon yang mereka lewati.


Tiba-tiba, Laras menunjuk ke arah sebuah pohon beringin yang sangat besar dan tua, berdiri kokoh di atas sebuah gundukan tanah. Cabang-cabangnya menjulang tinggi ke langit, dan akarnya mencengkeram tanah dengan kuat. Pohon itu tampak jauh lebih tua dan lebih besar dari pohon-pohon lain di sekitarnya.


"Arya, lihat! Kurasa itu 'pohon purba' yang dimaksud," seru Laras.


Mereka bergegas menuju pohon beringin itu. Saat mereka mendekat, mereka mendengar suara gemericik air yang samar. Mereka mencari sumber suara itu di sekitar pohon dan menemukan sebuah celah kecil di antara akar-akar yang besar. Dengan hati-hati, mereka mengintip ke dalam celah itu.


Di dalamnya, mereka melihat sebuah mata air kecil yang airnya jernih dan segar. Di sekeliling mata air itu tumbuh lumut hijau dan beberapa jenis tanaman air yang langka. Mereka berdua tertegun. Apakah ini Sendang Panguripan yang legendaris itu?


Arya dan Laras memberanikan diri masuk ke dalam celah itu. Mereka mendekati mata air dan melihat airnya yang berkilauan. Tanpa ragu, mereka menangkupkan tangan dan meminum air dari sendang itu. Airnya terasa sangat segar dan sedikit manis, seperti ada energi yang mengalir dalam tubuh mereka.


Setelah meminum air itu, mereka merasa tubuh mereka lebih segar dan pikiran mereka lebih jernih. Mereka juga merasakan kedamaian dan ketenangan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Mereka yakin bahwa mereka telah menemukan Sendang Panguripan yang sesungguhnya.


Sebelum pergi, mereka berjanji untuk menjaga rahasia keberadaan sendang itu dan menghormati alam sekitarnya. Mereka tahu bahwa harta karun sejati bukanlah air ajaib itu sendiri, melainkan petualangan yang telah mereka lalui bersama, persahabatan yang semakin erat, dan pelajaran tentang pentingnya menjaga alam dan warisan leluhur. Mereka meninggalkan tempat itu dengan hati yang penuh syukur dan janji untuk kembali menjaga Sendang Panguripan, mata air kehidupan di jantung desa. (TB44).


Oleh : Ratna Sari

Di halaman sekolah yang rindang, tepat di bawah pohon kenanga yang harum bunganya, duduk dua anak perempuan yang tak terpisahkan: Lila dan Sari. Sejak kelas satu SD, mereka selalu bersama. Bahkan para guru dan teman-temannya pun sudah biasa menyebut mereka “kembar beda orang tua.”


Lila adalah gadis ceria, penuh semangat, dan suka bercerita. Sedangkan Sari lebih pendiam, tenang, dan penyuka buku. Meskipun berbeda, mereka justru saling melengkapi. Setiap istirahat, mereka selalu duduk di bangku kayu tua di bawah pohon kenanga itu, saling berbagi cerita—tentang guru yang galak, mimpi-mimpi masa depan, atau rahasia kecil yang hanya mereka berdua tahu.


Namun, semuanya berubah ketika kelas lima dimulai. Seorang murid baru bernama Nita datang. Nita pandai, cantik, dan cepat akrab dengan siapa saja. Tanpa disangka, Lila mulai sering bermain dengan Nita. Ia tertawa-tawa di kelas tanpa mengajak Sari. Bangku di bawah pohon kenanga pun jadi kosong. Sari duduk sendiri, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.


Beberapa hari kemudian, Sari memberanikan diri bertanya pada Lila, “Kamu marah sama aku?”

Lila menggeleng cepat. “Nggak, kenapa?”

“Tapi kamu nggak pernah lagi duduk sama aku di bawah kenanga...” suara Sari lirih.

Lila terdiam. Matanya memandang ke arah Nita yang sedang bermain lompat tali. “Aku cuma pengin coba berteman sama yang lain juga...” jawabnya pelan.


Sari mengangguk, meski hatinya terasa berat. Malam itu ia menulis di buku hariannya, “Mungkin aku bukan sahabat yang cukup menyenangkan.” Tapi beberapa hari kemudian, saat hujan deras mengguyur dan semua anak berlarian ke kelas, Sari tetap duduk di bangku bawah kenanga, melamun. Lila mendekat, memegang payung, lalu duduk di sampingnya.


“Aku kangen cerita-cerita kita,” kata Lila pelan.

Sari tersenyum, “Aku juga. Kamu masih ingat dongeng putri kenanga yang kita karang sendiri?”

“Masih! Dan aku tahu, cuma kamu yang bisa bikin akhir cerita itu jadi bahagia,” jawab Lila sambil tertawa.


Sejak hari itu, mereka kembali seperti dulu. Lila tetap berteman dengan Nita, tetapi pohon kenanga tetap menjadi tempat istimewa yang hanya milik mereka berdua. Sebab persahabatan sejati bukan tentang selalu bersama setiap saat, tapi tentang tetap kembali—meski sempat menjauh.